
Reynold yang seolah lupa akan statusnya saat ini, bahkan anak yang dikandung oleh Lady, malah berjuang untuk memenangkan hati Riska, bagi Reynold.., Riska adalah sebuah tantangan baru, wanita yang sulit ditaklukan membuatnya semaki ingin mengejar, dan.... memiliki.
Merasa para dosen – dosen peserta seminar adalah saingannya, Reynold justru bergegas untuk tebar pesona dan menjadi magnet untuk Riska, Rey bahkan tersenyum saat berada di bawah shower sambil menikmati air hangat ketika mengingat Riska mengatakan bahwa Rey adalah magnet baginya.
Wangi parfum yang menyeruak ke seluruh ruangan Bar masih mampu dicium oleh hidung tajam Riska sekalipun dikelilingi oleh asap rokok dan bau minuman keras, namun tetap saja.. Rey sungguh menggoda dan begitu pula sebaliknya bagi Rey.., Riska sangat menggoda.
“Ris.. ini tadi ada email dari Dekan..” ucap Reynold dengan lantang agar tidak menimbulkan kecurigaan orang disekitarnya, namun yang di tunjukkan oleh Reynold adalah sebuah pesan singkat yang dikirim ke ponsel Riska tapi belum dibuka dari tadi.
“Aku tidak suka melihat lingkaran pria pintar dan tampan mengelilingimu, mereka tentu akan menjadi kompetitorku, ayo kita bergegas keluar dan makan malam, sebelum nafsu makan ku hilang dan bayangan di kereta juga hilang diingatan mu..”
Riska menahan tawanya membaca pesan itu, “Guysss..., aku pamit dulu sama Rey untuk cari makan yah..., habis seminar baru kita ngobrol lagi okay?! Ingat pemilihan presiden !! nanti topik itu yang akan kita bahas yah..., bye semua...” Pamit Riska lalu berjalan dengan Rey,
“Kau memang gila..” bisik Riska kepada Rey,
“Iyah.. aku memang sudah tergila – gila padamu..”
Obrolan ringan menemani keduanya, dan mereka juga seolah lupa dengan waktu, sampai si empunya warung makan memberitahu jika warung makan akan segera ditutup, membuat dua insan yang dimabuk cinta dan lagi lupa diri itu terkekeh, serta kembali ke hotel bersama.
“Besok penampilanmu harus maksimal yah Rey..”
“Oh Jelas, Aku akan maksimal di depan kamu..” Rey masih saja terus menggombal Riska, hingga membuat Riska tertawa melihat tingkah Rey,
“Rey..Rey... kamu kira aku ini mahasiswa mu apa? Kalimat gombalan mu itu.., ah... tidak mempan..” tangkis Riska,
“Iyah... walaupun tidak mempan, dalam hati juga tetaplah berbunga – bunga kan?”
“Hahahahaa!!! Good Night..” pamit Riska masuk kedalam kamar hotel yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya Reynold,
“See you soon..” balas Rey lalu masuk juga ke kamarnya.
Hari baru dimana tugas sudah menanti telah tiba, Reynold dan Riska tidak lagi saling menggoda atau bergombal ria, tapi mereka benar – benar fokus dan profesional pada jadwal serta tugas yang diberikan oleh kampus, alhasil acara Seminar kali ini berjalan dengan lancar, dan Rey menepati janjinya untuk tampil memukau di hadapan Riska.
Selama dua hari berturut – turut mereka menjadi pusat perhatian, bahkan juga tidak sedikit para dosen wanita – wanita lainnya yang mendekati Rey karena kagum akan kepintaran dan ketampanan seorang Reynold Hariyadi, Riska yang melihat itu sebenarnya juga merasa tertantang, namun lain Rey lain pula Riska.
Jika Rey menunjukkan reaksinya saat Riska di dekati oleh banyak pria – pria dia akan bereaksi untuk terus menjadi yang paling pertama mendapatkan perhatiannya Riska, dengan aksi yang cukup agresif. Sedangkan Riska justru sebaliknya, sampai membuat Rey semakin heran, karena Riska tidak memperlihatkan reaksi apapun, dia terus saja berbaur dengan semua peserta seminar.
Hari terakhir ditutup dengan perpisahan sederhana dan beberapa kata sambutan dari ketua panitia penyelenggara, juga tak lupa ucapan terima kasih disampaikan kepada Rey, semua ini terasa sangat lama bagi Rey, ketika semua sedang mendengarkan sambutan penutupan dengan seksama, Reynold justru sedang membayangkan akan rekreasi bersama Riska, tak mau kehilangan momen ini, bergegas dia mengirimkan pesannya kepada Riska,
“Ris..., habis ini kita ke The Lodge Maribaya yukkk, kan kamu suka wisata uji nyali tuh..., nanti kita outbond disana kita pulangnya besok aja, gimana?”
Suara Notifikasi terdengar di ponsel Riska, dan Riska juga membuka pesan dari Rey, tanpa ekspresi tapi membalasnya dengan penuh ekspresi “Yeeaaayy!!! Okay..!” balasnya.
“Kok muka kamu datar banget?” Rey kembali mengirimkan pesannya kepada Riska, dan dibalas lagi,
“Kalau aku ketawa – ketawa sendiri orang kira aku gila, secara di depan Baskoro lagi serius banget sama penutupannya Rey..., kamu itu yah..., eh Rey..., nanti habis main kita nginep dimana?”
“Okay bro...” lalu Riska kembali menatap serius pada Baskoro yang sedang berbicara.
Akhirnya yang ditunggu – tunggu oleh Reynold kini terealisasi juga, Reynold kini sedang menyetir mobil yang disewanya dari hotel untuk pergi menuju ke The Lodge Maribaya, sesampainya disana, mereka tidak melewati satu permainan pun sampai mereka berdua kelelahan, mulai dari outbond, panahan, para layang semua di jajal oleh kedua orang ini, bahkan lagi – lagi mereka sampai diusir oleh petugas di The Lodge Maribaya.
“Aku sangat lelah Rey,...”
“Iyah aku juga, eh Ris..., aku uda sewa kamar dua loh, bersebelahan..” ucap Rey,
“Oh baguslah, habis ini kita langsung ke lembang kan?”
“Iyah ini kita uda masuk lembang Ris..”
Sebuah Hotel berbangunan ala – ala bangunan kuno dengan bunga yang tertata rapi di taman, juga warna warni yang menyegarkan, sepasang orang yang di mabuk cinta ini segera bergegas ke kamar mereka masing – masing.
“Aku langsung mandi air hangat Rey yah..., nanti chatingan kalo mau makan malam,”
“Okay..” keduanya sama – sama sedang mandi dengan mengingat kembali momen momen manis yang baru saja mereka ukir di tempat wisata The Lodge Maribaya menjadikan hasrat keduanya membuncah untuk bertindak lebih.
Rey yang kala itu seolah merasa dirinya masih seperti dulu lalu, mengetuk pintu kamar Riska,
“ Ris.... boleh masuk?”
“Masuk aja Rey..” sahut Riska dari dalam, Darah Rey langsung berdesir dengan sajian pandangan di depannya, Riska terlihat sangat seksi, dengan berbalut handuk dan berambut basa, membuat Rey semakin lupa diri,
“Riska kalau kayak gini.., aku nggak tahan!”
"Nggak tahan kenapa Rey?" tanya Riska malah mendekati Rey yang mematung didepan pintu kamarnya,
"Kamu pakailah dulu bajumu" ucap Rey menahan rasa gugup,
"Oh...Okay... tunggu yah..." saat Riska berbalik saat itu juga Rey menarik tangan Riska hingga membuat Riska terhentak menabrak badan Rey.
"Nggak usah"
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and komennya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman