Stuck With You

Stuck With You
Prewed Pt 1



Vanessa P.O.V


"Gimana, by? Udah siap gaunnya?" tanya Dipta yang ku jawab anggukan. "Aku pake gaun yang waktu pertama kali kita jalan kamu pilihin itu loh yang silver." kata ku tersenyum. "Wah okay kalo gitu aku bawa yang silver juga ya jas nya." kata Dipta. "Iya!" jawabku seraya tersenyum.


Aku melihat ketiga sahabatku. Mereka masih tertidur. "By, sahabat kamu udah ada yang bangun?" tanya ku. "Udah kok. Si Ivan udah bangun dia. Tuh lagi nyemil depan TV." kata Dipta. "Okay nanti kita keluar lewat unit kamu ya. Sahabat aku masih tidur." kata ku. "Okay. Yuk!" ajak Dipta.


Aku langsung mengambil selembar kertas dan mulai menulis 'Kita ketemuan di butik okay. Cinta tau kok letaknya. Gw sama Dipta duluan ya guys. Jangan lupa sarapan! ~Vanessa'


***


Aku saat ini lagi duduk di ruang make up. Saat ini, Mas Angga sedang memperlihatkan hasil foto kami tadi. Aku sangat menyukai semua hasilnya. "Pilih satu aja yang buat di bingkai ya. Sisanya bisa saya kasih bentuk soft copy. Kalian kan pilihnya yang bingkai nya untuk indoor cuman satu ya." kata Mas Angga. "Hehehehe iya mas paham kok. Eeuuumm kayaknya yang ini aja deh." kata ku menunjuk satu foto yang memperlihatkan aku dan Dipta yang saling berpandangan dan hidung kami saling bersentuhan.


"Okay kalo gitu. Berarti yang ini ya?" kata Mas Angga yang ku jawab anggukan. "Aku setuju banget sayang. Ini keliatan sweet banget. Kayak kamu." kata Dipta menggombal. "Gombal dasar." kata ku seraya tertawa. "Ih beneran." kata Dipta. "Duh udah jangan bucin disini. Sekarang kita bahas tempat yang lain. Gimana rumah klasik nya? Udah nemu?" tanya Mas Angga. "Belum mas." kata Dipta. "Seingat saya ya di Kebun Raya Bogor tuh banyak bangunan klasiknya. Ga mau coba disana?" tanya Mas Angga. "Wah iya juga ya. Okaylah disana aja!" kata ku.


"Mas mengenai prewed yang di kolam renang itu. Mas ada saran ga ya bagus nya dimana? Kalo Dipta sih ada saran prewed di apartment aja kan ada swimming pool nya tuh." kata Dipta. "Oh kalo gitu ya okay aja sih. Lumayan irit budget juga ya kan." kata Mas Angga.


"Jadi kita mulai nya kapan?" tanya ku. "Nanti malam aja gimana? Paling enggak sore deh. Kan kalian mau ke butik kan?" tanya Mas Angga. "Iya. Yaudah berarti nanti sore nih ya. Ke Bogor nya besok." kata ku. "Sip nih ya." kata Mas Angga.


***


Kami sudah sampai didepan butiknya Kak Alisha. Aku langsung masuk ke dalam dan melihat butik ini sangat sepi. Udah ada Mbak Jihane, Mas Kendra, dan keenam sahabat ku sedang duduk di sofa. "Nah akhirnya dateng juga. Nih, Sha yang mau nikah nih!" kata Mbak Jihane.


"Waduh kehormatan nih bisa di kasih tanggung jawab sama kamu. Oh iya kamu mau desain yang kayak gimana ya?" tanya Kak Alisha. "Eeuumm mau nya dua baju ya kak. Yang satu buat akad. Kayaknya kalo itu kebaya aja. Tapi tolong kebaya nya yang ga pernah di pake orang-orang ya. Terus juga tolong bikinin bagian rok nya. Warna cream kayaknya bagus. Bordirannya silver ya, kak." kata ku seraya tersenyum. "Okay kalo itu sih bisa kakak urus. Kalo baju kedua?" tanya Kak Alisha.


"Gaun ya kak jadi nya tuh aku mau gaun yang ada cape nya gitu jadi bagian lengannya ga terbuka banget." kata ku. "Bisa kamu gambar disini ga ya?" tanya Kak Alisha memperlihakan buku desainnya. Aku langsung menggambar desain gaun seperti yang ku mau tentunya dengan kemampuan ku yang terbatas. Aku mencoba menggambar gaun dengan bagian pinggang kebawah berupa sheer overlay. Jadinya itu bisa menonjolkan bagian pinggul ku. Llau untuk membuat nya tidak terlalu terlihat ketat, aku menambahkan kain yang full payet dan transparan putih untuk membuat kesan elegant di gaunku.


"Oalah yang kayak gini! Pinter juga kamu pilih gaunnya." kata Kak Alisha. "Jadi, Sha? Kamu bisa?" tanya Mbak Jihane. "Bisa banget. Nah sekarang kamu pilih ya, Nes. Kain yang mau di pakai. Pilih tiga. Yang satu buat jadi kebaya kamu. Oh iya kalo bisa pilihin kain cream nya biar sesuai sama kemauan kamu. Anna! Bella! Bantu dulu sini!" kata Kak Alisha.


Ga lama kemudian datang dua perempuan dengan penampilan yang sangat rapih dan sopan. "Iya, bu!" kata mereka. "Tolong kamu antar Vanessa ke ruangan kain. Kasih bahan premium ke dia okay!" kata Kak Alisha. "Mari, eeuummm Kak Vanes!" kata salah satu dari dua perempuan itu. "Panggil Vanes aja, mbak. Ayo!" ajak ku seraya tersenyum.


Aku mulai memasuki satu ruangan luas berisikan kain-kain yang sangat indah. "Bisa tolong perlihatkan ke saya kain putih yang penuh dengan bordir? Kain yang transparan putih dengan bordir, kain satin berwarna putih tulang, dan kain berwarna cream ya!" kata ku. "Okay, Vanes." jawab salah satu dari mereka.


***


"Ah kayaknya yang ini bagus!!!" ujar ku seraya tersenyum menunjuk satu kain yang aku suka. Kain ini penuh dengan bordir dan full kristal. "Bagaimana, Vanes? Yang mana aja yang mau dipilih?" tanya Kak Alisha yang baru aja masuk ke ruang kain. "Yang ini, kak." kata ku tersenyum. "Okay kalo gitu. Eeuumm ini kalian nikahnya kapan ya? Bulan apa?" tanya Kak Alisha. "Bulan depan, kak." jawabku. "Waduh cepet banget ya. Okay lah nanti kakak ngebut." kata Kak Alisha. "Sip." jawabku.


"Yaudah kita ukur dulu ya. Oh iya kalo bridesmaid nya mau kayak gimana?" tanya Kak Alisha. "Kakak ada buku desain nya ga ya? Nanti biar mereka bisa pilih." jawabku. "Oh ada kok. Yaudah kalo gitu kakak kasih dulu ya biar mereka pilih nanti langsung kita ukur." kata Kak Alisha. "Siap." jawabku.


Kak Alisha langsung mengeluarkan empat buku berisikan desain-desain gaun lalu membawanya keluar. Setelah itu, aku langsung bercermin. Hmmmm ga kebayang nanti kalo make up nikahan gimana hehehe.


"Okay ayo kita ukur!" ajak Kak Alisha. "Vanes, maaf kalau ini mengganggu ya." kata Kak Alisha seraya mengukur area badan ku. "Santai kak gapapa kok." jawabku tersenyum. "Eeuummm, Nes? Ini kamu bagian punggung nya mau terbuka atau gimana?" tanya Kak Alisha. "Terbuka kak. Tapi bentuknya bulet aja ya terbuka nya!" kata ku tersenyum. "Ada request lain?" tanya Kak Alisha. "Aku mau biar tulang punggung aku keliatan berbentuk." kata ku tersenyum. "Okay, gampang itu." kata Kak Alisha.


Aku langsung mengikuti prosedur pengukuran tubuh. Setelah selesai, aku langsung keluar dari ruang kain. "Nes, gw yang ini!" kata Cinta memilih satu desain gaun one off shoulder. "Okay." jawabku tersenyum. "Kalo gitu yang udah pilih desain, langsung ya ke ruang kain. Ukur tubuh!" kata Kak Alisha tersenyum. "Okay. Kalo gitu aku duluan ya kak!" kata Cinta yang dijawab anggukan.


"Sayang? Menurut kamu yang mana?" tanya Nanda ke Andre. "Euumm kalo menurut aku sih yang ini, yang." kata Andre seraya menunjuk salah satu desain gaun dengan tali spagetti dan bagian dada yang cukup terbuka sedikit. "Okay, yang ini aja ya, Nes." kata Nanda. "Masuk ke ruang kain gih!" kata ku seraya tersenyum. "Nes, cewek gw yang ini." kata Ivan menunjuk satu desain gaun berbelahan dada berbentuk V. "Okay, langsung ke ruang kain aja bawa buku desainnya. Mbak? Mbak udah pilih mau yang mana?" tanya ku. "Yang ini aja, Nes." kata Mbak Jihane menunjuk satu gaun mermaid dress dan off shoulder. "Ga sayang. Jangan yang itu. Ganti! Itu terbuka sayang!" kata Mas Kendra.


"Yah, sayang. Boleh ya!" kata Mbak Jihane. "No! No! No! Ganti. Yang tertutup!" kata Mas Kendra. "Huft! Fine!" jawab Mbak Jihane seraya tersenyum. Dia melihat beberapa desain lalu langsung menunjuk salah satu desain. "Kayaknya yang udah nikah pakai gaun ini kali ya!" ajak Mbak Jihane. "Okay." jawabku. "Ukuran mama sama Tante Maya nanti biar kita aja kali ya yang minta mereka kesini, by?" kata Dipta yang ku jawab anggukan. "Iya, nanti Mbak Jihane bakal jadi kepala koordinator acara ya, mbak. Kalo Hiza nanti bagian kepala pagar ayu. Fiza palingan kita jadiin penyambut tamu ya." kata ku. "Okay kalo gitu." jawab Dipta.


"Sayang, kayaknya kalo nanti akad yang bridesmaid harus pake gaun yang beda deh. Ga mungkin kalo di pake dua kali pasti nanti bakalan keringetan." kata Dipta. "Iya juga ya. Yaudah berarti desain semua gaun untuk bridesmaid, sama panitia nya sama ya kak." kata ku seraya tersenyum. "Okay lah kalo begitu, Nes. Kain nya satin aja kali ya biar ga terlalu gerah." kata Kak Alisha yang ku jawab anggukan. "Warna apa mau nya?" tanya Kak Alisha. "Warna coklat aja, kak." jawabku seraya tersenyum. "Okay deh kalo begitu." jawab Kak Alisha.


***


Setelah keempat sahabat kami pergi, aku dan Cinta langsung naik ke unit ku. "Nanti gw mau liat ya pas lo photoshoot!" kata Cinta. "Sip deh!" jawabku tersenyum.


Tok! Tok! Tok!


"Sayang, ini aku pake kemeja putih kan ya?" tanya Dipta. "Iya, by! Udah buruan kamu ganti baju ya! Aku mau ganti sama make up juga!" ujar ku seraya tersenyum.


***


"Mas Angga? Bisa ga ya foto nya nanti foto underwater juga? Jadinya nanti beberapa shoot di atas beberapa shoot di bawah. Bisa ga ya?" tanya ku. "Bisa kok, Nes. Kebetulan tadi saya emang mau bilang gitu. Okay sekarang shoot yang kalian di atas kolam ya! Atur posisi!" kata Mas Angga.


Kami langsung berpose sesuai dengan kenyamanan kami. Pose pertama, aku dan Dipta saling berpegangan tangan dan saling bertatapan. Pose kedua, Dipta menggendongku. Pose ketiga, Dipta berdiri di pinggir kolam dan aku berlari ke arahnya. Pose keempat, aku memeluk Dipta yang lagi berdiri di pinggir kolam.


Byuurr!!!


Terdengar bunyi deboman air di kolam dan kamipun tercebur ke dalam kolam renangnya. Huft! Untung aja aku udah bilang ke pihak apartment untuk menyewa area swimming pool nya. Jadi di area ini hanya ada kami saja.


Dipta langsung mengangkat ku dari air dan baju kami sama-sama basah. "Okay sekarang underwater. Saya lepas baju dulu sebentar." kata Mas Angga.


Dipta memeluk ku seraya tersenyum. "Akhirnya bulan depan dapet guling baru deh." katanya seraya tertawa. Akupun tertawa dan mencubit pipi nya. "Enak aja ngomong aku guling. Kamu nanti aku tendang dari kasur baru tau rasa." kata ku seraya tersenyum.


"Okay ayo pada bersiap ya!!!" kata Mas Angga seraya membawa kamera nya ke dalam air. "Mas? Itu gapapa?" tanya ku. "Tenang. Ini itu waterproof camera, Nes. Jadi aman kalo di bawa ke air." kata Mas Angga. "Okay deh." jawabku tersenyum.


Kami mulai berpose. Pose pertama, Dipta menggendongku yang seolah-olah habis tenggelam. Pose kedua, aku naik di atas punggung Dipta seraya tersenyum. Pose ketiga, aku dan Dipta sama-sama menenggelamkan tubuh dan wajah kami tapi kami mengangkat tangan kami yang lagi saling bergandengan.


"Okay, dari dalam air mau gak nih?" tanya Mas Angga. "Mau!" jawab Dipta seraya tersenyum.


Kami berdua menenggelamkan diri ke dalam dan saling membuka mata untuk bertatapan. Lalu kami naik ke permukaan kolam untuk mengambil nafas. "Pose kedua ya!" kata Mas Angga. Kami langsung kembali masuk ke dalam air. Dipta mendekati wajah ku dan kami berpose seolah-olah ingin saling berciuman. Tapi aku menahan badan Dipta agar itu tidak terjadi. Setelah itu, kami kembali ke permukaan dan mengambil nafas sebanyak-banyak nya.


"Pose terakhir! Kalo bisa langsung dua pose. Inget ya, tiap delapan detik, ganti!" kata Mas Angga. Kami berdua langsung menahan nafas dan kembali masuk ke dalam air. Aku dan Dipta berpose sedang duduk di lantai kolam renang. Lalu saat aku sudah menghitung sampai delapan, aku membuka mata ku dan duduk di pangkuan Dipta. Aku berpose seolah-olah sedang berada dpangkuan Dipta seraya menatapnya. Sedangkan Dipta sedang memejamkan mata nya.


Setelah aku menghitung sampai sepuluh detik, aku langsung menarik Dipta ke permukaan kolam.


"Coba kalian atur nafas dulu abis itu langsung ke pinggir ya buat liat hasilnya!" kata Mas Angga. "Sayang? Are you okay?" tanya Dipta yang ku jawab anggukan. Hari yang semakin gelap dan suhu yang semakin menurun membuat kolam ini terasa dingin. Aku memilih memeluk Dipta dan kamipun berjalan ke pinggir kolam.


"Nih liat hasilnya! Pilih dua foto ya!" kata Mas Angga. "By, menurut aku yang ini bagus deh." kata Dipta menunjuk foto saat dia menggendongku diatas kolam. "Jangan, by. Mendingan yang ini!" kata ku memperlihatkan satu foto saat aku berlari ke arah Dipta saat dia berada dipinggir kolam. "Sekedar saran, kenapa ga kalian pilih yang ini? Keliatan lebih bahagia terus juga view nya bagus." kata Mas Angga memperlihatkan foto saat aku memeluk Dipta dan difoto itu kami sudah hampir tercebur ke kolam. "Iya, Nes. Gw juga setuju. Bagus loh yang ini!" kata Cinta. "Iya bener banget. Lebih keliatan kalo kalian mesra gitu!" kata Arsen. "Okay. Berarti satu foto lagi ya. Eeuuuumm coba deh Mas Angga pilih yang bagus yang mana!" kata Dipta.


"Kalo saya sih yang ini!" kata Mas Angga menunjuk satu foto saat Dipta menggendongku yang baru saja tenggelam. "Kalo menurut gw sih ya kali ini coba deh kita cocokin. Kalian kan pasti satu selera. Sekarang gini aja, Mas Angga boleh gak ya saya pinjam kamera nya. Vanes ikut gw!" kata Cinta.


Aku langsung mengikuti Cinta yang sudah membawa kamera Mas Angga. "Coba lo pilih sesuai kemauan lo. Satu foto aja!" kata Cinta. Aku langsung melihat foto-foto kami di dalam air dan memperlihatkan satu foto saat aku dan Dipta hampir berciuman. "Ini." ujar ku seraya tersenyum. "Okay. Yuk balik ke mereka!" kata Cinta.


Kami langsung kembali ke para laki-laki dan Cinta memberikan kamera ke Mas Angga. "Sekarang Dipta harus coba pilih foto yang disukainnya. Kita liat apa Vanes tau mana selera Dipta." kata Cinta seraya tersenyum. Mas Angga memberikan kamera nya ke Dipta. Dipta mulai menatapku dan memilih beberapa foto. Lalu tangannya berhenti dan memperlihatkan foto pilihannya. Ternyata, sama seperti pilihan ku!!!


"Ya! Ternyata kalian memang satu selera ya. Kalo gitu, ini foto kedua aja yang kalian pilih. Nih Mas Angga." kata Cinta mengembalikan kamera milik Mas Angga. "Okay, softcopy nanti saya kasih ya ke Dipta. Mau abis ini atau nanti abis semua nya beres biar sekalian satu flashdisk?" tanya Mas Angga. "Sekalian aja deh mas." jawabku. "Okay." jawab Mas Angga.