Stuck With You

Stuck With You
Love Tent



Vanessa P.O.V


Mobil Van berhenti didepan salah satu minimarket. Kayaknya mirip sama Indomart gitu. Aku yang duduk dikursi depan bersama Dipta langsung keluar dari mobil. "Jadinya mau beli apa aja?" tanya ku. "Sama gw aja , Nes belanjanya. Gw udah catet di notes hp gw kok." kata Nanda yang ku acungi jempol. "Cakep!" jawabku.


Kami berdua langsung masuk ke mini market dan Nanda langsung memperlihatkan isi notes nya. Ada ayam, ikan, sosis, bakso, tusuk sate, bumbu barbeque, jagung, mie cup, dan mentega. Ada juga beberapa peralatan yang harus dibeli kayak kipas, dan panci.


"Okay kita mulai ke ikan sama ayamnya aja. Ayo!" kata ku. Kami langsung berjalan mencari tempat ikan dan menemukannya. "Bli, tolong ikannya satu ya kalau bisa ikan gurame atau nila." kata ku. Yang menjaga stand langsung menganggukan kepala dan mulai membersihkan ikan. "Dibumbuin ga?" tanyanya yang ku jawab anggukan.


"Gw ke stand ayam ya." kata Nanda yang ku jawab anggukan.


Setelah selesai, aku langsung menerima ikan yang udah diplastikin. Setelah itu aku langsung menghampiri Nanda. "Kita bagi-bagi tugas. Lo ambil bahan makanan, gw ambil minumannya. Nanti abis itu kita sama-sama ke bagian peralatan nya." kata ku yang dijawab anggukan Nanda.


Aku langsung ke stand minuman dan mengambil satu botol besar jus apel, yogurt, air putih, sebotol besar teh wangi melati, kopi, dan soda.


Setelah memilih beberapa minuman, aku langsung membawanya dengan keranjang yang ku ambil didekat stand minuman. "Nes? Yuk! Kita ke peralatan!" Ajak Nanda yang ku jawab anggukan. Kami langsung berjalan ke stand peralatan dan mulai melihat banyak peralatan dapur. "Menurut lo bagusan panci yang ini atau yang ini?" tanya ku. "Menurut gw sih panci yang ga terlalu mahal aja, Nes. Kan bakalan dipake buat bakar-bakar palingan buat masak air doang." kata Nanda.


Kamipun memilih dan langsung membayarnya.


***


"Di pantai ini aja gimana yang?" tanya Dipta. Aku melihat pantai yang ada dihadapanku. Ini malah kayak hidden beach loh! Aku tersenyum dan menganggukan kepala ku. "Okay, yang cowok langsung turunin tenda, abis itu langsung dibikin tendanya. Yang cewek langsung persiapan piknik nya ya!" kata Dipta. "Sip." jawab keenam sahabatku.


"Nes, ini pintu Van nya aja kali ya yang di buka. Yang belakang aja." kata Aira. "Hooh, Andre! Bisa tolong ga bukain pintu belakang van?" tanya ku. "Bisa kok, Nes. Ta, gw bantuin cewek lo dulu ya!" kata Andre yang dijawab anggukan Dipta.


Aku langsung mempersiapkan bahan-bahan makanannya. "Sayang nanti sekalian cari kayu bakar ya. Siapa tau bisa buat nambah persediaan." kata ku. "Iya itu mah nanti jadi tugas gw sama Arsen." kata Ivan. "Sip. Yaudah yuk mulai aja. Nih tiker nya gelar!" kata Aira seraya memberikan tikar ke Ivan.


Aku langsung mengambil ikan dan ayam yang udah di bumbui, ke bagian belakang van. Aku langsung mengambil kursi kecil untuk menjadi tempat meletakan kompor. "Ini ayam sama ikan mau dibakar di atas teflon atau kayu?" tanya ku. "Kayu aja deh biar lebih meresap." kata Arsen.


***


Hari semakin lama semakin gelap, matahari mulai terbenam. Kami semua menghabiskan waktu di api unggun yang dibuat oleh Dipta dan ketiga sahabatnya. Kayak sekarang nih, kita lagi duduk diatas karpet, sambil makanin makanan yang ada. Kami mengobrol. Membahas rencana kami setelah lulus nanti.


"Ya gitu lah guys. Gw mau masuk Angkatan Darat. Bokap nyuruh gw masuk sana." kata Nanda. "Kok lo bisa sama kayak si Andre? Dia juga mau masuk AD." kata Arsen. "Itulah tanda-tanda kalau kita itu berjodoh!" kata Andre yang membuat Dipta dan Arsen berpura-pura mau muntah.


"Saran gw sih ya, Ra. Lo coba aja kuliah dulu abis itu ambil yang bagian PaPK. Kayaknya sekarang taruni lebih dikerahin ke bagian kayak perkantorannya deh." kata Andre. "Nah itu dia. Makanya gw sih masih liat nanti. Gw udah mulai persiapan kalo binjas tapi buat nentuin kuliah atau enggaknya ya nanti gw daftar dulu kalo ketolak, lanjut ke kuliah aja." kata Aira.


"Ga sabar deh nunggu kalian nikah di pedang pora!" kata Cinta yang dijawab anggukan ku.


"Kalo lo, Sen? Mau lanjut kemana?" tanya Ivan. "Gw mau ambil sekolah kedinasan. Maunya sih STIN tapi dilarang sama keluarga. Jadinya gw lebih milih ke tiga kedinasan. Poltekim, Poltekip, sama STIP." kata Arsen. "STIP?" tanya ku. "Hooh Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran." kata Arsen.


Cinta langsung tersedak dan dia langsung memukul-mukul dadanya. "Bukan main ya yang kamu milihnya. Tega ih ninggalin aku nanti." kata Cinta.


Aku hanya bisa tersenyum-senyum dan menggelengkan kepala ku. "Dasar lo ah. Udah deh, Ta. Itukan pilihannya Arsen. Masa iya lo jadi ceweknya ga mau ngedukung. Berdoa aja dia ambil poltekim seenggaknya lo ga begitu khawatir. Masih bisa di apelin juga." kata ku.


"Poltekim? Imigrasi berarti ya?" tanya Cinta yang ku jawab anggukan. "Huft! Bisa-bisa saingan gw bulepotan dah." katanya yang membuat ku tertawa.


"Kalo lo, Dip? Lo mau lanjut mana??" tanya Nanda. "Gw ikut sama Vanes. Dia mau kuliah Bisnis Manajemen. Pas banget gw juga mau kuliah ambil jurusan itu. Bedanya kalo cewek gw mau ambil double degree kalo gw lanjut S2." kata Dipta.


"Lha? Lo mau ambil double degree, Ne" tanya Aira yang ku jawab anggukan. "YoA! Mau ambil BM sama Hukum gw." kata ku tersenyum.


"Nah sekarang yang belom kita tau lo nih Ta! Lo mau lanjut kemana sih?" tanya Nanda. "Gw sebenernya masih bingung mau lanjut kemana. Tapi gw sih mau nya didaerah Bogor juga. Bahkan kalo bisa mah ya satu kampus sama Vanes. Biar gw ada temen. Palingan UI lah." kata Cinta.


"Mau ambil prodi apa emangnya yang??" tanya Arsen. "Mau ambil pariwisata rencananya." jawab Cinta yang diangguki kami semua.


"Eh udah mulai malem nih, kuy lah kita bakar ikan sama ayamnya. Dari tadi kan kita makaninnya Sosis sama Bakso." ajak Ivan. "Oh iya, okaylah kalo gitu. Yang cewek, tunggu aja disini biar yang cowok ya bagian bakar nya." kata Andre.


"Sip, inget jangan hangus!!" kata ku. "Ga bakal sayang!" kata Dipta. Dia langsung mencium kening dan pipi ku lalu tersenyum. Dia mengelus rambutku sebelum dia mendekati api unggun.


"Kayaknya diantara kita berempat, hubungan lo doang deh Nes yang paling sweet." kata Aira yang ku jawab anggukan seraya tersenyum.


"Gw beruntung dapetin dia." kata ku tersenyum. "Iya, Nes. Cowok lo tuh unik. Dia tuh kalo orang liat, tengil terus nyebelin, badboy. Tapi kalo udah sama lo mah manja banget." kata Nanda yang membuat ku tersipu.


"Kalian juga pasti begitu kalo berduaan sama pacar kalian." kata ku.