
Suara lagu Ave Maria berkumandang sungguh merdu dan syahduh mengiringi tiap langkah kaki Lady yang menapaki altar gereja yang beralaskan karpet merah, degup jantung terasa begitu cepat akibat rasa gugup tiada tara, air mata haru dari mata Hendrik Susanto sesekali masih membasahi pipinya ketika mengapit anak sulungnya.
Tatapan penuh cinta terpancarkan di kedua biji mata Lady ketika menatap seorang pria berbalut Jas putih silver yang akan menjadi Kepala dalam rumah tangganya yang baru, oleh karena itulah Kepala Rumah tangga sebelumnya memberikan tanggung jawabnya dan menyerahkan kehidupan anaknya kepada calon Kepala Rumah tangga yang baru yaitu Reynold Hariyadi.
Airmata haru juga menetes dan membasahi pipi Victor dan Tuti serti Felix, Maya yang sangat angkuh pun tak kuasa menahan haru, Lady terlihat begitu bahagia, terlihat begitu cantik dan anggun, tidak ada yang dapat mengalahkan kecantikannya pada momen paling berharga dalam hidupnya.
Tangan lentik dan lembut milik Lady di serahkan kepada Reynold, Rey menerima tangan itu dengan memaksakan senyuman di wajah tampannya, sejenak ia menutup matanya dan berharap apa yang dilakukannya sekarang adalah jalan yang terbaik, Rey berusaha untuk kembali membuka hatinya agar benih – benih cintanya kepada Lady yang telah layu kembali bersemi, dengan menanamkan pikiran yang positif.
Suara pendeta mempersilahkan seluruh hadirin untuk duduk dan Ibadah pemberkatan nikahpun dimulai, mulai dari sumbangan lagu – lagu rohani dari paduan suara gereja, dari teman – teman Lady dan kolega Pak Hendrik memenuhi round down acara di gereja tersebut, hingga tibalah sebuah khotbah untuk penguatan janji pernikahan mereka.
Maka ketika Khotbah yang di sampaikan dengan sangat sakrar di sampaikan oleh sang pendeta telah berakhir, tibalah acara inti dari tujuan Ibadah itu sendiri, yaitu pemberkatan Nikah kedua mempelai yang kini bersanding di Altar Gereja.
“Baiklah para Hadirin silahkan berdiri untuk menjadi saksi janji suci yang akan di sebutkan oleh kedua calon mempelai di depan ini, sebelum saya meneguhkan pernikahaan mereka apaakaah ada yang keberatan dengan pernikahan kedua mempelai ini? Jika ada maka waktu dan tempat saya berikan” Ucap Pendeta disambut diam oleh para hadirin,
“Baiklah karena tidak ada yang...” Belum selesai Bapak pendeta berbicara, suara pintu depan gereja tiba – tiba terbuka sehingga seluruh pasang mata teralihkan melihat kebelakang termasuk Lady, namun tidak termasuk Reynold, hanyaa daada Reynold yang bergemuruh takut bila apa yang dipikirkannya akan terjadi.
“Ma..maaf.., silahlkan di lanjutkan Pak Pendeta..” Suara serak itu begitu familiar di telinga Reynold, membuat keringat dingin sebesar biji jagung mulai membasahi keningnya.
“Baiklah saya akan melanjutkan, Oleh karena tidak ada yang menentang atau keberatan maka pernikahan ini akan saya lanjutkan..” Lanjut Pak Pendeta, sehingga semua hadirin kembali membalikkan tubuh mereka untuk melihat kedua mempelai yang berada di depan altar dengan posisi saling berhadap – hadapan.
Ingin rasanya Reynold membalikkan tubuhnya untuk melihat wanita yang baru saja datang, namun hasrat itu ditahannya dengan sekuat tenaga yang ia miliki, “Reynold Hariyadi, apakah anda bersedia untuk menerima Lady Susanto sebagai tubuh atas kepalamu yaitu menjadikannya istrimu dalam suka maupun duka?”
Reynold menatap Lady dan menelan salivanya dengan sangat berat karena rasa gugup yang tiada tara, “Iyah saya bersedia untuk menjadikan Lady Susanto sebagai istri saya dalam suka maupun dalam duka...” jawab Reynold singkat dan memaksakan senyumannya di hadapan Lady.
Bapak Pendeta melanjutkan kembali sesi janji suci tersebut, kini giliran Lady yang akan mengucapkaan janji sucinya, “Lady Susanto, apakah anda bersedia untuk menerima Reynold Hariyadi sebagai kepala atas tubuhmu yaitu menjadikannya suamimu dalam suka maupun duka?”
Lady menatap sendu kepada Reynold, tidak langsung menjawab, namun ada sebuah jeda hingga akhirnya Lady mengucapkan “Iyah.. saya Lady Susanto bersedia untuk menjadikan Hendrik Hariyadi sebagai suami saya, dalam suka maupun dalam duka, dan saya berjanji untuk selalu mentaatinya sebagai kepala rumah tangga, serta berbakti kepadanya, juga menjadi penolongnya, sebagaimana hakikat saya sebagai wanita yang sudah Tuhan gariskan..”
Begitu juga dengan Lady yang mengharapkan hal yang sama yaitu mengharapkan bahwa ini adaalah pernikahan yang pertama dan yang terakhir, semua keluarga kembali terharu ketika mendengar Lady mengucapkan janji sucinya.
“Oleh karena kasih karunia Tuhan yang Maha Esa, dan oleh karena kuasaNya, atas nama Bapa, dan Putra dan Roh yang Kudus, saya meneguhkan kalian yaitu Reynold Hariyadi dan Lady Susanto adalah sepasang suami istri yang sah di mata Tuhan, sekali lagi saya ingatkan, apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan dalam sebuah pernikahan yang suci tidak dapat dipisahkan oleh apapun, hanya maut yang dapat memisahkan kalian berdua.” Tutup pendeta tersebut diiringi lagu pujian rohani dan doa penutup ibadah tersebut.
Ketika seluruh tamu bergerombol untuk mengantarkan kedua mempelai kedalam mobil pengantin, tampak seorang gadis seksi nan begitu cantik berbalut baju merah darah dengan sarung tangan hitam, sepatu high heals hitam, beserta Floppy Hat hitam dengan cadar jaring hitam menutup hanya hingga kebatang hidung mancung sedang berdiri sendiri dipojokan sudut gereja dengan airmata yang membasahi pipinya tanda rasa sakit hati yang begitu luar biasa.
Dan tanpa sengaja mata bertemu mataa membuat Reynold mengucapkaan kata maaf tanpa suara “Sorry..” hanya itu yang dapat dikatakan oleh Reynold lalu ketika tangan lentik Lady meremas jemari Reynold seketika itu juga Reynold langsung berbalik dan menatap Lady sambil tersenyum hangat, lalu ******* bibir tipis itu dihadapan semua orang, ciuman itu disambut dengan sorak bahagia dari para tamu undangan yang hadir di acara pemberkatan tersebut.
"I love you Reynold.." bisik Lady dengan mesra di telinga Reynold,
Sebuah senyuman untuk membalas ungkapan hati Lady, dan sebuah bisikan pun terdengar di telinga Lady "Yes.. me too.."
“Aku.. akan merebutmu dari wanita itu Rey...” Gumam wanita berbalut gaun merah tersebut.
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman