Stuck With You

Stuck With You
Engagement



Vanessa P.O.V


Aku sudah siap dengan anarkali dress hitam yang ku beli kemarin saat berkeliling di Jakarta bersama Dipta, Cinta, Arsen, Hiza, dan Faiz. Anarkali dress, salah satu jenis baju India yang kemarin cukup menarik perhatian ku. Aku membeli dua anarkali berwarna emas dan hitam. Cinta dan Hiza juga ikut membeli karna mereka tertarik saat melihat ku memakainya. Cinta yang memang pecinta warna pink, membeli anarkali dress berwarna pink, sedangkan Hiza membeli anarkali dress berwarna merah.


Anarkali Dress ini memang cukup banyak yang harus ku pakai ya. Seperti atasannya yang seperti sporty bra bedanya ini berbahan kaos dan cukup simple untuk di pakai, celana di bagian dalam yang menurut ku seperti celana kulot tapi tidak ku pakai saat ini karna itu akan bagus saat acara formal karna itu aku menggantinya dengan celana short, rok yang terlihat cukup simple dan saat aku pakai memang terasa menambah beban di baju ku ini tapi ini cukup ringan. Dan yang ku pakai terakhir adalah, outer yang di buat dari kain yang transparant yang aku kancingkan bagian dada ku. Oh iya jangan lupakan kain dupatta berwarna hitam yang akan menambah kesempurnaan baju ini. Aku sengaja memilih baju ini yang bordirannya sangat sedikit begitu juga manik-manik nya. Jadi aku rasa ini cocok untuk dipakai keseharian. Sekilas ini mirip seperti baju yang ada di film Bajirao Mastani, film yang sering aku tonton bersama Dipta.


Waktu memang berjalan dengan cepat. Hari ini aku sudah berada di ruangan ku di kantor. Ini adalah hari pertunangan ku dengan Dipta. Tapi aku memang sudah memutuskan untuk mengunjungi makam kedua orang tua ku terlebih dahulu. Karna itu, aku sudah memakai pakaian hitam. Setelah aku rasa siap, aku keluar dari ruangan dan melihat ada Dipta yang sudah siap dengan kemeja hitamnya.


"You're perfect!" kata nya yang membuatku tersenyum.


"Yang lain masih di hotel kan by?" tanya ku. "Iya sayang. Tadi lagi pada sarapan kok. Yuk!" ajak Dipta.


***


"Assalamualaikum, papa! Mama!" ucapku saat menghampiri makam kedua orang tua ku. "Assalamualaikum papa dan mama mertua!" ucap Dipta yang membuat ku tersenyum. Aku langsung mulai membersihkan makam kedua orang tua ku ini dan mulai menyiramkan air ke nisan mereka. Setelah habis, aku menaburi bunga diatas pusraa mereka dan meletakan dua rangkaian bunga yang aku buat dari tiga tangkai bunga sedap malam, dua tangkai rose merah, tiga tangkai rose kuning, dan satu tangkai rose putih. Aku meletakan satu rangkaian di setiap pusara.


Aku mulai menangkupkan kedua tanganku dan mulai berdoa.


"Mama, papa! Vanes datang bareng calon menantu kalian. Orang yang sama kayak yang Vanes ajak waktu lulus SMA lalu. Vanes harap kalian bisa restuin hubungan kami ya. Vanes kangen sama kalian, kapan-kapan dateng ya ke mimpi Vanes, ma, pah!" batinku.


Saat aku membuka mata, aku merasakan angin berhembus dan itu membuat ku tersenyum Aku merasa kedua orang tua ku ini merestui hubungan kami.


"Papa, mama mertua. Hari ini, kami akan bertunangan. Akan terasa spesial kalau yang mendampingi Vanes itu kalian. Tapi Dipta tau kalau kalian pasti akan datang nanti walau kami tidak bisa lihat kalian tetap aja kalian akan bahagia melihat senyuman di Vanes. Ini janji Dipta untuk kalian." kata Dipta yang membuat ku tersenyum.


***


Saat mobil yang kami naiki sudah sampai ke area kantor ku, aku bisa melihat banyak wartawan yang sudah bersiap untuk meliput acara pertunanganku ini. Saat Dipta membuka pintu mobilnya, wartawan-wartawan itu langsung menyerbu mobil kami. Dipta membuka pintu ku dan membantuku keluar.


"Nona Vanessa, sebentar lagi anda akan bertunangan. Bagaimana perasaan anda?" tanya salah satu wartawan. Aku tersenyum dan berdiri menghadap ke mereka. "Tentu saya akan nervous ya apa lagi ini baru tunangan. Saya bahkan tidak bisa membayangkan kalau saya menikah ini akan menjadi moment terbahagia dalam hidup saya." jawabku tersenyum.


"Dari mana anda? Apakah anda pergi sebentar untuk menenangkan diri?" tanya wartawan lainnya. "Saya habis mengunjungi makam kedua orang tua saya. Bersama Dipta juga." ujar ku tersenyum. "Maaf, mas dan mbak sekalian kalau tidak keberatan ya, saya rasa wawancara nya sudah cukup karna Vanes harus masuk ke dalam untuk bersiap. Saya juga harus kembali ke hotel untuk persiapan. Ini, ada undangan untuk perwakilan setiap wartawan ya. Saya rasa saya akan memberikan undangan ini ke tiga wartawan stasiun tv dengan maximal orang perundangan hanya dua orang saja. Bisa di mengerti?" tanya Dipta. "Wah terima kasih sekali untuk anda, eeuummm Tuan Dipta." kata salah satu wartawan.


Dipta memberikannya ke tiga wartawan yang tadi bertanya dan merespons kami. Setelah itu, Dipta mengantar ku sampai ke depan gedung kantor. Dia mencium keningku dan langsung pergi. Aku pun langsung ke lift dan naik ke lantai dimana ruangan ku berada.


***


"Warna ini sangat sesuai dengan nona!" kata perias ku saat memakaikan ku lipstick berwarna pink tua yang sama seperti bibir ku. Aku tersenyum dan memilih diam agar tidak mengganggu pekerjaannya.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!!" ucapku. Pintu terbuka dan terlihat ada Cinta dan Hiza. Ada Om Ahmad dan Tante Maya juga. "Damn! You look so perfect, Nes!!" kata Cinta. "Thank you. Oh iya, Ta. Nanti kita turun ke bawahnya bareng-bareng kan ya?" tanya ku. "Iya lah. Pokoknya lo harus siap ya kalo nanti gw sama Hiza panggil." kata Cinta yang ku jawab anggukan.


***


Aku mendengar suara ketukan tepat saat aku lagi meminum air putih di ruanganku. Tante Maya membuka pintu dan terlihat Cinta serta Hiza yang tersenyum. "Ayo turun!" ajaknya yang ku jawab anggukan. Om Ahmad membantu ku berdiri dan Tante Maya merapihkan rambutku. "Nih tissu biar kamu bisa lap kalo keringetan!" kata Tante Maya yang ku jawab anggukan.


Kami mulai berjalan perlahan keluar dari ruangan ku menuju ke lift. Cinta dan Hiza membantu ku dengan mengangkat ekor gaunku selama di lift. "Nes, nih pake deh! Katanya ini bisa bikin pasangan makin lengket." kata Hiza memberikan satu borol kecil berwarna pink. "Apaan ini?" tanya ku bingung. "Misk Thaharah. Coba aja oles di leher, tengah dada, sama dua tangan ku. Palingan si Dipta bakalan suka sama bau nya." kata Cinta. "Okay." jawabku seraya mulai mengoles.


Lift terbuka dan memperlihatkan satu papan bertuliskan 'Dipta & Vanessa Engagement' dan panah yang menunjuk ke arah aula. Aku melihat banyak wartawan yang menyorot kami. Cinta dan Hiza menurunkan ekor gaun ku. Kamipun mulai berjalan ke aula dengan perlahan.


Saat sampai didepan aula, aku melihat ada keluarga Dipta yang udah duduk di sisi kanan aula. Akupun secara perlahan berjalan di atas karpet cream di ruangan ini. Diiringi lagu Turning Page yang ada di film twilight, aku melangkah dengan perlahan dan duduk di kursi yang udah disediakan disebelah kiri aula. Di samping kanan dan kiri ku ada Om Ahmad dan tante Maya.


"Selamat pagi! Saya, Jihane dan pasangan saya, Kendra hari ini akan memandu acara pertunangan Vanessa Zahirah Bramantyo dengan Hira Dipta Bharan. Terima kasih kami ucapkan atas kehadiran para tamu hadirin sekalian. Bisa kita lihat ya kedua tokoh utama kita hari ini sudah sangat bersinar untuk menjalani acara ini. Saya rasa kita bisa memulainya sekarang ya!" Kata Mbak Jihane.


***


"Vanessa, bisa kamu naik ke altar? Dipta juga mungkin bisa membantu Vanessa naik ke altar!" kata Mbak Jihane. Dipta berdiri dan menghampiri ku. Dia menggenggam tanganku lalu kamipun berjalan ke altar.


Tante Maya naik ke altar disebelahku lalu langsung memberikan satu seserahan ke Dipta yaitu jam tangan peninggalan almarhum papa ku. Setelah itu, Mama Diana naik ke altar dan memasangkanku satu cincin di jari tengah tangan kiri ku. Cincin dengan berlian ditengahnya itu dan dikelilingi oleh batu berlian kecil membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama ke cincin ini.


Mama Diana memeluk ku dan kami berdua sama-sama tersenyum. "Cincin ini mama pasang dijari tengah karna kamu itu wanita karir. Mama harap dengan kamu dan Dipta melangkah ke jenjang yang lebih serius, kalian bisa saling melengkapi satu sama lain." kata Mama Diana yang ku jawab anggukan seraya tersenyum.


"Baik, saya rasa inilah saatnya Vanessa dan Dipta mulai bertukar cincin untuk meresmikan hubungan mereka!" Kata Mbak Jihane.


Dipta langsung memakaikan ku cincin di jari manis tangan kiri ku dengan cincin yang ada berlian di tengahnya. Akupun memakaikan cincin emas putih dengan didalamnya ada pahatan 'DiptaVanessa'.


Dan akhirnya kamipun resmi menjadi sepasang calon suami-istri yang sah. Aku resmi menjadi tunangan dari Dipta begitupun Dipta yang resmi menjadi tunanganku.