
Suara jarum jam berjalan di padu padankan dengan suara isak tangis seorang wanita terdengar begitu menyayat hati siapa saja yang mendengarnya, seluruh make up yang begitu rapi dan harusnya membuat pemilik wajah cantik itu semakin cantik, kini telah luntur begitu saja akibat air mata yang tak juga kunjung berhenti mengalir.
Batin seorang istri begitu hancur, bahkan seolah mengerti ibunya sedang bersedih bayi didalam kandungan itu bergerak pelan, terasa seperti ikan berenang, sensasinya sungguh indah..., keajaiban terbesar bagi seorang ibu adalah merasakan gerakan bayi yang ada di dalam kandungannya.
“Nggak apa – apa yah nak..., Papa tidak jadi mengajak kita makan malam..., asalkan Papa baik – baik saja, itu yang terpenting...” ucap Lady sambil mengusap lembut perutnya, seolah menjawab Lady, bayi dalam kandungannya bergerak lagi dan Lady merasakan bayinya bergelayut begitu kuat di dalam rahimnya.
“Terima kasih karena menemani mama..., ayok.. kita tidur nak...” bisik Lady, lalu perlahan beranjak menuju ke kamar, dan membersihkan wajahnya sebelum tidur, mata sembab lagi – lagi terpantul dari cermin meja riasnya.
Lady lalu membaringkan kepalanya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, baru lima menit yang lalu Reynold mengabarkan Lady, jika Ia ada urusan mendadak, dan meminta maaf keran tidak menjadi menjemput Lady, dia beralasan di ajak bertemu Guru Besar dari Eropa oleh Rektor.
Lady sudah tidak dapat berkomentar apapun lagi, walaupun hatinya terus saja merasa ada kejanggalan dari sikap Reynold, tapi Lady memilih untuk selalu berpikiran positif, demi anak dalam kandungannya.
Bayi yang dikandungnya terus saja bergerak hingga membuat Lady terus saja tersenyum dan terhibur, sampai Ia mengingat bahwa dirinya belum makan malam sama sekali, “Kamu lapar yah sayang?” tanyanya sambil beranjak menuju ke dapur dan membuat susu hamil, serta mengambil telur di kulkas, Lady lantas memasaknya dan memakan dangan sayuran yang di buat menjadi salad sayur.
“Kita makan ini saja yah nak.., mama tambahi roti yah.. sebagai pengganti nasi, nanti kalau papa sudah tidak sibuk lagi..., kita pasti akan di ajak makan malam ke restoran yang tadi, kita harus memaklumi karena papa bekerja untuk mama dan kamu Alfaro..” Lady begitu terkesiap memanggil bayinya dengan nama Alvaro, yang tiba – tiba saja terlintas pada benaknya.
“Alvaro... Alvaro Hariyadi... apakah kamu suka nama itu sayang? Kalau kamu suka please bergerak lagi...” ucap Lady sambil mengusap lembut perutnya, dan seketika itu perut Lady kembali bergerak, Baby Al menendang dari dalam beberapa kali.
“Ouchh!! Apakah kamu begitu menyukai nama itu anakku? Dan melompat – lompat didalam sana? Hahahaha...., Mama Loves you Al...” bisik Lady.
Kesedihan Lady berangsur – angsur menghilang dikala dirinya sadar jika sebenarnya Ia tidak sendiri, selalu ada yang menemaninya setiap hari, Lady lantas berpikir jika tidak akan lagi terlalu mengharapkan Rey untuk selalu ada di apartemen bersamanya, karena memang selama ini kebersamaan mereka semakin lama semakin saja jarang terjadi sejak beberapa minggu yang lalu, Lady tetap berpikir jika semua itu akibat kesibukan pekerjaan Rey yang tidak dapat terelakkan.
“Okay Baby Al..., sekarang waktunya tidur, besok kita lihat berkunjung kerumah Oma dan Opa yah..., mereka pasti sudah merindukanmu, dan mama akan memberitahu jika cucu mereka laki – laki..., mereka pasti akan sangat menyayangimu nak.., seperti mereka menyayangi mama mu ini...”
***
Keesokkan harinya, di kala matahari telah begitu gagah bersanding dengan langit biru yang cerah, Lady telah bersiap untuk menuju ke rumah orang tuanya, tentu saja Lady sudah berpamitan dengan Reynold lewat chatingan yang sampai sekarang belum di buka oleh Reynold, dan yah..., Rey belum pulang sampai waktu dimana Lady meninggalkan tempat tinggalnya untuk berkunjung ke rumah orang tuanya.
Sesampai disana, kedatangan Lady disambut hangat oleh Hendrik, daan Maya tak kunjung berhenti menangis karena merasa begitu rindu kepada anak pertamanya, “Maafkan Lady yang baru sempat datang yah ,ma..”
“Iyah.. nggak apa – apa nak.., maafkan mama juga yang sangat merepotkan kamu dan selalu membuat kamu sedih..,maafkan segala ucapan mama yah nak.. yang.. banyak menyakiti kamu, mama hanya tidak mau berpisah darimu nak..sejujurnya... mama akui.., mama belum siap berpisah secepat ini denganmu Lady...” sebuah pelukan di berikan oleh Lady kepada Maya yang kini masih terduduk di kursi roda.
“Ma..., maafkan juga Lady yang telah membuat hati mama sedih seperti ini.., tapi mama jangan khawatir, sekarang Lady sudah ada disini sama mama.., dan cucu mama...” lantas Lady mendaratkan sebuah ciuman di dahi Maya dengan rasa sayangnya. Hendrik yang melihat pemandangan ini begitu merasa lega, karena akhirnya istri dan anaknya bisa kembali berbicara dari hati ke hati.
“Ah..., maafkan mama..., bagaimana keadaan cucu mama? Kemarin mama telpon Alfons, tapi dia malah suruh mama tanya ke anak mama sendiri, Dia ingin ini menjadi kejutan..., hahahaa.. Pa... sini pa.. duduk sama mama...” panggil Maya kepada Hendrik, dan Hendrik akhirnya mengambil sebuah kursi plastik untuk disejajarkan dengan kursi roda istrinya.
“Pa..., mama..., bayi Lady, sehat sekali.., dan semalam tanpa sadar Lady memanggil dia dengan sebutan Alvaro..., apakah nama itu bagus?” tanya Lady kepada kedua orang tuanya, Hendrik d n Maya terlihat berkaca – kaca karena haru,
“Apakah cucu mama laki – laki?” tanya Maya memastikan,
“Iyah ma.. baby Al laki – laki...” begitu girang Lady menyampaikan kabar bahagia ini,
“Pas acara tujuh bulanan yah pa..., mama akan undang besan kita yang paa...”,
“Usul yang baik itu ma.., papa setuju, nanti syukurannya sederhana saja ma..., karena.., anak kita tidak menyukai kemewahan, yang penting ibadahnya, acara doanya agar Tuhan memberikan kelancaran pada proses pertumbuhan sampai proses persalinan dan seterusnya yah ma..”
“Iyah pa..., yang sederhana saja, bagaimana Lady? Apakah kamu setuju nak?” tanya Maya,
“Iyah ma.. Lady setuju asal sederhana, nggak banyak mengundang orang yah ma.., Baby Al..., apakah kamu setuju sayang?” tanya Lady seperti biasa sambil mengusap lembut perutnya hingga sebuah gerakan terlihat jelas di perut buncit Lady membuat Maya dan Hendrik begitu terkejut sekaligus bahagia.
“Lalu bagaimana kabar suamimu ?” tanya Hendrik,
“Rey baik – baik saja pa.., dia lagi sibuk urusan di kampus, ini lagi persiapan ujian tengah semester, dan Rey juga minta agar Lady cuti dulu, supaya bisa menjaga kesehatan Lady dan Baby Al...” terang Lady,
“Ajaklah suamimu kesini Lady..., dan sampaikan salam kepadanya dari mama yah..”
“Benarkah ma? Mama mengirim salam untuk Rey?” seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya,
“Iyah nak.. mama mengirim salam untuk Rey.., rasanya sudah saatnya kami gencatan senjata kan?” perkataan Maya disambut tawa anak dan suaminya.
“Dave kemana ma?” tanya Lady,
“Dave lagi ke rumah sakit di suruh sama papa, untuk minta rekam medis serta kwitansi asli untuk di scan, supaya papa bisa klaim asuransi mama..” sahut Maya,
Benar saja Dave yang sudah mau pulang dari Rumah sakit karena telah selesai melaksanakan amanah dari Papa Hendrik segara bergegas untuk pulang, dan saat Ia berbelok dari lorong Farmasi menuju ke laboratorium,
“Kak Rey...?” gumam Dave.
***
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman