STRONG IN BETRAYAL

STRONG IN BETRAYAL
BAB.11. MEMINTA RESTU 3



Hati yang tadinya mendapatkan siraman kelegaan melihat sikap Pak Hendrik tiba – tiba saja kembali menciut ketika Ratu di rumah megah ini akhirnya berbicara setelah menahan dirinya beberapa saat, Reynold terbelalak mendengar pertanyaan dari Maya,


“Apakah kamu sanggup menghidupi Anakku?”


Reynold kembali berusaha untuk menguasai dirinya sendiri, tatapan hinaan yang terpancar sinis di mimik wajah Maya mengingatkannya pada wajah ibu tirinya yang seumur hidupnya selalu saja sinis dan menghina Reynold, seketika ingatan itu membuat dadanya bergemuruh, sebuah sentuhan lembut di rasakan di punggung tangannya, wajah Lady terlihat khawatir dengan mata yang berkaca – kaca berusaha untuk tersenyum.


Reynold lantas menggenggam tangan Lady dan menatap wajah Maya seolah memberikan perlawanan yang halus “Iyah Tante.., saya akan menghidupinya dengan baik.” Dengan pasti Reynold menjawab pertanyaan Maya.


Smirk menyebalkan lantas tertawa miring seolah sengaja ditunjukkan oleh Maya kepada Rey,


“Oh Yah???? Sebegitu yakinkah dirimu? Bukankah kamu hanya seorang Dosen? Yang masih ingin mengejar pendidikan tertinggimu? Lantas bagaimana bisa kamu menghidupi Anakku jika kamu saja masih mencari beasiswa gratis ke sana ke mari untuk pendidikan S3 mu? Hah?! Apakah kamu sedang menjadi pesulap dan menawarkan negeri dongeng kepada kami anak muda?”


“MAMA!!!” Tangis Lady sudah terdengar ketika mendengar ucapan Maya, dan tentu saja genggaman tangan Reynold semakin menguat karena rasa emosinya, selalu dan selalu saja hinaan penuh hinaan di rasakan dalam hidupnya, sekalipun Dia sudah cukup membuktikan prestasi dan gaya hidupnya yang tidak sederhana sebagai sebagai dosen yang masih muda tapi remehan demi remehan masih saja terjadi dalam hidupnya.


“Maya..., hentikan kekhawatiranmu.., Aku yakin Rey akan membahagiakan anak kita, bukankah begitu Rey?” dengan tenang dan tetap ramah Hendrik sedang menenangkan seisi ruangan yang terlihat sedang menahan gemuruh di dadanya masing – masing, terkecuali dirinya sendiri.


“Iyah Tante..., saya akan berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan Lady dan anak kami” Reynold tidak ingin memperpanjang kata, juga tidak ingin terpancing dengan sikap Maya yang akan memicu Drama baru, bukankah tujuannya adalah meminta restu? Yah meminta restu agar bisa menikah dengan Lady maka segala gejolak di hati dan gemuruh yang ada harus di redamnya.


“Terima kasih Reynold..., Maya... sudahlah.., Lady..., tidak usah khawatir yah..”


Setelah semuanya tenang, Hendrik akhirnya kembali mencoba mengakrabkan dan menciptakan kemistri di antara mereka semua yang sebentar lagi akan menjadikan Rey sebagai anak menantunya,


“Maya..., apakah kita sudah bisa makan malam? Aku ... sudah sangat lapar.” Maya terlihat sedikit tertawa setelah dari tadi berwajah sinis, Hendrik benar - benar dapat menjinakkan Ratunya.


“Yaah.. makanan sudah tersedia..namun ada beberapa yang harus di kerjakan di ruang makan.” Ucap Lady sambil melangkah ke ruang makan dan meninggalkan mereka bertiga yang masih duduk di ruang tamu.


“Ayo..anak – anak kita bersiap – siap untuk makan, Lady.., bantulah mamamu, Papa dengan Rey akan menyusul..”


"Iyah Pa..." sahut Lady dan menyusul Maya yang sudah lebih dahulu ke belakang, ketika di lihatnya anak dan istrinya sudah meninggalkan ruang tamu, Hendrik berdiri dan pindah di sofa yang diduduki oleh Reynold.


“Jangan diambil hati ucapan Mamanya Lady yah..., anggap saja angin lalu.., Dia hanya terlalu sayang kepada Lady dan ingin anaknya bahagia.” Sambil menepuk – nepuk bahu Reynold, Hendrik berusaha untuk menenangkan calon menantunya itu.


“Terima Kasih Om.., yah Om.. saya akan berusaha untuk mencukupi kebutuhan Lady agar tidak mengecewakaan Tante dan juga Om..” Reynold juga berusaha untuk tidak memendam rasa sakit hati, walaupun kharakter Reynold tidaklah seperti itu. Dia tidak bisa menerima apapun yang dianggapnya menghina dirinya, tapi biarlah saja dulu untuk saat ini pikirnya dan berharap jika apa yaang di katakan Om Hendrik adalah sebuah kebenaran jika Maya hanya khawatir dan tidak benar - benar benci atau menghina serta meremehkannya, Rey juga berharap agar Maya tidak mengulangi penghinaanya lagi.


“Syukurlah.. ayo kita makan.., rasanya mereka sudah menyiapkan semuanya untuk Kita.” Ajak Hendrik dan mereka berjalan beriringan menuju ke meja makan. Terlihat memang jika banyak makanan – makanan enak yang tersaji di meja makan tersebut, Maya terus saja mengawasi tiap gerak geriknya Reynold dan itu semua membuat Reynold sangat tidak nyaman.


“Rey...,” panggil Hendrik.


“Rasanya wajahmu ini sangat tidak asing, aku dari tadi berpikir kapan dan dimana aku pernah bertemu denganmu? Tapi otak tuaku ini masih belum menemukan jawaban apa – apa Rey.., apakah benar kita pernah bertemu sebelum ini Rey?” tanya Hendrik kepada Reynold.


“Iyah Om.. kita memang pernah ketemu sebelum ini..” Jawab Reynold sambil tersenyum dan mendayung makanannya.


“Iyah Pa..., Papa dan Rey dulu pernah bertemu..” Lady juga ikut bersemangat ketika topik ini di bahas oleh Papanya.


“Itu kan?! Sudah Papa duga..., Kapan yah Rey..., Om benar – benar lupa.. “ kembali Hendrik berusaha untuk menggali ingatannya.


“Dulu saya pernah magang di kantornya Om.., sekitar empat tahun lalu Om.., saya salah satu..” belum selesai Rey menyelesaikan kalimatnya, Hendrik langsung memotongnya.


“Salah Satu anak Magang kesayanganku dan karena kinerjamu yang sangat baaik, teliti, super perfectionis membuatku memberikan nilai yang sempurna yang selama ini tidak pernah aku berikan kepada siapapun selain kamu, dan Aku juga memberikan referensiku kepada Prof. Slamet Candra untuk memberikanmu beasiswa Pasca Sarjana.


Benar kan?!” Kini wajah Hendrik sangat berbinar dan menatap tak sangkah kepada Reynold.


Mata Reynold sontak berkaca-kaca karena baru tau jika beasiswa yang didapatnya adalah berkat referensi Pak Hendrik yang sebentar lagi akan menjadi Mertuanya, “Benar Om.” Ucapnya menundukkan wajahnya tak sanggup menunjukkan wajah merahnya dan air mata yang meluncur begitu saja.


“Yah Tuhan..., dunia ini sangatlah sempit, Aku.. sangat bahagia saat ini!!” ucap Hendrik,


“Hai Reynold!!! Kamu akan aku terima dengan baik sebagai menantuku, segeralah hubungi kedua orang tuamu agar aku dapat bertemu dengan mereka untuk membahas tanggal pernikahan kalian, apakah kamu setuju Rey?”


“Iyah Om..., terima kasih Om..” Rey masih tak menyangka disambut dengan baik oleh Hendrik dan Lady juga tak dapat menutupi rasa haru serta bahagianya, sontak langsung saja memeluk kekasih yang berada di sampingnya.


Namun wajah Maya tidak bahagia seperti semuanya, dia terus saya terlihat jengah menatap ketiga orang yang ada dihadapannya, dan Rey melihat itu, dengan rasa sungkan Rey berusaha untuk menjinakkan ibu dari kekasihnya itu, sedikit menggangguk dan tersenyum tanda hormat serta permohonan berdamai terlihat di wajah Rey, namun balasan yang di terimanya “CK!” ucap Maya sambil melengos dan pergi kedapur.


To Be Continue...


Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You


Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.


Follow IG Author yah.. @lizbet.lee


Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman 