STRONG IN BETRAYAL

STRONG IN BETRAYAL
Bab 52. KAK REY?



Perdebatan tak terelakkan terjadi di halaman parkiran Apartemen milik Riska, keadaan semakin tak terkendali di kala Victor meluapkan emosinya dengan memukul anaknya sendiri, emosi yang merupakan suatu bentuk kekecewaan yang teramat sangat besar, Ia membayangkan perasaan Lady jika saja saat ini melihat dengan kepalanya sendiri, jika suaminya malah bersenang- senang dengan perempuan amoral.


Melihat sudah banyak orang yang penasaran bahkan mereka kini sudah menjadi tontonan, membuat Rey dan Riska berusaha menenangkan Victor dan mengajak Victor untuk masuk ke unit Riska dan berbicara dengan kepala dingin, Riska juga ingin menjelaskan letak permasalahannya dan mengapa sampai menjadi serumit ini, namun semua itu tidak dihiraukan oleh Victor, Ia terus saja marah dan marah hingga membuatnya terkena serangan jantung mendadak.


Semua itu membuat Rey dan Riska menjadi begitu panik, terutama Rey yang kini di atas mobil ambulans begitu frustasi hingga memukul – mukul kepalanya sendiri karena merasa jika ini semua adalah kebodohannya. Dia begitu kecewa dengan dirinya sendiri, padahal hari ini Ia berencana untuk mengantarkan Riska ke dokter kandungan untuk melakukan USG dan juga ingin tau bagaimana dengan perkembangan bayi di dalam kandungan Riska.


Namun semuanya sudah diluar rencana, apa yang terjadi hari ini tidak pernah dibayangkannya sedikitpun, kepergok langsung oleh Victor benar – benar tidak terpikirkan hingga membuat Rey menjadi tidak bisa berpikir efek dari kejadian hari ini, dengan paniknya ia memilih menghubungi Lady dan Tuti dari dalam ambulans, agar mereka bertemu di rumah sakit milik Riska.


Rey juga tidak lupa mengirimkan pesan singkat kepada Riska untuk tidak membatalkan janji temu dengan dokter kandungannya dan berjanji akan menyusulnya ke poli kandungan, walaupun sudah di larang oleh Riska yang meminta Rey untuk fokus dulu mengurus Victor, bahkan Riska sudah menyiapkan dokter juga kamar untuk Papa dari kekasihnya itu.


“Kak Rey..., ada apa dengan Papa kak?” Lady sedikit berlari dan bertanya dengan menahan air matanya, Ia memiliki sebuah dugaan besar dengan apa yang terjadi saat melihat bibir Rey pecah akibat insiden pemukulan yang dilakukan oleh Victor.


“Papa serangan jantung Lady...” lirih Rey sambil memeluk Lady,


“Yah Tuhan..., lalu ini kenapa kak?” tanya Lady saat melihat luka di wajah suaminya, namun kali ini Rey tidak menjawab apapun hanya pura – pura tidak dengar dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Lady.


“Kak..., lalu mengapa kamu masih disini? Bukankah kakak ada kegiatan selama satu minggu?” tanya Lady lagi pura – pura bodoh dihadapan Rey, tanggapan Rey hanya mengepalkan kedua tangannya, karena rencananya tidak berjalan dengan baik.


“Akan kakak jelaskan nanti..” hanya itu yang disampaikan oleh Rey, memahami situasi yang tidak memungkinkan seperti ini, akhirnya Lady mengabaikan dulu permasalahan pribadinya dan ingin fokus dengan keadaan Victor yang masih di tangani oleh dokter.


“Kak.. Lady akan mengabari mama dan papa dulu yah...” pamit Lady, namun segera di cegah oleh suaminya,


“Jangan dulu yah..., aku hanya butuh kamu disini, saat ini.., tolong jangan kabari siapa – siapa dulu, aku juga sudah mengabari mama Tuti untuk segera datang ke sini.., dan setelah ini ada yang harus aku jelaskan kepadamu Lady..” Lirih Rey..., Rey berpikir dia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan Riska terlalu lama, tapi bagaimana cara menyampaikan masalah ini kepada Lady.


Dan keputusan apa yang akan diambilnya, Ia bahkan belum memikirkannya selain akan menjalani kehidupannya untuk kedua wanita yang sama – sama tengah berbadan dua, Ia sesekali melihat keadaan Lady yang sudah hamil pada triwulan terakhir, sebentar lagi anaknya akan lahir, bagaimana jika terjadi apa – apa dengan anaknya dan Lady, maka dirinya akan menanggung sanksi sosial seumur hidupnya.


Sedangkan Riska yang baru memasuki triwulan pertama juga sangat membutuhkan kehadirannya, untuk mendampingi dan menjaga kesehatan mental serta bayi dalam kandungannya, apalagi Riska berbeda dengan Lady yang tidak menyusahkan saat awal – awal kehamilan dan tidak manja sama sekali, tapi yang terjadi dengan Riska ia ngidam parah, dan akan muntah – muntah sampai lemas jika berada jauh dai Rey.


Semuanya benar – benar diluar kendalinya saat ini, ditambah lagi dengan kejadian tadi, hubungannya dengan Victor pasti akan tidak baik – baik saja, dan itu adalah momok terbesar dalam hidupnya, Ia tidak dapat membiarkan hal itu terjadi “Yah Tuhan selamatkan Papaku Tuhan.. ampunilah aku...” gumam Rey dalam hati.


“Kak..., bersabarlah Lady yakin papa akan baik – baik saja kak..., sekarang Lady antar kakak untuk ke dokter IGD memeriksakan luka pada bibir kakak yah..”


Sesampainya di ruangan IGD Rey segera di tangani oleh dokter jaga, dan perawat yang bertugas dengan baik, tidak menyianyiakan kesempatan ini, Rey berjalan menuju ke poli kandungan dan melihat Riska sedang bersandar di tembok sambil mengantri nomor panggilannya.


“Sayang..” sapa Rey sambil mengecup dahi Riska,


“Kak..., papa bagaimana?” tanya Riska sambil berkaca – kaca,


“Entahlah kakak juga belum tau..., mereka masih menanganinya... semoga semua baik – baik saja yah...”


“Ini semua salahku kak...” isak Riska hingga membuat Rey tak tega dan menyeka lembut air mata sang kekasih, serta memeluknya dengan erat, sedangkan di ruangan penanganan khusus seorang dokter yang sudah berambut putih keluar dengan seorang perawat yang berteriak memanggil “Keluarga bapak Victor Hariyadi..?”


Dengan sigap Lady berdiri, “Saya Pak Dokter... sahut Lady.., bagaimana keadaan mertua saja pak, apakah beliau baik – baik saja pak?” tanya Lady sangat khawatir, melihat Lady berdiri dengan susah payah sambil memegang perut yang sudah buncit pak dokter berusaha untuk menenangkan ibu hamil di hadapannya itu.


“Beliau sudah di tangani dengan baik, untung saja tadi cepat penanganannya, sekarang beliau tinggal dipindah ke kamar perawatan yang sudah disiapkan Ibu silahkan langsung mengikuti perawat, dan ini ada resep dari saya yang harus ditebus yah..”


“Terima kasih pak..” jawab Lady, lalu ada beberapa dua perawat dan seorang mantri yang mendorong ranjang Papa Victor yang masih tertidur menuju ke ruang rawat inap, Lady terus mengikuti semua perawat dengan membawa secarik kertas berisikan obat – obatan yang harus diambil di apotik, saat melewati Laboratorium dan Poli kandungan, tanpa sengaja Lady menoleh hingga terlihat Rey sedang memeluk wanita itu sambil mengusap lembut tubuhnya dan sesekali mengecup puncak kepalanya.


“Kak Rey....”


***


To Be Continue...


Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You


Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2.


Follow IG Author yah.. @lizbet.lee


Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman 