STRONG IN BETRAYAL

STRONG IN BETRAYAL
BAB. 20. DI KERETA



Seminggu sebelum Fitting baju pengantin..


Teringat kembali apa yang terjadi saat pertemuannya pertama kali dengan Riska, kini Reynold lebih sering senyum - senyum sendiri, mengenal seorang sosok wanita yang sepadan dengannya, memiliki passion di bidang pendidikan dan sama - sama menjadi seorang pengajar, membuat Reynold jadi lebih senang berada di kampus dari pada di apartemen.


“Lagi pula kamu takut apa sama aku?"


"Takut??? Hahahaha!!! Kamu salah besar tuan muda Reynold... Riska tidak pernah takut apapun!" ucapnya sambil berdiri, "Ehh... tau nggak kalau nama kita sama sama berawalan dengan huruf R?" sebuah pertanyaan random dari Riska kembali terngiang-ngiang di ingatan Reynold, sesekali membuatnya menggigit bibit bawahnya hanya sekedar untuk menahan senyumnya.


"Yah... aku tau .. tapi aku baru sadar saat diberitahu" Reynold kembali mengingat momen tersebut, semakin larut dalam ingatannya, dan semakin sering wajah Riska terbayang di pikirannya, apalagi senyuman Riska sangat menarik dan jika tertawa gigi gingsul itu merupakan sesuatu hal yang sangat menggoda.


"Baiklah kalau kamu memang memaksa aku untuk pergi bersama kamu... apa boleh buat.. aku sudah menolaknya.. tapi kamu terlalu memaksanya.. jadi sampai jumpa nanti Rey.. aku ada jadwal mengajar sekarang, Byeee..."


Bayangan tersebut tiba - tiba saja buyar ketika seseorang yang ada di pikirannya sedang melambaikan tangannya dan berjalan mendekat,


"Haiii!!" tegur Riska dengan penuh keceriaan,


"Apakah kamu sudah siap?" tanya Reynold dengan menenteng koper kecil untuk membawa barang - barangnya.


"Yukkk... kita langsung ke terminal Bis?" tanya Riska,


"Hah??? terminal Bis? kita naik kereta, aku sudah ganti tiketnya.." terang Reynold sambil menunjukkan tiket kereta yang sudah ada ditangannya.


"Barang - barang kamu mana?" Reynold mencari dimana koper milik Riska, tapi yang terlihat hanya sebuah tas ransel dan tas jinjing biasa,


"Yah ini barang - barang ku..." ucap Riska,


"Buku - buku nya mana?"


"Oh.. ada di tablet ku, tenang saja ayok Rey .."


Dalam perjalanan Reynold sering sekali curi – curi pandang, bahkan kini pikirannya sudah tidak ada yang lain lagi selain wanita yang sedang duduk disebelahnya, mereka sampai di stasiun dan pergi menuju ke Bandung, ini memang perjalanan untuk pekerjaan namun bagi Reynold, ini lebih dari sekedar pekerjaan.


Sesampainya di stasiun Reynold berjalan ke arah ruang tunggu bagian jalur lima tempat keretanya akan membawa mereka ke Bandung panggilan telpon masuk ke ponselnya, Rey segera berjalan agak menjauh mengambil jarak agar Riska tidak dapat mendengar.


“Iyah Lady? Maaf lupa ngabarin, kalau aku jadi ke Bandung untuk tugas kampus sebagai narasumber dalam Seminar di sana..” ucap Rey,


“Oh..., iyah nggak apa – apa kak, kakak berapa hari disana?”


“Aku hanya tiga hari kok langsung pulang” Reynold secara tidak sadar sudah memiliki niat yang kurang baik, dai berbohong kepada Lady tentang lamanya seminar yang harusnya hanya dua hari saja, namun Rey memiliki rencana untuk mengajak Riska jalan – jalan ke tempat yang Riska suka.


“Baiklah kak.., hati – hati di jalan yah.. kalau tidak sibuk kabari Lady yah Kak.., jika sudah sampai..” Permintaan sederhana dari Lady bahkan sudah enggan untuk dilakukan oleh Reynold, namun Reynold tetap mengatakan iyah, hanya agar Lady merasa tenang.


“Baiklah kereta sudah mau datang, Aku pergi dulu yah..” pamitnya lalu mengakhiri pembicaraan tersebut.


Rey berjalan mendekat ketempat duduk Riska, namun sebelum sampai dia mampir untuk membellikan Riska minuman dingin dan juga Rotiboyy yang ada di stasiun.


“Ini..buat nanti kalau lapar dan haus.” Riska menerimanya dengan antusias,


“Widihhh.., baik banget kamu Rey, thnaks banget yah..” Rey tertawa kecil melihat ekspresi Riska.


Selang beberapa lama Kereta mereka telah datang di jalur lima, setelah nyaman duduk di dalam kereta, Rey mulai membuka laptonya dan mulai membaca beberapa materi yang akan di bawakannya. Riska yang melihat betapa seriusnya Reynold begitu heran,


“Hidupmu sangat membosankan yah..” celetuk Riska membuat perhatian Reynold teralihkan dan menoleh kesamping,


“Maksudnya?” tanya Rey sambil mengerutkan dahinya,


“Tentu saja aku sudah menyiapkannya sejak pertama kali kita ditugaskan..” jawab Rey,


“Lalu apakah materi kamu ini belum jadi seratus persen?”


“Sudah dong..”


“Apakah yang membuat materi ini adalah asisten dosen mu? Atau teman dosen mu yang lain?”


“Hahaha.. Riska .. Riska.., mana ada yang bisa membuat materi seperti ini kalau bukan aku..” Reynold tidak menyangka dengan pertanyaan Riska yang membuatnya bingung, mau di bawa kemana arah pembicaraan ini.


“Nah itu dia.., kalau kamu yang buat Materi ini, dan semuanya sudah seratus persen komplit, lalu untuk apa kamu menghabiskan waktu denngan membacanya kembali? Bukankah harusnya semuanya sudah kamu ingat diluar kepala?”


“Yah tentu saja untuk memperlancar, aku memang begitu orangnya Ris..” akuh Rey..


“Lebih baik kamu habiskan waktumu untuk bercerita denganku dari bermain game mungkin, lalu setelah sampai tempat tujuan kita akan istirahat dan bekerja dengan serius, jika seluruh waktu dalam hidupmu isinya seriuuusss terus.., lalu kapan kamu bisa menikmati hidup kamu? Aku heeran orang Indonesia ini hanya suka dipuji dan dipandang sukses oleh orang lain, sampai dia melupakan untuk membuat dirinya sendiri bahagia Rey..” Reynold tertegun dengan ocehan ringan Riska.


Benar saja selama ini hidup Rey sangat serius, mengejar gelar sarjana dengan perjuangan, juga mengambil pasca sarjana dengan ambisi di barengi dengan kerja keras, kebahagiaan yang didapat dari bergaanti – ganti pacar juga hanya sesaat, bahkan sekarang ketika ia ingin melabuhkan cintanya kepada Lady ada saja permasalahan lain yang akhirnya membuat Rey ragu akan pilihannya dan lagi – lagi Reynold kembali pada titik nol, titik dimana dia sendiri tidak tau apa yang diinginkannya dan tentu saja titik dimana hatinya merasa sebuah kehampaan.


Rey menarik nafasnya dengan berat, lalu seketika itu menutup rapat laptopnya dan berbalik menatap Riska, melihat apa yang dilakukan oleh Reynold, Riska juga melakukan hal yang sama, dia memiringkan tubuhnya, lebih tepatnya dia berbalik ke sebelah kanan untuk dapat menatap lurus kepada Reynold, mereka berdua saling melempar senyum satu sama lain.


“Baiklah..., aku akan menghabiskan waktuku untuk bercerita denganmu..” ucap Rey,


“Good..., aku juga akan berbagi cerita denganmu..” sahut Riska sambil mengerlingkan matanya,


“Mengapa harus menjadi dosen?” tanya Rey..


“Aku suka dengan dunia pendidikan Rey.., aku merasa hidupku akan berguna jika dapat membagi ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang.., aku ingin ketika aku meninggal nanti banyak orang melayat ke kuburku mungkin para kolega, atau mungkin para mahasiswa – mahasiswaku..”


“Aneh kamu itu.. hahahaa..” Rey memang kagum dengan sikap Riska namun cukup heran dengan cita – citanya jika meninggal nanti,


“Lalu kalau kamu? Mengapa harus Dosen?” tanya Riska,


“Sebenarnya menjadi pengajar hanya batu loncatan untuk diriku Riska, aku bukan dari keluarga yang sangat berada, dengan otak encer dan ketekunanku ini, hampir seluruh biaya pendidikan adalah hasil beasiswa yang aku dapatkan, tapi jika setelah ini selesai aku ingin menjadi seseorang yang berpengaruh tentu saja.., mengejar karir setinggi – tingginya..”


“Hmmm... kau sangat ambisius Rey..”


“Iyah memang sangat ambisius.., bukan hanya dalam hal pendidikan tapi dalam segala hal..” Riska tersenyum lebar hingga membuat gigi gingsulnya terlihat jelass menambah kadar kemanisan pada wajah Riska, membuat Rey terhipnotis dan meneguk susah salivanya.


“Dalam segala hal ya...Lalu soal asmara..., apakah kini kau sudah punya pacar?” Rey cukup ragu dengan jawaban yang akan diberikannya,


“Pacaar? Aku sedang mengusahakannya...” jawab Rey membuat sebuah harapan di hati Riska bersemanyam tanpa permisi.


To Be Continue...


Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You


Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.


Follow IG Author yah.. @lizbet.lee


Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman 