Stuck With You

Stuck With You
Sarjana



Vanessa P.O.V


"Siap?" tanya Dipta saat kami baru sampai di area pelataran gedung fakultas kami. "Siap." jawabku seraya tersenyum. Kami yang sudah siap dengan pakaian formal kami langsung keluar dari mobil. "Pake toga disini atau nanti aja ya? Udah banyak yang make disini sih." kata Dipta. "Yaudah pakai disini aja kali ya. Yuk!" kata ku seraya mulai memakai pakaian wisuda serta topi toga. Aku melihat ke Dipta yang masih merapihkan pakaian wisuda nya. Aku membantunya merapihkan rambut lalu memasangkan topi toga nya.


"Makasih sayang!" kata Dipta seraya mencium pipi ku. Aku pun tersenyum dengan pipi yang memanas lalu mencium pipi nya kembali. "Jangan bikin aku malu. Nanti orang kira aku kepiting rebus." kata ku tersenyum. "Iya deh. Oh iya ini kita ga didampingin keluarga gitu?" tanya Dipta. "Mama, papa, Mbak Jihane, Mas Kendra masih di jalan. Om Ahmad sama Tante Mayang ga bisa dateng, mereka lagi urus rumah di Bogor." kata ku. "Oalah okay kita tunggu mereka aja kali ya disini?" tanya Dipta. "Iya, by. Eh iya si Arsen sama Cinta lagi jemput mama nya Cinta ya?" tanya ku. "Iya. Kayaknya kita tunggu di mobil aja deh by. AC biar aku nyalahin." kata Dipta."Okay." jawabku.


Kami langsung kembali masuk ke mobil.


***


Tok! Tok! Tok!


Aku langsung membuka mata ku dan melihat ada Mbak Jihane yang mengetuk kaca pintu mobil. Aku langsung segera membuka jendela dan tersenyum. "Vanes! Akhirnya ketemu juga. Tadi mbak sempet nyasar malah ke Mang Engking yang waktu itu kita makan." kata Mbak Jihane. "Hahaha! Yaudah bentar ya mbak. Ini bangunin si Dipta dulu. Oh iya Mama Diana sama Papa Danial udah ada?" tanyaku tersenyum. "Udah kok." kata Mbak Jihane. Aku langsung menutup jendela mobil lalu langsung mengelus rahang Dipta perlahan.


"Sayang, bangun dulu yuk! Mbak Jihane sama yang lain udah disini!" ajak ku.


Dipta mengerjapkan matanya dan langsung mencium keningku. "Okay!" jawabnya. Dia langsung merapihkan kerah nya dan menggenggam tanganku. "Yuk!" ajak nya.


Kami langsung keluar dari mobil dan menghampiri Mama Diana, Papa Danial, Mbak Jihane, dan Mas Kendra. "Mama!!!" sapa ku seraya berlari dan memeluk Mama Diana. "Sayang! Ya allah ini bini gw gini amat dah. By! Inget kamu pake high heels ya ampun!!" kata Dipta yang membuat ku berhenti dan baru teringat kalau aku memakai high heels yang cukup tinggi.


"Hehehehe hampir lupa aku. Mama!!!" sapa ku seraya lanjut berlari. "Ya ampun! Tadi udah bener-bener berhenti kok malah lari lagi. Sayang! Kamu mah ih!" kata Dipta seraya menggelengkan kepala nya.


Aku langsung memeluk Mama Diana dan Mbak Jihane. "Whoa! Heboh ya! Mama mah udah was-was kamu keseleo. Ternyata enggak untungnya." kata Mama Diana. "Nakal kamu ya, Nes. Udah di nasehatin Dipta malah ngeyel. Ga boleh gitu lain kali." kata Mbak Jihane memperingati ku. Aku hanya tertawa dan merapihkan topi toga ku.


"Hallo semua!" sapa seseorang. Saat aku menengok, ternyata ada Cinta, Arsen, dan kedua orang tua nya Cinta. "Eh ada mama nya Cinta! Apa kabar, tan?" tanya ku seraya tersenyum. "Baik sayang. Waduh ga nyangka ya sekarang kalian udah lulus. Arsen juga tahun depan udah lulus. Tante ga nyangka lho." kata mamanya Cinta. "Oh iya kamu juga tahun depan kelulusan ya, Nes?" tanya ayah nya Cinta yang ku jawab anggukan. "Iya nih om. Lumayan kalo yang ini udah lulus, bisa enak ngerjain tugas yang satu lagi." kata ku tersenyum.


"Pak Kendra dan Tuan Wiratmo! Apa kabar?" sapa ayah nya Cinta. "Baik sekali, pak." jawab Mas Kendra. "Baik, tuan Kuncoro." jawab Papa Danial. "Jihane, masih ngurus kasus kah?" tanya Mama nya Cinta. "Iya nih, tan. Karna kan satu kerjaan sama suami, alhasil bisa kerja bareng deh hehehehe." kata Mbak Jihane tersenyum.


"Okay kayaknya kita harus masuk sekarang deh. Ayo!" ajak Arsen.


***


Aku langsung berdiri dan berjalan dengan perlahan ke panggung dan mulai menjalani beberapa hal seperti dipindahkan tali yang ada di toga, menerima sertifikat, dan menerima ucapan selamat dari beberapa perwakilan rektor. Setelah itu, aku turun dan langsung menghampiri Dipta. Dia mencium keningku dan kami berpelukan.


"Akhirnya lulus!!!" ucap nya seraya memeluk ku. Kami saling tertawa dengan penuh kebahagiaan.


Setelah semua nama peserta yang mengikuti wisuda hari ini selesai dipanggil, kami dipersilakan untuk kembali duduk di kursi kami sebelumnya. Aku membuka susunan acara yang memang diberikan kepada kami saat awal acara tadi. Aku melihat kalau ternyata ini saatnya penyerahan cinderamata bagi mahasiswa yang memiliki prestasi.


"Baik, saya rasa inilah saatnya kita memberikan cinderamata pada para mahasiswa yang memiliki prestasi." kata MC.


Salah satu rektor berdiri dan berjalan menuju mimbar. "Saya rasa akan lebih baik jika kita memulai dengan mahasiswa lulusan terbaik di tahun ini. Baik, saya akan membacakan nama dari lulusan itu. Hira Dipta Bahran! Lulusan dari fakultas Ekonomi, dengan program studi, Bussiness Management. Kepada nama yang disebut, harap maju ke depan untuk memberikan sepatah-dua kata! Waktu dan tempat, dipersilahkan!" Kata rektor itu.


Aku langsung menatap Dipta dan kamipun berpelukan. "Selamat sayang!" ujar ku seraya memeluknya.


Dipta langsung berdiri dan berjalan ke arah mimbar. Dia menerima piala dan langsung berdiri di mimbar seraya tersenyum. "Selamat pagi semua! Terima kasih saya ucapkan kepada para hadirin sekalian, kepada para rektor dan dosen yang sudah membimbing saya selama berkuliah disini. Vanessa, jangan ketawa kamu sayang aku bisa liat kamu ngeledek aku dari sana." Kata Dipta yang membuat semua orang menatap ku. Aku hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala ku.


"Canda sayang. Jangan ngambek ya hehehe. Saya rasa kuliah saya itu lebih bermakna karna saya disini bersama seseorang yang saya sayangi. Banyak pasangan yang menolak untuk ke jenjang serius karna mereka takut tidak bisa fokus untuk kuliah. Sedangkan kami? Kami mendapat tatapan remeh saat kami baru saja bertunangan. Dan dengan berdiri nya saya disni, saya bisa memberikan contoh kalau tidak selamanya pendidikan akan terhambat karna suatu hubungan. Saya rasa bulan depan, kami akan mengadakan pesta pernikahan dan dengan ini perjalanan pendidikan sudah menyempurnakan hidup saya. Sekian dan terima kasih." kata Dipta seraya mengangkat piala nya. Semua tamu bertepuk tangan.


Dipta mendapat banyak tangkai bunga dari para adik tingkat tapi Dipta menolaknya dan langsung menghampiri ku.


"Bulan depan?" tanyanya. Aku langsung tersipu dan menganggukan kepala ku seraya memeluknya.


Setelah acara selesai, kami semua keluar dari gedung tempat kami wisuda. Mama Diana langsung memeluk ku begitu juga dengan Papa Danial, Mbak Jihane, dan Mas Kendra. "Selamat ya, mantu papa!" kata Papa Danial. "Selamat untuk adik nya mas ini yang paling cantik!" kata Mas Kendra. "Selamat adik mbak yang satu ini!" kata Mbak Jihane. "Selamat anak cantik mama!" kata Mama Diana yang ku jawab anggukan seraya tersenyum. "Makasih mama!" ucapku seraya tersenyum. "Huft! Dipta berasa jadi anak tiri kalo begini." kata Dipta.


"Tenang aja, kita berdua bakal jadi anak tiri kalo mama lagi sama si Vanes. Tapi gapapa selama itu buat adek ipar gw." kata seorang laki-laki. "Abang?! Ya ampun! Kamu kapan balik?" tanya Mama Diana. "Abang?" tanya ku. "Iya, itu anak mama yang pertama sayang. Abang! Sini kenalan sama adik ipar dulu!" kata Mama Diana.


"Sahdan Dani Sena. Nama gw, Sahdan Dani Sena. Gw kakaknya Dipta! Lo bisa panggil gw Sahdan." kata nya. "Vanessa." ucapku singkat.