STRONG IN BETRAYAL

STRONG IN BETRAYAL
BAB.14. DAMAI NAMUN MENDENDAM



Kekacauan demi kekacauan tak terhindarkan saat pertemuan kedua belah pihak keluarga Rey dan Lady, membuat Lady sampai histeris menghadapi sikap Maya yang tidak terkontrol hingga membuatnya gelap mata dan berteriak ingin bunuh diri, Sungguh bukan ini yang di harapkan oleh Rey, baiklah jika memang dia mengacaukan masa depannya Lady, tapi Rey berpikir bukankah dia juga ingin bertanggung jawab, bahkan tidak lari dari tanggung jawab?


Benar memang Hendrik dapat menerimanya dengan tangan terbuka dan tanpa ada polemik yang berlebih, tapi satu hal yang paling di hindari oleh Reynold yaitu Hinaan, Rey sangat anti dengan orang – orang yang suka merendahkan orang lain, seperti yang di alaminya sekarang, Rey mengingat betul bagaimana Maya menatap jijik kepadanya, Bagaimana juga Wajah Victor ketika Maya meremehkan jumlah uang yang disumbangkan oleh Victor, itu semua.. adalah hasil kerja keras Victor selama bekerja di Perusahaan tambang.


Victor bukan seorang dengan jabatan tinggi pada Perusahaan itu, bukan pula orang kepercayaan atau bahkan asisten bos, semua yang tertera dalam selembar cek tersebut adalah Dara, airmata, dan keringat seorang Victor, memang tidak bisa di bandingkan dengan pendapatan Hendrik seorang Pimpinan Tertinggi perusahaan Asuransi terbesar di Indonesia. Semua tidak ssebanding, tapi apaakah dalam kondisi seperti ini masih ada waktu untuk membandingkan satu sama lain?


Wajah malu Victor dengan kepala yang tertunduk membuat Reynold berpikir untuk membalasnya, Yah!!! Reynold akan membalas agar Maya suatu saat akan tertunduk malu, namun kapan, dimana dan bagaimana akan dipikirkaannya lagi, yang terpenting saat ini adalah bagaimana Dia bisa segera angkat kaki dari rumah mewah ini dengan jawaban dan kepastian hubungannya dengan Lady.


Ditatapnya wajah pucat Lady yang terbaring lemah di tempat tidur dengan telapak tangan berbalutkan perban, Rey juga mencintai Lady bukan??? Tapi..., Rey lebih mencintai harga dirinya lebih dari siapapun, lebih dari wanita yang dicintainya, lebih dari janin yang sedang bertumbuh di perut rata Lady, dan lebih dari apapun di dunia ini! Itu adalah prinsip yang tidak bisa di tawar!


“Kak... jangan tinggalkan aku..” Rintih Lady masih dengan mata terpejam dan terdengar lirih, Rey menoleh melihat bagaimana Lady mengigau memanggil dirinya, Hatinya.... terhenyak dan ngilu melihat wanita yang kini sedang terbarung lemah, namun keinginan untuk merengkuh kekasihnya itu seolah olah hilang begitu saja, Rey hanya menatap nanar pada wanita itu.


“Ku mohon Kak..., jangan pergi... jangan kak..” lagi – lagi Lady meracau.., kini ada setetes air mata yang jatuh, seolah Lady benar – benar ketakutan jika ditinggal oleh Reynold, Dia menangis tersedu dalam tidurnya, akhirnya Rey memaksakan dirinya yang sejujurnya sangat enggan merengkuh tangan Lady,


“Aku tidak kemana – mana.., aku ada disini.. tidurlah..” sambil mengecup dahi wanita di hadapannya, lalu membenarkan letak selimutnya agar Lady merasa nyaman, dan tentu saja sebuah kecupan membuatnya nyaman tertidur bagaikan seorang putri raja yang tertidur.


Ini adalah pertama kalinya Rey masuk kedalam kamar pribadinya Lady, bahkan kamar ini hampir seluas seluruh apartemennya, rasanya definisi putri raja tidaklah terlalu berlebihan untuk disematkan kepada Lady, berbagai foto – foto saaat Lady masih kecil, remaja dan menginjak dewasa terpasang di tembok – tembok kamarnya, sebuah kaca menarik perhatian Reynold untuk berkaca melihat bayangnya sendiri,


“Sekalipun aku tidak sekaya Hendrik, tidak pernah sekalipun dipikiranku untuk memanfaatkan kamu Lady.., sama sekali tidak ada dalam pikiranku untuk mendapatkan kekayaan papamu, aku ingin berjuang dengan kemampuan dan caraku sendiri, tapi sepicik dan sehina itu Maya menilai aku. Entahlah sekalipun kamu tidak salah tapi rasanya melihat dirimu saat ini semua terasa hambar.”


Segera saja Reynold keluar melangkah dengan tujuan untuk segera mengakhiri pertemuan ini, agar tidak ada lagi tatapan – tatapan hina dan tatapan – tatapan sinis dari Maya. Ingin rasanya Dia menundukkan kepalanya, tapi hatinya berteriak “TIDAK!! TEGAKKAN KEPALAMU” Dorongan di hati itu membuatnya melangkah dengan wajah dan rahang yang terlihat mengeras dengan ekspresi datar.


“Rey? Bagaimana keadaan Lady?” tanya Hendrik,


“Dia baik – baik saja Om” ucapnya sambil melangkah menuju tempat duduk tempat keluarganya duduk, Wajah Victor terlihat tersenyum dan menatap sendu kepada Reynold yang tetap tidak membalas senyuman Ayahnya sendiri, tapi Victor lagi – lagi menguasai dirinya,


“Ah.. sini Nak..” Pak Victor kepada Reynold, “Kami sudah sepakat untuk tanggal pernikahanmu kita adakan bulan depan dengan tanggal cantik Nak, tanggal tujuh bulan delapan, bagus bukan tanggal itu?” Victor terus saja mencairkan suasana, karena Victor tau bagaiman karakter anak sulungnya ini.


“Iyah Rey itu tiga minggu dari sekarang, biarlah.., lebih cepat lebih baik bukan? Apakah kamu setuju?” tanya Hendrik,


“Iyah Om.., apapun yang sudah diputus saya ngikut saja” jawab Rey sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum,


“Baiklah tunggu disini sebentar yah Nak..” pinta Hendrik dan sejenak masuk kedalam ruang tengah rumahnya lalu Rey melihat Hendrik mulai menaiki anak tangga rumahnya. Sekitar sepuluh menit kemudian Hendrik turun dengan Maya dengan mata yang sembab, gemuruh di dada Reynold kembali bergenderang, Nafasnya kembali terasa berat menahan emosinya.


“Iyah pa.., maafkan akan sikapku tadi kepada Papa” bisik Rey kepada Viictor, hatinya tidak tega melihat bagaimana wajah keriput Victor tertunduk malu dan kini terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya, ada perasaan bersalah kepada Victor atas ucapan yang dilontarkannya sebelumnya.


“Sudahlah nak..., kita selesaikan pertemuan ini dengan segera dan ada yang harus Papa bicarakan denganmu nak.., Papa harus meluruskan segala sesuatunya dan apa yang sebenarnya terjadi dengan mamamu, setelah semua ini selesai, apakah kau mau mendengarnya nak?” tanya Victor berharap mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengannya.


Belum sempat dia menjawab kedua orang tua Lady telah sampai di depan mereka, Hendrik membuang nafasnya dengan berat,


“Pak Victor, Ibu Tuti dan Reynold calon menantuku, saya sebagai Suami Maya dan kepala rumah tangga di rumah ini, memohon maaf yang sebesar – besarnya atas apa yang terjadi sebelum ini, tidak ada maksud dari keluarga kami untuk menghina keluarga Kalian, saya pribadi dan keluarga sangat menghormati Keluarga Bapak Victor, mohon maafkan akan kesalahan istri saya Maya, yang Khilaf membuat statement yang sama sekali tidak mewakili perasaan kami, dan sejujurnya saya sangat menyukai Reynold bahkan sebelum Reynold mengenal anak saya, semua sudah diatur oleh yang Maha Kuasa untuk mempertemukan kita kembali bukan Rey? Mohon maafkan mamamu ini..” Ucap Hendrik seraya memeluk Maya, dan terlihat bagaimana Maya hanya menundukkan wajahnya sesekali membersihkan air mata yang terjatuh.


“Ma...Maafkan saya Pak Victor.., maafkan saya.., karena bentuk kekecewaan saya kepada anak – anak kita saya sampai berkata – kata yang tidak seharusnya saya katakan, dan semua itu.., semua itu bukan maksud saya untuk menghina kalian, maafkan saya.., saya akan berusaha menerima kenyataan ini dan berlapang dada, Reynold.., maafkan Tante yah..” Suara Maya terdengar bergetar saat mengucapkan kata maaf.


Mungkin bagi banyak orang semua itu terdengar tulus dan menyentuh hati mereka, tapi sayangnya bukan itu penilaian Reynold, Maya tetap masih memendam rasa Benci yang luar biasa, tidak sekalipun dia menatap wajah Victor atau Reynold ketika berbicara, bukankah itu tidak sopan? Mungkin orang berpikir dia malu mengucapkan kata maaf tapi bagi Reynold Dia hanya tidak ingin ekspresinya terbaca oleh Reynold.


Tapi yah sudahlah.., yang penting pertemuan ini segera berakhir, Reynold sudah cukup jengah dengan apa yang dilihatnya saat ini,


“Ibu Maya.., maafkan saya dan anak saya juga, kalau anak saya tidak melakukan ini pasti Ibu juga tidak akan marah, maafkan keluarga kami Bu Maya...,” ucap Victor dengan tulus, membuat Hendrik maju dan memeluk Victor,


“Sudahlah pak.., anak – anak kita salling mencintai, biarkan mereka menikah dan bahagia, sebentar laagi kita menimang cucu yang akan mempersatukan keluarga ini, jadi kita semua akan mengakhiri pertemuan ini dengan Damai bukan?” ucap Hendrik sambil merangkul bahu Victor dan menatap wajah Reynold.


“Iyah Om.. Iyah Tante..” jawab Reynold sambil melihat wajah Maya yang mulai terangkat dan tersenyum palsu, ‘Semua belum selesai Maya!” desis Reynold dalam hati.


To Be Continue...


Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You


Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.


Follow IG Author yah.. @lizbet.lee


Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman 