Stuck With You

Stuck With You
Nilai dan Perkelahian



Vanessa P.O.V


"Nes, kamu hari ini kan ya jadwal ambil rapor nya?" tanya Mbak Jihane yang ku jawab anggukan. "Iya, mbak mau ambil kan?" tanya ku. "Pasti lah. Kan adiknya mbak. Masa iya ga diambilin." kata Mbak Jihane seraya mengelus rambutku. "Makasih ya mbak." kataku. "Sama-sama. Oh iya, mbak kan lagi mau ambil S2 nih jadinya nanti mungkin mbak bakalan jarang hubungin kamu ya." kata Mbak Jihane. "S2 dimana mbak?" tanya ku. "UI, Nes." kata Mbak Jihane yang ku jawab anggukan. "Yaudah kalo gitu Vanes mandi dulu ya." kata ku. "Iya, pakai baju yang sopan. Jangan kayak waktu di Bandung terbuka banget udah kayak wahana outdoor." kata Mbak Jihane yang ku jawab anggukan.


Aku langsung mandi dan mengganti pakaian tidur ku dengan korset biru pastel, celana bahan dengan warna yang sama begitu juga dengan jas biru pastel yang menjadi pasangan celana yang ku pakai. Aku juga memakai kalung dengan liontin berbentuk gembok dan membiarkan rambutku tergerai.


Setelah selesai, aku langsung turun ke ruang makan dan melihat Mbak Jihane yang lagi asik ngemilin Maicih yang aku beli waktu di Bandung. "Mbak? Kalo mau makanin nanti bawa ya." kata ku. "Emang masih ada?" tanya Mbak Jihane. "Slow aja, aku beli sekardus hehehehe." kata ku yang membuat Mbak Jihane tertawa. "Masih aja kayak dulu suka makan pedes. Yaudah, kamu udah siap?" tanya Mbak Jihane. "Udah kok. Nanti abis dari sekolah langsung ke kantor ya, mbak." kata ku. "Iya." jawabnya.


Kami langsung berjalan ke mobil Mbak Jihane. Dia yang udah keliatan rapih banget pakai pakaian kantor nebrak sama penampilan aku yang terbuka hehehehe.


"Kamu kayaknya suka banget ya pakaian kayak gini. Lain kali yuk kita beli bareng-bareng!" ajaknya yang ku jawab anggukan antusias. "Ayo banget!" kata ku.


***


"Hola guys!!!" sapa ku saat Mbak Jihane masuk ke dalam kelas. Aku melihat Nanda dan Cinta yang lagi duduk langsung berdiri. Mereka langsung memeluk ku dan kami tersenyum. "Gila deh kita ga ada rencana kompakan tapi bajunya tetep aja satu warna ya. Btw si Aira mana?" tanya ku. "Iya hehehe si Aira masih OTW dia." kata Nanda.


"Nomor 21!!" panggil wali kelas ku. Mamanya Nanda maju dan menemui wali kelas. Mbak Jihane memanggilku. Aku langsung menghampiri nya. "Kalo kamu ranking tiga besar, mbak janji deh ya mbak beliin mobil persis kayak mobil yang kamu pakai ke Bandung. Gimana?" tanya Mbak Jihane. "Mobil Jeep aja gimana?" tanya ku yang membuuat Mbak Jihane tertawa kecil. "Dasar, ada aja ide nya!" katanya yang membuatku tertawa. "Harus dong." jawabku.


"Nomor 22!!!" panggil Wali kelas. Aku melihat kartu nomor yang dipegang Mbak Jihane. "Mbak, giliran kita!" kata ku. "Eh iya ya. Okaylah kamu ke depan sana!" kata Mbak Jihane yang ku jawab anggukan.


Aku langsung berjalan keluar kelas dan duduk didekat Nanda. "Kenapa kakak lo?" tanya Cinta. "Biasa, hal-hal buat bikin semangat sekolah." kata ku. "Emak gw ngejanjiin gw pergi ke Bali kalo gw sepuluh besar. Lah gw gimana mau kesana kalo nanti gw fokus buat kuliah." kata Cinta. "Nah terus jadinya gimana?" tanya ku. "Yaudah mau ga mau nyokap gw ngasih janji yang lain. Gw dijanjiin buat renov kamar hehehehe!" kata Cinta yang membuatku tersenyum. "Kalo butuh jasa penghancur dekor kamar, kami ada kok." kata ku yang membuat Nanda tertawa. "Hahahaha! Betul banget tuh, Cin. Kalo lo mau diancurin desain kamarnya, call kita aja ya." kata Nanda.


"Gw sih bakal butuhnya ide dari kalian." kata Cinta yang ku jawab senyuman. "Pasti lah kalo itu mah. Mau ide apa? Ninja Warior? Atau apa?" tanya ku. "Kembang aja." kata Nanda. "Oh ide bagus. Kembang tujuh rupa kan ya?" tanya ku yang membuat Cinta mendelikan matanya. "Coy!! Jangan gitu lah. Eh iya by the way si Air--" kata Cinta yang terpotong teriakan seseorang.


"Vanes!! Vanes!!! Nessa!!!" teriak seseorang di lorong kelas. Aku langsung menengok dan melihat kalau Aira yang teriak. Dia berlari dengan kencang. Aku langsung berdiri dan menatapnya. "Kenapa lo?" tanya ku yang melihat Aira ngos-ngosan.


"D-Dipta! Dia berantem sama Ivan si parkiran!!!" kata Aira yang membuat ku kaget. Aku langsung berlari dan melewati banyak orang yang menatapku dengan penuh kebingungan. Aku tanpa memperdulikan mereka langsung berlari.


Aku sampai di parkiran, dan aku melihat banyak orang yang mengerubungi satu tempat. "SINI LO ANJING! GW GA PERNAH YA KENAL SAMA LO YANG PENGECUT!!!" Aku mendengar teriakan Ivan. "INI URUSAN GW NYET!" Aku mendengar teriakan Dipta. "GW SEMPET SUKA SAMA DIA YA! TAPI PAS TAU KALO DIA SUKA SAMA LO, GW NGERELAIN DIA BUAT LO! SI ANJ*NG LO MALAH NYAKITIN DIA!" Kata Ivan yang membuatku kaget.


"OH JADI LO SUKA SAMA DIA! AMBIL! DARI PADA LO NYALAHIN GW UDAH NYAKITIN DIA! DENGERIN GW YA, VAN! GW SAYANG SAMA VANESSA BAHKAN GW AKUIN KALO GW JATUH CINTA SAMA DIA!" Kata Dipta. "KALO LO CINTA KENAPA GA LO TEMBAK BEGO!! DIA BERHARI-HARI GALAU GARA-GARA LO! LO MIKIR GA SIH HAH?!" Kata Ivan. "GW TAU! TAPI DIA GA MAU SAMA COWOK YANG MASIH BERURUSAN SAMA MASA LALU NYA!" Kata Dipta.


Saat aku melihat Ivan yang mau menonjok Dipta, aku langsung membelalakan mata dan berlari. Aku langsung memeluk Dipta.


"Van, udah." kata ku seraya menatap Ivan yang terdiam. Aku langsung menengok ke Dipta. Dia menatapku dan itu sukses bikin aku mau nangis. "Kalian ke UKS. Gw obatin. Ayo!" kata ku dingin. Saat aku mau berjalan, tanganku digenggam oleh seseorang, ternyata Dipta. Dia menarik ku sampai kami berpelukan. Aku merasakan pundaknya bergetar dan bahu ku basah. Dia nangis!


"Ngapain nangis?" tanya ku. "Gw kangen sama lo, Nes." katanya. "Oh." jawabku singkat. Aku langsung melepaskan pelukannya dan menatapnya. "Ga enak sama Prisil." kata ku. "Gw ga sayang sama dia, Nes. Gw sayang sama lo. Kenapa lo ga ngerti?" tanya Vanes. "Gw ngerti." jawabku. "Ayo ke UKS dulu!" kata Aira yang baru aja dateng. Dia langsung memeluk Ivan dan memapahnya ke UKS.


"Eeuuumm selain pipi, apa lagi yang lebam?" tanya ku. "Udah kok yang paling berasa ini doang." jawab Dipta.


Udah lama rasanya aku ga ngerasain genggaman ditanganku. Dan saat ini, hati ku kembali berdesir apalagi ngeliat pandangan Dipta yang memperlihatkan kerinduannya.


"Lo ngapain sih segala berantem sama Ivan. Dia sahabat lo, bego!" kata ku. "Ya emang kenapa? Gw awalnya mau ngobrol sama dia soal hubungan kita, dia ngegas. Ya jadilah kita berantem." kata nya. "Ya harusnya lo juga bisa tenang dong. Kalo dia emosi lo juga emosi ya gini kan jadinya." kata ku.


Aku membuka UKS dan menyuruh Dipta langsung duduk diatas kursi.


Aku meringis melihat lebam di muka Dipta. Ivan juga lagi diobatin tapi sama Aira. Aku yang gemes langsung menekan lebam di pipi nya Dipta. "Aw!!! Weh, Nes! Jangan siksa gw dong!!" kata Dipta. "Bodo amat. Siapa suruh lo berantem. Lo juga, Van. Gw udah bilang ga usah dipermasalahin malah lo permasalahin. Harusnya ga usah. Lagian hubungan dia sama Mak Lampir kan emang udah kemauan dia. Jadinya ngapain lo permasalahin." kata ku seraya mengompres lebamnya.


"Kenapa lo diem aja pas gw suka sama dia?" tanya Dipta. "Karna gw lama-lama ga ada perasaan lagi sama dia. Awalnya suka tapi akhirnya enggak. Dia cuman kayak cinta sekedar suka gw doang. Bukan cinta kayak gw ke Aira." kata Ivan yang membuat Aira tersipu.


"Maaf ya. Gara-gara gw, kalian jadinya berantem." kata ku menundukan kepala. "Gapapa kok, Nes. Lagian udah suatu kewajiban gw buat ngasih teguran kalo Dipta salah." kata Ivan.


"Ta, gimana sih perasaan lo ke Vanes?" tanya Aira. "Ya gitu, gw dibilang jatuh cinta iya. Dibilang sayang sama dia, sayang banget." kata Dipta.


Tok! Tok! Tok!


Aku mendengar suara ketukan pintu. Nanda membukanya, ternyata Prisila. "Sil? Nih cowok lo." kata ku seraya menyerahkan handuk basah ke tangannya. "Ikut sama gw! Gw mau ngomong sama lo." kata Prisil yang ku jawab anggukan. "Eh ***! Kompres nih sendiri!" kata ku seraya melemparkan handuk yang ku pegang ke Dipta.


Aku langsung menarik tangan Prisil dan keluar dari UKS. "Kenapa?" tanya ku. "Dipta." katanya yang membuatku terdiam. "Kenapa?" tanya ku. "Gw nyerah. Gw akuin kalo gw nyesel pernah manfaatin dia. Tapi seiring berjalannya hubungan gw sama da setelah balikan, tetep aja dia ga bisa lepas dari lo. He's stuck with you." kata Prisil dengan mata berkaca-kaca.


"Bahkan gw marah sama diri gw sendiri karna dulu gw jahat sama dia." katanya. Aku menepuk pundaknya perlahan. "Lo harus tau, gimanapun juga lo masa lalunya Dipta. Gw ga akan maksa dia buat ninggalin lo kalo bukan kemauannya sendiri." kata ku.


"Sebenernya dia udah mutusin gw, Nes." kata Prisil yang membuatku menatapnya. "Dia udah mutusin gw tapi gw ga bisa lepasin dia. Itu yang jadi bikin gw ngerasa marah sama diri gw sendiri." kata Prisil. "Bukan salah lo kalo lo ga bisa ngelepas Dipta. Gw tau kok rasanya sayang sama cowok." kata ku tersenyum. "Gw cinta pertamanya Dipta, Nes. Dia sendiri udah suka sama gw sejak kami sama-sama kelas 10 tapi bodohnya gw malah nyakitin dia. Gw malah manfaatin dia. Sampe diakhirnya dia pura-pura bangkrut buat ngetest gw. Tapi waktu itu gw yang manfaatin dia malah ninggalin dia." kata Prisil. "Dia ngetest lo? Tapi kenapa dia ga ngetest gw juga?" tanya ku bingung. "Ya karna dia tau lo udah punya semuanya juga jadi lo ga akan manfaatin dia." kata Prisil.


"Lo tau dari mana?" tanya ku. "Please deh ya satu sekolah udah tau siapa lo, Nes. Direktur Utama perusahaan Bramantyo yang udah jadi perusahaan besar antar manca negara. Ga mungkin jadinya kalo lo manfaatin dia, orang lo udah punya harta sendiri." kata Prisil yang ku jawab anggukan.


"Gw emang cinta pertama nya seorang Dipta. Tapi lo dunia nya, Nes. Lo dunianya seorang Hira Dipta Bharan. Lo, bukan gw." kata Prisil seraya menangis pelan. "Gw sayang sama dia." kata ku seraya tersenyum kecil. "Tapi, gw ga mau sama cowok yang masih ada hubungan sama masa lalu. Gw gapapa kalo kalian temenan. Tapi kadang mantan bisa balik kapan aja. Dan gw takut itu kejadian kalo masalah kalian belum beres." kata ku. "Udah beres kok. Gw semester dua bakalan pindah, Nes." kata Prisil yang membuat ku kaget. "Kemana?" tanya ku. "Paris. Nyokap suruh gw tinggal sama oma gw disana." kata Prisil.


"Bisa kita sahabatan?" tanya ku yang dijawab anggukan Prisil. "Tentu." jawabnya.


***


Aku memeras handuk kecil dan langsung mengompres lebam di muka Dipta. Dihadapanku sekarang ada Dipta yang lagi ngobrol sama Prisil.


"Kenapa nunduk?" tanya Dipta seraya mengangkat dagu Prisil. "Gw mau bilang kalo ini terakhir kalinya lo ngeliat gw." kata Prisil seraya tersenyum. "Hah?" kata Dipta bingung. "Hah! Hoh! Hah! Hoh! Dengerin gw, gw tau lo sayang sama gw tapi gw juga ngerasa kalo cinta lo bukan sama gw. Cinta lo itu sama cewek yang lagi ngobatin lo sekarang ini." kata Prisil seraya melirik ku. Aku hanya terdiam seraya meneruskan pengobatannya.


"Dengerin gw!" kata Prisil seraya mengelus pipi Dipta. "Banyak orang yang bakalan selalu datang dan pergi. Gw pun begitu di kehidupan lo. Dari dulu, gw jadi cinta pertama lo tapi gw juga yang jadi penghancur hati lo saat itu. Dan saat ini, hati lo bukan buat gw lagi. Gw udah ga pantes dapetin lo. Gw nyerah, Ta." kata Prisil seraya menundukan kepala nya. "Gimanapun usaha gw, gw ga akan bisa dapetin lo lagi." kata Prisil.


"Lo tau ga sih, Ta. Gw selalu mau liat kebahagiaan lo. Tapi kebahagiaan lo itu ada di satu orang. Vanessa. Dia kebahagiaan lo. Gw harap lo bisa jaga dia. Kalo lo sakitin, gw yang tindak lo karna udah nyakitin sahabat gw." kata Prisil seraya tersenyum ke arah ku.


"Hah? Kalian sahabatan sekarang?" tanya Dipta yang dijawab anggukan Prisil. "Awalnya gw benci karna lo selalu perhatian ke dia. Tapi gw liat dia anak baik-baik dan dia kebahagiaan lo. Ya kali gw ga mau temenan sama pacarnya temen gw sendiri apalagi lo udah kayak kakak bagi gw." kata Prisil yang membuat ku tersenyum.


Prisil langsung menarik tangan ku dan meletakannya diatas tangan Dipta.


"Gw harap setelah gw pergi, kalian bisa jadian bahkan kalo bisa nikah." kata Prisil. Dipta langsung menengok ke arah ku dan tersenyum. Tatapannya yang penuh keteduhan, membuatku nyaman.


"Kalian jalanin semua nya dari awal. Jangan inget kalian pernah berantem kemaren. Gw pamit dulu ya." kata Prisil yang ku jawab anggukan.


***


Dipta menggenggam tanganku. "Kita jalanin dari awal." katanya. Aku hanya menganggukan kepala ku dan menyenderkan kepala ku dipundaknya. "Gw sayang sama lo, Nes." kata Dipta. "Gw juga." jawabku seraya tersenyum.