Stuck With You

Stuck With You
Wedding Day



Vanessa P.O.V


Aku mengerjapkan mata ku seraya mencoba melihat ke ponselku untuk mengetahui jam berapa sekarang ini. Ternyata, udah jam lima. Hari ini, aku dan Dipta akan menikah. Kami menikah di salah satu hotel yang berada di Jakarta. Nama hotel ini, Vandipta Hotel and Resort. Ya! Ini itu hotel yang didirikan atas kerjasama perusahaan ku dan perusahaan Wiratmo yang sudah dipimpin Dipta dibawah pengawasan Papa Danial.


"Eh udah bangun lo?" tanya Nanda yang kebetulan sekamar dengan ku. "Iya nih. Sholat dulu kuy!" ajak ku. "Akhirnya temen gw tobat! Tau gitu dari kemaren lo nikah aja dah biar tobat!" kata Nanda yang membuat ku tertawa. "Dasar lo. Sebenernya mah gw udah intens sholatnya akhir-akhir ini. Ngerasa aja kalo udah saatnya gw benerin diri gw walau belom sepenuhnya sih." jawabku seraya tersenyum.


***


Seraya melihat jam di ponsel, aku masih di rias. Ini cukup membuat ku pegal karna kan ya aku itu ga bisa lama-lama duduk buat diem doang hehehe. Aku melihat sekelilingku lewat kaca. Semua panitia lagi di rias kecuali Mama Diana dan Tante Maya yang udah selesai lebih dulu.


"Vanes, ini untuk kain penutup kepala nya di jepit aja kali ya?" tanya Mbak Wifza yang ku jawab anggukan. "Bebas, mbak. Pokoknya aku serahin ya sama mbak." jawabku.


Ini udah jam setengah sembilan. Setengah jam lagi, acara akan di mulai. Huft! Aku sangat deg-deg an saat ini. "Nes, kamu kenapa?" tanya Mbak Wifza. "Gapapa, mbak. Deg-deg an doang." jawabku seraya tersenyum. "Tenang. Kamu harus tenang." kata Mbak Wifza yang ku jawab anggukan perlahan.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!" ucapku. Pintu terbuka dan ada Mas Angga dengan kamera nya. "Nes, izin ambil shoot ya." kata Mas Angga yang ku jawab anggukan. "Okay." jawabku seraya tersenyum. Setelah mengambil beberapa shoot saat ku di make up dan di pasang penutup kepala, Mas Angga tersenyum dan langsung mengeluarkan uang seratus ribu lalu mengitarinya di sekitar muka ku. "Di keluarga saya, ini sih kepercayaan bisa buat pembuka rejeki. Jadinya rejeki kamu nanti bagus." kata Mas Angga seraya menyerahkan uang seratus ribu ke aku. Aku tersenyum dan menganggukan kepala ku. "Aammiinn. Makasih ya, mas!" ujar ku seraya tersenyum.


"Vanes, persiapan ya! Udah tinggal lima belas menit lagi." kata Cinta yang sudah tampil cantik dengan gaun satin coklat nya. "Lo cantik, Nes!" kata Aira yang membuat ku tersenyum. "Kalian cantik banget weh! Pangling gw!" kata ku seraya tertawa. "Iya ya udah lama juga gw ga dandan." kata Nanda seraya tertawa.


"Vanes, ayo keluar dulu yuk mau foto-foto dulu nih kita!" ajak Mbak Jihane. "Mbak jangan kecapean ya. Ini kan masih trimester satu. Masih rawan." kata ku. "Iya nanti mbak istirahat kok." kata Mbak Jihane.


***


Aku sudah berada di depan pintu keluar hotel. Akad akan dilakukan di depan saung yang ada dekat kolam renang. Tante Maya dan Mbak Jihane membantuku berjalan dengan perlahan diikuti ketiga sahabat ku dan Hiza.


"Baik, bisa kita lihat bapak-bapak dan ibu-ibu. Mempelai wanita sudah memasuki area akad pernikahan ya. Mari kita sambut mempelai wanita kita, Vanessa." kata MC. Para tamu langsung memalingkan wajah mereka ke arah ku dan tersenyum melihat ku.


Aku mulai berjalan dengan perlahan seraya membawa satu buket bunga alang-alang hiasan diiringi gamelan Jawa yang membuat suasana terasa sakral. Setelah sampai ke meja akad, Tante Maya dan Mbak Jihane melepas tangan ku dan duduk di kursi yang disediakan begitu juga dengan ketiga sahabatku. Sedangkan Hiza, dia membantu ku untuk duduk di kursi akad.


"Okay, mempelai wanita sudah duduk. Mempelai pria sudah menatapnya penuh cinta. Kepada pak penghulu di persilahkan!" kata MC.


Dipta menggenggam tangan ku dan kami saling tersenyum. "Cantik." ucap Dipta yang membuatku blushing.


"Eleuh-eleuh! Udah deh pak mendingan di mulai aja kalo begini!" kata MC yang membuat kami semua tertawa.


"Baik kalau begitu saya akan menyampaikan nasehat-nasehat dalam menjalin hubungan pernikahan. Kepada Nak Dipta dan Nak Vanessa, kalian itu akan menikah ya toh? Banyak hal yang akan dimulai setelah pernikahan ini. Pada surat An Nahl ayat tujuh puluh dua memiliki arti "Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri, menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik-baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?" dapat diartikan bahwasannya Allah SWT telah memilihkan jodoh untuk umatnya agar berpasangan untuk memiliki anak cucu dan selalu beribadah kepada-NYA. Lalu pernikahan itu adalah penyempurna agama. Lho iya! Setelah menikah itu hanya mengobrol aja bisa mendapat pahala lho. Suami istri pun bisa mendapat pahala walau hanya bercanda. Selain itu menikah juga membuka ladang rejeki. Ridho istri akan mengiringi langkah suami nya kelak saat suami nya dalam langkah diluar rumah. Ridho suami, akan terus mengiringi kebahagiaan istri. Karna itu apabila ada pertengkaran nanti, maka kalian harus membicarakan semua nya secara baik-baik tanpa ada amarah. Saling melaksanakan tanggung jawab antara satu sama lain dan saling melengkapi itu adalah hal yang harus kalian utama kan. Baik, saya rasa ada baiknya kita memulai pengucapan ijab qabul antara Dipta dengan bapak Ahmad ya. Nak Vanessa? Kamu menerima pernikahan ini tanpa ada paksaan dan ancaman dari siapapun?" tanya Pak Penghulu yang ku jawab anggukan.


"Nak Dipta? Kamu menerima pernikahan ini tanpa paksaan dan ancaman dari siapapun?" tanya Pak Penghulu yang dijawab anggukan Dipta.


"Baik kalau begitu, ijab qabul bisa segera kita mulai. Silahkan bapak Ahmad dan Nak Dipta saling berjabat tangan!" kata Pak Penghulu.


Dipta mulai menjabat tangan Om Ahmad. Aku melihat Om Ahmad tersenyum menatapku dan menganggukan kepala nya.


"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Hira Dipta Bahran bin Danial Wiratmo dengan keponakan saya, ananda Vanessa Zahirah Bramantyo binti Adam Bramantyo dengan mas kawin berupa alat sholat, dan uang tunai sebesar lima ribu dollar Amerika dibayar TUNAI!" ucap Om Ahmad.


"Saya terima nikah dan kawinnya Vanessa Zahirah Bramantyo binti Adam Bramantyo dengan mas kawin tersebut TUNAI!" Jawab Dipta yang membuatku merasa lega dan langsung menundukan wajah ku. "Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Pak Penghulu. "Sah!" ujar semua tamu di sini yang membuatku menangis terharu.


"Alhamdulillah, Bârakallâhu likulli wâhidin minnâ fî shâhibihi. Allahumma innî as' aluka khairahâ wa khaira mâ jabaltahâ 'alaihi wa a’ûdzu bika min syarrihâ wa min syarri ma jabaltahâ 'alaihi. Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih. Rabbana atina fiddunya hasanah, Wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar. Subhana rabbika rabbil 'izzati 'amma yasifuna wa salamun 'alal mursalina wal hamdulillahi rabbil 'alamin!" ucap Pak Penghulu seraya menyudahi doa nya.


Kami berdua langsung saling bertatapan seraya tersenyum. "Nak Dipta, Nak Vanessa! Selamat atas pernikahannya. Dipta, monggo di cium dulu kening istrinya. Sudah sah lho!" kata Pak Penghulu yang membuat kami tersenyum. Dipta langsung mencium keningku dan aku pun tersenyum campur deg-deg an. "Nah nak Vanessa, sekarang gantian kamu yang cium tangannya Nak Dipta, bakti istri ke suami nya." kata Pak Penghulu seraya tersenyum. Aku pun menganggukan kepala ku dan mencium tangan Dipta seraya tersenyum.


"Bârakallâhu laka, wa bâraka ‘alaika, wa jama‘a bainakumâ fî khairin wa ‘afiyah!" ucap Pak Penghulu seraya bersalaman dengan Dipta. "Aammiinn!" jawab Dipta tersenyum. "Sekali lagi saya ucapkan selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warrahmah. Aammin aamin ya rabbal allamin." kata Pak Penghulu.


Aku dan Dipta saling menatap satu sama lain. Kami saling bertukar cincin pernikahan di jari manis kanan kami. Di kotak cincin itu ternyata ada emas seberat dua gram sebanyak tiga batang. Setelah itu, kami berfoto bersama dengan menunjukan buku pernikahan kami dan seserahan mas kawin dari Dipta untuk ku.


"Baik inilah saatnya kedua mempelai menemui keluarga nya masing-masing. Bisa dimulai dari keluarga mempelai pria terlebih dahulu. Dipta mungkin bisa membantu istrinya menuju keluarga Wiratmo!" kata MC.


"Tamu udah dikasih kunci kamar mereka kan ya by?" tanya ku seraya berjalan disamping Dipta. "Udah dong sayang." jawab Dipta tersenyum. "Okay lah biar kita bisa tenang ga kepikiran tamu kalo mau istirahat." jawabku seraya tersenyum.


Kami berdua udah sampai dihadapan Mama Diana dan Papa Danial. Aku memeluk Mama Diana dan kami tersenyum dengan bahagia bercampur haru. "Akhirnya sayang, mama sepenuhnya jadi mama kamu. Selamat datang dikeluarga Wiratmo sayang! Mama akan selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua. Mama titip ya anak cowok mama yang satu ini. Kalau dia salah, nasehati ya nak. Mama ga sabar deh nunggu kehadiran cucu pertama di keluarga Wiratmo ini." kata Mama Diana. "Makasih, ma. Vanes akan usahain jadi mantu yang bisa mama banggain." jawab ku seraya memeluk Mama Diana. "Kamu bukan mantu mama, sayang. Kamu itu anak mama." kata Mama Diana.


Aku dan Dipta langsung bertukar tempat. Papa Danial langsung mengelus pundak dan kepala ku seraya tersenyum. "Selamat datang di keluarga Wiratmo, putri ku. Kamu udah jadi anak papa sejak kamu pacaran sama Dipta dan papa ga bisa nunggu untuk ngegendong cucu dari kalian." kata Papa Danial seraya tersenyum. Aku tersenyum dan tertawa seraya menganggukan kepala ku. "Doain ya, pah!" jawabku seraya tersenyum.


Dipta menggenggam tangan ku seraya berjalan dengan perlahan. Akhirnya kami bersimpuh dihadapan Om Ahmad dan Tante Maya. Aku menatap Tante Maya yang menatapku dengan tatapan sendu nya. "Selamat keponakan tante. Akhirnya tante bisa menuhin tanggung jawab ini ya, Nes. Tante harap kalian selalu hidup rukun, saling melengkapi satu sama lain dan bisa segera punya momongan." kata Tante Maya yang ku jawab anggukan. Kamipun berpelukan.


Aku dan Dipta langsung bertukar tempat. Om Ahmad langsung memeluk ku dengan erat dan aku merasakan Om Ahmad menangis. "Mas, putri mu sudah menikah dengan orang yang tepat. Andai kamu masih disini, aku yakin kamu akan bahagia melihat dia bahagia. Selamat Vanessa untuk pernikahan ini ya sayang. Om selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan akan selalu begitu. Dengan ini, tanggung jawab om sebagai pengganti papa kamu sudah selesai. Om akan selalu ada disamping kamu ya, Nes." kata Om Ahmad seraya memeluk ku.


"Makasih om udah jagain Vanessa sampai sekarang. Vanes harap om selalu sehat dan bisa ngegendong cucu dari Vanes ya." ujar ku seraya tersenyum. "Aammiinn." jawabnya.


Dipta membantuku berdiri dan kami berjalan ke tengah panggung akad. "Kamu cantik sayang. Aku satu laki-laki yang beruntung bisa selalu sama kamu. Aku harap kita selalu begini sampai nanti kita bertatapan untuk terakhir kalinya." kata Dipta yang membuatku tersenyum dan menganggukan kepala ku.


***


Dipta menggandeng tangan ku seraya memasuki satu kamar bernuansa modern. Ini kamar sementara kami untuk beristirahat sampai jam dua siang karna resepsi pernikahan akan kami mulai di jam tiga. Aku dengan perlahan melepas jepit di rambut dan sanggul yang memang ku pakai sejak tadi. Walaupun kecil sih karna rambut aku juga panjang tapi tetep aja pusing kalo kelamaan.


Aku juga mulai mengganti baju ku dengan kaos dan celana pendek yang udah disediakan dari tadi pagi untuk ku berganti baju. Kalau Dipta, dia juga udah ada kok baju ganti nya.


Setelah aku mengganti pakaianku, pintu kamar mandi terbuka dan Dipta masuk ke dalam. "Kamu ngapain sayang?" tanya Dipta. "Bersihin make up, by. Muka aku berasa pake topeng." jawabku seraya mulai membersihkan make up. Tiba-tiba aku merasakan sentuhan dibagian perut ku dan kemudian Dipta memeluk ku dari belakang. "Cepetan ya by, abis itu kita tidur. Biar nanti ga kecapean." kata Dipta yang ku jawab anggukan lagi. "Iya suami." jawabku seraya tersenyum.


Setelah wajah ku udah bersih dari make up, aku langsung mencuci muka ku dengan sabun cuci muka dan memakai lipgloss. Setelah selesai, akupun keluar dari kamar mandi dan melihat Dipta yang lagi mengganti bajunya dengan kaos oblong. Sial! Aku ngeliat roti sobek di perut nya. "Heh! Ganti di kamar mandi buruan!" ujar ku seraya menutup mata ku. "Nah kan error nya mulai dah. Kan kita suami istri dodol. Udah sih nanti juga lo bakal kebiasa liat ini." kata Dipta seraya menunjuk otot di perutnya.


"Dah ah aku ngantuk. Mau tidur!" ujar ku seraya merebahkan diri ku di atas tempat tidur dan mulai memejamkan mataku. Tiba-tiba aku merasakan tempat tidur ini bergetar dan aku juga merasakan hembusan nafas di wajahku. Aku membuka mata dan melihat Dipta yang sudah berada diatas ku. Wajah kami saling bertemu, mata kami saling bertatapan. "Mau ngapain?" tanya seraya menatapnya. Dipta mencium kening, kedua pipi, dan puncak hidungku. Setelah itu dia mengelus ujung bibir ku seraya menatap mata ku. "Boleh aku minta yang dari dulu aku jaga?" tanya dia yang membuat ku blushing dan menganggukan kepala ku.


Wajah kami semakin berdekatan, mata ku mulai ku pejamkan sampai aku merasakan benda kenyal di bibir ku. Ya! Akhirnya kami berciuman di bibir untuk pertama kali nya.


***


"Vanes! Dipta! Bangun guys kalian harus persiapan resepsi!!!" ujar seseorang dibalik pintu kamar kami.


Aku mengerjapkan mata ku seraya melihat ke sekitar. Ternyata aku dan suamiku ketiduran. Aku langsung ke kamar mandi dan mencuci muka ku. Setelah itu aku langsung membangunkan Dipta. "By! Bangun by! Siap-siap resepsi ayo!" ujar ku seraya mengelus rambut suamiku.


Dipta menggenggam tangan ku dan mencium nya. "Iya deh aku siap-siap. Kamu dandan yang cantik ya. Love you sayang!" kata Dipta seraya mencium kening dan bibirku.


