
“Ada apa Rey? Kenapa kamu terlihat sangat gusar?” tanya Riska yang sedang duduk di hadapannya Rey sehabis menerima telpon dari Lady,
“Tidak apa – apa, dan tidak perlu di bahas Riska..., lalu.., kapan kamu akan kontrol kandungan mu lagi?” tanya Rey menatap sendu kepada Riska,
“Bulan depan Rey.., kemarin aku sudah mendapatkan vitamin dari dokter kandungannya..., lalu bagaimana dengan Lady? Apakah kandungannya baik – baik saja?” tanya Riska tidak menunjukkan rasa cemburu sama sekali,
“Iyah dia baik – baik saja..” lalu Rey menggenggam kedua telapak tangan Riska, “Apakah kamu tidak cemburu?” tanya Rey dengan ragu, Riska tersenyum kecil dan mengangguk singkat,
“Jelas aku cemburu.., tapi dalam hal ini dia dan aku tidak bersalah..., perasaanmu pun tidak salah Rey..., hanya saja..., cara mu mengacaukan kami, sungguh luar biasa..” kekeh Riska, “Tapi.. entahlah.., aku tidak dapat berhenti mencintaimu.., dan... anak Lady adalah saudara dari anak yang ku kandung, mereka tidak pernah minta diciptakan ditengah polemik cinta segitiga ini bukan?, jadi.., tidak ada alasan apapun untuk aku membenci Lady...”
Rey selalu saja di buat terkesiap dengan semua jawaban Riska, sungguh Riska adalah rumah bagi Rey, “Maafkan aku Ris...”
“Ssssuuuttt..., sudah..., jangan di bahas lagi, berapa usia kandungan Lady saat ini Rey?” tanya Riska,
“Minggu depan masuk enam bulan Ris..., dan minggu depan adalah jadwal aku untuk memeriksakan kandungannya, sekaligus melihat jenis kelamin anak kami...” jawab Rey tidak enak,
“Semoga anak kalian sehat.., dan semoga anak kita sehat juga...” jawab Riska sambil tertawa, sungguh keadaan yang canggung dan tidak biasa diantara kedua insan ini, mereka seolah biasa saja dalam membicarakan keadaan Lady, sedangkan Lady sendiri saat ini sungguh tidak tau jika ada sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja dalam pernikahannya.
***
“Lady...” Lirih Maya ketika siuman di ruangan ICU,
“Ma..., Lady disini..” sahut Lady lalu menggapai telapak tangan Maya yang di pasang alat pengukur oksigen dalam darah.
“Jangan tinggalkan mama lagi Lady..., Mama mohon..., pulanglah kerumah...” isak tangis Maya membuat Lady ikut meneteskan air mata, apalagi ketika Lady mengingat ucapan dokter Stella jika Maya tidak boleh setres dan Maya membutuhkan pendamping yang sangat Ia butuhkan, jika usus Maya rusak maka bukan tidak mungkin Maag Kronis yang diderita oleh Maya akan menjadi kanker usus, tentu saja keterangan itu membuat Lady sangat takut kehilangan Maya.
“Iyah..., mama sekarang harus sembuh dulu yah..., mama jangan memikirkan macam – macam.., Mama sembuh biar kita cepat pulang yah..” jawab Lady sambil mengusap lembut rambut sang mama,
“Baiklah..., mama mau istirahat.., kepala mama pusing sekali..” lalu Maya menutup matanya, Lady terus saja menjaga Maya sampai Tantenya yang bernama Desi tepat pukul empat sore untuk menggantikan Lady yang harus pulang terlebih dahulu untuk melaksanakan kewajibannya sebagai istri.
Ada sebuah kelegaan ketika Desi datang di rumah sakit, beribu – ribu pesan dan ucapan terima kasih selalu saja Lady lontarkan kepada Desi yang sudah bersedia datang menjaga Maya, “Apakah aku ini orang asing bagimu? Sampai – sampai kamu harus berterima kasih terus menerus kepada ku? Sudah.., pulanglah..., kamu juga harus menjaga kesehatanmu yah Lady...”
“Iyah Tante.., sekali lagi terima kasih.., Lady pamit yah..” Desi kembali terkekeh dengan sikap Lady.
Sesampainya di Apartemen Lady dengan sigap menyiapkan kopi giling serta sepotong cake black forest yang telah dibelinya saat dirumah sakit tadi, lalu Lady segera membersihkan dirinya dan berdandan natural untuk menyambut kedatangan Reynold, tepat pukul lima sore lebih tiga puluh menit pintu Lift terbuka dan keluarlah pria yang di tunggu – tunggu oleh Lady.
“Sore kak.., ayo kak..., mandi dulu...” ucap Lady sambil mengambilkan tas kerja suaminya dan menyimpan di kamar yang dibuat menjadi kantornya Rey pada apartemen tersebut.
“Iyah..., hhmmmm..., aku kok cium bau kopi, kamu habis giling biji kopi yah?” tanya Rey sambil tersenyum menatap Lady, tentu saja tatapan mesra itu membuat pipi Lady bersemu merah,
“Iyah kak.., tinggal diseduh saja.., kakak mandi yah.., Lady seduh dulu kopinya...”
“Baiklah...” jawab Rey, saat Lady hendak kembali ke dapur pergelangan tangan Lady langsung di tariknya, dan Rey mendekap erat tubuh Lady lalu ******* mesra bibir merah jambu itu, ******* itu begitu panas, hingga membuat Lady terengah – engah mengambil oksigen.
“Kak...” bisik Lady sambil menunduk, selalu saja walaupun sudah berkali – kali mereka bercinta tetap saja jika urusan bermesra – mesraan Lady selalu tersipu malu dibuatnya,
“Aku..., ingin mandi sama kamu...” bisik Rey sambil meremas bongkahan padat bokong Lady, membuat Lady sedikit berteriak manja,
“Sini..., jangan terus menyembunyikan wajahmu...” diangkatnya dagu Lady, lalu dipagutnya lagi bibir ranum itu.., “Mandi yang ini beda sayang..., ayolah..., kamu terlihat begitu cantik sore ini...” bisik Rey, suara terdengar parau akibat hasrat yang bergejolak.
Lady tersenyum tanpa menjawab apapun, tanda jika Lady juga menginginkan Rey seperti Rey yang juga menginginkan Lady lebih dari biasanya, entahlah ada angin apa sampai Rey terlihat begitu bergairah sore ini, batin Lady.
Mereka saling mencumbu satu sama lain dengan perlahan tapi pasti tanpa disadari oleh Lady kini mereka sudah berada di kamar dengan tempat tidur berukuran queen size, dengan perlahan tanpa melepaskan pagutan mesranya Rey membaringkan Lady, dada istrinya kembang kempis menantikan apa yang akan dilakukan oleh Rey kepadanya, tentu saja Rey lantas melucuti kemeja putih yang dipakai oleh Lady.
“Kemeja ini... kamu pakai terlihat kebesaran..., tapi justru itu yang membuatku menginginkanmu..” bisik Rey, kembali Lady menutup wajahnya yang tak tahan menahan rasa malunya,
“Kamu sengaja menggoda aku yah..” lagi Rey menggoda sang istri yaang terlihat begitu menggemaskan di kala menahan rasa malu.
“Kakak... aku tidak bermaksud apa – apa..” sangkal Lady sambil tertawa,
“Bermaksud apa – apa juga tidak apa.., justru bagus kok... aku suka..” Lady sudah mau gila saja mendengar Rey yang terus tiada henti menggodanya dengan kata – kata juga dengan jemarinya yang bergerilya kesana kemari.
Rey yang sudah tak kuat lagi, langsung saja melucuti pakaiannya sendiri, degup jantung Lady berdetak semakin cepat, “Kamu sangat seksi Lady...” bisik Rey, “Aku tidak menyangka ternyata wanita hamil bisa terlihat begitu seksi..” lanjutnya sambil merangkak dan kini Lady sudah berada di bawah kungkungan sang suami.
“Hmmmpp.....” ******* Lady terdengar di telinga Rey, membuatnya semakin menikmati suasana sore itu, sesi bercinta mereka pun di tutup dengan mandi bersama dan setelah sama – sama berpakaian mereka menghabiskan waktu mereka sambil meminum kopi dan teh di balkon apartemen, memandangi langit malam dan gemerlap lampu – lampu kota.
“Apakah Maya baik – baik saja?” tanya Rey membuka pembicaraan mereka,
“Belum kak..., tapi semoga baik – baik saja kak...” Rey menganggukkan kepalanya,
“Baguslah..., apa rencana mu besok?” tanya Rey,
“Boleh kah aku kerumah sakit lagi kak? Dan aku akan pulang seperti hari ini kak... hanya sampai papa pulang dari Singapura kak..” suara helaan nafas tak rela terdengar dari bibir Rey,
“Terserah...” jawab Rey malas...,
“Kak...”
“Sudahlah..., terserah kamu...” Lalu Rey beranjak meninggalkan Lady duduk seorang diri di balkon apartemen itu.
***
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman