
Bumi berputar lebih cepat dari biasanya, rasa mual menyeruak di tenggorokan seolah merasakan apa yang baru dirasakan oleh Riska beberapa jam yang lalu, itulah yang dirasakan oleh Rey saat mendengar pengakuan Riska, ada perasaan sedih yang begitu besar dalam hatinya karena telah mengacaukan dua kehidupan wanita sekaligus, namun ada juga rasa bahagia karena kini Ia memiliki alasan untuk bertemu dengan Riska.
Brengsek?! Apakah kata itu pantas untuk disematkan pada diri Reynold?! Yah... jelas itulah satu kata yang sangat pantas untuk disematkan pada diri Reynold dan Rey sangat menyadari akan segala konsekuensi yang harus di hadapkannya saat ini. Kedewasaan usia Reynold ternyata bukanlah sebuah jaminan untuk Rey tidak bertindak ceroboh atas hidupnya dan hidup orang disekelilingnya.
Hatinya saat ini lebih cenderung untuk mempertahankan wanita yang baru saja masuk kedalam unit Apartemennya dibandingkan dengan wanita yang selalu saja membangkitkan gelora asmara dalam dirinya,
“Reynold.., mengapa kamu diam saja?” kembali suara serak nan seksi itu membangkitkan kesadaran Rey dari lamunan penuh dilema di kepalanya.
“Riska..., biarkan aku berpikir sejenak, hari ini adalah hari yang cukup berat untukku.., aku akan menemui mu hari senin di kantor yah..” jawab Reynold mencoba untuk menenangkan Riska juga dirinya.
“Baiklah Rey.., aku akan menunggumu hari senin, dan sampai hari itu aku tidak akan mengganggu dirimu dan istrimu, selamat malam” Riska lantas mematikan ponselnya, dan berpikir jika semakin ia menekan serta mengintimidasi Reynold maka pria idamannya itu akan semakin menjauh darinya, dan bukan itu yang diinginkan oleh Riska.
“Selamat malam Riska..” huuuffttt... keluhan singkat keluar dari bibir Reynold sambil menggelengkan kepalanya tidak menyangka jika dirinya begitu hebat membuat kacau keadaan.
“Kau luar biasa Reynold!! Aku tidak sangka kau sangat ahli untuk membuat bencana dalam hidupmu.. You **** Rey!!!” Gumam Reynold pada dirinya sendiri lalu melangkah gontai kearah loby satpam untuk meminta tolong mereka mengangkat kontainer yang berisikan buku – buku milik Lady.
“Terima kasih pak..” ucap Rey sambil memberikan tip kepada kedua satpam yang membantunya mengangkat barang – barang milik Lady sampai ke pintu lift, sesampai di unit kamarnya Reynold berjalan dan menuju ke kamar tidurnya, dia mencari Lady kesana kemari namun tidak juga menemukan istrinya itu.
“Lady...?” panggil Rey...,
“Aku disini Rey...” jawab Lady,
“Sedang apa kamu di balkon begini Lady? Dan ini sudah malam, nanti kena angin malam kamu bisa sakit, ayo.., kita masuk.., aku mandi dulu yah..., nanti tolong tunggu kurir yang akan membawakan kita makan malam yah..”
“Baiklah kak..., aku siapkan baju tidurnya?” tanya Lady..,
“Tidak usah.., kamu tunggu saja di ruang depan sambil nonton tv yah...” Lady menuruti saran dari Rey dan segera berjalan ke depan lalu menunggu kurir pembawa makanan, sedangkan Rey melangkah ke kamar mandinya untuk membersihkan dirinya.
Suara ponsel Lady berbunyi, terlihat di layarnya jika yang menelpon adalah Hendrik,
“Halo pa...” jawab Lady,
“Bagaimana keadaanmu dan suamimu nak, apakah kalian baik – baik saja?” tanya Hendrik dengan nada khawatir,
Lady mendengar pertanyaan Hendrik sambil tersenyum haru, “Lady baik – baik saja papa..., mama bagaimana pa? Apakah mama masih marah denganku pa?” tanya Lady dengan wajah yang berubah menjadi murung.
“Jangan terlalu memikirkan mamamu Lady, suatu saat dia akan menerima pernikahan kalian seperti sekarang papa menerima pernikahan ini, kamu fokus saja dengan rumah tanggamu nak.., perlakukan suamimu sebaik mungkin yah...” Nasehat Hendrik sangat berharga bagi Lady,
“Iyah pa.., Lady akan menjaga pernikahan Lady pa.. tapi pa.., Lady juga takut mama benar – benar akan membenci Lady pa..., kalau sampai itu terjadi Lady tidak mungkin memilih antara mama dan Rey kan pa? Lady takut jika sikap mama tidak berubah malah akan berakibat fatal untuk pernikahan Lady pa..” Kini Lady mencurahkan segala kegundahan yang dirasakannya dengan isak tangis.
“Ssstttt..., jangan berpikir terlalu jauh nak..., jika kamu tidak salah memilih yakinlah semua akan baik – baik saja, yang jelas apapun yang terjadi jadilah ibu yang baik untuk anakmu, dan berusahalah menjadi istri yang baik untuk suamimu, okay?!” Sesungguhnya apa yang di khawatirkan oleh Lady adalah hal yang sama yang juga di khawatirkan oleh Hendrik, sebagai seorang pria mapan Hendrik juga merasa perbuatan Maya sudah diluar batas kewajaran.
Tiba – tiba suara bel pintu berbunyi..
“Pa.., kurir makanan kami sudah datang, Lady mau mengatur makan malam dulu yah pa...” pamit Lady sambil mengusap air matanya yang terjatuh dari pelupuk matanya.
“Baiklah Nak.. selamat malam, sampaikan salam papa kepada Rey yah...” Lady segera menghampiri pintu unitnya dan membukanya benar saja kurir tersebut membawakan makanan chinese food dan aroma masakan itu sungguh menggugah selera makannya.
Dua piring dan sepasang alat makan telah tersusun rapi pada meja makan yang tidak terlalu besar namun cukup untuk empat orang makan disana, sambil menunggu Reynold keluar dari kamarnya Lady mempersiapkan sirup disajikan dingin.
“Wah..harum sekali...” suara Reynold tiba – tiba saja sudah terdengar sangat dekat ditelinga Lady, dan sepasang tangan gagah memeluk pinggang rampingnya dari belakang,
“Yah ampun kak... aku kaget banget loh...” kekeh Lady,
“Kaget tapi senang kan?” goda Rey lalu membalikkan tubuh Lady agar berhadapan dengannya, Rey membelai lembut wajah Lady lalu memeluknya tanpa mengucapkan satu katapun, hanya nafasnya terdengar memburu entah menahan rasa atau hasrat, Lady sungguh tidak memahaminya.
Lady lalu membalas pelukan Rey dengan mesra dan menyandarkan kepalanya di dada Rey, terdengar jelas suara detak jantung suaminya, iramanya terdengar lebih cepat dari irama normal pada umumnya.
“Apakah kakak baik – baik saja?” tanya Lady khawatir entah mengapa,
“Iyah.. aku baik – baik saja..., hanya saja... ada yang ingin aku bicarakan denganmu..” Reynold terlihat begitu tegang dan tidak seperti biasanya.
“Apakah itu masalah mama kak? Maafkan... maafkan kelakuan mamaku kak.. jangan tinggalkan aku karena apa yang sudah terjadi di rumah tadi yah kak..., kasihan anak kita kak..” lirih Lady memohon kepada Rey...,
“Bukan.., bukan masalah Mama kamu Lady, ini masalah yang lain..., ini mungkin lebih serius dan aku ingin membahasnya denganmu Lady..” wajah Rey makin terlihat tegang juga gugup bukan main,
“Apa yang begitu penting sampai kakak seperti ini kak..” sahut Lady sambil mengusap sebuah keringat yang terjatuh di pelipis kepala Reynold,
“Begini Lady, sebenarnya...”
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman