STRONG IN BETRAYAL

STRONG IN BETRAYAL
BAB 10. MEMINTA RESTU 2



Tiap lembar kertas di bolak balik dengan gusar dan menahan perasaan yang gelisah, Entah mengapa Reynold terus saja teringat akan Lady, yang sampai siang ini tidak datang ke kampus, sedangkan ponsel yang biasanya selalu aktif selama dua puluh empat jam kini tidak ada bisa di hubungi sama sekali, Bukankah harusnya hari ini Lady ada jadwal kuliah pagi? Tapi kenapa wanitanya itu tidak juga kunjung tiba?


Reynold melirik bingkisan yang sudah terbungkus kertas kado dan sebuah kotak berisi cincin yang di persiapkannya saat bertemu Indah kini hanya tergeletak begitu saja di meja kantornya, padahal Reynold sudah mempersiapkan berita bahagia kepada Lady, ingin menceritakan jika Dia telah memberitahukan masalah ini kepada Papanya dan tentu saja semua menerima dengan baik, tapi semua berita bahagia itu berubah menjadi sebuah kegelisahan yang teramat sangat yang tidak dapat diungkapkannya dengan kata – kata.


“Apakah ini ikatan batinku dengannya?” guman Reynold berpikir, lagi – lagi Rey membuang nafasnya dengan kasar dan mencoba untuk fokus pada makalah – makalah yang tertumpuk di mejanya, setelah galau beberapa jam suara panggilan terdengar dan dengan cepat Rey langsung menyambar ponselnya yang di biarkan bersuara dengan nada dering khusus jika kekasih hatinya ini menghubunginya.


“Yah Tuhan Lady.. kemana saja kamu, apa yang kamu lakukan? Mengapa tidak masuk ke kampus? Apakah kamu baik – baik saja? Apakah janin mu baik – baik saja? Cepat katakan kepadaku, bahwa semua baik – baik saja Lady, kamu benar – benar membuatku sangat khawatir dan tidak tenang beberapa jam ini, aku sampai tidak fokus kerja! Halo..halo.. halo..” Rey sangat terengah – engah dan khawatir karena belum mendengar suara wanita yang di rindukannya.


“Iyah kak...., bagaimana Aku bisa menyahut jika kakak terus memberondongku dengan pertanyaan begitu kak..., “ suara lembut yang di nanti – nantikan akhirnya terdengar juga, sebuah helaan nafas lega keluar dari bibir Reynold, dan hati yang bergemuruh sudah sedikit tenang.


“Syukurlah yah Tuhan..., aku sangat khawatir.., apakah kamu tau.., Jika aku sangat mencintaimu Lady? Mengapa kamu tidak datang ke kampus sayang? Apakah kamu pusing lagi?” tanya Reynold,


“Iyah kak..., tadinya aku sudah bersiap ke kampus, tapi...”


“Tapi apa? Bicaralah yang lengkap Lady.., Oh Lord... ini benar – benar membuatku frustasi” kembali Reynold gelisah, suara tawa kecil terdengar di balik ponselnya,


“Kak..., semua baik – baik saja.., aku tadi hanya pusing sedikit dan kak... papa juga mama sudah tau kalau aku hamil kak.., itu yang membuatku tidak bisa ke kampus..”


Sedikit terkejut mendengar penuturan Lady, Reynold kembali bertanya,


“Apakah mereka marah besar Lady? Apakah mereka marah kepadamu?”


“Tidak kak..., yang awalnya marah mama kak.., saat aku pusing mendengar mama marah dan pingsan, tiba – tiba papa sudah pulang kak.., dan ada di kamarku ketika akhirnya aku sadar, papa tidak marah sama sekali, papa... papa.. malah memelukku dengan kasih sayangnya kak Rey.., aku merasa sangat malu, dan aku merasa bersalah kepada papa kak...” suara isak terdengar membuat hati Reynold ngilu, juga ada sedikit ketakutan di hatinya akan apa yang akan di hadapinya setelah ini,


“Ssssttttt..., sudah sayang..., jangan menangis.., sekarang ceritakan dengan baik apa yang terjadi tadi yah...,” Reynold berusaha untuk menenangkan Lady juga sudah penasaran bukan main dengan apa yang terjadi di rumahnya Lady, Ia ingin mempersiapkan mental dan pikirannya agar semua tetap baik dan sesuai harapannya, tidak ingin sampai terjadi keributan atau bahkan sampai di pisahkan.


Lady lantas menceritakan apa yang terjadi dengan detail, dan Lady mengatakan tujuannya menghubungi Reynold juga karena permintaan kedua orang tuanya terlebih Tuan Hendrik, agar dapat bertemu dengannya nanti malam, Lady juga berkata bahwa Hendrik akan segera menikahkan mereka berdua sebelum perut Lady membesar, semua akan di lakukan untuk tetap menjaga nama baik keluarganya, tentu saja ibarat ketiban bulan, keinginan dan semangatnya yang begitu besar menikahi Lady sudah sempat terungkap ketika Reynold berbincang dengan Victor papanya, dan ternyata semua ini akan terjadi tanpa ada kesulitan atau drama memohon ini dan itu.


“Baiklah sayang.., nanti malam aku akan ke sana, kamu tunggu aku yah.., aku akan selesaikan dulu semua urusan fakultas, setelahnya aku akan pulang dan bersiap – siap, juga akan memberitahukan rencana ini kepada keluargaku, agar mereka juga bersiap – siap datang ke sini.” Reynold yakin akan keputusannya, rasanya sudah cukup dia berselancar di dunia para wanita - wanita, dia ingin mengubur jiwa Don Juannya, dan berakhir di pelukan Lady selamanya.


Sebuah cermin memantulkan bayang lelaki yang sedang berdiri di depannya sambil menyugar rambut hitam dan membenahi kemeja hitamnya, Reynold terlihat sangat Tampan! Sesekali wajah dan hembusan nafas berat karena gerogi terdengar di telinganya sendiri, setelah bersiap Rey segera saja pergi dari Apartemennya dan mengendarai mobil ke kediaman Lady, walaupun tadi Lady sudah membagikan GPS lokasi tempat tinggalnya, namun Reynold tidak kesulitan untuk menemukan alamat Tuan Hendrik, pemimpin tertinggi kantor Asuransi raksasa di kotanya.


Sebuah gerbang rumah yang berwarna coklat keemasan terbuka lebar menyambut kedatangan mobil merah maroon milik Reynold dan di lihatnya wanita cantik dengan pakaian terusan selutut bermotifkan polkadot telah menunggu untuk menyambut dengan wajah sumringah, “Lady kecaantikkanmu sangat tidak bisa dideskripsikan!” ucap Reynold yang tak dapat mengalihkan pandangannya kepada Lady dari balik kaca mobilnya.


Dengan segera Rey memeluk dan mengecup mesra bibir wanitanya ketika turun dari mobil, bukan sekali namun berkali – kali sangking rindunya kepada pemilik bibir mungil ini.


Sedikit berbincang melepas rindu dengan Lady, kini langkah kaki mereka berayun dengan pasti memasuki ruang tamu yang terlihat sangat mewah tersebut, kedua orang tua Lady telah berdiri menanti kedatangan mereka berdua, belum sempat mengucapkan selamat malam kepada kedua orang di hadapannya tiba – tiba suara Tuan Hendrik terdengar menggema di tengah kesunyian “Silahkan Duduk..” sambut Tuan Hendrik.


Namun Reynold adalah seorang pengajar yang juga beretika tinggi, sebelum duduk Reynold langsung saja menyalami kedua orang tua Lady dengan perasaan setengah gerogi yang di tahannya, “Selamat malam Om.., Tante” ucapnya dan duduk bersama dengan Lady, sejenak mereka terdiam tanpa berkata apa – apa perasaan canggung melanda seisi ruangan. Tentu saja karena ini adalah pengalaman pertama bagi mereka semua.


“Om.., Tante.., perkenalkan nama saya Reynold Hariyadi, saya adalah kekasih Lady Om.., dan.., mohon maaf... saya juga adalah lelaki yang bertanggung jawab akan keadaan Lady saat ini” akhirnya Rey berinisyatif untuk memecahkan keheningan yang sudah menjebak mereka berempat selama beberapa menit yang lalu,


“Iyaahh... baiklah Reynold, perkenalkan saya adalah Hendrik papa dari Lady dan ini adalah istri saya Maya, mamanya Lady, hmmmm..., terus terang saya tidak tau harus berkata apa saat ini, tentu saja ada rasa kecewa di dada saya..., namun sudahlah..., rasanya semua percuma jika pertemuan ini kita awali dengan pertanyaan ‘Kenapa, dan Mengapa?’ benar bukan?” ucap Hendrik begitu berkharisma sampai membuat Reynold menundukkan kepalanya karena sungkan,


“Sekarang saya hanya bisa menanyakan ‘Kapan?’” ucap Hendrik sambil menatap Rey,


“Sejak pertama kali bertemu dengan Lady saya begitu jatuh hati dengannya Om.., Saya juga sebelumnya ingin datang kesini sebelum semua ini ketahuan tapi.., rasa takut Lady begitu besar karena pasti mengecewakan kedua orang tua kesayangannya, dalam hal ini sayalah yang paling bersalah, karena harusnya sebagai seorang pria yang lebih dewasa dari Lady saya tidak melakukan hal seperti ini, maaf saya Om... dan Tante.., dan saya siap untuk menikahi Lady secepatnya Om..Tante” Ucap Reynold dengan pasti,


“Saya mohon restuilah kami berdua, dan ijinkan kami untuk menikah Om..Tante..” ketika di lihatnya Pak Hendri tersenyum dan ingin mengucapkan sesuatu, berbeda dengan Maya yang dari tadi tidak merubah ekspresinya, hanya ada ekspresi tidak suka dan tatapan sinis yang tiba – tiba saja berbicara,


“Apakah Kamu sanggup menghidupi Anakku?!” Tanyanya dengan penuh penekanan dan ada sebuah hinaan tersirat pada mimik wajah Maya yang tertangkap jelas pada pandangan Reynold.


To Be Continue...


Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You


Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.


Follow IG Author yah.. @lizbet.lee


Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman 