STRONG IN BETRAYAL

STRONG IN BETRAYAL
59. KONSEKUENSI



Hanya tangisan yang dapat terdengar didalam ruangan perawatan tempat Victor diopname, setelah puas mencurahkan kesedihannya Lady mengambil tisue dan mengusap air mata di pipinya.., “Sudah pa..., papa makan yah...” ucap Lady lembut kepada Victor dan di jawab dengan sebuah anggukan kepala.


“Apa yang terjadi di luar tadi Lady?” tanya Victor tiba – tiba saat melihat anak menantunya mengambil bubur jatah makan dari rumah sakit untuknya,


“Aku bertemu dengan perempuan itu pa.., dan kini Kak Reynold sedang mengantarnya pulang...” jawabnya sambil tersenyum getir, Victor hanya merasa tenggorokannya tercekat dengan apa yang di dengar dari Lady.


Bagaimana mungkin justru Reynold malah memilih untuk mengantarkan perempuan itu ketimbang tetap disini untuk menyelesaikan masalahnya dengan istrinya sendiri.


“Tapi itu lebih baik pa..., dari pada kak Rey disini dan malah membuatku sakit hati setiap melihat wajahnya..., “ sambung Lady sambil menyuapi mertuanya,


“Lalu apa yang dia katakan kepadamu?” Victor bertanya dengan perasaan was – was takut jika saja perempuan itu berbicara yang macam – macam melampaui batas,


“Semuanya pa..., dia sudah mengatakan semuanya...” Victor hanya bisa memejamkan mata sesaat dan menarik nafasnya dengan begitu berat tanpa terasa meneteskan air mata lagi.


“Tapi tidak apa – apa pa.., selama Kakak Rey mau kembali dengan Lady, apapun kesalahannya Lady akan tetap menerimanya kembali demi bayi di dalam kandunganku ini pa..., bukankah dia membutuhkan papa dan mamanya bersama? Keegoisan seseorang tidak boleh membuat seorang anak yang belum dilahirkan menjadi korban bukan pa? Jadi biarlah Lady menanggung semua ini demi membahagiakan anak kami...”


Victor tidak bisa membayangkan jika Lady tau apa yang sebenarnya isi hati dan perasaan Reynold saat ini, semakin frustasi dengan keadaan berkali – kali Victor meminta Tuhan untuk memanggilnya pulang saja, dari pada harus menyaksikan bagaimana anaknya menghancurkan kehidupan seorang wanita muda yang begitu berhati lembut sekaligus menghancurkan masa depan darah dagingnya sendiri, semua itu seolah tidak dapat diterimanya.


“Namun..., jika ternyata kak Rey tidak pernah mencintai Lady dan memilih untuk bersama dengan perempuan itu...,apa mau di kata..., Lady akan melepaskan Kak Rey dan membiarkan tangan Tuhan yang bekerja selanjutnya..” ucapan Lady kembali membuat Victor tersadar dari lamunannya sekaligus merasakan hatinya tercabik – cabik saat itu.


“Apapun keputusanmu nak.... papa akan mendukungmu...” lirih Victor sebelum akhirnya membiarkan anak mantunya pulang diantar oleh Dave, dan sekitar tiga puluh menit kemudian pintu kamarnya terbuka lebar, datanglah sosok manusia yang paling di bencinya saat ini, Ia memalingkan wajahnya dan mengambil ponselnya dinakas sebelah ranjangnya.


Mengirimkan sebuah pesan singkat kepada istrinya yang isinya meminta untuk segera di jemput dan ingin mencari sebuah kos eksklusif sampai Lady melahirkan nanti, jika Rey tidak ada untuk istrinya maka Victor merasa harus ada di sana untuk memberikan dukungan kepada anak menantunya tersebut.


Sebuah balasan singkat dari Tuti didapatinya “Aku akan kesana sekarang juga dengan Felix” setelah membacanya Victor kembali menaruh ponselnya dinakas samping ranjangnya, lalu menatap tajam kepada Reynold.


“Paa..., kata dokter jika keadaan semua stabil besok papa bisa pulang...” Rey mendekatkan dirinya kepada Victor yang terus menatap tajam kepada anak tertuanya.


“Apa yang akan kamu lakukan jika sudah begini? Apakah akan berlarut – larut dalam kondisi ini atau kau akan segera menyelesaikan semua masalah ini agar masing – masing dapat menentukan masa depannya..” tegas Victor terus menatap tajam kepada Reynold.


“Aku.. akan menyelesaikan semuanya pa.., aku akan menghadap kepada mertuaku dan mengakui semuanya.., dan akan menerima segala konsekuensi yang memang harus ku tanggung..., aku juga tidak menyangka akan masuk dalam segala kerumitan yang terjadi saat ini..”ucapan Rey membuat Victor muak, melihat bagaimana Rey mengusap wajahnya dengan penuh rasa frustasi juga membuat Victor ingin menggampar Reynold saat itu juga, namun fisiknya tidak kuat untuk melakukan dan melampiaskan segala emosinya saat itu juga.


“Suaramu sangat menjijikkan saat mengatakan tidak menyangka akan masuk dalam kerumitan yang terjadi, padahal semua kerumitan ini adalah ulah mu sendiri, aku tidak menyangka memiliki seorang anak bermental sampah seperti dirimu!! Dengarkan aku baik – baik Reynold, jika ada satu kesempatan untukmu saat ini hanyalah kesempatan untuk memperbaiki rumah tanggamu, jika kamu memutuskan untuk melanjutkan hubunganmu dengan Riska apapun alasannya, percayalah jika kami tidak dapat membalas mu, maka Tuhan akan membalas mu dengan berlipat ganda kesakitan yang akan kau rasakan!”


“Kau memang brengsek Rey!!! Pengampunan yang harus kau dapatkan bukan dari aku tapi dari anak yang dikandung istrimu dan juga dari istrimu sendiri, pergilah..., jika kau lebih lama disini aku akan mati sangking emosinya hanya melihat wajahmu itu!” usir Victor kepada Reynold, membuatnya akhirnya berjalan pergi meninggalkan Victor sendirian di dalam kamar.


“Apa yang harus aku lakukan jika sudah begini?” Gumam Rey kepda dirinya sendiri, sampai akhirnya sebuah panggilan dari Hendrik masuk di ponselnya, ada rasa takut yang sangat besar di dadanya membuatnya tidak berani mengangkat panggilan pertama dari Hendrik, hingga akhirnya Hendrik memanggil lagi untuk yang kedua kalinya.


“Ha..halo pa...” jawab Rey dengan terpaksa,


“Jika Pak Victor sudah keluar dari rumah sakit, datanglah ke rumah untuk menyelesaikan masalah yang kau buat.” Lalu Hendrik mematikan ponsel tersebut secara sepihak tanpa menunggu jawaban apapun dari anak menantunya.


Rey kembali menarik nafasnya dengan dalam dan panjang, frustasi dengan keadaan yang dibuatnya sendiri, sebuah pesan singkat masuk di ponselnya dan ternyata itu adalah pesan dari ayahnya sendiri yang hanya dipisahkan dari pintu masuk saja sebagai pembatasnya.


“Pergilah kerumah Mertuamu dan selesaikan semua masalah yang kau buat ini, aku tidak butuh di jaga oleh mu, sebentar lagi anak dan istriku akan datang untuk menjemput ku...” Rey kembali mengurut kepalanya saat membaca pesan dari Victor merasa tidak ada satupun yang bersikap normal atau berpihak kepadanya membuat Rey melupakan segala kesalahannya, bahkan ego yang dimilikinya membuatnya muak dengan keadaan semuanya.


Dengan langkah tegapnya ia kembali ke parkiran dan melajukan mobilnya kerumah mertuanya, disana Ia bahkan sudah di tunggu oleh Hendrik dan Maya, Ia turun lalu mengucapkan salam dan masuk serta duduk di kursi ruang tamu, tak tampak Lady ataupun Dave hanya kedua mertuanya.


“Apa yang sudah kau lakukan kepada anak kami?” Maya membuka percakapan diantara mereka bertiga, karena muak akan semua keadaan yang ada Reynold menatap tajam kepada Maya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


“Aku tidak akan meninggalkan Riska yang juga mengandung anakku!” tegasnya membuat kedua orang tua Lady terbelalak karena terkejut.


*****


To Be Continue...


Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You


Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2.


Follow IG Author yah.. @lizbet.lee


Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman 