
Perjalanan menuju ke Bandung membuat Reynold dan Riska saling mengenal lebih dalam satu sama lain, Reynold yang memiliki maksud tertentu saat jika Don Juannya kembali kepermukaan malah mendapatkan sambutan hangat dari Riska yang kala itu rasanya menyukai Reynold, sebenarnya latar belakang Reynold sudah cukup banyak diketahui oleh Riska lewat catatan kepegawaian di kampus, namun berbeda dengan Reynold yang sampai saat ini tidak mengetahui siapa Riska sebenarnya.
“Iyah memang sangat ambisius.., bukan hanya dalam hal pendidikan tapi dalam segala hal..” Riska tersenyum lebar hingga membuat gigi gingsulnya terlihat jelas menambah kadar kemanisan pada wajah Riska, membuat Rey terhipnotis dan meneguk susah salivanya.
“Dalam segala hal ya...?? Lalu soal asmara..., apakah kini kau sudah punya pacar?” Rey cukup ragu dengan jawaban yang akan diberikannya, tapi tetap saja keragu – raguan itu kalah dengan keinginan yang terus menggoda hatinya.
“Pacar? Aku sedang mengusahakannya...” jawab Rey membuat sebuah harapan di hati Riska bersemayam tanpa permisi.
“Oh gitu yah..., aku juga saat ini sedang mengusahakannya...” seolah baru saja ada niat untuk membunyikan bel rumah, si penghuni sudah lebih dahulu membuka pintu masuknya. Rey tertawa kecil mendengar Riska menjawab dengan nada menggoda.
“ Apakah kau suka jalan – jalan? Dan jika suka tempat apa yang ingin kau kunjungi Ris?” jelas saja pertanyaan ini memiliki maksud dan tujuan tertentu yang sudah direncanakannya. “Makan malam romantis mungkin? Atau ke kebun bungam atau sebuah tebing? Atau kah hutan pinus, mana yang kau suka Riska?” Lanjut Rey.
“Aku ini suka sesuatu yang menantang Rey..., aku suka flying fox, aku suka dengan paralayang, dan aku juga suka dengan sesuatu yang romantis, yah.. bagaimanapun aku juga seorang wanita kan? Hahahaha...”
Hmmm.. sangat berbeda dan suka dengan tantangan, itulah yang ada di otak Rey saat ini, wajah Riska juga semakin lekat dilihatnya, tatapan kagum tak dapat disamarkan oleh Rey, menyadari sedang dipandang sedemikian rupa membuat Riska bersemu, pipi putih Riska sekarang sudah seperti udang rebus, darahnya semakin berdesir ketika Rey dengan sengaja menyentuh dagu Riska dengan lembut, tidak ada penolakan dari Riska yang ada mereka sama – sama memajukan wajahnya dan Riska menutup matanya perlahan, melihat itu Reynold paham jika Riska mengijinkannya untuk berbuat lebih, dengan lembut Rey mengecup lembut bibir ranum Riska, berbeda dulu berbeda dengan yang sekarang.
Jika dulu pertama kali mengecup bibir Lady, Reynold melihat sang gadis memejamkan matanya karena gugup dan seolah menjadi patung tak tahu harus berbuat apa, Kini wanita dihadapannya menutup mata untuk menikmati setiap sentuhan bibir Reynold, Riska tak hanya tinggal diam seperti Lady, tapi Riska membalas setiap sesapan dan berani mengalungkan tangannya pada leher Rey.
Mendapatkan sambutan seperti ini membuat Rey seakan lupa dia kini sedang berada dimana, mereka terus saja saling menikmati bibir satu sama lain, hingga suara bel kereta menyadarkan mereka berdua,
‘TUUUTTT!!!! TUUUUTTT!!! TTTUUUUUTTT!!!!!.......’
Reynold dan Riska tertawa bersama, sebuah bisikan nakal dibisikkan oleh Rey ke telinga Riska “Sabarlah.., kita bisa melanjutkannya nanti...” membuat Riska tertawa dan mencubit pinggang Reynold, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Reynold.
“Rey...” panggil Riska dengan syahdu,
“Hmmm?”
“ Kita kok cepet banget kayak gini yah? Perasaan baru kenal seminggu...” tanyanya sambil tertawa kecil,
“Aku juga nggak tau..., kamu kayak Magnet Riska..”
“No... kamu yang kayak Magnet Rey..., aku... aku menolak pergi berdua dengan lawan jenis yah takutnya kayak gini..”
“Kamu orangnya gampang jatuh cinta yah Ris?”
Riska kembali tertawa dengan pertanyaan Reynold, “Hmmm... Iyah sih..., aku gampang naksir cowok yang bisa membuat aku nyaman..., seperti ini, dan pintar, cowok pintar itu menggemaskan tau Rey..” Goda Riska,
“Waah..., kalo ada yang lebih pintar dari aku kamu juga bisa naksir orang itu dong?” Goda Rey,
“Tergantung sih...”
“Tergantung apa?”
Rey langsung saja mengangkat kepala Riska dan kembali memiringkan badannya untuk menatap lurus kepada Riska,
“Kok bisa gitu Ris?” tanya Reynold heran,
“Iyah aku orangnya emang gitu, kalo mau senang – senang doang yah ayo..., mau diajak serius yah lihat dulu, mampu apa nggak kamu mengambil hatiku, sehingga aku akan memiliki alasan untuk bertahan denganmu, dan satu hal.., yang pasti apapun namanya hubungan ini aku tetap akan respect sama kamu, aku... anti direndahkan Rey...”
Reynold mengerjapkan matanya beberapa tak menyangka melihat sosok dirinya dengan versi wanita pada diri Riska.
Sesampainya di Kota Bandung mereka langsung masuk kekamar masing – masing bahkan saat bertemu dengan sesama Dosen dari beberapa kota yang ada di Indonesia baik Riska maupun Reynold bersikap seolah tidak pernah ada yang terjadi diantara mereka.
Mereka sama – sama bersikap sangat profesional, dari cara berbicara hingga body language sama sekali tidak menunjukkan percikkan asmara.
Seperti kata Riska sebelumnya, bahwa mereka akan sangat serius dan fokus jika sudah sampai di Bandung, setelah masuk kekamar Reynold berniat untuk menyegarkan tubuhnya, dan mengecek email di ponselnya ada sebuah panggilan tak terjawab dan sebuah pesan singkat dari Lady, namun lagi – lagi semua itu diabaikan begitu saja oleh Reynold.
Rey malah mengirimkan pesan kepada Riska “Habis mandi mau makan malam?” tanya Rey, selang beberapa menit balasan dari Riska masuk,
“Aku sedang ngumpul sama Guntur dan beberapa teman – teman lainnya di Bar ini, habis dari sini aku makan baru mandi dan tidur” balas Riska,
Reynold merasa jika banyak saingannya dibawah sana, Riska memiliki daya tarik tersendiri bagi para pria, seolah lupa dengan statusnya yang akan berubah menjadi suami Lady, Reynold segera mandi dan bergegas menggunakan pakaian yang menonjolkan ketampanannya, lalu menyemprot parfum andalannya serta merapikan rambutnya dan bergegas turun ke Bar tempat Riska berada.
Saat sudah berada di Bar... terlihat Riska dengan dua teman wanitanya dan sekitar tujuh orang pria tampan dan pintar – pintar, ambisi serta jiwa kompetisi yang dimiliki oleh Rey menjadi sangat bergelora, Rey langsung saja menghampiri mereka dan menyalami semuanya satu per satu, sambil menarik sebuah kursi dan menempatkannya di samping Riska sambil pura – pura menunjukkan ponselnya.
“Ris.. ini tadi ada email dari Dekan..” ucap Reynold dengan lantang agar tidak menimbulkan kecurigaan orang disekitarnya, namun yang di tunjukkan oleh Reynold adalah sebuah pesan singkat yang dikirim ke ponsel Riska tapi belum dibuka dari tadi.
“Aku tidak suka melihat lingkaran pria pintar dan tampan mengelilingimu, mereka tentu akan menjadi kompetitorku, ayo kita bergegas keluar dan makan malam, sebelum nafsu makanku hilang dan bayangan di kereta juga hilang diingatanmu..”
Riska menahan tawanya membaca pesan itu, “Guysss..., aku pamit dulu sama Rey untuk cari makan yah..., habis seminar baru kita ngobrol lagi okay?! Ingat pemilihan presiden !! nanti topik itu yang akan kita bahas yah..., bye semua...” Pamit Riska lalu berjalan dengan Rey,
“Kau memang gilaa..” bisik Riska kepada Rey,
“Iyah.. aku memang sudah tergila – gila padamu..”
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman