
Reynold yang dihadapkan dengan tanggung jawab yang sangat besar serta cinta baru yang datang di saat waktu yang salah membuatnya ingin meledakkan dirinya sendiri dalam ketidak pastian hati yang diciptakan oleh dirinya sendiri, beberapa pesan singkat dari Victor yang seolah meneror dirinya, juga sebuah pesan singkat dari Lady yang cukup menyayat hatinya seolah membuat Reynold kembali menanyakan apakah yang dilakukannya saat ini sepadan dengan kedua orang yang kini sedang menunggunya di acara makan bersama.
Rasa takut kehilangan akan wanita yang menjadi candu saat ini membuatnya semakin dilema akan keadaan yang semakin dibuat kacau oleh dirinya sendiri,
“Maaf yah Rey.., Aku pamit dulu yah..., nanti kontak Aku jika urusanmu dengan Victor selesai..” seolah tersambar petir Reynold terkejut bukan main dengan kalimat yang baru saja terucap dari bibir seksi Riska.
Apakah Riska membaca pesan singkat dari Victor? Atau bahkan Riska sempat membaca pesan singkat dari Lady, ‘oh... tidak ini.. ini tidak boleh terjadi gumamnya..’
Reynold segera saja menarik tangan Riska yang sudah hendak memencet tombol pada Lift apartemen miliknya lalu memeluknya dengan erat, setelah merasa ada balasan dari Riska yang juga memeluknya, Rey langsung ******* bibir Riska dengan lembut, balasan dari Riska juga dirasakannya membuat hatinya sedikit lega.
“Aku tidak ada masalah apapun dengan Victor.., dan Victor itu adalah papaku..” bisik Rey masih memeluk tubuh sintal Riska, lalu Riska membelai lembut wajah Rey sambil tersenyum,
“Maka pergilah... kasihan Papamu sudah menunggu mu, aku hanya membaca katanya jika lebih lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.., selanjutnya kamu langsung mengambil ponselmu, aku rasa Papamu sangat membutuhkan mu Rey.., pergilah..., ini semua juga gara – gara aku bukan? Jangan buat aku semakin merasa bersalah yah..” kini Riska yang mengecup dan ******* bibir Reynold berharap agar Rey mau pergi menemui Papanya, walaupun Riska tidak tau yang sebenarnya terjadi.
“Baiklah... Aku akan pergi menemui Papaku, setelah aku mengantarmu ke kampus yah..” pinta Rey,
“Sudahlah.. Kamu siap – siap saja.., Aku bisa pergi sendiri.., Bau mu..., sangat... hmmmm..., sangat lelaki sekali, Kamu harus menghapus semua jejak diriku yang ada di tubuhmu bukan?” Goda Riska lalu melepaskan pelukannya dan kembali mengecup Rey.
Reynold memandang bagaimana Riska berjalan masuk kedalam lift dan tersenyum manis, ketika pintu lift tertutup dengan sempurna, sebuah hembusan nafas yang sangat berat keluar dari bibir dan hidungnya, tanpa membuang waktu Reynold segera bergegas menyalahkan kembali ponselnya dan lagi – lagi beberapa pesan singkat dari Victor kembali muncul silih berganti, rasanya enggan membaca seluruh pesannya Victor, Reynold hanya membalas dengan singkat berharap pesan ini dapat meredamkan amarah sang Papa.
“Baiklah Aku akan ke sana, Rey mau siap – siap dulu..” ketiknya lalu menyentuh tombol kirim, dan segera membersihkan dirinya dari sisa sisa jejak sang kekasih simpanan yang tidak tau akan posisinya.
Kemeja Maroon dengan Dasi hitam dipilihnya untuk menghadiri acara keluarganya dan calon istrinya, rambut yang kini terlihat rapi tidak lagi berantakan serta wangi tubuh maskulin miliknya dengan parfum berbau Citrus mint kini menjadi pilihannya mampu menutup jejak wangi Riska, segara Rey mengambil kunci mobil miliknya dan turun ke parkiran apartemen serta mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan sedang.
Pikirannya melayang kemana – mana antara alasan apa yang harus di buatnya dengan bayang bayang kemesraan yang baru saja dirasakannya begitu nikmat bersama wanita pujaannya yang baru, pikirannya melayang jika Riska seorang wanita yang sangat menarik hingga membuatnya lupa akan segalanya.
Jika Lady dengan segala kepolosannya dan kelemah lembutannya dengan wajah cantik jelita pernah mampu membuat Reynold jatuh cinta hingga berbuah pada sebuah tanggung jawab, berbeda dengan Riska yang sangat agresif, susah di tebak dan memiliki watak yang tak terbaca juga dengan wajah sensual miliknya serta sikap dewasanya mampu membuat Reynold menyesali dan ingin lari dari tanggung jawabnya, kembali membuat Reynold ingin memukul kepalanya sendiri.
Tanpa terasa kini Reynold telah memarkirkan mobilnya di tempat tujuan, dan menarik nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan dirinya sendiri, sadar akan petaka yang diciptakannya, tapi masih keras kepala dengan tidak mau melepaskan Riska, Reynold berusaha untuk menutupi segalanya dan berpikir biarlah semua ini terjadi dan jika pada masanya nanti bom waktu ini akan meledak maka di saat itulah dia akan memilih.
Langkah tegap di jejakkan ke tanah menuju keruangan restoran yang terlihat begitu megah, ‘Shit! Sebentar lagi Aku akan menikah’ batinnya meronta – ronta, sebuah senyuman palsu di paksakan tercetak di wajahnya, sebuah pelukan hangat dari belakang tubuhnya membuatnya seketika itu menoleh, wangi lembut yang juga familiar dihidungnya menyadarkannya akan sesosok wanita yang sangat mencintainya sedang merapalkan doa ucapan syukur akan kehadirannya.
“Kakak!!! Terima kasih yah, akhirnya Kamu datang..” bisiknya dengan suara bergetar.
“Kak..., ayo kita ketemu papa mama dulu..” Lady menggandeng tangan Reynold dengan wajah ceria, dan tentu saja Reynold berusaha menguasai dirinya, ketika dirinya melihat wajah Maya calon ibu mertuanya memandang tajam kearahnya, sontak saja perasaan muak menyeruak di dalam dirinya.
‘Rasa muak ku terhadap anakmu semua berawal dari dirimu’ batinnya lalu menyorongkan tangannya untuk bersalaman dengan Maya, serta memasang wajah palsu.
“Maafkan aku karena sangat terlambat, banyak mahasiswa yang ingin konsultasi sebelum Aku cuti” ucap Reynold kepada Maya dan kepada Hendrik.
“Iyah tidak apa – apa.. Lady sudah memberitahu kami, kamu pasti sangat lapar, Lady.. ajaklah dulu calon suamimu makan Nak.. lalu pergilah untuk fitting baju pengantin yah..” ucap Maya dengan ramah, membuat Reynold tertawa jengah ketika membalikkan badannya menuju ke meja makan.
‘Munafik’ satu kata yang dipikirkan oleh Reynold atas tingkah Maya barusan.
“Kakak makan yah... Lady akan menelpon Boutique dan meminta mereka menunggu kita untuk fitting.., eh itu Papa Victor kayaknya mau kesini, kakak sama Papa dulu yah..” ucap Lady dengan lembut, matanya yang berbinar membuat hati Reynold yang kelam trenyuh,
Namun kegundahan tercetak jelas di wajahnya ketika Victor telah berdiri tepat di hadapannya dan menarik kursi lalu duduk tepat dihadapannya.
“Kau makanlah dengan normal, agar orang – orang tidak tau jika Aku sedang memaki anakku sendiri!!” ucap Victor dingin.
“Aku bisa menjelaskan semua Pa..” Reynold masih berusaha untuk membela dirinya.
“Diam Kau!!! Pengecut!” Ucap Victor dengan tatapan tajam dan intonasi tegas walau berusaha memelankan suaranya.
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going ke part #3.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman