
Vanessa P.O.V
"Vanes, ini kamu beneran ga sih? Beda banget loh kalo pakai make up." kata Mbak Jihane. "Ya beda dong sayang. Dia jadi lebih dewasa kalo pakai make up." kata Mas Kendra yang membuatku tersenyum. "You're perfect, Nes." kata Mas Kendra seraya mengelus rambutku.
Mas Kendra dan Mbak Jihane kompak dengan setelan formal mereka. Mbak Jihane yang rambutnya baru aja di cat membuat dia seperti tourist. Dia juga memakai gaun formalnya dengan warna yang senada sama jas nya Mas Kendra. "Gimana? Udah siap?" tanya Mbak Jihane. "Udah, mbak. Ayo kita berangkat!" ajak ku. "Ga sabar nih ya ketemu Dipta." kata Mbak Jihane. "Dia di apart ya, nes?" tanya Mas Kendra yang ku jawab anggukan. "Cocok dah latihan dipingit." kata Mbak Jihane.
***
Mobil yang ku naiki sudah memasuki gerbang masuk sekolah. Aku mulai deg-degan melihat banyak murid yang menatap mobil yang ku naiki. "Hmmm berasa jadi artis ya, mas." kata Mbak Jihane. "Iya nih sayang. Kayaknya kita bisa liat seberapa Vanes dikenalnya nih." kata Mas Kendra.
Aku hanya menggelengkan kepala ku dan menatap ke sekitar, aku tersenyum melihat Dipta yang udah nunggu didepan pintu masuk sama kedua orang tua nya. Dipta tersenyum melihat kearah mobilku. Dia langsung menghampiri mobil dan langsung membuka pintu penumpang. Akupun keluar dan dia langsung mencium keningku. "Cie! Cincinnya dipake!" kata Dipta yang membuatku tersipu. "Yaiyalah kan dari calon suami." jawabku yang membuat mata nya berbinar.
"Hai Dipta!" sama Mbak Jihane. "Hallo, mbak! Eh ada Mas Kendra! Apa kabar mas?" tanya Dipta. "Baik dong, Ta. Gimana kabar kamu? Baik?" tanya Mas Kendra. "Baik, oh iya ayo masuk! Papa sama mama udah nunggu mantunya!" kata Dipta.
Kami langsung berjalan ke pintu masuk dan melihat Papa dan mamanya Dipta yang tersenyum menatapku. "Hallo sayang!!" sapa Mama nya Dipta. "Selamat Pagi, Bu Vanessa!" sapa Papa nya Dipta. "Om, panggil saya Vanes aja ya. Saya juga lebih muda dari pada om. Ga enak rasanya kalo ssaya dipanggil ibu." ucapku. "Oh iya Vanes." kata papanya Dipta.
Mamanya Dipta langsung memeluk ku dan tersenyum. "Kamu cantik, Vanes. Nanti kita foto keluarga ya pulang dari sini!" ajak Mamanya Dipta. "I-iya ma." jawabku. "Ma, nanti kita mau foto bareng sama sahabat-sahabatnya kita juga." kata Dipta. "Yaudah entar ajak dong sahabat-sahabat kamu. Kalo bisa malahan nanti semua wali nya kenalan siapa tau bisa sahabatan jadinya bukan anaknya doang yang sahabatan. Gimana mbak Jihane?" tanya Mama nya Dipta. "Wah ide bagus itu, Nyonya Wiratmo." jawab Mbak Jihane. "Yaudah nanti gini aja, bagaimana pas pulang nanti ya saya dan tunangan saya menumpang di mobil ibu dan bapak Wiratmo. Agar nanti Dipta dan Vanes memakai mobil saya. Bagaimana?" tanya Mas Kendra.
"Dengan senang hati, Tuan Kendra." jawab papa nya Dipta.
Dipta menggandeng ku dan kamipun langsung masuk ke dalam gedung. Kami bertemu dengan keenam sahabat kami. Kedua orang tua Dipta, Mbak Jihane, dan Mas Kendra pun berkenalan dan mengobrol bersama para orang tua keenam sahabatku. Aku tersenyum melihat Mbak JIhane yang terlihat nyaman dengan obrolannya bersama.
Aku melihat para anak-anak genk Carberus yang sudah datang bersama pasangannya. Mereka terlihat sangat bahagia dan kami memakai warna yang kompak.
Nah saat giliran Arsen, Cinta terlihat tersenyum lebar, namun senyumnya luntur karna Arsen sama seperti Andre yang langsung dikerubungi adik kelas. "Liat aja kalian ya!" desis Cinta. "Harap bersabar ini ujian." ucapku seraya tertawa.
Saat nama Dipta disebutkan, dia berdiri dan langsung menengok ke arahku. Dia tersenyum dan mulai berjalan ke panggung. Aku saat ini melihat Dipta yang menerima sertifikat. Dipta terlihat menerima banyak bunga dari adik kelas. Aku hanya berdecak kesal melihatnya. "Untung aja jauh kamu sayang. Kalo deket aja udah aku jewer kamu!" kata ku pelan. "Harap sabar ya ini memang ujian." kata Cinta meledek ku.
Dan tibalah saatnya Ivan. Aira menatap nya tajam dan Ivan hanya tertawa dengan pelan. Ivan maju dan mendapatkan sertifikat. Dia langsung turun dari panggung dan langsung mengangkat tangannya dengan maksud melarang para adik kelas yang mau mengerubunginya. "Ngerti juga dia." kata Aira tersenyum penuh kemenangan.
Saat Ivan mulai berjalan dan ternyata makin banyak yang mengerubunginya, dia mau ga mau foto bareng deh. Aira langsung menatapnya penuh tajam dan langsung berdiri. "Gw mau ke toilet dulu. Kalian mau ikut?" tanya Aira. "Mau ngapain?" tanya ku. "Ngasih pelajaran ke cowok-cowok kita." kata AIra. "Eits! Jangan! Gw tau cara ter-savage nya." kata ku. "Gimana?" tanya ketiga sahabatku menengok. "Mereka kan posesif sama kita tapi mereka juga terima aja kan di foto bareng. Yaudah kita nanti kalo ada cowok-cowok yang ngajak foto, kita ga boleh nolak. Buat panas-panasin mereka. Gimana?" tanya ku. "Wih gila ide bagus banget tuh!" kata Nanda.
Acara terus berlanjut. Hingga tibalah saatnya kelas kami yang dipanggil. Dimulai dari Aira. Dia maju ke depan dan saat turun, aku ngeliat cukup banyak adik kelas cowok yang mengajaknya berfoto. Mereka berfoto bersama dan aku bisa liat muka nya Ivan yang udah menatap mereka tajam.
Saat giliran Cinta, dia maju ke panggung. Dia terlihat tersenyum dengan lebar dan saat turun dari panggungpun dia banyak dikerubungi adik-adik kelas yang laki-laki. "Kayaknya laki kita pada kena mental nih." kata ku tetrawa. "Iya kayaknya pada kena mental rasain deh." kata Nanda.
Saat nama Nanda dipanggil, Andre terlihat menatap Nanda dengan senyuman lebarnya dan mengatakan secara perlahan kata 'Ok' dia memuji Nanda. Nanda tersenyum dan berjalan ke panggung. Setelah turun dari panggung, Nanda mendapat banyak ajakan foto oleh adik kelas.
"Vanessa Zahirah Bramantyo!" panggil MC.
Aku berdiri dan langsung merapihkan kebaya ku. Aku langsung berjalan ke panggung. Saat melewati barisan kelas Dipta, dia langsung keluar dari barisan dan menggandengku sampai ke tangga untuk naik ke panggung. Dia berjalan ke tangga untuk turun dari panggung dan langsung berdiri disana.
"Selamat atas kelulusannya, Vanessa!" ucap ibu kepala sekolah. "Terima kasih, bu." jawabku tersenyum. Setelah menerima sertifikat, aku langsung turun dari panggung. Dipta langsung memeluk ku dan merangkul pinggang ku. "Oy, dek! Fotoin gw sama istri dong!" ucapnya yang membuat ku tersipu. "Ih curang deh. Tadi kamu foto sama adik kelas aja boleh sama aku ga boleh sih yang." ujar ku. "Ga, ga boleh ada cowok yang foto sama kamu." kata Dipta. "Okay dek siap ya. Satu! Dua! Tiga!" kata ku seraya berpose menjewer telinga nya Dipta. Aku langsung menariknya. Dipta yang sadar langsung menatapku dan terlihat menahan sakit. "Rasain nih tadi sih genit sama adek kelas!" ucapku. "Adududuh sayang! Lepasin dong yang! Masa aku udah ganteng begini di jewer sama kamu sih yang. Malu dong yang." jawab Dipta.
"Lebih milih begini atau aku ngambek hmm?" tanya ku. "Udah deh gini aja. Aku ga kuat kalo ga sama kamu." kata Dipta.