Stuck With You

Stuck With You
Persiapan



Vanessa P.O.V


"Sayang, kita fittingnya di Jakarta kan ya?" tanya Dipta. "Iya. Udah ih kamu tunggu di luar, aku masih make up." jawabku.


Aku sudah siap dengan gaun putih tali spagetti, dan jaket hitam. Hari ini kami akan fitting baju untuk pertunangan ku nanti. Setelah aku rasa cukup dengan make up ku, aku langsung keluar dan melihat Cinta yang lagi cuddle sama Arsen.


"Kedinginan lo?" tanya ku. "Hooh nih gw kayaknya mau sakit. Eh iya udah mau berangkat kan? Nanti lewat tol aja kayaknya ya kita mampir di rest area dulu, Nes." kata Cinta yang ku jawab anggukan.


Dipta menghampiri ku dan langsung mencium keningku. "Yang, kita kesana kan naik motor. Masa iya kita lewat rest area dah. Kita nanti mampir aja sebentar. Lagian ini udah menjelang siang pasti banyak resto yang udah buka." kata Dipta yang ku jawab anggukan. "Iya sayang." jawabku.


"Yaudah yuk kita berangkat! Nanti makin siang makin panas!" kata Arsen yang ku jawab anggukan. "Nes, kumpul dimana?" tanya Cinta. "Di kantor gw, Ta." jawabku. "Okay lah kalo gitu." kata Cinta.


***


"Mama! Papa!!!" sapa ku seraya berlari menghampiri Mama Diana dan memeluk nya. "Waduh bahagia banget nih kayaknya. Gimana kabar nya sayang? Udah makan belum kamu?" tanya Mama Diana. "Baik, ma. Tadi udah makan kok tapi baru dikit. Nanti kita makan bareng ya!" ujar ku. "Iya nanti kita makan bareng-bareng. Sekalian bahas desain ruangan kalian nanti." kata Mama Diana.


"Vanes, Dipta? Kalian udah siap kan ya fitting nya?" tanya Papa Danial. "Iya, pah!" jawabku tersenyum. "Hallo, Om! Tante!!!" sapa Arsen seraya mencium tangan Mama Diana dan Papa Danial. "Hallo, Arsen! Wah makin ganteng ya ini pasti Cinta makin lengket nih!" kata Mama Diana. "Tante bisa aja deh." kata Cinta. "Berarti siapa nih yang belum dateng?" tanya Mama Diana. "Jihane, Kendra, sama Pak Ahmad, sayang." jawab Papa Danial.


"Kami disini!!" kata eseorang. Saat aku menengok ternyata ada Om Ahmad, Tante Maya, Hiza, Satu cowok yang ga aku kenal, Mbak Jihane, dan Mas Kendra.


"Eh udah dateng!!!" kata Mama Diana tersenyum. "Iya, maaf ya kami telat tadi Jihane beli makan dulu biar ga sakit." kata Mas Kendra. Aku menghampiri Mbak Jihane dan Hiza dan langsung memeluk mereka.


"Za, siapa nih?" tanya ku menatap cowok yang bergandengan tangan sama Hiza. "Ini cowok gw, Nes. Namanya Faiz. Dia mahasiswa di UT." kata Hiza. "UT mana?" tanya ku. "UT Jakarta." jawab Hiza. "Oalah ambil prodi apa dia?" tanya ku. "Ambil Sistem Informasi." jawab Hiza lagi. "Oalah kalo gw di UT ambil hukum." kata ku. "Lah anak UT juga?" tanya cowok itu. "Iya, sorry gw lupa perkenalan. Gw Vanes. Sepupu Hiza." ujar ku. "Oh gw Faiz. Cowoknya Hiza." kata nya tersenyum. "Gw peringati sama lo, jangan nyakitin ataupun berani main-main sama Hiza. Dia nangis sekali aja gw jamin lo bakal susah ngejalanin hidup lo." ujar ku menatap Faiz tajam. "I-i-iya gw janji." jawab Faiz.


"Vanes, tante mau ngomong empat mata sama kamu!" kata Tante Maya. Aku menengok dan menganggukan kepala ku. "Di ruangan Vanes aja, Tan." ujar ku. "Jangan sayang, nanti kelamaan." kata Dipta. "Yaudah kalian tunggu di ruang meeting aja ya." ujar ku yang dijawab anggukan semua orang.


Setelah Keluarga Dipta, kedua sahabatku, Om Ahmad, Mbak Jihane, Mas Kendra, Dipta, Hiza, dan Faiz pergi, aku menatap Tante Maya. "Ada apa ya tan?" tanya ku. "Tante mau minta maaf, Nes. Maafin tante karna dulu saat kamu tinggal di rumah tante selalu nganggep kamu kayak pembantu. Maafin tante, Nes." kata Tante Maya.


"Gapapa, Vanes juga ikhlas kok." jawabku tersenyum. "Nanti saat kamu tunangan, tante ngegantiin posisi mama kamu. Ta[i tante ga yakin kalo tante pantes ngegantiin beliau." kata Tante Maya. "Tante jangan ngomong begitu. Tante itu udah kayak mama nya Vanes. Jadi tante harus yakin ya!" ujar ku seraya tersenyum. Kami berdua pun berpelukan.


***


"Gimana, Dipta? Cocok ga nih gaunnya?" tanya Mbak Jihane. Aku yang sudah memakai gaun merah dengan potongan dada rendah membuat Dipta memelototkan matanya dan menggeleng. "Jangan!!!" kata Dipta yang mengundang gelak tawa kami semua. Dia sangat posesif!


"Posesif nya sangat terasa ya, bun!" kata Cinta meledek Dipta. "Sen, gw yakin lo pasti ga ngizinin Cinta pake yang terbuka." kata Dipta. "Kata siapa? Arsen mah ngebebasin gw. Iya kan sayang?" tanya Cinta. "Sorry by tapi kali ini aku sependapat sama Dipta!" kata Arsen dengan senyuman di wajahnya.


"Hahahaha! Udah! Vanes, kamu coba gaun yang lain ya! Cinta, Hiza, Bu Maya, mama. Kalian juga coba pakaian kalian nanti. Yang cowok kan nanti aja terakhir." kata Papa Danial. "Iya papa!" kata Mama Diana mencium bibir Papa Danial.


Aku mengambil satu gaun panjang dengan warna merah maroon. Terlihat sangat elegant. "Ta, kalo aku mau pakai ini boleh? Kayaknya ga terlalu terbuka bagian dada nya." kata ku. "Hmmmm yaudah deh boleh." jawab Dipta. Aku tersenyum dan langsung membawa gaun itu ke ruang ganti. Aku dibantu beberapa pekerja di butik ini.


"Cantik!" ucap salah satu dari mereka. Aku tersenyum dan menatap diri ku di cermin. Aku menggerai rambutku dan langsung keluar ruang ganti. "Ya ampun jadi ga sabar mau nikah!!!" kata Dipta yang membuat semua orang menatap kami. "Kamu cantik, nak." kata Om Ahmad yang membuatku tersenyum. "Aku pakai gaun ini boleh by?" tanya ku. "Boleh sayang!" jawab Dipta.


"Okay, Dipta? Sekarang giliran kamu fitting! Mas menurut kamu gimana? Cocok gak?" tanya Tante Maya. "I-iya tante!" kata Dipta seraya berjalan menghampiri ku. Dia mengelus rambutku pelan. "Aku fitting abis itu kita foto-foto ya!" kata Dipta yang ku jawab anggukan.


"Nes, gimana menurut lo?" tanya Cinta yang keluar dengan gaun tanpa lengan yang memiliki belahan pada bagian paha kanannya. "Good! Gw setuju sih!" kata ku tersenyum. "Okay gw ini aja, Nes!" kata Cinta. "Vanes, tante yang ini aja kayaknya!" kata Tante Maya dengan gaun tali spagetti dan rok yang cukup megar. "Wih! Siap lah tan!" jawabku tersenyum. "Sayang, mama yang ini aja kali ya? Simple, elegant." kata Mama Diana yang keluar dari ruang ganti dengan gaun tanpa lengan berbentuk mermaid dress. "Iya, ma. Cocok kok!!" ujar ku tersenyum. "Berarti yang belum tinggal Jihane sama Hiza ya, jenk?" tanya Mama Diana ke Tante Maya. "Iya nih. Hiza mungkin susah milih nya." kata Tante Maya.


"Nes, gw yang ini ya!" kata Hiza yang keluar dengan gaun backless, tali yang dipasang di tengkuk, dan bagian paha kiri gaun yang terbuka. "Cocok." jawabku tersenyum. "Saya yang ini!" kata Mbak Jihane yang baru aja keluar dari ruang ganti dengan gaun yang bagian atas nya penuh manik-manik sedangkan bagian pinggang kebawah polos. Bentuknya seperti mermaid dress.


"Sayang! Cantik banget sih!!" kata Mas Kendra yang langsung memeluk Mbak Jihane dari belakang.


"Berasa ngontrak di dunia." kata Hiza yang ku jawab anggukan. "Guys foto yuk bertiga!!" ajak Cinta. Arsen yang baru aja keluar dari ruang ganti dengan setelan jas formal warna hitam nya kaget saat ditarik oleh Cinta. "Kamu fotoin kita bertiga!" kata Cinta seraya menyerahkan ponselnya.


***


Terlihat ada foto ku yang sedang menggunakan gaun merah yang akan ku pakai nanti di acara tunangan, bersama Dipta yang ku peluk. Aku melihat captionnya dan cukup membuatku tersenyum.


padjajaran_gossipandfact: 'H-30 repost @nessava_'


lilianaroxele: Gila! Mereka udah mau nikah? Ajib!!!


luckyfathurahman: Doa yang terbaik untuk mereka.


Lihat semua 150 komentar


Aku langsung membuka postingan Carberus yang ternyata merepost postingan Dipta. Terlihat ada foto kami berdua yang sama seperti postingan ku. Kebanyakan komentarnya bingung bertanya siapa aku dan Dipta. Tapi ada beberapa yang mengenali kami dan mengatakan selamat untuk kami.


"By, masa pada ngira nya kita mau nikah. Padahal kan masih tunangan!" kata ku. "Hahahaha! Gapapa sayang. Kalo bisa mah kita bikin aja mereka over thinking." kata Dipta. "Ih jangan dong!" jawbaku seraya tertawa.


***


"Jadi bagaimana Nona Vanessa? Bagaimana desain yang anda mau untuk pertunangan anda?" tanya Om Kuantiti yang ku panggil Om Kuan. "Begini, om. Saya mau desain yang elegant. Serba warna putih ya! Terus tolong untuk hiasan bunga nya, pakai warna merah." kata ku tersenyum. "Om Kuan, bisa ga ya nanti bikin yang kayak gini? Liat deh sayang! Ada pohonnya walaupun didalam ruangan. Kayaknya ini cocok buat pertunangan kita. Gimana?" tanya Dipta. Aku tersenyum dengan mata berbinar menganggukan kepala ku. "Wah boleh nih, Om." kata ku tersenyum.


"Okay jadi kalian itu mau pakai event organizer atau enggak?" tanya Om Kuan. "Ga usah dulu om. Karna kan baru tunangan juga." jawabku. "Okay sip." kata Om Kuan. "Baik saya rasa sudah selesai. Bisa saya bayar dp nya sekarang?" tanya ku. "Bisa, Nona. Anda bisa membayar tiga puluh juta sekarang ini." kata Om Kuan. "Okay. Ini Cek nya." kata ku menyerahkan cek yang sudah ku tanda tangani.


***


"Nes, ini kita mau hari ini beres persiapannya atau mau lanjut besok?" tanya Mbak Jihane. "Apa lagi mbak yang belum?" tanya ku. "Euummm cincin, sama cathering buat tamu doang sih kayaknya" jawab Mbak Jihane. "Yaudah itu nanti biar aku sama Dipta dibantu sama Cinta, Arsen juga." kata ku. "Nes, gw sama Faiz boleh ikutan bantu?" tanya Hiza. "Boleh kok, Za. Nanti biar lo tidur di kamar gw aja ya. Gapapa kan Ta?" tanya ku. "Gapapa dong sepupu lo kan bakal jadi temen gw juga." jawab Cinta.


"Okay kalo gitu berarti kita semua sekarang balik ke rumah masing-masing ya. Faiz, hati-hati naik motor nya! Hiza, jangan males-malesan nanti di apart nya Vanes!" kata Om Ahmad. "Iya, pah!" jawab Hiza. "Okay lah kita balik ya. Faiz, Dipta, sama euummm siapa namanya ah iya, Arsen! Jaga yang cewek-cewek ya!" kata Tante Maya. "Siap!" jawab Faiz.


"Vanes, mama sama papa pulang ya. Kalian hati-hati!" kata Mama Diana. "Vanes, nanti kalo mau makan langsung telfon papa atau mama okay biar kita pesenin. Jangan makan sembarangan." kata Papa Danial. "Iya, pah! Hati-hati ya kalian semua! Kabarin kita kalau udah di rumah. Mbak Jihane, makasih ya mbak udah mau direpotin hehehe Mas Kendra juga thanks ya." ujar ku. "Iya, Nes. Yaudah kita balik duluan ya! Bye semua!" kata Mas Kendra. Mbak Jihane memeluk ku dan tersenyum. Kami pun melambaikan tangan.


***


"Welcome to our unit!!" kata Cinta menyambut Hiza. "Whoa! Eh bentar, kalian tidurnya berpasangan?" tanya Hiza. "Kagak lah gila aja. Unit cowok di sebelah. Tapi mereka bisa masuk lewat sini, ada connecting door nya." kata Cinta.


Aku merasakan nyeri di perut ku. Kayaknya maag ku kambuh. Aku langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening. "Nes? Lo kenapa, Nes?" tanya Hizapanik dari luar. "Gapapa, Za. Gw cuman--- huekk!!! Gapapa." kata ku seraya memuntahkan cairan.


"Gw panggil Dipta ya ! Ta, lo tunggu disini ya!" kata Hiza panik. Terdengar ketukan di pintu kamar mandi. Aku memilih mendiamkannya. Rasa mual di perut ku cukup membuat aku ga mau beranjak dari closet. Aku akhirnya berkali-kali memuntahkan cairan bening sampai badan ku terasa lemas. Bahkan rasanya aku ga bisa berdiri.


Tok! Tok! Tok!


"Sayang? Buka pintu nya!!! Sayang!! Buka pintu nya!!!" kata Dipta dari luar. Aku yang merasakan lemas berusaha untuk berdiri dengan perlahan. Berkali-kali juga aku terjatuh. Akhirnya aku merasa sangat lemas dan mulai menutup mata ku perlahan.


***


Aku mulai mengerjapkan mata ku saat mencium bau minyak kayu putih. Perlahan, aku mulai melihat cahaya, Dipta, Cinta, Hiza, Faiz, dan Arsen. Mereka terlihat sangat panik. "Akhirnya bangun!!" kata Cinta lega. "Nes, are you okay?" tanya Hiza. "Gw baik-baik aja. Cuman lemes sama pusing." kata ku seraya memijat keningku. Dipta langsung membantuku memijat seraya tersenyum.


"Maaf ya gara-gara aku ga bawa mobil, kamu jadinya tadi keujanan." kata Dipta. "Gapapa kok. Euummm, by? Bisa tolong ambil obat maag?" tanya ku. Dipta langsung menepuk jidatnya. "Pantesan! Aku lupa kita belum makan dari tadi! Yaudah kamu mau makan apa? Aku masakin mau?" tanya Dipta. "Ga! Gw aja yang masak! Kalo lo nanti dapur gw kebakar!" kata Cinta. "Bikinin bubur instan aja boleh? Ada di kabinet deket meja makan." kata ku. "Okay sebentar ya." kata Dipta yang ku jawab anggukan. "Ta, bisa ambilin air gw di kulkas mini gw ga?" tanya ku. "Bisa kok, Nes." kata Cinta.


***


Aku bangun dan merasakan seseorang memeluk ku dari belakang. Aku menengok ternyata ada Dipta. Aku berbalik badan lalu lanjut memeluknya. "Tau kok kalo meluk aku nyaman." kata Dipta yang membuatku kaget. "Udah bangun kamu?" tanya ku. "Udah dong." kata Dipta yang lanjut memeluk ku.