STRONG IN BETRAYAL

STRONG IN BETRAYAL
BAB.15. THE ROYAL WEDDING



“Aku jijik melihat anak laki –laki itu, dan keluarganya.., Lihat saja keluarganya itu.., Yah Tuhan Lady!!!! Kenapa dia segoblok itu memilih laki – laki yang akan jadi suaminya, Mama nggak ikhlas pa!! Mama gak mau dia Nikah sama laki – laki itu!!” Maya berteriak dan marah tetap kekeh dengan keegoisannya itu, Hendrik yang sudah jengah melihat Istrinya terus – terusan saja tidak mau mengerti keadaan anaknya akhirnya naik pitam juga.


“HENTIKAN!!!!! KAU MEMANG PEREMPUAN EGOIS!!! SOMBONG!!! Jika terjadi sesuatu terhhadap Anakku..., AKU TIDAK SEGAN – SEGAN AKAN MENCERAIKAN KAMU MAYA!!!! Apakah Kau tidak lihat bagaimana Lady sangat shock dengan apa yang terjadi tadi?! HAH?!!! JAWAB!!!!”


Maya terjingkat dan benar – benar tidak menyangka jika Hendrik yang selama dua puluh dua tahun pernikahan ini tidak pernah sekalipun marah sampai seperti ini, membuat nyalinya ciut dan menangis, semua perasaan bercaampur aduk di dada Maya, rasa benci, kesal, takut, kecewa, rasa cintanya kepada anak dan keluarganya semua bercampur menjadi satu, Maya tak sanggup menjawab pertanyaan Hendrik hanyaa ssuara tangisan yang terdengar.


“Kalau sampai Lady Bunuh Diri, KITA SUDAHI SAJA RUMAH TANGGA INI!” Tegas Hendrik,


“Pa..., jangan gitu Pa..., maafkan mama... maafkan Pa..” Pinta Maya yang kini tidak lagi berani beragumentasi dengan suaminya.


Seraya membuang nafasnya dengan berat, Hendrik lantas meminta Maya untuk ikut turun ke bawah menemui keluarga Reynold dan memperbaiki keadaan yang sudah di buat kacau oleh istrinya.


“Apakah Mama sekarang bisa turun dan meminta maaf kepada semua keluarga Reynold?” tanya Hendrik yang berbicara dengan nada lebih tenang,


“I...iyah pa.., tapi... Mama malu pa..,” Akuh Maya kepada suaminya,


“Nanti Papa yang akan berbicara duluan terus mama menyaambung ucapan papa..., setelah urusan dengan kelurfa Reynold selesai Mama harus berdamai dengan keadaan dan tentu saja dengan Lady, apakah kamu sanggup jika Lady akan membencimu seumur hidupmu Hah?” tanya Hendrik sambil merengkuh Maya yang tak henti – henti menangis kecewa.


“Aku... aku sangat menyayangi anakku Pa..., Aku tidak akan sanggup jika dia akan membenciku.., aku sayang sama Lady pa..” Tangis Maya sesenggukan.


“Yah sudah ayo ma.., mereka menunggu kita sudah cukup lama, cuci muka mama, kita turun sama – sama yuk..” ajak Hendrik penuh kasih sayang dan kelembutan, yaahh.. sikap inilah yang turun kepada Lady, kelembutan Lady dan kebaikan hatinya semua karena Hendrik.


Pembicaraan dengan keluarga Reynold telah selesai, semua telaah berakhir dengan baik walaupun awalnya penuh dengan dinamika keluarga tapi pada akhirnya kata sepakat telah mengakhiri dinamika tersebut, Tanggal Tujuh Agustus adalah tanggal cantik yang dipilih oleh kedua belah pihak keluarga untuk merayakan acara pernikahan kedua anak mereka.


Keluarga Reynold telah menyerahkan semua pengaturan acara sesuai dengan konsep acara yaang diinginkan oleh keluarga Lady, biarlah semua diserahkan saja kepada keluarga Lady yang jelas mereka sudah memberikan sejumlah uang untuk merayakan acara tersebut.


Ketika semua keluarga Renold sudah pulang, Hendrik cukup bernafas lega, “Maa...Mama mau konsepnya pernikahan Lady bagaimana? Tapi.. sebelum mama jawab yah.. menurut papa.. biarlah semua konsep sesuai dengan keinginan Lady saja ma.. bukankah ini pernikahannya Lady ma?” Hendrik mengajaknya untuk berunding.


“Tapi pa...Lady ini kan anak pertama kita, Papa juga banyak kolega, banyak kenalan, belum lagi para nasabah – nasabah pa.., Mama mau ini jadi royal wedding paa.., mama nggak mau sederhana – sederhana aja, mama nanti keluarkan uang tabungan kita untuk tambahan acara pernikahan Lady pa.. teman – teman mama juga banyak Pa.., Mama malu kalau nggak ngundang mereka semua pa..” Ucap Maya memohon persetujuan dari suaminya.


“Baiklah Mama atur saja semua, ini Black Cardnya papa..., mama pakai ini saja..., uang mama disimpan saja, belanjakan semua dalam waktu singkat Ma.., waktu kita hanya tiga minggu, nanti Papa yang akan urus surat – surat Adminstrasi persiapan pernikahannya.” Seraya memberikan kartu Black card miliknya Hendrik mengecup sayang kepada Maya, walaupun sempat marah besar tadi, tapi hanya itu satu – satunya cara menjinakkaan istrinya yang sudah kalap.


“Maafkan Papa tadi yah Ma..” lirih Hendrik,


“Iyah Pa.., maafkan mama juga pa...” Maya mengecup sayang telapak tangan suaminya.


Maya segera turun dari kamarnya mendatangi kamar anaknya Lady, dibukanya pelan – pelan pintu kamar Lady, terlihat tangan anaknya terbalut perban membuat hatinya sakit dan sedih, Maya datang lalu duduk disamping tempat tidur Lady, ditatapnya wajah anaknya yang sedang tertidur pulas.


“Untung saja tadi ada Rosi, kamu di kasih obat penenang dan tanganmu bisa ddiperban begini, kalau tidak ada dan kamu kehabisan darah serta infeksi bagaimana? Apakah kamu tidak sayang sama mama nak.. sampai nekat mau bunuh diri karena laki – laki, Yah Tuhan.., rasanya mama sudah salah mendidik kamu.” Omel Maya sendiri walaupun Maya tau Lady sedang tertidur tapi mulutnya tak dapat dibendung untuk mencurahkan kesesakan dalam hatinya.


“Lady... bangun... ayo Nak... kita belanja untuk keperluan pernikahan kamu..” dengan lembut Maya mengusap kepala anaknya, Lady perlahan membuka matanya dan melihat siapa yang ada dihadapannya sontak saja teringat dengan apa yang terjadi, dirasanya rasa perih pada telapak tangannya, sambil sedikit meringis Lady berusaha untuk duduk dan bersandar di tempat tidurnya.


“Keluarga sudah menentukan tanggal pernikahannya Nak.., tanggal Tujuh Agustus.., waktu kita hanya tiga minggu untuk membuat pernikahan megah untukmu nak.., Mama pengen pernikahan ini seperti Pernikahan kerajaan – kerajaan, The Royal Wedding..” Maya berusaha merayu Lady yang kini sudah menaruh perhatiannya pada ucapan Maya.


“Apakah benar? Lady jadi menikah ma?” tanya Lady tak menyangka jika Maya yang sangat menentang awalnya kini menjadi luluh begitu saja.


“Iyah..., maafkan mama tadi yah Lady..., mama akan berusaha menerima kenyataan ini, sudahlah sekarang ayo kamu harus bersiap – siap nak.., kita akan pergi beli Baju pengantin.” Maya berdiri dan menarik kedua lengan anaknya lalu memeluk erat Lady.


Sebagai seorang ibu wajar saja jika menginginkan yang terbaik bagi anaknya bukan? Tapi terkadang cara mengaplikasikannya yang tidak benar, sehingga secara tidak sadar membuat anaknya tersakiti.


“Ma.., kenapa nggak sewa aja ma? Kalau beli kan mahal ma..” Yah.. begitulah Lady.., dia tidak terlalu suka dengan kemewahan yang berlebih walaupun terlahir sebagai anak orang kaya.


“Mama nggak mau kamu pakai baju bekas Nak.., sudah nurut saja sama mama yah.., mama pengen lihat kamu sempurna Nak.., ayo.. kamu gaanti bajumu, pakai kacamata hitam dan masker, wajahmu sembab Lady” ucap Maya sambil mengecup seluruh wajah Lady.


Hati Lady merasa teduh mendapatkan perlakuan seperti ini, inilah Maya, mama yang paling disayangnya, Lady menurut dengan segera bersiap – siap dan memoles wajahnya agar terlihat lebih segar, berpakaian yang rapi juga merapikan rambut yang sempat berantakan.


Kini mereka pergi ke salah satu event organizer khusus pernikahan, Maya memilih sebuah Resort dengan pemandangan langsung kepantai dengan berbagai macam menu – menu terbaik dan tentu saja serba mahal, kapasitas undangan lebih dari seribu orang, Maya juga meminta agar undangan lebih dahulu di kerjakan setelah mendapatkan kepastian deal dengan pihak resort tersebut.


Lalu Maya bertanya kepada Lady untuk kendaraan apa yang aakan dipilihnya saat iring – iringan pengantin, “Maa... sedan mercy aja,, yang biasanya di pakai orang – orang ma..” jawab Lady tak dapat menahan senyum karena bahagia akan hari pernikahannya juga sangat bahagia ketika melihat Maya sangat antusias mengorganisir semuanya.


“Jangan.. kamu pakai Limosin saja..” ucap Maya,


“Tapi..mahal ma...” bisik Lady,


“Halah..., nggak apa – apa , ini sekali seumur hidup kok.” Jawab Maya membuat manager EO tersenyum lebar.


“Ini Pilih baju pengantinnya, ini sudah jadi tinggal fitting aja untuk ngepasin tapi semua nanti satu minggu sebelum acara karena takutnya kami akan semakin gemuk” bisik Maya kepada Lady, Lady menganggukkan kepalanya.


“Tapi Ma... uang yang dikasih keluarga Kak Reynold kan hanya dua ratus juta ma.., bagaimana kita membayar ini semua?” Lady bertanya sangat polos seolah lupa anak siapa dia sebenarnya.


“Uang siapa lagi? Jelas uang keluarga kita lah” Ucap Maya bangga.


To Be Continue...


Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You


Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.


Follow IG Author yah.. @lizbet.lee


Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman 