
Bruggg!!! Suara tubuh bertabrakan dengan semen parkiran lumayan nyaring adalah ingatan terakhir Riska ketika kini ia mengerjapkan matanya, dan beradaptasi dengan sinar lampu yang cukup menyilaukan, lagi – lagi membuat rasa mual begitu menyiksanya, kini ada yang mengambilkan ember untuk membuat Riska dapat memuntahkan isi perutnya pada tempatnya.
“OH!! GOD!!!!” teriak Riska sangat tersiksa, lalu seorang suster memberinya air putih hangat, dan Riska langsung saja meminumnya.
“Riska Giri??” panggil seorang dokter yang berumur seumuran dengan Papanya Riska,
“Om Laksono..” Riska sugguh terkejut melihat seorang dokter keluarganya yang menatapnya dengan iba dan menahan tangis,
“Kenapa kamu ganti namamu nak? Apakah Admaja sudah tidak begitu keren untuk nama belakangmu?” goda Dokter Laksono Kusmawan,
“Om... kenapa Riska disini? Harusnya kan Riska di kampus om?” Riska masih bingung dan tidak menanggapi godaan sahabat akrab Papanya.
“Iyah.., para mahasiswa membawamu ke Ruang klinik kampus, tapi karena durasi pingsanmu cukup lama, papamu sangat kawatir dan meminta ajudannya mengantarkanmu kesini, ke Admaja International Hospital” kekeh Dokter Laksono.
“Ck..., sudahlah Om.., lalu apakah aku boleh pulang sekarang?” Sontak saja Laksono menggelengkan wajahnya dan langsung menyuruh perawat ruangan untuk meninggalkan mereka berdua, Laksono mengambil kursi segera duduk di samping tempat tidur Riska.
“Tidak sebelum kamu menjawab pertanyaan Om, dan ini masih om rahasiakan dari siapapun, karena Aku tidak ingin membuat keluargamu heboh Riska, kamu dehidrasi parah, dan..Riska apakah Indra mengenal siapa kekasihmu? Karena selama ini tidak ada desas desus kamu sedang pacaran.” Kini Riska yang heran dengan pertanyaan Laksono.
“Ada apa om? Aku... tidak punya pacar om..” lirih Riska menerawang ke lantai, mengingat kembali Reynold yang pernah di akuinya sebagai kekasih di hatinya.
“Hah?! Lalu kamu mengandung anak siapa Riska?” Laksono dan Riska sama – sama terkesiap, Laksono sungguh menyesal dengan keadaan Riska saat ini, sedangkan Riska merasa harapannya selama ini benar – benar terkabul,
“Apakah benar Om?” tanya Riska masih tidak percaya.., tidak ada rasa kecewa sama sekali pada dirinya, Riska malah seoah melihat sebuah... kesempatan! Kesempatan besar yang sangat diharapkan dan dinantikannya, namun serasa doa yang selama ini di ucapkannya jarang sekali terkabulkan, tapi kini... semua yang dimintanya seolah di permudah oleh Sang Pencipta.
“Iyah..., Riska.. kamu hamil memasuki minggu ke lima, Om..., belum membicarakan ini kepada siapapun, termasuk Indra..” Laksono menghela nafas panjang bingung dengan apa yang akan di hadapi oleh anak dari sahabatnya sekaligus pemilik rumah sakit ini, yah..., bukan hanya sekolah tapi orang tua Riska juga pemilik salah satu Rumah Sakit tercanggih di kota ini.
Berbeda dengan Laksono yang memikirkan masalah apa yang akan menunggu Riska dan keluarganya, Riska malah kini menunduk dan mengelus perut ratanya dengan wajah penuh kebahagiaan.
“Om.. apakah ini bukan mimpi? Benarkah aku hamil Om?” sekali lagi Riska bertanya,
“Iyah...,apakah kamu memiliki rencaana untuk aborsi?” tanya Laksono takut akan isi pikiran Riska,
“No!! No Om... tentu saja tidak, Riska minta tolong rahasiakan ini dulu om.., biarkan Riska yang berbicara dengan papa dan mama yah om..., Please Om..., jika mereka tau dari Om Laksono, mereka akan sangat marah dengan Riska, biarkan Riska mengaku dan bertanggung jawab di hadapan mereka.., Riska juga akan menemui ayah dari anak ini Om..., Riska hanya minta hasil pemeriksaan kehamilan saja apakah bisa om?” Tanya Riska namun memohon dengan sangat, hingga membuat Laksono menganggukkan kepalanya dengan tidak tega.
“Baiklah..., Om akan rahasiakan ini sementara, tapi Riska, saran Om..., kamu harus segera bicaran ini kepada kedua orang tuamu dan ayah dari janinmu, karena perutmu akan semakin membesar, nanti Om akan kasih rujukan kamu ke dokter kandungan yah..., untuk pemeriksaan lanjutannya dan minum vitamin yang Om kasih untuk sementara ini” ucap Laksono dengan tulus, Riska berusaha menahan rasa bahagianya, Ia hanya menganggukkan kepalanya.
“Baiklah Om tinggal kamu untuk istirahat dulu sebentar, kamu boleh pulang besok siang, seletah dua botol infus masuk ke tubuhmu, untuk membantu pemulihanmu dari dehidrasi yang kamu alami yah nak..” Laksono lalu bangkit dan berpamitan untuk keluar dari ruangan tempat Riska beristirahat.
“Rey..., kamu di mana? Kamu sedang apa? Apakah kamu tau..., jika sebentar lagi kamu akan kembali kedalam pelukanku, aku tidak berniat sedikitpun untuk berbagi dengan wanita yang bernama Lady itu, aku akan merebutmu darinya, sekalipun aku harus menghadapi mertua sombongmu itu, seperti menepuk nyamuk.., semudah itu aku akan menghancurkan mereka jika mereka tidak membiarkanmu kembali kepadaku..” Entah iblis apa yang sudah merasuki pikiran Riska sehingga membuatnya begitu terobsesi untuk memiliki Reynold tanpa memperdulikan apapun dan siapapun.
“Tuhan... apakah Engkau sedang berpihak kepadaku? Ataukah ini hanya hukuman yang Kau berikan kepadaku? Aku..., menganggapnya... Engkau sedang berpihak kepadaku Tuhan.., dan ini bukanlah hukuman untukku.., ini adalah petunjuk yang Engkau berikan kepadaku, agar aku mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!” gumamnya dan membulatkan tekadnya,
Seoleh gelap mata Riska bahkan menganggap bahwa Tuhan sedang berpihak kepadanya, dengan tertatih karena kondisi yang masih lemah, Riska turun dari ranjangnya dan mengambil jatah makanannya, seharusnya Riska tinggal memencet bel saja agar suster datang dan menyapinya, tapi tekad agar segera keluar dari rumah sakit begitu besar membuatnya tidak ingin bergantung kepada siapapun, Kini Riska menghabiskan perlahan makanan yang sudah tersedia, ketika meminum air putih datanglah seorang perawat yang membawa obat – obatan.
“Nona..., mengapa anda tidak memanggil saya? Saya baru saja mengambil obat anda..” perawat tersebut sungguh tidak enak karen tidak membantu anak pemilik Rumah sakit ini.
“Sudahlah suster.., tidak apa.., aku sudah sehat, apakah itu obat yang harus aku minum?” tanya Riska sambil tersenyum,
“I..Iyah benar Nona Riska.., tapi Pak Dokter Laksono memerintahkan tim jaga kami untuk membantu anda dua puluh empat jam Nona..” ucap Perawat tersebut dengan menahan rasa gugupnya,
“Ah.. Om Laksono selalu berlebihan.., aku sudah baik - baik saja, aku ingin istirahat sebetar yah..., Bisakah Suster meninggalkan sayaa dan menutup pintu kamar serta meredupkan lampunya? Agara saya merasa nyaman?” tanya Riska dengan ramah.
“Ba..baiklah Nona..., saya permisi..” lalu perawat tersebut melakukan persis seperti apa yang diminta oleh Riska, setelah memastikan dirinya sendiri, Riska mengambil tass miliknya, dan dia melihat ponsel lalu membuka kunci layar ponsel tersebut.
Riska lantas mencari sebuah nama, “Rey..” tidak ingin mengirim pesan atau apapun itu, Riska lantas segera menelpon Rey, beberapa kali tidak ada jawaban sama sekali, sampai lima kali panggilan tak terjawab, membuat Riska begitu frustasi, emosinya kini lebih tidak stabil akibat hormon kehamilannya.
Tidak ingin menyerah Riska terus saja menelpon dan menelpon Rey entaah sampai berapa puluh kali, hingga sebuah suara yang cukup gusar menyahut dari sana “Apakah kamu sudah cukup gila Riska? Tidakkah kau ingat jika aku sudah menikah? Kumohon Riska berhentilah seperti ini..” lirih suara pria itu,
“Iyah!!! Aku sudah gila.., aku tidak akan berhenti sampai kau kembali kepadaku, kau juga harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu kepadaku, dan aku menagih janjimu agar anak kita tidak lahir di luar nikah!” Balas Riska dengan suara yaang dingin serta mengintimidasi,
“A..Apa...Apa maksudmu?” suara itu terdengar terbata – bata..
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman