
Jika sepasang suami dan istri sedang menghabiskan waktunya penuh dengan keromantisan dan puncak kenikmatan dunia hingga pagi hari, lain hal dengan Riska yang menghabiskan malamnya dengan penuh airmata hingga sinar matahari membangunkan tidurnya. Badannya sangat tidak enak, seluruh badan pegal – pegal bukan main akibat pikirannya yang kalut dan sedih bukan main.
Tapi pagi ini Riska harus berangkat ke kampus untuk mengajar anak – anaka mahasiswa semester awal, dan juga karena Reynold ijin di kampus maka jadwal mengajar Riska semakin padat untuk mengisi kekosongan jadwal rekan kerjanya sekaligus mantan rekan ranjangnya.
Riska memutuskan untuk mandi air hangat dan keramas serta menikmati beberapa saat di bawah guyuran shower hanya untuk sekedar menenangkan diri dan berusaha mengubah mood buruknya di pagi hari ini. Segera setelah merasa segalanya membaik Riska lantas segera bersiap siap untuk berangkat dan kali ini ia menggunakan riasan eye liner lebih tebal dari biasanya, juga meutupi matanya dengan kaca mata hitam, agar tidak membuat orang curiga dengan mata sembabnya.
Riska juga memilih sebuah kacamata fashion miliknya yang memiliki frame hitam dan tebal yang akan digunakannya pada saat mengajar nanti, dengan tujuan yang sama menyamarkan mata sembab miliknya.
Sesaat setelah sampai di kampus, kepala Riska terasa begitu pusing, namun dia tetap saja menyelesaikan tugasnya sebagai dossen dengan sangat profesional, Riska mengabaikan rasa pusing dengan meminum obat penghilang rasa sakit, Riska juga paaham mengapa dia sampai pusing sekali, semua karena Riska tidak bisa tidur semalaman dan tidak berhenti meneteskan air mata.
Ktika Riska berjalan hendak ke kantor, tanpa sengaja Riska berpapasan dengan papanya, yang tidak lain adalah Rektor kampus ini,
“Riska? Apakah gedung ini begitu silau? Hingga kamu menggunakan kacamata hitam?” tanya Pak Rektor dengan menahan senyum melihat tingkah anak semata wayangnya.
“Maaf Pak.., tapi mata saya sedang sakit pak.., saya takut menulari para mahasiswa saya..” Riska berbohong kepada papanya,
“Benarkah? Lalu mengapa kamu tidak ijin saja? Kamu bisa mengambil waktu untuk istirahat dirumah Ris..” Papanya memandang iba kepada anak yang sangat disayanginya ini.
“Aku tidak bisa ijin Pak.., karena salah satu dosen kita sedang ijin, dia sedang cuti karena melangsungkan acara pernikahan.” Kalimat itu terucap dengan santai, namun ada sebuah getir tertahan di hatinya.
“Iyah.. Reynold Hariyadi, semalam saya juga datang tapi tidak bisa lama, dan langsung pulang ketika bersalaman dengan mereka.., baiklah kalau begitu silahkan lanjutkan tugas kamu, dan jika memang tidak enak badan, kamu bisa ijin yah..” ucap sang Papa sambil meninggalkan Riska dan segera bergegas pergi untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.
“Iyah Pa..., terima kasih..” Lalu Riska juga melanjutkan langkahnya untuk kembali kekantor dan menerima konsulatasi dari beberapa mahasiswa di kampusnya. Semua berjalan dengan apa yang semestinya, tidak seperti biasanya, jika sebelum kenal dengan Rey sehabis bekerja Riska biasanya akan menghabiskan harinya hingga larut di sebuah bar pada pusat kota, namun setelah menjadi kekasih Rey, biasanya Riska akan menghabiskan waktunya dengan bermesraan di apartemen milik Rey.
Namun kini semua itu seolah tidak akan lagi terjadi, mood untuk ke Bar sudah hilang, bermesraan dengan Rey pun itu adalah pikiran yang sangat konyol. Riska lantas memilih menghabiskan waktunya di kantor, setelah semua sepi, Riska berjalan ke ruangan Rey.., disana ia membuka pintu kantor.., Rey lupa meminta kembali kunci cadangan kantornya kepada Riska.
Sebuah perasaan Rindu diluapkan begitu besar kepada Rey.., Riska bahkan sampai duduk di kursi kerja Rey.., aroma parfum Rey begitu lekat di kursi dan ruangan itu, kini Riska yang tegar kembali menangis sejadi – jadinya, Ia merasa tidak sanggup dengan kenyataan yang harus diterimanya.
“Begitu dalam kamu buat aku terjatuh dalam cintamu Rey..., dan kini kamu pasti sedang menghabiskan hari – harimu penuh dengan kemesraan dengan Lady, aku harus bagaimana Rey..., Aku harus bagaimana untuk menjadi kuat dan jahat.., aku harus bagaimana menjadi egois Rey? Aku tidak memiliki apapun untuk membuatmu kembali, membayangkan mengandung benihmu hanya membuat aku menjadi orang gila yang menghayalkan sesuatu.., sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi..”
Riska merasakan begitu hancur dan kembali hancur berkali – kali, kembali rasa pusing membuatnya begitu lelah, akhirnya setelah puas menangis dan mengasihani dirinya sendiri Riska bersiap – siap untuk pulang ke apartemennya.
--***--
Beberapa hari telah berlalu, masa cuti yang diambil oleh Rey juga akan berakhir, kini Rey dan Lady kembali kerumah Pak Hendrik bertujuan untuk berpamitan dengan kedua orang tua Lady, karena Lady sudah berjanji akan ikut tinggal dengan Rey di apartemen milik sang suami.
Wajah Lady memerah seperti udang rebus menahan malu “Papa..., please dong..” ucap Lady membuat Pak Hendrik terbahak – bahak karena geli melihat tingkah anaknya.
“Ngapain kamu malu digoda begitu sama papamu sekarang? Lucu kamu Lady.. Lady..., malu digoda saat honeymoon tapi tidak malu hamil diluar nikah..” Lagi – lagi.., masalah yang sama.., masalah yang selalu diungkap oleh Maya, seolah pasangan ini tidak memiliki hak untuk memperbaiki diri mereka.
“Maya!! Kamu kumat – kumatan lagi..” Hardik Hendrik, mendengar suara sang suami meninggi Maya lalu masuk kedalam rumah meninggalkan pengantin baru yang masih berdiri di teras rumah mereka.
“Ayo masuk, tidak usah kamu tanggapi yah..., ayo.. sini.., Kamu anggap aja ini rumah kamu sendiri yah Rey.., tidak usah diambil hati ocehan mama mertuamu itu, suatu saat dia pasti akan berhenti mengomel ketika melihat cucuku lahir..” Hendrik berusaha menghibur Rey, sadar jika menantunya itu tidak enak hati dan raut wajah berubah drastis mendengar ucapan Maya istrinya.
“Pa..., sebenarnya maksud kedatangan kami kesini untuk berpamitan Pa.. Lady ingin tinggal dengan Rey di apartemennya Rey pa..” Lady mengucapkannya dengan sangat pelan karena takut di dengar oleh Maya, masalahnya selama ini Maya sudah mewanti – wanti kalau Rey lah yang harus ikut tinggal dirumah mereka, bukan sebaliknya.
“Iyah.. alangkah baiknya seperti itu nak.., baiklah papa yang setuju kok..” jawab Hendrik membuat sepasang pengantin baru ini lega.
“Terima kasih banyak Pa..” ucap Rey benar – benar bersyukur memiliki papa mertua yang memahami situasinya.
“Baiklah pa.., kalau gitu lady mulai nyicil ambil baju – baju Lady yah pa..” pamit Lady kepada Hendrik, setelah meninggalkan Rey dan Papanya Lady langsung saja masuk kedalam kaamarnya dan mulai mengambil koper besarnya lalu menyusun baju – baju serta buku – buku ke dalam kontainer plastik miliknya.
Baru saja selesai dengan baju – baju dan buku – buku, ketika Lady hendak mengambil beberapa barang – barang lainnya, Maya membuka pintu kamar itu dan terkejutlah Maya melihat Lady yang sudah mempacking sebagian besar barang – barangnya.
“Apa – apaan ini Lady?!!” bentak Maya, membuat Lady terjingkat kaget dengan suara melengking sang bunda.
Lain di rumah Hendrik, lain juga di Riska yang sedang berjalan menuju keparkiran mobilnya, rasa pusing yang dari tadi diabaikannya mendadak semakin membuatnya tidak nyaman, seluruh dunia seolah berputar hingga membuatnya ingin muntah, tak lagi dapat menahan rasa pusing dan mual yang datang bersamaan, Riska akhirnya memuntahkan cairan yang keluar begitu perih di tenggorokannya.
Seharian kurang makan dan minum membuat Riska sangat lemah, sangking lemahnya Riska hingga pandangan tiba – iba menjadi gelap, tak lagi kuat menopang tubuhnya sendiri akhirnya Riska tergelatak tidak sadarkan di area parkiran kampus sontak membuat semua orang yang melihat Riska pingsan spontan berlari untuk menolongnya.
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman