
Vanessa P.O.V
Ini udah bulan ke tiga kami tinggal di apartment. Arsen juga yang notabene nya masih seleksi, berkali-kali mengikuti seleksi itu dengan mendatangi tempat-tempat seleksinya. Dari rumah sakit Bhayangkara di Kelapa Dua, sampai tes yang terakhir dia jalani yaitu tes psikologi. Dan hari ini, dia akan mendapatkan hasil tes nya itu.
Unit kami yang memiliki connecting door sama-sama di kunci. Cinta yang menunggu didalam unit bersama ku saat ini terlihat tegang. Dia duduk di sofa depan tv dan mengecek ponselnya. "Ta, menurut lo kita perlu masak ga nih?" tanya ku. "Duh ga tau deh, Nes. Gw ga mood rasanya. Gw deg-deg an nunggu pengumuman si Arsen." kata Cinta.
Aku menganggukan kepala ku dan memilih ke dapur. Aku mengeluarkan rice paper, daging ayam, jamur, dan daun bawang. Aku mulai menyiapkan air yang udah matang di piring. Sebelumnya, aku membagi selembar rice paper ini menjadi enam bagian. Aku memang menyetok rice paper karna biasanya aku sering membuat cemilan dari itu.
Aku mulai mencincang daging dada ayam sampai halus, lalu mulai mencincang jamur juga sampai halus dan memotong-motong daun bawang. Setelah itu ketiga bahan nya itu aku campurkan didalam mangkok. Aku mulai mengaduknya sampai menjadi satu. "Hmmmm pake telor ga ya?" ucapku. Aku mulai memecahkan satu telur lalu memisahkan putihnya dan mencampurkan kuningnya setelah itu aku mengaduknya sampai menyatu dengan adonan daging yang tadi ku buat. Setelah itu aku cuci tangan dan langsung meletakan selembar rice paper ke air di piring lalu satu persatu aku tata di atas nampan. Setelah tiga bagian aku basahi, aku mulai meletakan isian daging di atas tiga bagian itu. Lalu tiga bagian lainnya aku basahi dan aku gunakan untuk mengutup adonan daging di rice paper sebelumnya.
Aku melakukan itu sampai menghabiskan satu lembar rice paper. Setelah siap, aku meletakannya di frezer. "Nes!" panggil seseorang. Saat aku menengok ternyata Cinta. Dia memeluk ku. "Eh lo kenapa?" tanya ku bingung. "Arsen, ga lolos." kata Cinta yang membuat ku kaget. "Bohong lo ya?" tanya ku. "Enggak. Ini dia sendiri yang bilang sama gw." kata Cinta. "Sabar, Ta. Kalo lo ga kuat nanti gimana lo bikin Arsen sabar. Udah lo kesana, nanti gw susul. Bilang ke Dipta supaya ninggalin kalian berdua. Nnati gw susul." kata ku.
Setelah Cinta membuka connecting door dan mengetuknya, Dipta membuka connecting door dan mempersilahkan Cinta masuk. "Sayang aku nanti nyusul!" ujarku.
Aku langsung menyalakan kompor dan memanaskan minyak setelah itu aku mulai menggoreng satu-persatu makanan yang tadi aku buat. Setelah setengah nya udah matang, aku langsung mengirim pesan ke Dipta untuk membeli minuman. Setelah itu aku kembali melanjutkan memasak makanannya.
Setelah selesai, aku meniriskan makanannya dan mulai mengeluarkan es batu dari dalam kulkas. Aku melihat ada pesan masuk dari Dipta yang mengatakan dia sudah membeli minuman. Akupun tersenyum dan langsung keluar dari unit. Aku melihat Dipta yang tersenyum seraya membawa sekantong plastik belanjaannya. Dia berlari ke arahku dan memeluk ku. "Kamu masak apa, by?" tanyanya. "Dumpling dari rice paper, by." jawabku. "Okay, yuk!" ajak nya. Dia masuk ke unit ku dan langsung membantuku membawa semangkuk es batu sedangkan aku membawa dua piring dumplings.
"Cinta, Arsen! Makan dulu ayo!!" ucapku. Arsen dan Cinta menghampiri kami di ruang makan. Arsen terlihat sangat kacau dengan rambut berantakan, tatapan mata yang kosong, kantong mata yang terlihat membengkak. Aku menepuk pundaknya dan membawanya ke pelukan ku selayaknya adik yang memeluk kakaknya.
"Gagal gw Nes!" katanya. "Gapapa, gagal itu hal yang wajar. Bukan lo doang yang gagal di tes yang terakhir. Banyak kan yang ga lolos jadi lo ga usah sedih. Lo bisa coba tahun depan lagi kok." ujar ku. Arsen yang masih dipelukanku menganggukan kepalanya. Aku melepaskan pelukanku dan melihatnya yang menatap Dipta. "Tenang, Sen. Gw tau kok lo ga aneh-aneh sama Vnaes." kata Dipta yang dijawab anggukan Arsen.
"Okay gini aja sekarang keputusan ada di tangan lo. Lo mau lanjut kuliah apa enggak. Kalo mau nanti gw saranin ikut UTBK, daftar di UI ambil Kriminologi sama Cinta. Tapi nanti posisinya lo jadi junior dia. Tapi gapapa, ga ada batasan junior senior di percintaan. Siapa tau lo bisa ambil eksklarasi bisa-bisa lo duluan yang lulus." ujar ku. "Kayaknya gw bakalan di UT aja, Nes. Gw mau ambil ilmu pemerintahan." kata Arsen. "Okay, nanti daftar nya bareng sama gw. Gw juga mau ambil ilmu hukum di UT. Nanti ambilnya yang ga tatap muka biar bisa disini aja." jawabku. "Sip." kata Arsen.
Dipta menepuk pundak Arsen lalu tersenyum. "Ayo makan dulu, si Vanes udah masak nih!!" ajak Dipta. "Wih enak nih pasti!" kata Cinta tersenyum. Dia menepuk pundak ku dan kami berpandangan. "Thanks, Nes. Lo udah ngehibur Arsen." kata Cinta. "Dia calon kakak ipar gw. Ya kali ga gw hibur kalo dia nyesek." jawabku tersenyum.
Kami makan bersama-sama. Arsen dan Dipta terlihat sangat lahap dalam memakan dumpling yang ku buat. Mereka sangat menyukainya. "Nes, lain kali bikin keripik kaca, Nes." kata Arsen. "Sip lain kali ye gw bikin." jawabku. "Nes, coba aja ya masih ada bocah-bocah gw yakin udah pada heboh sama makanan lo." kata Cinta. "Iya ya gw jadi kangen sama mereka deh. Pasti mereka lagi sibuk nih sama latihannya." jawabku tersenyum.
***
"Guys! Jalan yuk!" ajak Dipta saat kami asik meminum jus yang dibeli olehnya. "Jalan kemana?" tanya ku seraya meminum jus. "Ke sebrang. Aku mau beli kaos." jawab Dipta. "Okay, yuk!" jawabku tersenyum. Aku langsung melewati connecting door. Aku mengganti pakaianku dengan kaos oversize, dan celana jeans pendek setelah itu aku menghampiri Dipta yang sudah siap didepan unit. "Cinta sama Arsen ga ikut?" tanya ku. "Enggak, yang. Mereka mau tidur katanya." jawab Dipta.
Kamipun bersama-sama jalan keluar dari apartment dan menaiki tangga penyebrangan. Setelah turun, kami sudah sampai di depan Depok Town Square, atau yang sering disebut Detos.
Aku beberapa kali juga memilihkan kaos untuk Dipta. "Sayang, yang ini kayak nya lebih bagus deh. Ga polos gitu." ujarku seraya memperlihatkan kaos hitam dengan gambar infinity.
"Yaudah aku beli yang kamu pilihin pokoknya. Kamu pilihin aja okay. Aku mau juga kali yang sesekali dipilihin baju nya sama kamu." kata Dipta yang membuatku tersenyum.
"Pasangan baru ya, mbak?" tanya ibu-ibu yang berdiri didekatku. "Kenapa emangnya ya bu?" tanyaku tersenyum. "Enggak, saya cuman nanya aja hehehe saya awal-awal juga gitu ke suami saya." kata ibu itu yang membuatku tersenyum dan menganggukan kepala ku.
"Dia tunangan saya, bu." ucapku. "Ealah baru tunangan saya kira sudah menikah loh mbak. Cemistry nya cocok banget. Kayak Andin sama siapa tuh eeuummm Aldebaran di Ikatan Cinta." kata ibu itu yang membuatku tertawa.
"Bu, itu mah film ya ampun." ucapku tertawa. "Iya saya suka baper sama scene mereka. Kamu tau sinetronnya?" kata ibu itu yang ku jawab gelengan. "Saya kurang tau bu sinetron nya. Saya biasanya kalo di rumah nyetelnya bukan itu tapi lebih ke horor hehehe." jawabku tersenyum.
"Oh iya iya, eh kok jadi ngobrol ya kita hahahaha! Okaylah saya ke kasir dulu. Semoga lain kali kita ketemu ya." kata ibu itu yang ku jawab anggukan.
Aku mengambil beberapa hoodie, dan kaos polos lalu memberikannya ke Dipta. "Pas in dulu di kamar pas!" ucapku. Dipta mengangguk dan pergi ke kamar pas.
Aku menunggu Dipta seraya menengok ke sisi baju anak-anak. Lucu-lucu banget!!!
Tanpa sadar, aku melangkah mendekat dan melihat-lihat baju anak-anak yang terlihat lucu dan menggemaskan.
Aku merasakan sesuatu menyentuh kaki ku. Ternyata ada satu batita yang merangkak dan menyentuh kaki ku. Senyuman anak itu membuatku ikut tersenyum.
"Hallo, cantik!" sapa ku. Anak ini mengangkat tangannya seperti meminta ku untuk menggendongnya. Aku tersenyum dan melihat satu ibu-ibu yang menatap sekitarnya dengan kebingungan.
Aku menggendong batita ini dan menghampiri ibu itu. "Bu, ini anak ibu kah? Tadi dia megang kaki saya." ucapku. "Ya ampun Kyra. Bunda cariin kamu kemana-mana sayang." ucap ibu itu.
"Kyra tadi cuman ngeliat baju aja bunda." kata ku menirukan suara anak kecil dan mengelus pipi Kyra-Batita yang ku gendong tadi.
"Makasih ya, dik. Saya kira tadi Kyra kemana-mana." kata ibu itu yang ku jawab anggukan. "Sekedar saran ya, bu. Ini kan masih batita. Masih merangkak juga. Jadinya lebih di jaga ya karna dia suka kemana-mana. Untung tadi dia kesana doang ga ke eskalator. Bisa-bisa dia jatuh nanti." kata ku. "Iya, dik. Makasih ya. Kyra, ayo bunda gendong lagi ya nak." kata ibu itu.
Aku kembali ke beberapa pakaian anak sampai seseorang memeluk ku dari belakang. "Yang, aku cariin ternyata kamu disini. Lagi apa yang?" tanya Dipta. "Ini lagi liat-liat baju anak. Kenapa? Mau beli juga??" tanya ku yang membuat Dipta tertawa dan langsung mencium keningku.
"Ga muat kali yang." jawabnya yang membuatku tertawa.