***


Aku sudah siap dengan gaun yang ku pesan untuk resepsi. Rambut ku pun sudah di bentuk dan dipasang veil senada dengan gaun ku. "Gimana nih yang udah jadi pengantin baru???" kata Hiza yang sudah siap dengan gaunnya. "Ya gitu tadi awalnya sempet ga inget kalo gw udah jadi bininya Dipta. Sampe gw tadi nyuruh dia ganti baju di kamar mandi karna malu liat otot nya." kata ku seraya tertawa. "Dodol dah lo, Nes. Eh tapi lo belom aneh-aneh kan?" tanya Hiza yang ku jawab gelengan. "Belom. Gw ga mau cepet-cepet sih." jawabku seraya tersenyum.


"Kadang tuh emang kayak gitu, Nes. Kamu ga tau aja dulu Mas Angga ya sempet aku tendang dari ranjang gara-gara kaget kok pagi-pagi ada cowok di ranjang aku. Pas dia kesakitan, aku baru inget kalo udah nikah. Hahahaha!!" kata Mbak Wifza yang membuat kita bertiga tertawa.


***


Dipta menggenggam tangan ku. Jam di ponselku sudah menunjukan jam tiga kurang lima menit. Dan kami semua sudah siap di depan pintu masuk ke area resepsi. Kami menggelar resepsi dibawah atap kaca. Banyak tamu yang sudah berdatangan.


"Cek! Cek! Cek! Okay balik lagi sama saya MC yang ganteng ini. Kali ini saya ditemani oleh rekan saya, Kizashi Amelia. Gimana nih, Mel acaranya menurut lo?" tanya MC. "Menurut gw sih ya Josh, ini tuh super duper bagus banget. Desainnya mewah campur elegant, makanannya menggugah selera. Duh jadi laper gw. Okay kalau begitu sesuai dengan susunan acara, ini saat nya kedua mempelai memasuki acara ini. Mari kita sambut our king and queen. Dipta dan Vanessa!!!" kata MC yang perempuan.


Lagu The Power Of Love yang dipopulerkan oleh Celine Dion mulai di mainkan. Mama Diana dan Papa Danial berjalan terlebih dahulu disusul oleh Tante Maya dan Om Ahmad. Lalu setelah itu, keenam sahabat kami mulai berjalan berpasangan. Dan tibalah saatnya aku dan Dipta yang memasuki ruangan.


Aku memegang buket bunga seraya tersenyum melihat para tamu. Kami langsung menduduki kursi pengantin di atas panggung dan langsung mengambil beberapa foto dokumentasi.


"Bahagia?" tanya Dipta yang ku jawab anggukan. "Lebih dari itu. Ini hari spesial bagi aku. Makasih sayang. Love you more and always be forever." kata ku seraya mencium pipi Dipta.


***


"Vanessa! Dipta! Selamat ya atas pernikahannya!!" kata seseorang yang membuatku menengok ternyata itu Prisilla. "Prisil!!! Finally lo dateng! Thanks banget ya!!" kata ku seraya memeluknya. "Hahaha yaiyalah ya kali gw ga dateng ke nikahan kalian. Anyway kenalin, ini suami gw. Namanya Fransisco. Honey, introduce them my best friends. This is Vanessa and this is her husband, Dipta." kata Prisilla. "Bonjour! My name is Francisco. Nice to meet you!" kata suami Prisil.


"Bonjour! Thank you for coming to our wedding. Nice to meet you too!" jawab Dipta seraya tersenyum. "Oh iya ada berita bahagia nih. Kalian bakalan jadi om dan tante!!" kata Prisil. "Whoa! Double surprise ya!! Selamat lho, Sil! Ga nyangka gw bakal jadi aunty dari anak kalian! Selamat ya!" ujar ku seraya tersenyum.


"Makasih ya, Nes. Kalian juga cepet nyusul ya! Kan seru anak kita bisa main berduaan!" kata Prisil yang membuat kami tertawa.


Setelah Prisil turun, banyak anak dari genk Carberus yang datang untuk mengucapkan selamat pada kami. Ternyata mereka semua sudah banyak yang berubah. Dari ada yang tadinya bersifat berandalan berubah menjadi sangat baik sekarang ini. Memang benar ya, roda kehidupan itu terus berputar.


Resepsi terus berjalan sampai akhirnya jam sudah menunjukan pukul delapan malam, acara pun selesai dengan kebahagiaan di wajah ku dan Dipta.