
Sebuah senyum bahagia bercampur haru terlukis jelas di wajah Riska kala mendengar pengakuan dari sang kekasih di hadapan papanya, sedikit perasaan lega dia rasakan, Riska merasa jika dia telah menang satu poin, dan bersumpah dalam hatinya untuk mempertahankan Rey sebagai kekasihnya, dan semakin berambisi untuk menjadikan Rey suaminya, sehingga anak dalam kandungannya akan benar – benar memiliki seorang ayah sesuai dengan harapannya.
Sedangkan keadaan Rey saat itu benar – benar ketakutan jika pengakuannya justru akan membuat Victor anfal di hadapannya, Rey menunggu detik – detik reaksi yang akan di tunjukkan oleh Victor dengan wajahnya yang sangat pucat, Ia bahkan takut untuk sekedar mengalihkan pandangannya dari tubuh paruh baya yang sedang duduk di tempat tidur sambil memegang dadanya dan mengatur pernafasannya.
Jangan ditanya bagaimana keadaan Victor, Ia merasa seperti tersambar petir, sungguh menyakitkan mendengar pengakukan anaknya, Ia berpikir jika sudah begini apakah pernikahan Rey dan Lady masih bisa diselamatkan? Jika pernikahan tanpa dasar cinta maka sampai kapan pun justru Lady lah yang akan paling menjadi korban.
Membayangkan bagimana sakitnya Lady kelak menjalani bahterah rumah tangga, seperti yang di alami oleh ibu kandungnya Rey, Victor lantas menutup matanya dan tak kuat menahan isak tangis, bahkan punggungnya bergetar hebat karena tangisan kekecewaan dan tangisan akan penyesalan bercampur aduk menjadi satu di kala Ia membandingkan kehidupan Ibu kandung Rey dan Lady sang menantu.
“Ini semua adalah karma yang harus aku jalani..., Tuhan.. mengapa hukuman darimu untukku tidak ada habisnya..., Tuhan... kalau sudah begini apa yang harus aku lakukan Tuhan..? Kenapa tidak Engkau panggil pulang saja hambaMu yang berdosa ini Tuhan, aku bahkan tak kuat jika harus hidup dengan menyaksikan bagaimana anakku sendiri menghancurkan masa depannya dan menghancurkan keluarga kecilnya yang bahkan masih seumur jagung Tuhan..., Tuhan... tolong aku Tuhan......” Isak tangis Victor terdengar oleh Rey juga Riska.
“Papa...., maafkan aku papa...., aku hanya tidak dapat membohongi perasaanku Papa..., papa ku mohon maafkanlah aku yang telah mengecewakan papa sedemikian rupa papa...” Rey benar – benar memohon ampun sambil mencium kaki Victor dengan kesungguhannya.
Mereka berdua larut dalam tangisannya masing – masing, juga Riska yang ikut menangis melihat keadaan yang sudah tidak karu – karuan ini, tapi kembali lagi, Ia tetap berpegang pada apa yang akan di lakukannya tanpa ada keraguan sedikitpun, apalagi setelah mendengar pengakuan dari sang kekasih, Ia berpikir jika keadaan hubungannya serta hubungan Rey dengan Victor pasti akan membaik berjalannya waktu.
Jika di sebuah kamar mewah ada tiga orang yang sedang menangis berbeda lagi dengan apa yaang terjadi di apotik, Lady terlihat begitu gelisah, begitu juga dengan bayi dalam kandungannya, entahlah apa yang membuat bayi di dalam kandungannya ini bergerak tak beraturan terus menerus hingga sesekali membuat Lady terjingkat dan meringis menahan rasa ngilu dari dalam, Dave yaang memperhatikan apa yang terjadi dengan kakaknya tentu saja merasa khawatir jika terjadi apa – apa.
“Kak.. kenapa? Kok dari tadi kelihatan gelisah.., tenanglah kak.. wanita itu sudah tidak ada disini kak.. semua akan baik – baik saja bukan?” hibur Dave kepada kakaknya.
“Iyah Dave..., ini.. kakak juga nggak tau kenapa Baby Al dari tadi gelisah sekali di dalam, kakak juga entahlah Dave.., perasaan kakak sangat nggak tenang, hati kakak seperti suka ngilu tiba – tiba..., mungkin.. mungkin karena kakak mengingat kenyataan pahit yang sedang kakak hadapi sekarang Dave..” jawab Lady menahan tangis.
“Kak..., sudahlah.. sekarang kakak haruss fokus dengan kesembuhan Om Victor yah kak.., juga fokuslah untuk persiapan melahirkan, tidak ada yang lebih penting dari menjaga kesehatan diri sendiri, mau sampai kapan di pikirkan juga keadaannya memang sudah seperti ini, bukankah sekarang kita sedang mencari solusi kak?” Lady kembali mendengarkan dengan seksama ucapan Dave yang terdengar begitu dewasa di bandingkan usianya.
“Terima kasih yah Dave..., untung kakak ada kamu...”
“Iyah.. sama – sama kak...” sahut Dave sambil mengusap punggung kakaknya,
“Kakak juga tadi sengaja bertanya kepada Kak Rey..., kenapa kok bisa ada disini bukannya di luar kota seperti yang di ucapkan sebelumnya...”
“Lalu apa katanya kak?”
“Dia hanya bilang kalau belum mau membicarakannya sekarang, dan meminta Kakak untuk fokus dengan Papa Victor dulu, juga akan membicarakan masalah ini nanti...”
“Heeemmm..., kurang ajar dia..” gumam Dave geram,
“Entahlah nanti apa yang akan dia jelaskan Dave, kebohongan apa lagi yang akan dia ucapkan, kakak juga harus menguatkan hati jika kemungkinan terburuk dia mengakui segalanya, harapannya dia akan berhenti bermain dengan wanita itu, tapi kalau tidak...” Lady benar – benar tidak sangup untuk meneruskan kata – katanya.
“Sudahlah kak... jangan berandai – andai...”
“Kak.. itu sudah di panggil..”
“Iyah.. tunggu yah...” Lady lalu mengambil obat milik Victor dan setelaah mengambil obat tersebut Ia kembali menghampiri Dave,
“Ayo kita ke kamar papa Victor...”
“Iyah kak..., ayo..., kakak uda tau kamarnya di mana?” tanya Dave,
“Iyah sidah tau, tadi sudah di kasih informasi sama pihak rumah sakit, nanti kalau bingung kita tanya saja ke petugas jaganya..”
“Iyah uda.., yuk.. hati – hati di jalan kak...” Dave berjalan sambil sesekali memperhatikan kakaknya yang berjalan dalam diam, dia begitu tau bagaimana remuknya hati dan sakitnya kepala Lady saat memikirkan keadaannya.
Ketika dua pasang kaki lagi menapak satu demi satu langkah menuju ke kamar perawatan, Victor berusaha lebih tenang dan mengusap wajahnya menggunakan tisue serta berusaha mengangkat wajahnya, wajah yang penuh dengan kekecewaan luar biasa.
“Kamu yang di balik lemar itu keluarlah...” panggil Victor sontak saja membuaat Riska begitu terkejut bukan main, dengan langkah ragu dia keluar dan menunjukkan dirinya, melihat kekasihnya keluar Rey langsung dengan sigap berdiri dan menggandeng Riska tepat di hadapannya.
“Kalian benar – benar sampai tidak malu bergandengan di hadapanku, sungguh luar biasa..” ucap Victor dengan tatapan jijik bukan main, Ia menahan amarahnya, Ia bahkan tau dan menyadari ada Riska di sana, dan bisa menebak jika wanita pelakor ini pasti sangat besar kepala mendengar pengakuan anaknya.
Mendengar ucapan sarkas dari papanya Rey lantas berdiri tegak melepaskan gandengan tangannya kepada kekasihnya itu,
“Dengarkan aku baik – baik...., buka lebar – lebar telinga dan hati kalian berdua..” Victor mengambil nafas sedalam – dalamnya, semua ini tidak boleh di lanjutkan, dan Ia tidak ingin memberikan harapan manis untuk hubungan terlarang di hadapannya ini, apapun yang terjadi.
***
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman