Stuck With You

Stuck With You
Resepsionis Gatel



Vanessa P.O.V


Aku udah siap dengan crop tanktop putih, rok diatas lutut dan jas berwarna hijau pastel dan ga lupa juga high heels putih ku. Aku melihat jam, ini udah jam sepuluh. Kalo dari perkataan Dipta tadi pas belum berangkat sih meetingnya belom mulai. Bisa kali ya aku ke kantor nya.


Aku langsung mengambil kunci mobil dan langsung keluar dari unit.


"Lho, Nes? Mau kemana?" tanya Cinta yang baru aja membuka pintu unit nya. "Gw mau ke kantor nya Dipta, Ta. Mau ikut lo?" tanya ku. "Ih!! Mau!! Tunggu bentar ya!" kata Cinta yang ku jawab anggukan.


Ga nunggu lama, Cinta keluar dari unit nya dengan kemeja putih lengan pendek dan celana panjang hitamnya. Simple ya kan. "Udah?" tanya ku. "Udah dong. Yuk lah!" ajak Cinta. Kami langsung berjalan ke basement dan aku mulai mengendarai mobil ku.


"Dipta belom ngelarang lo bawa mobil, Nes?" tanya Cinta yang ku jawab anggukan. "Dia tau kayaknya kalo bini nya itu ada kerjaan jadinya dia ngertiin gw deh. Walau gw yakin nanti pasti mau ga mau ada sopir kantor yang gw jadiin sopir pribadi gw." kata ku seraya tersenyum.


***


Aku memarkirkan mobil ku di basement dan langsung turun dari mobil bersama Cinta. Kami langsung masuk ke kantor Dipta. Sesekali aku tersenyum saat berpapasan dengan karyawan di kantor ini.


Akupun langsung ke resepsionis dan melihat resepsionis nya. Hmmm perasaan Papa Danial pernah bilang deh kalo resepsionis itu harus berpakaian sopan dengan rok selutut dan kemeja yang tidak ketat. Lah ini kok malah berasa liat SPG?? Ya bayangin aja ini mah resepsionisnya udah kayak mau main ke mall. Rok yang panjangnya hanya ditengah paha, kemeja yang bagian bawah nya di ikat dan ada beberapa kancing yang di buka.


"Mbak, Dipta nya ada?" tanya ku. Aku melihat tatapan resepsionis ini yang menatap ku sinis dan tersenyum sinis juga. "Ada apa ya cari calon suami saya?" tanya wanita ini yang membuat ku bingung dan menatap resepsionis ini. "Maaf? Bisa di ulangi?" tanya ku. "Ada apa kamu cari calon suami saya?" tanya nya yang membuat Cinta tertawa.


"Ngarep lo anjir! Calon suami pala lo peyang!" kata Cinta seraya tertawa. "Heh! Kamu kalo ga ada kepentingan mendingan pergi! Ngapain segala kesini? Mau caper ya sama calon suami saya?" kata wanita ini yang membuat ku menatapnya. "Ga perlu caper. Saya juga udah punya suami kali. Makanya Dipta ada ga di ruangannya?" tanya ku. "Ga. Udah kalian pergi aja. Kalo ada pesan, biar nanti saya sampaikan. Ga usah ketemu langsung gapapa kali." kata wanita ini. "Dih ngatur! Nes, telfon aja gih!" kata Cinta.


Aku langsung menelfon Dipta dan ga lama kemudian diangkat. "Hallo sayang, kenapa hmmm? Kangen ya sama aku." kata Dipta. "Di bawah. Cepetan. Gw di tahan sama resepsionis lo." kata ku singkat dan tanpa menunggu jawaban, aku langsung mematikan sambungan telfon.


Aku menatap wanita didepan ku ini dengan tatapan tajam. "Lain kali pake baju yang bener ya mbak. Bingung saya kok ini resepsionis kantor ini ga taat sama aturan kantor." kata ku santai. "Kamu ga tau apa-apa jadinya ga usah sok tau. Orang aturannya kayak gini kok." kata wanita ini. "Hmmm padahal papa mertua saya sering bilang lho kalo ada aturan di kantor ini." kata ku seraya menatap wanita ini.


"Siapa papa mertua kamu? Karyawan disini ya? Udah keluar kali jadinya ga tau aturan baru. Pa Danial sendiri yang menetapkan aturan berpakaian kantor. Makanya ga usah sok tau." kata wanita ini dengan tatapan meremehkan.


"Jaga ya mulut lo! Lo ga tau lagi ngomong sama siapa!" kata Cinta yang membuat ku langsung mengelus pundaknya dan menganggukan kepala ku. "Santai aja." ujar ku seraya tersenyum. "Nih laki lo mana sih! Lama amat turun ke bawah doang!" kata Cinta seraya menatap wanita ini kesal.


"Laki? Maksud kalian Pak Dipta itu suami mbak ini? Please lah selera nya ga sejelek ini kali!" kata wanita ini yang membuat ku kesal. "Ya emang kenapa?" tanya ku. "Dia itu calon suami saya, mbak. Makanya ga usah ngaku-ngaku. Kamu bisa kena pasal KUHP nanti. Atas pencemaran nama baik calon suami saya." kata wanita ini.


"Pasal?" tanya ku singkat. "Pasal eeuuumm ada deh pokoknya pasal yang berlaku." kata wanita itu yang membuat ku tersenyum sinis.


"Ngancem pake pasal tapi kok ga tau pasal berapa nya. Asal mbak tau ya, berdasarkan pasal 310 sampai 321 KUHP itu hanya berlaku kalau seseorang menuduh orang lain tanpa bukti dengan tujuan mencemarkan kehormatan orang tersebut. Nah mbak sekarang bisa ngancem saya dengan berkata CALON SUAMI mbak itu Pak Dipta memang ada bukti nya?" tanya ku yang membuat wanita ini kaget dan menatapku tajam.


"Ngapain juga hubungan harus di buktiin. Lagian kalo dia cinta sama saya, mau kamu jungkir balik pun saya yang dapat." kata wanita itu yang membuat Cinta tertawa. "Lawak anjir! Ngomong calon suami tapi ga ada bukti. Aneh! Nanti kalo dia nunjukin bukti nya, lo nangis!! Hahahahaha!!" kata Cinta seraya tertawa.


"Oh jadi mbak ga ada bukti nya ya hubungan sama Pak Dipta. Kalo saya sih ada ya. Di hp saya tuh udah banyak foto-foto kami berdua hahahaha cie! Ngarep sama laki orang!" ujar ku seraya tertawa.


Byur!!!


Tiba-tiba aku merasakan air di wajah ku. "Bangsat! Jaga ya tata krama lo selama di kantor ini! Sialan! Sahabat gw di siram air di kantor suami nya sendiri!" kata Cinta kesal.


"Heh Hanka! Yang sopan kamu sama tamu! Beliau orang penting di kantor ini!" kata salah seorang karyawan yang udah kenal aku. "Mbak, gapapa?" tanya karyawan itu yang ku jawab anggukan.


"Bodo amat. Emangnya gw pikirin. Dia nya aja yang kegatelan mau ketemu calon suami gw." kata wanita ini.


Aku menatap wanita ini dan mulai menatap Cinta. "Santai, Ta. Lo ambilin air deh gw haus anjir!" kata ku santai.


"Bisa-bisa nya lo abis disirem malah haus." kata Cinta. Aku hanya menatap nya dan tersenyum licik. Cinta yang mengerti senyuman ku dan tersenyum juga. Setelah aku menerima minuman ku, aku langsung membuka tutup botol nya dan---


Byur!!!


"Ada apa ini?!" tanya seseorang yang membuat ku menengok. Ternyata Dipta. "Sayang, kamu ngapain beginiin dia?" tanya Dipta. "Nih cewek satu ngaku-ngaku calon bini lo, Ta. Udah gitu giliran di pojokin sama Vanes, si Vanes di guyur muka nya pake air. Sialan!" kata Cinta gemas.


Dipta langsung menggenggam tangan ku dan memberikan jas nya untuk ku pakai. "Ayo, aku kenalin sama karyawan dulu. Ini dia baru. Makanya ga kenal." kata Dipta. "Baru sih baru tapi harus tau etika dong! Ini kalo tadi yang dateng kolega lo gimana? Mau lo bangkrut gara-gara nih ***** doang hah?!" kata ku kesal. "Kamu! Nanti ke ruangan saya. Saya urus masalah ini. Ayo sayang, aku kenalin ke karyawan yang lain. Yuk lah Ta!" kata Dipta yang ku jawab anggukan.


Dipta langsung menggandeng tangan ku dan kami mulai masuk ke ruang kerja karyawan. "Hallo semua! Mengingat ada banyak karyawan baru jadi saya rasa, saya harus mengadakan perkenalan untuk kalian semua. Perkenalkan ini istri saya, Vanessa Zahirah Bramantyo. Dia istri saya. Saya harap kalian bisa menghormati nya jangan seperti resepsionis didepan yang seenaknya tidak menjaga etika. Silahkan lanjutkan pekerjaan kalian!" kata Dipta.


***


Saat ini, aku sudah mengganti pakaian ku dengan kemeja Dipta. Sialan! Baju ku tadi jadi basah!


"Nes, are you okay?" tanya Cinta yang ku jawab anggukan. "Tenang aja, gw gapapa kok. Sayang? Pesenin teh panas ya." kata ku yang dijawab anggukan Dipta.


Tok! Tok! Tok!!


"Masuk!" kata Dipta. Pintu ruangan terbuka dan terlihat resepsionis yang tadi. Dia terlihat menunduk dan perlahan berjalan ke meja Dipta.


"Duduk!" ujar ku yang membuat dia menatapku dan menganggukan kepalanya. "Begini, masalah ini menyangkut dengan istri saya. Istri saya yang tadi berantem sama kamu. Kamu akan diurus sama istri saya. Sayang? Kamu aja sini yang kasih sanksi! Aku mau ke bawah dulu ambil makanan. Kamu mau makan apa?" kata Dipta.


"Aku mau mie aja boleh ga?" tanya ku. "Iya nanti aku bikinin. Lo, Ta? Mau apa?" tanya Dipta. "Gw mah samain aja kayak Vanes. Bjar ga ngerepotin yang karyawan lo." mata Cinta.


Aku langsung duduk di kursi Dipta dan menatap resepsionis ini yang masih menundukan kepala nya.


"Kamu karyawan baru tapi udah banyak ulah." ujar ku seraya menatap wanita dihadapan ku ini. "M-maaf b-bu. Saya ga bermaksud." kata wanita itu gugup. "Tadi berani teriak ke saya. Kok sekarang jadi ga berani?" tanya ku seraya menatapnya.


"Saya ga tau bu kalau ibu itu istri Pak Dipta." kata wanita ini. "Apa berarti semua perempuan yang menanyakan suami saya juga akan kamu perlakukan sama seperti tadi?" tanya ku. "Tidak, bu." kata nya.


"Yang benar kamu!" ujar ku seraya menggebrak meja. "I-iya bu. Maaf, saya janji ga akan mengulangi nya." kata wanita ini.


"Begini ya, saya tidak masalah kalau kamu hanya sekedar NGAKU-NGAKU suami saya itu calon suami kamu. Tapi disini yang menjadi permasalahan utama nya adalah sifat kamu. Attitude itu penting! Gimana kalo ternyata kolega bisnis suami saya itu perempuan. Kamu mau apa kalo begitu? Kamu ga bisa ngebentak orang lain sesuka kamu. Sifat kamu terlalu childish. Kamu tidak punya attitude kalau begini caranya. Attitude apa itu?! Bertemu tamu, bukannya ramah malah sinis! Di kasih tau yang bener, karna ga mau malu sampai berani nyiram air ke muka orang lain. Kurang ajar!" kata ku yang membuat wanita ini menatap ku.


"Apa? Mau ngasih pembelaan? Udah jelas-jelas kamu salah!" kata ku. Dia keliatan udah kesel. Dia menggebrak meja dan langsung berdiri. "Siapa anda berani mengatakan saya tidak punya attitude hah?!" kata wanita itu kesal.


"Heh mbak medok! Tadi banyak kali yang liat sikap lo!" kata Cinta yang langsung menurunkan jari wanita ini yang menunjuk ku.


"DIEM YA LO! LO BUKAN SIAPA-SIAPA DISINI!!" Kata wanita itu yang membuat ku kesal dan langsung berdiri. "KALO KAMU MASIH TAU MALU DAN GA MAU DIBILANG GA PUNYA ATTITUDE, KAMU HARUS TAU BAGAIMANA BERSIKAP! KALAU KAMU MASIH BEGINI, SAYA RASA SAYA TIDAK AKAN RUGI JIKA MEMECAT KAMU DARI PERUSAHAAN INI!" Kata ku dengan kesal.


"SAYA PUNYA KENALAN DI HRD! DIA GA AKAN KELUARIN SAYA! APALAGI HANYA SEKEDAR PERINTAH DARI KAMU!" Kata wanita itu.


"Apa? HRD? Kamu punya kenalan disini?? Yakin? Kenapa kamu tidak menjaga nama baik dia? Kenapa kamu bersikap seenaknya? Dimana-mana kalo masuk lewat orang dalem itu jaga sikapnya neng. Lo kira emang dengan lo pegang orang dalem itu lo bisa bebas seenaknya? Justru lo seharusnya jaga sikap lo karna lo bawa nama baik orang itu! Bukannya malu-maluin bodoh!!! Wajar kalo gw bilang lo ga ada attitude. Lo aja ga bisa bedain gimana bersikap. Bangga lo kenal sama HRD sini? Bangga? Ini kalo gw langsung kasih tau kesalahan lo ke karyawan lain juga pasti mereka tau kalo lo itu ga bakal bermakna bagi perusahaan ini! Bangga kok karna penampilan kayak perempuan ga bener. baju di iket, kancing di buka. Rok sebatas paha. Mau kemana lo?? Mall? Sorry say disini itu kantor!" kata ku yang membuat wanita ini menundukan kepalanya.


"Maaf, bu." kata wanita ini.


"Sebagai konsekuensi atas perbuatan kamu, maaf. Saya harus mengeluarkan kamu dari perusahaan ini. Saya mau perusahaan ini memiliki karyawan dengan attitude yang baik." kata ku.


"Bu, saya mohon bu. Saya harus menghidupkan adik saya bu!" kata wanita itu. "Begini, saya mau tanya sekarang. Kamu itu lulusan apa?" tanya ku. "Saya lulusan D4 perkantoran, bu." kata nya. "Kamu pindah ke kantor saya. Ini kartu namanya. Besok dateng aja ya! Oh iya, saya tunggu jam delapan pagi. Dengan pakaian rapih dan sopan. Sekali aja saya lihat ada pelanggaran yang kamu lakukan, saya ga akan segan-segan untuk memberikan sanksi yang lebih berat!" kata ku.


"J-jadi maksud ibu, saya hanya di pindahkan ke kantor ibu?" katanya yang ku jawab anggukan. "Ini untuk adik kamu. Kamu beruntung punya adik." kata ku seraya tersenyum.


"Ibu, maaf sebelumnya. Ini Bramantyo bukannya perusahaan besar itu ya." kata wanita itu yang ku jawab anggukan. "Ya, saya Vanessa Zahirah Bramantyo. Istri dari Hira Dipta Bahran. Salam kenal." ujar ku seraya tersenyum.