
Rasa Iba dan Rasa sayangnya kepada Victor membuat kekerasan hati Reynold untuk mempertahankan hubungannya dengan Riska lantas saja melunak, Ia tidak tega kala melihat mata memerah dengan sudut mata yang sudah keriput memancarkan seribu kesakitan dalam pancarannya.
Jas pengantin yang begitu Indah dan elegan menempel pas di tubuh sempurna Reynold, ketampanannya memang tidak terbantahkan, rasa kagum tercetak jelas di wajah sang ayah, lagi – lagi ekspresi itu seolah menjadi lampu peringatan untuk tidak mengecewakan orang tua yang kini hanya tinggal seorang.
Setelah mengundang Felix adik tirinya, Reynold juga berkata kepada Victor jika dia bertekad untuk mengakhiri hubungannya dengan Riska, walau tak tahu bagaimana hasilnya nanti, hari kembali berganti hari, hingga tiba dimana Rey dan Lady mengambil undangan pernikahan di Percetakan yang cukup terkenal di kotanya.
Undangan pernikahan ini terlihat begitu mewah dengan ukiran pada kertas yang memperlihatkan bentuk unik namun elegan, berwarna silver menjadi pilihan Lady dan Maya saat itu menyesuaikan dengan pakaian pengantin yang juga bernuansa putih silver.
“Kak..., apakah kakak menyukainya?” tanya Lady takut jika Reynold tidak berkenan dengan pilihannya.
“Aku menyukainya..” jawab Rey singkat,
“Kak..., habis ini boleh kah aku minta kita foto untuk prewed kak?”
“Tapi undangan sudah di cetak Lady.., untuk apa foto lagi? Nanti biaya lagi..”
“Aku kepingin kak.., kita tidak punya foto apapun kak.., Lady kepingin..., hanya saja tidak usa beri tahu siapa – siapa, takutnya nanti malah lebih banyak lagi permintaan dari keluarga kita kak..” Reynold memahami keinginan Lady,
“Mau foto di mana?” tanya Rey,
“ Di studionya temanku yah kak..” Akhirnya Rey menuruti kemauan Lady, setelah memastikan semua jumlah undangan genap mereka langsung bergegas memasukkan undangan tersebut di dalam bagasi mobil Reynold, dan Rey mengambil satu buah undangan yang menjadi jatahnya untuk di berikan kepada wanita yang mampu memporak – porandakan hatinya.
Lady sempat melihat Reynold menyelipkan undangan tersebut di dalam jaketnya, ingin bertanya tapi diurungkan niatnya, kala Reynold menatap daan tersenyum ramah dengannya,
“Kita ke studio sekarang yah..” di jawab dengan anggukan kepala oleh Lady, Jika Lady penasaran akan diberikan kepada siapa undangan tersebut, maka Reynold berpikir bagaimana cara memberikan undangan ini kepada Riska.
Sesampainya di studio sebuah gaun pengantin yang sangat unik menjadi pilihannya Lady, Gaun dengan bagian belakang punggung terekspos, hanya kain tipis putih yang tak mampu menutupi kulit Lady membuat kesan seksi dan anggun berpadu, Rok pada gaun itu dihiasi dengan payet berbentuk dedaunan menjalar ke bagian rok bawah yang mengembang, sontak saja Lady jatuh hati dengan gaun itu, sungguh bernuansa alam kesukaan Lady.
“Kak... apakah aku boleh pakai itu?” tanya Lady,
“Iyah boleh, kamu bersiap yah..., aku pakai Jas hitam saja” jawab Rey, lalu lady bersiap – siap untuk menggunakan gaun tersebut di ruangan make up sekaligus ruangan ganti.
Sementara itu Reynold juga tengah bersiap – siap memakai jas sewaan sambil berkaca tiba – tiba ponselnya bergetar beberapa kali, dan saat diambilnya ponsel itu, ada sebuah pesan dari Riska,
Jantung Reynold seakan mau copot, kala mendapatkan kiriman gambar, Riska sedang menggunakan gaun Lingerie merah, dengan rambut dibiarkan terurai, dan wajah dipoles minimalis hanya bagian pada bibir saja yang di pakaikan lipstik berwarna merah tua, foto itu di tulisi caption ‘Kau menghilang selama dua hari dan aku sudah tak kuat menahan rasa rinduku padamu, aku menunggumu hari ini di apartemenku pukul tujuh malam..’
Lalu tak hanya itu, Riska juga mengirimkan share lokasi Apartemennya, juga menuliskan caption ‘Jadilah laki – laki pertama dan terakhir yang berkunjung di tempat tinggalku..’ sambil menyematkan emoji bibir merah.
Pikiran Reynold semakin tidak karuan, “Fvck!!! Kalau begini bagaimana bisa aku memberikan undangan ini kepadanya!!! FVCK YOU REYNOLD!!!!” Umpatnya kalut.
“Permisi Tuan..., Calon istri anda sudah siap di studio..” panggil salah seorang kru fotografer membuat Reynold bergegas keluar dan sejenak menutup matanya untuk berkonsentrasi pada apa yang ada di hadapannya saat ini, yaitu Lady!
“Terima kasih yah Vincent.., aku yang akan mengambilnya..” sahut Lady,
“No.., kamu di rumah istirahat, jaga kesehatan, nanti aku yang akan mengambilnya, kebetulan aku juga ada urusan di kampus sore nanti..” potong Reynold, dan Lady tersipu mendapatkan perhatian dari Rey dihadapan Vincent sahabatnya.
“You lucky girl..” bisik Vincent semakin membuat Lady berbunga – bunga,
“Baiklah kak..” Tanpa menunggu lama Reynold segera mengantarkan Lady kerumahnya, dan menurunkan kardus berisikan undangan pernikahan mereka,
“Nanti Mama Tuti dan Papaku akan datang membawa list tamu undangan kami, kakak tidak bisa lama – lama Lady.., kakak pergi dulu sebentar ke kantor di kampus yah.., nanti jika sudah selesai Aku akan langsung mengambil foto kita tadi Okay?” Lady tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kini Lady yang langsung memeluk dan mengecup mesra bibir Reynold,
“Jangan pernah tinggalkan Aku..” tiba – tiba saja kalimat itu meluncur dari bibir manis Lady, membuat Reynold semakin Iba, tidak menjawab apapun Rey hanya semakin memperdalam ciuman mereka.
“Istirahat yah..” hanya itu yang Rey katakan, Lady semakin tertegun dan menatap Rey dengan seksama, merasa canggung di tatap sedemikian rupa, Rey kembali mencium bibir Lady,
“Istirahatlah jangan berpikiran macam – macam..” Kini Rey memilih untuk menenangkan Lady walau hatinya sendiri sedang tidak tenang.
“Iyah Kak..” jawab Lady sambil melangkah masuk kedalam rumahnya,
Baru dua puluh menit lalu Rey menghabiskan waktunya dengan Lady, kini mobil miliknya sudah terparkir di are apartemen milik Riska, Reynold menutup matanya sejenak untuk menguatkan imannya, bertemu dengan Riska di apartemen bukanlah tindakan yang benar, awalnya Rey berencana akan memberikan undangan ini di kampus besok pagi, tapi entah mengapa malah saat ini Rey sudah ada di parkirannya Riska.
Dia kembali bertanya dalam hati tujuannya kesini, apakah untuk memberikan undangan pernikahan dan mengakhiri semua kisah manis dan panas diantara mereka atau justru Rey malah terjebak di pusaran gelora asmara terlarang ini.
Setelah meyakinkan dirinya, Reynold mengambil Undangan pernikahan miliknya dan segera memasukkannya kedalam Tas kulit miliknya, dan mengusap kasar wajahnya serta mengambil nafasnya dalam – dalam, lalu melangkah menuju kedalam Apartemen itu, sambil menekan nomor Riska, ketika nada sambung telah tak terdengar suara manis sedikit serak menyahut dari balik ponsel Reynold,
“Ini bahkan belum pukul tujuh Rey...” sambutnya setengah tertawa,
“Iyah aku tau, segera berikan aku akses otomatis untuk ke apartemen mu..” ucap Rey datar,
“Okay sayang...”
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman