STRONG IN BETRAYAL

STRONG IN BETRAYAL
BAB.9. MEMINTA RESTU 1



Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Lady selain melihat bagaimana Hendrik menangis dan tetap memperlakukannya selayaknya anak kesayangan yang sempurna, bahkan ketika Lady sedang mencoreng nama baik keluarganya, Hendrik tetap berbesar hati menerima kenyataan yang terpampang nyata di hadapannya.


Lady hanya dapat mengucapkan satu kata “Maaf” kepada Papa Hendrik, tidak ada argumentasi atau apapun yang keluar dari bibir mungil Lady, Maya juga sudah tidak memarahi atau berteriak – teriak lagi kepada Lady seperti sebelumnya, semua sudah mulai tenang dan menerima kenyataan yang ada.


Sampai pada akhirnya Hendrik dan Maya berbicara dengan baik - baik kepada Lady, tentu saja keadaan ini membuat Lady akhirnya berani berterus terang kepada kedua orang tuanya.


“ Nak..., siapa pacar kamu selama ini?” tanya Maya dengan hati – hati,


“Namanya Reynold mama..., dia .. dia dosennya Lady..” masih ada nada ketakutan dari suara Lady,


“Hah?!! Apakah dia single?” Maya terkejut dan sangat takut jika Lady berpacaran dengan suami orang, sementara Hendrik masih memperhatikan percakapan kedua wanita yang sangat berarti bagi hidupnya ini.


“Iyah mama..., dia single.., dia bukan suami orang ma...,”


“Syukurlah.., sudah berapa lama kalian berpacaran Lady?”


“Sudah.., dua tahun lebih ma..”


“Lalu mengapa kalian tidak pernah ke rumah bersama-sama? Mama dan Papa sudah pernah bilang kan? Kalau bisa fokus dengan kuliahmu dulu, tapi jika kamu memiliki pacar atau ada seorang pria yang menyukaimu maka dia harus kamu bawa ke rumah, kenapa kamu tidak lakukan itu Lady?” Maya kembali terdengar frustasi dan tidak bisa meredam emosinya, merasa selama dua tahun lebih ini Lady sudah menipunya dengan berpacaran secara kucing – kucingan yang pada akhirnya membawa mereka pada kondisi kecolongan seperti ini.


“Sudah Ma. Cukup. Tidak usah lagi di tanya mengapa dan kenapa atau apalah itulah, semua sudah terjadi. Papa sudah tidak akan membahas masalah yang terjadi sebelumnya, sekarang yang papa minta kita harus menerima ini sebagai koreksi kita sebagai orang tuanya, berarti ada yang salah dengan kamu dan aku tapi sebelum itu semua kita bahas berdua, Papa mohon tenang ma... tenang... dan kepada kamu Lady, telponlah pacarmu itu, katakan jika kedua orang tuamu sudah tau kalau kamu hamil dan kami menerima itu, pernikahan kalian harus secepatnya di lakukan sebelum perutmu bertambah besar.” Ucap papa tegas namun tetap penuh kasih sayang.


“Baiklah pa..” Lady segera mengambil ponselnya dan menelpon Reynold juga menceritakan apa yang sudah terjadi seharian ini, bagaimana kedua orang tuanya akhirnya menerima hubungan mereka dengan terbuka, terdengar jika Reynold merasa lega dengan berita yang disampaikan oleh Lady.


“Lalu kapan Kakak bisa ke rumahku?” tanya Lady kepada sang kekasih


“Aku akan datang nanti malam jam tujuh yah..” jawab Reynold dari balik ponselnya.


“Baiklah kak.., terima kasih banyak” tutup Indah, Lalu segera memberitahu kepada Papa Hendrik jika nanti malam Reynold akan datang ke rumah mereka bertemu dengan kedua orangtuanya.


“Baiklah..., ma.. siapkan makan malam untuk calon menantu kita ma..” perintah papa terdengar sedikit bersemangat, sedangkan Maya terlihat kurang nyaman dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.


Jika Hendrik akhirnya menerima keadaan Lady dengan lapang dada, sungguh berbeda dengan Maya yang sebenarnya masih belum bisa menerima kenyataan, Maya memiliki ambisi yang besar dan impian yang besar pula untuk anaknya, Maya juga menginginkan Lady kedepannya menikah dengan seorang pengusaha kaya, agar dapat hidup nyaman bahkan lebih nyaman dari pada dirinya.


Lihatlah apa yang dimiliki oleh Maya, tempat tinggal mewah, uang tabungan yang lebih dari cukup, beberapa mobil yang terparkir di garasi,juga gaya hidup yang cukup glamor, bagi Maya semua itu akan di dapat jika Lady menyelesaikan kuliahnya, menjadi seorang sarjana, mengejar karir dan berakhir di pelaminan dengan pria pilihannya, bukannya seorang dosen muda yang entahlah apa latar belakang keluarga.


Semua itu membuat Maya memendam rasa jengkel di dalam hatinya, namun semua tidak berani diungkapkannya karena Hendrik sudah membuat keputusannya. Sebagai Istri yang selama ini tidak pernah membatah suaminya, Maya hanya bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya itu.


“Aku sudah di depan” sebuah chat yang langsung membuat adrenalinnya terpacu, dengan langkah cepat Lady meminta pelayan di rumahnya untuk membukakan pintu gerbang rumahnya, sebuah mobil merah maroon memasuki halaman rumahnya dan terparkir rapi di tempat parkiran khusus untuk para tamu.


Lady berlari kecil menyambut Rey dengan semangat, begitu juga Rey yang teramat rindu dengan bibir manis Lady, “Tidak melihatmu seharian ini membuatku frustasi, apalagi sejak pagi aku tidak dapat menghubungimu sama sekali..” berkali – kali Rey mengecup rindu pada bibir Lady,


“Maafkan aku kak.., semuanya terjadi begitu saja tadi pagi, tapi untunglah papa bisa meredam segala keributan yang terjadi”


“Bukankah sudah kukatakan, bahwa papamu adalah orang yang bijaksana? Syukurlah semua sudah terkendali, lalu apakah mamamu terlihat masih tidak terima dengan kejadian ini?” tanya Reynold khawatir.


"Entahlah kak... aku tidak pandai membaca seseorang, tapi kalau di lihat rasanya mama masih kesal..." Lady membayangkan wajah Maya yang masih saja ditekuk dan sering kali menghela nafasnya dengan berat.


"Sudahlah tidak apa - apa, semua itu wajar sayang... semua akan baik - baik saja.. yang penting kita hadapi semuanya bersama yah..." Reynold merengkuh kedua bahu Lady dan meyakinkan Lady.


"Iyah kak..., Yuk kak... kita masuk... mereka pasti sudah menunggu kita, bahkan ke empat adik - adikku sampai di ungsikan mama ke rumah nenek" bisik Lady,


"Kenapa begitu?" tanya Reynold,


"Iyah kata Papa agar mereka tidak menguping dan mengganggu pembicaraan kita nanti" jawab Lady sambil menggandeng tangan Reynold memasuki rumahnya,


Benar saja Sosok Tuan Hendrik dan Nyonya Maya sedang menunggu mereka berdua dengan kharismanya masing - masing, Kini Lady semakin menggenggam erat tangan Reynold seolah ingin menyalurkan kekuatan satu sama lain.


Lady tidak tampak ceria lagi, karena perasaan yang ada saat ini adalah tegang bukan main, kalau saja dari awal mereka sudah bertemu kedua orang tuanya pasti hal menegangkan seperti ini tidan terjadi, atau kalau saja kemarin Lady nurut dengan Reynold dan membiarkan Reynold menghadap kedua irang tuanya maka hal ini tidak akan terlalu menakutkan seperi ini.


Nasi sudah menjadi bubur, peribahasa ini membuat Lady tersadar agar tidak lagi berandai - andai... melainkan menerima keadaan dan berusaha menjalaninya dengan baik.


"Silahkan duduk.." Sambut Papa kepada Reynold.


To Be Continue...


Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You


Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.


Follow IG Author yah.. @lizbet.lee


Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman 