
Kacau! Satu kata yang dapat mewakilkan apa yang terjadi di apartemen Riska, sudah tau jika Imannya lemah, Reynold tetap menantang maut, dia datang bertujuan untuk mengakhiri hubungannya dengan Riska malah berakhir saling bertukar peluh di sofa dengan alih – alih mengatakan ‘ini yang terakhir’.
Bagaimana mungkin bisa mengatakan ‘ini yang terakhir’ jika keinginan untuk mengulang adegan panas itu tidak perlu menunggu lama, hanya sekitar satu jam berlalu, kini mereka melanjutkan ronde kedua, Reynold benar – benar telah dibutakan dengan nafsu dan cinta yang sangat membara, namun pikirannya kembali teringat akan Victor, hanya victor satu – satunya ingatan yang dapat menyadarkan kekalutan Reynold sore itu.
“Rey.., katakan kepadaku.., apakah dia benar – benar sangat spesial bagimu? Hingga kamu tidak dapat meninggalkannya untuk bersama ku?” semua gengsi di buangnya entah ke tong sampah mana, baru kali ini Riska pernah mengungkapkan keinginannya kepada lelaki yang pernah menjalin hubungan dengannya.
“Aku harus menjaga nama baik keluargaku Riska..., aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, apalagi dia..” hendak mengatakan yang sebenarnya kepada Riska namun melihat mata Riska yang berkaca – kaca membuat tenggorokan Rey tercekat seketika.
“Katakan saja.., aku sudah katakan bukan? Bahwa aku sudah tau dari awal kamu akan menikah, tapi kupikir ketika kamu mengatakan cinta, maka pernikahan itu akan kamu batalkan, sebagai konsekuensi dengan apa yang telah terjadi diantara kita, kumohon katakan yang sebenar – benarnya Rey...” Lirih Riska kepada Reynold yang menatap Riska dengan iba.
“Dia.., dia sudah mengandung anakku Riska.., itulah yang membuat aku tidak dapat meninggalkannya begitu saja..” Riska seketika duduk dan menampar Reynold dengan keras, hingga membuat Rey juga memperbaiki posisi duduknya, mereka yang masih sama – sama tidak mengenakan sehelai benang pun membuat Riska langsung merasa jijik dengan dirinya sendiri dan pergi begitu saja meninggalkan Reynold yang hanya bisa mengucapkan kata ‘maaf’.
“Riska..., kumohon..” ucap Reynold sambil mengenakan celananya dengan buru – buru, dan berjalan mengikuti Riska yang masuk ke kamarnya.
“Kamu kurang ajar Rey..., berarti dari awal kamu berhubungan denganku, dia sudah hamil Rey?” tanya Riska menahan ledakan dan rasa ngilu di dadanya.
“Iyah Ris.., kami bahkan sudah menentukan tanggal pernikahan kami..” akuh Reynold, membuat Riska menggelengkan kepalanya tidak percaya. Merasa di tipu mentah – mentah oleh lelaki yang tertunduk lesu di hadapannya.
Riska seorang wanita tegar yang pantaang meneteskan airmatanya untuk seorang lelaki, kini tak kuasa menahan sisi feminismenya, dia merasa sakit hati yang luar biasa, inilah yang membuat Riska tidak menginginkan sebuah komitmen, rasa ini yang selalu dia hindari, merasa sangat konyol dan bodoh Riska benar – benar merasa kecolongan karena telah bermain api dengan pria yang salah.
“Bagaimana jika aku juga akan hamil, kamu tidak pernah mengeluarkan benihmu di luar bukan? Kamu selalu mengeluarkannya di dalam..” tiba – tiba Riska kepikiran akan resiko yang akan di hadapi kedepannya.
“Apa maksudmu Ris?” tanya Reynold yang juga baru sadar jika selama ini, selama Rey melakukan hubungan intim mereka tidak pernah menggunakan pengaman.
“Apa yang akan terjadi jika aku juga nanti ternyata hamil Rey? Itu pertanyaanku, dan apa yang akan terjadi? Apakah kau akan meninggalkanku? Apakah kau akan memintaku untuk melakukan aborsi dan lebih memilih mempertahankan rumah tanggamu dengan wanita yang namanya tertera sejajar dengan namamu di Undangaan pernikahan itu? Katakan yang sebenarnya Rey..” desak Riska.
Rey kembali menelaah perasaannya kepada Riska, Rey.. sangat menyukai anak kecil, apalagi darah dagingnya sendiri, tidak mungkin dia akan menyuruh Riska untuk melakukan aborsi, Rey memandang Riska dengan lekat, untuk rasa cinta yang kini dirasakan oleh Rey, semua lebih condong kepada Riska.., kepada wanita yang menangis dalam diam akibat perbuatannya.
Rey juga menimbang apa yang akan di lakukannya, menikahi keduanya juga sesuatu hal yang mustahil, itu tidaklah mungkin dalam kepercayaan yang dianutnya, namun jika di suruh memilih Rey juga masih bingung harus memilih siapa, Jika Riska yang dewasa dan tegar saja bisa menangis, apalagi Lady yang begitu rapuh.
Ingatannya kembali melayang dan teringat akan kejadian di Maya begitu merendahkannya gara – gara uang dua ratus juta membuat segalanya kacau sampai berakibat pada Lady yang nekat ingin bunuh diri di hadapan seluruh keluarganya.
“Aku... aku tidak menjanjikan apapun Ris..., tapi aku berharap kamu tidak hamil.., tapi jika sampai kamu hamil.., kumohon jangan gugurkan anak kita..”
“Lalu kamu meminta aku untuk menjadi wanita yang merawat anakmu sendirian di luar nikah dengan status anak yang lahir adalah anak haram? Itu maksudmu?” tanya Riska masih dengan nada intimidasi dan terdengar menyakitkan di telinga siapa saja.
Rey melangkah dan memeluk erat tubuh Riska yang di balut dengan selimut tipis dari kamarnya, lalu kembali mengecup puncak kepala wanita itu dengan lembut,
“Aku mencintaimu lebih darinya.., aku tidak akan meninggalkanmu, tapi ijinkan aku mempertanggung jawabkan perbuatanku dan menjaga nama baik keluarga besarku Riska, aku tidak akan sanggup melihat air mata di pelupuk mata papaku Riska.., kumohon mengertilah.., ku harap kamu tidak hamil dan jika kamu beruntung dengan tidak hamil maka aku akan mendoakanmu agar kamu bisa mendapatkan pria lain yang baik dan menerimamu apa adanya, bukan pria brengsek seperti diriku..”
Riska menangis sejadi – jadinya dalam diam, di tahannya suara dengan mengatupkan rapat kedua bibirnya, tangisan itu begitu hebat hingga membuat punggung Riska bergetar akibat menahan rasa sakit tiada tara di dalam hatinya,
“Tapi jika kamu tidak beruntung dan ternyata kamu hamil denganku, maka aku akan kembali hadir dalam hidupmu, aku akan menikahhimu juga apapun caranya, dengan agama apapun aku tidak perduli, aku juga tidak akan perduli dengan ancaman pidana yang akan aku tempuh jika kelurga Lady akan melaporkanku dengan kasus pernikahan di atas pernikahan, yang penting aku memiliki upaya untuk menjaga nama baik mu walaupun itu tidak mungkin, setidaknya anak kita tidak akan lahir diluar pernikahan..” Ucap Reynold dengan begitu getir.
Riska masih terus menangis dalam dekapan Reynold, dan Rey tetap menunggu Riska sampai tenang,
“Aku tidak akan melepasmu Rey..., sampai kapanpun kamu harus menjadi milikku, aku tidak perduli apapun caranya, aku bahkan tidak perduli jika di bilang perebut suami orang, faktanya kamu menipuku, faktanya aku tidak pernah tau jika kamu sudah menghamili perempuan itu, dan faktanya hingga detik ini kamu masih berstatus bujang dan tidak terikat dengan pernikahan dengan siapapun!” Riska menegaskan sikap yang akan diambilnya.
Reynold tidak dapat lagi berkata – kata apapun, entahlah tapi dengan Riska seolah kerbau di cucuk hidungnya, itulah yang Rey rasakan, “Aku..., harus pergi Ris..., maafkan aku yah..., aku harus kembali karena sedang di tunggu oleh papaku..” pamit Rey berbohong kepada Riska.
“Pergilah..., biarkan aku sendiri beberapa saat, ingatlah satu hal.., aku tidak akan melepaskanmu Reynold Hariyadi, hamil ataupun tidak hamil, aku akan memperjuangkan mu untuk kembali menjadi milikku!”
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman