
Vanessa P.O.V
"Wah ga nyangka ya Mbak Jihane, kita bisa besanan hehehe." kata Mama Diana_mamanya Dipta.
Saat ini, ada pertemuan antara keluarga Dipta dengan Om Ahmad, Mbak Jihane dan Mas Kendra. "Iya ya, bu. Waduh sebentar lagi mereka udah tunangan aja." kata Mbak Jihane tersenyum. "Mas Kendra, apa mau mengajukan syarat?" tanya Papa Danial. "Syaratnya simple kok, Pak Wira. Kan Vanes udah kayak adik saya sendiri ya. Jadinya saya ga rela kalau nanti dia nikah nya ngeduluin saya." kata Mas Kendra. "Tapi tunangannya boleh kan?" tanya ku. "Boleh dong." jawab Mas Kendra.
"Baik kalau gitu kita sekarang pastiin aja yuk tanggal nya!" ajak Om Ahmad tersenyum. "Bagaimana kalau tanggalnya di hari kenaikan semester mereka saja??" tanya Papa Danial. "Enggak deh, Pah. Mama ga setuju kalo pas itu. Itu tuh kelamaan." kata Mama Diana.
"Eeuuumm Dipta mau ngasih saran boleh?" tanya Dipta. "Boleh dong! Mau saran apa nih?" tanya Mbak Jihane. "Kalau di hari kematian orang tua Vanes gimana? Ya Dipta rasa kalo hari itu bakalan jadi hari spesial untuk mereka yang disana juga. Mereka bisa liat Vanes banyak yang sayang dan segera menikah." kata Dipta.
"Bagaimana, sayang? Kamu setuju?" tanya Mama Diana seraya mengelus rambutku. "Vanes setuju, ma." jawabku tersenyum. "Alhamdulillah berarti bulan depan ya?" tanya Om Ahmad. "Iya, om. Oh iya, pah? Mah? Mbak? Mas? Ini mau tema warna apa ya? Kalo Vanes mau nya warna merah boleh?" tanya ku. "Boleh sayang. Merah, Putih, Hitam ya biar kontras." kata Mama Diana yang ku jawab anggukan.
"Okay jadi gini, untuk tempat pertunangan, di gelar di aula kantor nya Vanes yang di Jakarta. Urusan pakaian, saya rasa kita harus fitting bersama agar bisa terlihat selaras selama acara. Vanes, Dipta? Kalian mau ajak sahabat kalian atau enggak?" tanya Mbak Jihane. "Iya, mbak. Kita ajak sahabat-sahabat kita." kata ku tersenyum. "Tapi Andre, Nanda, Ivan, Aira gimana? Kan mereka ga bisa seenaknya keluar dari tempat mereka pendidikan. Saran aku sih ya, kita untuk pertunangan ini cukup Cinta sama Arsen aja sayang." kata Dipta. "Oh iya juga ya. Yaudah nanti yang lainnya biar kita yang jelasin ke mereka ya by." jawabku tersenyum.
"Okay, sekarang kita semua bagi-bagi tugas aja ya. Kita akan urus pakaian dulu. Euummm gimana kalau kita urus pakaian itu besok. Gimana Vanes? Dipta? Apa kalian bisa?" tanya Mama Diana. "Kalo kita sih bisa, ma. Tapi kalo Cinta sama Arsen bakalan Dipta tanyain ya." kata Dipta. "Okay." jawab Mama Diana.
"Terus Vanes, Dipta. Nanti kalian mau undang siapa aja?" tanya Papa Danial. "Kita palingan undang temen kuliah kita, pah. Iya kan by?" ucapku yang dijawab anggukan Dipta. "Kalo papa mau undang perwakilan dari semua rekan kerja boleh ga nih? Papa juga yakin kamu pasti undang rekan kerja kamu kan?" tanya papa Danial. "Iya, Vanes. Om rasa semau kolega bisnis kamu harus di undang." kata Om Ahmad. "Iya, om. Iya, pah." jawabku.
***
Seseorang memeluk ku dari belakang, ternyata Dipta. "Sebentar lagi kita tunangan ya, by." kata Dipta. "Iya hehehe. Ga kerasa ya, sekarang udah mau tunangan aja kita. Padahal rasanya baru kemaren lho kita berantem." kata ku tersenyum.
"Vanes ini minuma--- eh sorry ganggu." kata Cinta yang langsung keluar dari kamar ku. "Dasar tuh anak, masuk ga ketuk pintu mulu." kata Dipta yang membuatku tertawa. "Kan dia ga tau kalo kamu disini sayang!" kata ku tersenyum. "Iya deh." kata Dipta. "Udah ah kamu ke depan, aku mau bikin keripik kaca nih. Mau ga?" tanya ku. "Mau!!!" jawab Dipta.
"Wah kalian masak apa nih?" tanya Arsen seraya merangkul pinggang Cinta. "Keripik kaca. Mau bantuin?" tanya ku. "Mau!!" kata Cinta. "Lo bantuin gw bikin minuman aja ya, Ta. Tolong bantuin bikin jus ya. Buah nya pilihan lo aja." kata ku. "Sip deh." kata Cinta. "Kalo gw ngapain, Nes?" tanya Arsen. "Lo bantuin Dipta guntingin rice paper aja gih!" kata ku. "Siap deh." kata Arsen.
Aku mulai mengeluarkan wajan dan mulai mencuci wajannya. Aku harus memastikan kalau wajannya bersih guys.
Setelah selesai dan sudah kering, aku langsung menuangkan minyak. Aku akan menggoreng rice papernya dulu. "Dipta, Arsen, ini udah belum rice paper nya?" tanya ku. "Udah nih sayang tapi baru setengah." kata Dipta. "Iya gapapa kok. Minyaknya belum panas juga. Sini aku bantuin." kata ku seraya mengambil beberapa rice paper dan mulai mengguntingnya. Setelah melihat asap di area wajan, aku langsung memasukan rice paper yang sudah digunting ke dalam wajan dan mulai menggorengnya sampai semuanya mengembang dan menjadi crispy.
Setelah semua matang, aku meniriskannya. Aku mulai mengurangi minyak yang tadi ku pakai dan memasukan bon cabe, penyedap rasa, bawang putih bubuk, dan daun jeruk yang udah aku potong-potong ke dalam minyak nya. Setelah aku oseng-oseng sebentar, aku memasukan keripik yang tadi ku goreng dan mengaduknya sampai rata.
"Nes, ini jus nya udah jadi nih gw bikinnya jus stroberri. Boleh kan?" kata Cinta yang ku jawab anggukan. "Boleh banget!" kata ku tersenyum.
Uhuk! Uhuk!!
"Sen? Kenapa lo?" tanya Dipta. "Biasa, gw kalo nyium bau bumbu nyengat pasti begini." kata Arsen. "Connecting door di tutup kan?" tanya ku. "Iya, udah kok." jawab Cinta. "Ta, kasih cowok lo minum gih biar tenggorokannya ga terlalu gatel." kata ku.
"Sayang ini kita makan nya mau disini apa di unit aku aja?" tanya Dipta. "Di unit kamu aja kali ya biar ga terlalu nyengat bau nya." kata ku. "Okay yaudah yuk!" ajak Dipta. Dia membawa keripik yang ku buat dan merangkul pinggangku. Kamipun memasuki unit Dipta dan Arsen lewat connecting door setelah itu, Cinta menutup pintunya.
"Gila sih, Nes. Keripik bikinan lo emang ga pernah gagal." kata Arsen. "Eumm guys. Gw sama Dipta ada yang mau diomongin ke kalian." kata ku. "Apaan?" tanya Cinta. "Kita bakalan tunangan." kata Dipta yang membuat kedua sahabat kami itu kaget dan langsung batuk-batuk.
"Minum dulu!" ucapku. Kedua sahabatku ini langsung minum dan menatap kami. "Seriusan kalian? Kapan?" tanya Arsen. "Bulan depan." jawabku. "Lo seriusan, Nes? Terus kuliah lo?" tanya Cinta. "Kenapa? Kan tunangan doang." jawabku. "Lagian nikah juga ga akan ganggu kuliah, Ta." jawab Dipta. "Iya sih. Okay lah kalo gitu." jawab Cinta tersenyum. "Terus gw sama Cinta bisa bantu apa nih, Ta?" tanya Arsen. "Gw minta Cinta jadi pendamping Vanes. Lo jadi pendamping gw. Gimana?" tanya Dipta. "Kita siap banget! Anyway kapan mau persiapan?" tanya Cinta. "Besok." jawabku. "Sip, besok kota masih libur kok." kata Arsen.