
Kebahagiaan membuncah di diri Lady saat pergi ke kantor salah satu EO Wedding, Melihat bagaimana Maya sangat bersemangat mempersiapkan segalanya tentu saja membuatnya haru, karena apa yang terlihat sekarang sungguh berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di rumah saat keluarga Reynold datang.
Namun melihat bagaimana kalapnya Maya berbelanja tentu saja membuat Lady khawatir, apakah ini tidak berlebihan? Sedangkan biaya pernikahan yang di keluarkan oleh Pak Victor senilai Dua Ratus Juta, tapi yang dilihat oleh Lady uang yang dikeluarkan dengan berbagai persiapan yang sangat lux diyakininya akan memakan biaya lebih dari Dua Ratus Juta Rupiah.
Dengan polosnya Lady bertanya kepada Sang Mama,
“Tapi Ma... uang yang dikasih keluarga Kak Reynold kan hanya dua ratus juta ma.., bagaimana kita membayar ini semua?” Pertanyaan Lady membuat Maya tertawa dan mencubit pipi anaknya dengan gemas.
“Uang siapa lagi? Jelas uang keluarga kita lah, apakah kau lupa siapa papamu Lady? Yah ampun.., pertanyaan macam apa ini?” Ucap Maya bangga masih terbahak melihat anaknya.
“Uang yang di berikan oleh Keluarga calon suamimu tidak akan mama pakai satu sen pun, kamu simpan saja uang itu untuk masa depanmu Lady, biarlah semua ini pemberian dari Papa dan Mama yah.., sedangkan Uang Pak Victor itu untuk kalian memulai rumah tangga baru saja, tapi jangan sampai mereka tau, karena papamu tidak ingin mereka merasa tidak dihargai daan merasa rendah diri.” Penjelasan Maya membuat Lady melongo, apa dia tidak salah dengar? Apa benar secepat itu Mama menerima Reynold?
Tapi yah kalau memang semua benar maka Tuhan telah menjawab doa – doanya yang penuh dengan cucuran air mata.
“Terima kasih mama..., maafkan aku..” Peluk Lady kepada Maya.
“Sssttt..., sudah.., nanti kita akan jadi tontonan orang banyak, lap air matamu, habis ini kita akan ke dokter kandungan untuk memastikan kamu dan anakmu baik – baik saja, sejak awal tau kehamilan mu kita sama sekali bahkan belum memeriksa kehamilan mu.” Bisik Maya,
“Iyah mama..” Sahut Lady sambil membersihkan wajahnya dengan tissue.
“Total semua berapa?” tanya Maya kepada Manajer Wedding Organizer yaang baru saja datang,
“Tagihan semuanya seperti ini Bu, berikut rinciannya” Ucap Manajer WO Tersebut, dibaca dan dilihatnya semua totalan yang lebih dari Satu Milyar,
“Baiklah, ini saya kasih Down Payment di gesek di sini yah..., dan sisanya saya kasih berupa Cek Tempo sesuai persiapan kalian” Ucap Maya, yah begitulah Maya sangat mencermati semua, Cek tempo di berikan sesuai dengan progres kerja mereka agar Maya sendiri dapat meyakinkan dirinya jika semua persiapan berjalan sesuai dengan harapannya.
“Baik Bu.., berikut Down Payment sepuluh persen dari pengeluaran yah Bu, setiap Progres akan kami laporkan yah Bu..”
“Okay.., Ayo kita lanjutkan rencana kita Lady” Ajak Maya kepada Lady yang kala itu mengekor saja dibelakang mamanya.
Perjalanan mereka berlanjut menuju ke dokter kandungan, dan sesampai di dokter kandungan, tanpa menunggu lama Lady dan Maya dipersilahkan masuk, ternyata sebelum mereka pergi Maya sudah menelpon klinik dokter Alfons dan mendaftarkan anaknya untuk periksa hari ini.
“Bu Maya..., Halo Lady..., apa kabar?” tanya Dokter Alfons,
“Baik Pak Dokter..., ini Pak.. yang mau periksa, anak saya sebentar lagi akan merayakan resepsi pernikahan Pak..” ucap Maya, sontak saja dokter Alfons yang juga Dokter pribadi keluarga itu masih belum tau rencana kedua wanita ini.
“Oh.. mau program hamil atau mau menunda kehamilan?” tanya Dokter Alfons.
“Mau periksa Pak Dokter, yah karena ini sudah hamil makanya mau buru – buru nikah anak saya, Hemmm..., anak jaman sekarang suka sekali Makan dulu Berdoa kemudian.”
Dokter Alfons tertawa mendengar perumpamaan yang diucapkan oleh Maya, “Yah sudahlah Bu Maya.., kita tidak bisa melihat kebelakang, nanti tidak ada habisnya bukan? Ayo sini Nak.., Bapak periksa yah...” dengan ramah Pak Dokter mempersilahkan Lady untuk berbaring di ranjang pasien, Dokter Alfons mulai bertanya kapan Menstruasi terakhir, dan Lady menjawab semuanya, lalu mulai mengoleskan Jeli di bagian perut bawah pusar,
Suara detak jantung terdengar pada layar monitor, Lady tak kuasa menahan haru sambil menatap wajah Maya, “Im so sorry Ma..” bisiknya kepada Maya, Maya yang ikut haru mengangguk dan langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menggenggam tangan anaknya,
“Its, Okay Nak..., It’s Okay..” ucap Maya dengan air mata yang terus berjatuhan tanpa permisi.
“Janin ini sangat sehat dan Dia sangat ingin dilahirkan ke dunia ini..” Ucap Alfons yang hampir Dua Puluh Tiga tahun mengenal keluarga Hendrik bahkan sebelum Maya mengandung anak pertamanya.
“Lady..., Maya adalah ibumu yang sangat menyayangimu, dia bahkan mengorbankan karirnya untuk membesarkan mu dengan baik sehingga kamu sekarang tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan berpendidikan, semua itu tidak terlepas dari peran besar Maya sebagai Ibumu..., Aku tau bagaimana perasaan Maya saat ini, kamu harus memaklumi itu semua yah Lady dan ingat..., tetap sayangilah Maya..” Nasehat Alfons yang semakin membuat Lady sesenggukan merasa bersalah, begitu juga dengan Maya.
Yah.., Alfons memang sahabat Hendrik, sahabat terbaik yang tau bagaimana seluk beluk keluarga ini, serta memahami sifat dan karakter maya dengan baik, Maya adalah sahabat Adel istrinya Alfons sejak kecil, mereka sudah seperti saudara kandung, semua itu membuat Alfons tidak segan untuk menasehati anak dari sahabatnya itu.
“Terima kasih Bapak..” ucap Lady,
“Terima Kasih Alfons..” sambung Maya, mereka mendapat resep untuk janin dan kesehatan Lady, asam folat untuk pembentukan tulang belakang, vitamin dan obat anti mual.
“Kamu bisa minum susu, tapi kalau nggak bisa nggak apa – apa.., karena bawaan orang beda – beda saat hamil, susu juga mengandung asam folat sama tujuannya untuk pembentukan tulang belakang, jangan banyak setres, makan sebanyak – banyaknya dan tidak ada pantangan apapun, hanya saran Bapak.., jangan terlalu makan sate yah nak.., atau daging – daging asap atau yang hanya di bakar, karena kalau belum matang sempurna akan mempengaruhi bayi di dalam kandungan.”
“Baik Bapak terima kasih untuk sarannya..”
“Lalu Kapan HPL nya Alfons?” Tanya Maya,
“Akhir Bulan Febuari atau awal Maret Maya..”
“Baiklah.. terima kasih banyak yah Alfons.., undangan akan menyusul yah.., mereka akan menikah tanggal tujuh Agustus.. Kirimkan salam ku untuk Adel yah”
“Baiklah akan ku sampaikan.., sehat selalu dan salam untuk Hendrik..”
Mereka berpamitan satu sama lain dan pergi meninggalkan Klinik Dokter Alfons, selembar kertas hasil USG empat dimensi menunjukkan bagaimana bentuk janinnya Lady membuatnya tersenyum, Lady memegang perutnya serta berbisik.. “Sehat terus yah sayang.., See you soon..” ucap Lady.
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman