
Ahh... Lembang... tempat dingin berkabut, jalanan naik turun berkelok-kelok, tatanan kota yang sungguh asri dengan warna warni bunga, yang membuat hati siapa saja pasti terbawa perasaan, apalagi... pasangan - pasangan yang sedang di mabuk cinta.
Termasuk Rey dan Riska yang walaupun sudah menyewa kamar yang berbeda tapi ternyata kini mereka berakhir di satu kamar, dimana seolah Riska memang sengaja menantang dan memberikan kesempatan untuk Rey berbuat lebih.
Bahkan Riska tidak ada rasa malu sedikitpun berdiri di hadapan Rey dengan hanya berbalut handuk, seolah menantang reaksi Rey yang sudah mengangkat bendera putih tanda menyerah,
"Nggak tahan kenapa Rey?" tanya Riska malah mendekati Rey yang mematung didepan pintu kamarnya,
"Kamu pakailah dulu bajumu" ucap Rey menahan rasa gugup, masih berusaha menekan hasrat laki - lakinya.
"Oh...Okay... tunggu yah..." saat Riska berbalik saat itu juga Rey menarik tangan Riska hingga membuat Riska terhentak menabrak badan Rey, senyuman Riska tersungging bibirnya mengetahui jika umpannya telah di makan oleh targetnya.
"Nggak usah" Rey terengah-engah sambil semakin mengeratkan pelukannya kepada Riska, dan selanjutnya terjadilah...
Sepulangnya dari Bandung dan melewati malam yang panas dan penuh peluh, Rey menjadi semakin jarang bertemu dengan Lady yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Seperti hari ini, saat ini adalah waktunya Rey untuk fitting baju pengantin juga mencoba tester dari berbagai menu makanan bersama kedua keluarga calon mempelai, dengan gelisah keluarganya dan calon istrinya menunggu kedatangan Rey, berkali-kali Victor menghubungi Rey lewat ponselnya, tapi tetap saja diabaikan oleh Rey.
Begitu juga Lady yang terus mencoba menelpon Rey namun tetap saja di abaikan oleh Rey yang ternyata kini sedang bertukar peluh dengan Riska sehabis mengajar di kampus, semua itu seolah menjadi candu bagi keduanya.
Ketika suara tawa dan nafas yang terengah-engah menggema di kamar apartemen Reynold, getaran ponsel milik Reynold juga tak berhenti memanggil manggil, hingga menarik perhatian Riska yang sedang berbaring serta memeluk Reynold.
"Rey.... ponselmu dari tadi bergetar di meja..."
"Iyah biarkan saja.... apa Kamu mau aku ngangkat pas kita lagi mesra - mesraan?" kekeh Reynold.
"Nggak juga sih... tapi... takutnya penting Rey... coba kamu lihat dulu..." Reynold yang sudah tau alasan ponselnya terus saja bergetar lantas terus saja mengelak.
"Iyah .. kita juga penting, mereka masih bisa menunggu..." Riska tertawa kecil, Rey sangat pintar untuk memainkan kata,
"Hehehe... Kamu sangat pintar merayu... tapi Aku sebentar lagi ada jadwal ke kampus, Aku pinjam toilet untuk mandi yah...." ijin Riska,
"Barengan?" goda Rey sambil memainkan alisnya,
"Jangan dong.... yang ada nanti Aku terlambat ke kampus, hahahaha"
“Ayolah sayang...” bujuk Rey lagi,
“Nggak ah.., Nanti jadinya nggak mandi, malah makin terlambat jadwalku Rey..” Akhirnya Rey pun membiarkan Riska untuk membersihkan dirinya tanpa berniat untuk mengganggu lagi,
Walaupun sebenarnya Rey sadar jika saat ini dialah yang paling bersalah, namun Rey membuang semua pikirannya itu dengan menanamkan sebuah kata – kata pamungkas yang selalu saja di gaungkan dalam hati dan pikirannya bahwa “Cinta tidak pernah salah, entah itu sesaat atau abadi, tapi ketertarikan akan seseorang yang mampu membuatnya nyaman bukanlah sebuah kesalahan dan dosa..”
Kini layar ponselnya kembali bergetar, tujuh puluh delapan panggilan tak terjawab dari Victor membuat Rey semakin bingung dengan alasan apa yang harus dikatakannya agar keadaan menjadi seperti yang diinginkannya.
“Reynold!!! Kau Brengsek!!! Kau yang menjemput kami ke sini, dan kini Kau juga yang meninggalkan kami sebagai tumbal kebrengsekanmu REY?! Apakah kurang nasehatku selama ini untukmu? Apakah Kau ingin Aku mati dengan menahan rasa malu kepada seluruh anggota keluarga Lady?! JAWAB!!!” Pesan singkat dari Victor tak sengaja terbuka karena terkena sentuhan jari Rey yang bertujuan untuk mengunci layarnya.
“Sial!!” Umpatnya, dengan terpaksa Rey membalas pesan singkat tersebut,
“Pa... Aku.. maaf.., Rey tidak akan hadir..” sambil menahan Nafasnya Rey berharap agar Victor dapat mengerti dan memahami kondisi Rey saat ini, walaupun itu merupakan sebuah harapan yang sangat konyol.
“NO!!! Kamu harus hadir, tidak kah kamu memiliki hati Rey?! Papa Mohon datanglah, bertanggung jawablah atas segala kekacauan yang kamu ciptakan sebelum semua orang sadar akan situasi yang Kau ciptakan saat ini, walaupun Papa tidak tau apa yang kamu lakukan, tapi Papa yakin dengan niat yang ada di dalam hatimu saat ini!! Datanglah ke sini sekarang juga atau Kau tidak akan pernah bertemu dengan Ku lagi!! Bahkan jika suatu saat nanti Aku mati, aku tidak sudi Kau mengangkat peti matiKu Rey!! Camkan itu!!” Victor masih tidak menyerah untuk membujuk Rey datang, dengan berbagai macam cara termasuk ancaman – ancaman yang baru saja dilontarkannya lewat pesan singkat yang baru saja di baca oleh Rey dengan gemuruh yang terus berdentum di dadanya.
“Tapi..., Aku pasti akan terlambat pa..” Hanya kalimat singkat itu yang terpikirkan oleh Rey, Namun rupanya Victor masih terus saja memaksa Rey untuk segera datang.
“Lebih baik kamu datang terlambat dari pada tidak datang sama sekali, Kamu harus datang dan karang saja alasan apapun untuk menyelamatkan muka lelaki tua yang bernama Victor ini, You fvcking **** Reynold!!! Jagalah nama baik kami!! Aku tidak pernah meminta apapun darimu walaupun Kau telah sukses selama ini bukan? Tapi kali ini Aku meminta untuk kamu bisa menjaga nama baik kami!!! Dan bertindaklah sebagai lelaki gentle dan bukan seorang pengecut!!” Lagi – lagi balasan dan Victor membuat Rey kembali pusing.
Kini bukan hanya pesan singkat dari Victor yang masuk , pesan singkat dari Lady juga masuk dan menyesakkan dadanya,
"Kak... Apakah kakak sibuk? tidak apa kak... Lady paham, pasti ada kelas tambahan kan? Kak.. Lady sudah fitting baju pengantin, nih lihat... bagus kan kak? dan sekarang kami lagi makan siang bersama sekalian mencoba rasa menu menu untuk acara resepsi kita, Kalau nggak sibuk kontak Lady yah kak... atau langsung ke Boutique aja kak untuk Fitting..."
Rey buru – buru keluar cari chatingan yang dikirim oleh Lady dan ketika sedang berpikir untuk membalas pesan singkat apa lagi kepada Papanya, Riska keluar dari kamar mandi tanpa disadari oleh Rey yang masih menatap gamang pada ponselnya, pikirannya melayang tatapannya kosong, Riska berjalan mendekat dan melihat ponsel yang dipegang oleh Rey, rasa penasaran membuat Riska mengambil ponsel dari tangan Rey, sontak saja Rey terkejut dan refleks merebut kembali ponselnya dari tangan Riska.
“Maafkan aku..” ucap Riska yang merasa tatapan Rey berubah tidak seramah sebelumnya,
“Tidak.. tidak apa.., Aku hanya kaget Riska..” dengan gugup Reynold berusaha menguasai dirinya, dalam hatinya apakah Riska sempat membaca pesan singkat dari Victor ataukah tidak? Kini jantungnya bertalu menahan rasa takut ketahuan oleh wanita yang menjadi candunya, segera Rey mematikan ponselnya dan beranjak berdiri dari ranjangnya, mengambil kabel charger ponselnya dan sengaja mengisi daya ponselnya seolah tidak terjadi apa – apa.
“Maaf yah Rey.., Aku pamit dulu yah..., nanti kontak Aku jika urusanmu dengan Victor selesai..” seolah tersambar petir Reynold terkejut bukan main dengan kalimat yang baru saja terucap dari bibir seksi Riska.
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and komennya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman