
Vanessa P.O.V
Pagi ini, aku mulai mengayuhkan sepeda ku keluar dari gerbang rumah. Tepat saat aku mau membuka pagar, ada Dipta yang sudah siap dengan sepeda dan jaketnya. "Lo pake tanktop ga?" tanya Dipta yang ku jawab anggukan. "Lo masuk ke area rumah lo, ganti nih tutupin nanti pake jaket gw. Nih!" katanya seraya memberikan jaket hitamnya. "Eh gapapa gw kan pake seragam. Udah lo aja yang pake." kataku. "Jangan. Gw mah gampang pake kaos juga jadi. Lo kan ga mungkin nanti ke sekolah seragamnya bau keringet kan." kata nya yang ku jawab anggukan.
Akupun langsung mengikuti saran Dipta setelah itu kami berangkat ke sekolah. "Nanti lo ikut gw ya ke acara kantor!!" ajak Dipta. "Dimana emang?" tanya ku. "The Ritz-Carlton Hotel. Katanya mau ada perkenalan direktur utama perusahaan Bramantyo yang baru. Makanya bokap nyuruh gw yang pergi." kata Dipta yang ku jawab anggukan. "Yaudah nanti kita izin bareng aja ya. Lo ga jadi berarti ke acara keluarga lo?" tanya Dipta. "Lah acara keluarga gw ga jauh dari hotel itu kok Nanti aja abis gw dari tempat lo, langsung kesana." kata ku seraya mengayuhkan sepeda.
***
"Jadi kamu pulang jam dua belas nih ya. Yaudah mbak nanti panggil orang salon deh ke rumah." Kata Mbak Jihane. "Iya, mbak. Nanti juga aku berangkatnya sama Dipta. Dia disuruh papa nya kesana." kata ku. "Okay kalo gitu." kata Mbak Jihane.
Aku melihat ke ketiga sahabat ku. Mereka menatapku dengan tatapan bertanya. "Kenapa kalian?" tanya ku. "Lo kemaren beneran jalan sama Dipta?" tanya Cinta. "Iya dia nemenin gw beli baju. Itu juga jalannya sama kakak gw tapi dia ada meeting dadakan sama kliennya makanya jalannya cuman berdua deh." kata ku menjelaskan. "Itu barusan lo bilang berangkat sama Dipta? Seriusan?" tanya Nanda. "Iya. Kebetulan acara keluarga gw ga jauh dari acara dia. Jadinya nanti barengan deh." kata ku. "Eh iya emang dia ada acara apa?" tanya Aira. "Bokapnya nyuruh dia datengin acara penyambutan direktur utama gitu." kata ku pura-pura.
"Tunggu-tunggu! Di The Ritz-Carlton Hotel?" tanya Aira yang ku jawab anggukan. "Nanti gw sama nih cucunguk dua juga kesana. Bokap gw salah satu rekan bisnis perusahaan yang ngadain acara juga. Kalo ga salah nama perusahaannya Bramantyo Property Bussiness deh." kata Aira. "Oalah. Yaudah berarti nanti kita berempat ketemu dong disana." kata ku tersenyum.
"Berangkat bareng aja gimana?" tanya Cinta yang membuat mata ku berbinar dan langsung menganggukan kepala ku. "Nanti gw coba omongin sama Dipta." kata ku tersenyum.
***
"Jadi maksud lo kita berangkat sama tiga cucunguk ini?" tanya Dipta yang ku jawab anggukan. "Okay tapi nanti gw bawa sahabat-sahabat gw juga. Gw ga mau diganggu kalo lagi sama lo." kata Dipta. "Atur deh tapi yang pasti tiga temen gw boleh ikut kan?" tanya ku yang dijawab anggukan Dipta. "Kalo calon istri udah minta ya kali gw nolak." katanya yang membuat ku tersipu. "Dah ah gw mau makan dulu. Males kena gombalan buaya mulu." kata ku seraya berdiri. "Nitip dong!" katanya yang ku jawab anggukan. "Mau makan apa?" tanya ku. "Apa yang lo pesenin bakal gw makan kok." katanya yang ku jawab anggukan.
Aku langsung berjalan ke arah penjual Nasi Rames lalu langsung membeli dua porsi. Aku juga beli cireng dan risolessnya.
"Itu pacarnya Ka Dipta kan ya?" tanya seorang gadis yang masih bisa aku dengar. "Iya, gila ya Ka Dipta beruntung banget bisa sama dia. Bayangin aja tuh makannya aja ga yang mahal-mahal. Beda sama mantannya Ka Dipta waktu itu yang apa-apa maunya barat lah. Inget banget gw, Ka Dipta pernah bayar sampai seratus ribu gara-gara si cewek itu kalo Ka Dipta ga masuk bilangnya Ka Dipta yang bayar." kata gadis yang lain.
Aku membalikan badan, terlihat ada beberapa gadis menatapku dan tersenyum. Akupun membalasnya dengan senyuman juga. "Gila, ramah banget!! Gw dukung sih kalo mereka beneran jadian." kata salah satu gadis. "Eh tadi liat ga di dompetnya ka Vanes ada black card?" tanya salah satu gadis. "Iya iya! Pantesan aja ga matre." kata gadis yang lain.
Aku langsung berjalan menuju meja. Ada beberapa anak yang menyapa ku dengan sebutan 'Ka Vanes', 'Kakak Cantik', bahkan 'Pacarnya Ka Dipta'.
Aku hanya tersenyum dan melambaikan tanganku seraya berjalan menghampiri meja. Saat aku sudah dekat, aku melihat seorang gadis memeluk Dipta. Aku hanya bisa memalingkan wajah ku dan mengatur nafas.
"Nih nasi rames lo." kata ku singkat seraya memberikan nasi rames ke hadapan Dipta. "O-oh. Iya thanks ya. Btw, Nes. Kenalin ini Prisila. Dia---" kata Dipta yang langsung dipotong oleh cewek yang ada disebelahnya. "Gw calon tunangannya Dipta." kata cewek itu yang ku jawab anggukan. "Gw Vanessa. Gw tetangganya Dipta." kata ku seraya mengulurkan tangan. Tapi aku melihat raut wajah nya yang keliatan angkuh. Dia bahkan ga mau berjabat tangan. Aku hanya tersenyum dan langsung mengembalikan tangan ku ke posisi semula.
Aku memilih memakan nasi rames tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Banyak siswa lain yang berdecak kesal kebanyakan bilang kalau mereka ga suka kehadiran Prisila.
"Heh kalian tuh ga ada hak ya buat ngelarang gw deketin Dipta. Gw calon tunangan dia!" kata Prisila angkuh. Aku hanya diam seraya melanjutkan makan ku. "Sayang, kamu ngapain sih ngeliatin Vanes begitu?" kata Prisila yang membuat ku menengok dan menatap mereka berdua.
"Gw balik duluan ke kelas. Ada tugas yang belom beres." kata ku seraya beranjak dari kursi. Aku langsung menuju ke kelas.
Saat akan menaiki tangga, aku merasakan tanganku ditarik oleh seseorang. Aku menengok ternyata Ivan. "Bisa kita ngomong sebentar?" tanya nya yang ku jawab anggukan.
Kami langsung berjalan ke kelas ku dan aku pun duduk. Aku langsung mulai memakan nasi rames bahkan tanpa sadar aku mulai menangis. Aku langsung menepis air mata ku lalu menengok ke Ivan. "Sorry gw lupa ada lo." kata ku seraya tertawa.
"Prisila Anastasya. Dia mantannya Dipta. Dipta dulu abis-abisan sama dia. Mungkin bisa kali satu minggu duit di dompet dia abis. Dia bakal ngejar Dipta kalo dia udah ga ada duit. Makanya lo tadi liat sendiri kelakuannya. Murah." kata Ivan seraya menatapku. "Oh." jawabku singkat.
"Gw tau lo suka kan sama Dipta?" tanya Ivan yang ku jawab anggukan. Aku yang tersadar langsung menggelengkan kepala. "Biasanya jawaban pertama yang jujur." kata Ivan. "Ih udah ah sana. Gw mau nugas sambil makan." kata ku seraya mendorong Ivan keluar dari kelas.