
Sebuah cermin besar pada fitting room sedang memantulkan bayangan wanita cantik dengan berperawakan lembut menggunakan gaun pengantin begitu mewah, gaun yang dipilih oleh Lady berwarna Putih keperak – perakkan dengan Full Payet pada bagian atas baju dengan bagian dada berkain broklat serta bagian leher di balur manik silver yang membentuk seperti kalung yang sangat mewah, bagian menggembung besar berkainkan kaca, Lady terlihat seperti Princess pada film – film kartun Disney.
Lady sungguh takjub melihat dirinya sendiri, “Yah Tuhan.., aku akan segera menikah seminggu lagi..” Gumannya,
“Cekreekk!!”
Sebuah jepretan diambil lewat ponselnya sendiri, maksud hati ingin mengirimkan hasil fitting gaun kepada kekasih hatinya. Fitting ini bahkan sudah berjalan selama lebih dari tiga puluh menit namun Reynold masih juga belum datang, ‘mungkin dia masih di jalan’ pikir Lady.
Senyuman kebahagiaan mewarnai harinya saat itu, di kirimnyalah sebuah pesan singkat dengan foto selfie dirinya
(visual baju pengantin Lady)
“Kak... jangan lupa giliranmu..” lalu di tekan tombol kirim, namun tetap saja tidak ada balasan apapun, jangankan di balas di buka saja tidak oleh Reynold, hanya ada tanda centang dua jika pesan tersebut sudah terkirim.
Setelah menyelesaikan agenda Fitting baju pengantin, Lady dan Maya melanjutkan agenda selanjutnya yaitu menuju ke Resort Pinggir pantai yang bernama Diamond Resort tempatnya akan mengadakan resepsi pernikahan untuk melakukan test makanan yang di pesannya, bagi para orang – orang kaya satu minggu sebelum dimulainya resepsi besar, mereka memastikan bahwa rasa makanan yang disajikan adalah rasa yang tak terlupakan dan juga penyajian yang mewah, semua itu merupakan tuntutan dari keluarga mempelai, tentu saja orang itu adalah Maya.
Berbagai macam makanan telah disajikan, kali ini Lady dan Maya tidak hanya datang sendirian namun juga keluarga Reynold yaitu Victor dan Tuti yang diundangnya untuk mencicipi menu resepsi sekalian mereka makan keluarga bersama, ketika semua sudah berkumpul lagi – lagi Reynold juga belum datang, padahal jadwal ini sudah diberikan kepada Lady dari jauh – jauh hari.
“Mari Pak Victor silahkan.., Bu Tuti mari silahkan..” kali ini Maya yang menyambut mereka dengan ramah, lebih tepatnya berusaha ramah di depan Lady dan Hendrik, karena tentu saja Maya tidak ingin lagi mengacaukan acara anaknya lagi, namun rasa penasaran kemana Reynold dari tadi sudah menganggu pikiran dan hatinya.
“Maaf Pak.. Rey dimana yah? Kok dari tadi ditunggu untuk Fitting baju pengantin nggak keliatan? Padahal saya sudah suruh Lady info dari lama loh Pak Victor..” dengan wajah bingung Victor mencoba melihat ponselnya, namun tetap tidak ada pesan apapun dari Reynold, bingung mau menjawab apa, tiba – tiba Lady mengangkat ponselnya lalu berdiri dan sedikit menjauh.
“Halo Kak???...............,
....Oh... Gitu... ,
....Iyah – iyah kak..,
....Baiklah tidak apa – apa, nanti kalau selesai langsung fitting saja, makanannya nanti aku bungkus dan titip ke Papa Victor yah...,,
....Baik kak.. Love you...” Ucap Lady seraya mematikan ponselnya, lalu tersenyum dan kembali ke kursinya, semua orang menatap wajah Lady dengan raut bertanya – tanya,
“Oh.. maaf.. maaf .. ma.., Kak Rey ada kelas mendadak di suruh ngisi sama Dekan Fakultas, jadi terlambat ketempat Fitting, Lady uda kasih tau juga ke Kakak bakal nitip makanan untuknya ke Papa Victor, nggak apa – apa yah Pa?” tanya Lady bersilang tatap dengan Victor.
“I..Iyah Nak.., nggak apa – apa, nanti Papa antar ke apartemennya..” sahut Victor tersenyum kepada Lady,
“Baiklah jika begitu, Nah... here we go...” Ucap Hendrik saat melihat para pelayan mulai membawakan makanan – makanan mewah yang mulai disusun dengan rapi diatas meja.
Lady mulai mengakrabkan diri kepada Tuti dan Victor, terlebih kepada Tuti yang diketahuinya sangat tidak menyukai Reynold, pikirnya Jika Ia bisa akrab dengan Tuti mungkin kelak rumah tangga mereka akan lebih bahagia karena tidak ada lagi masalah teror atau saling sindir dalam keluarga Reynold, entahlah apa yang sudah terjadi dibelakang Lady namun kali ini Tuti terlihat sangat berbeda, Tuti lebih terlihat diam dan sopan serta ramah.
“Mama Tuti.., apa pendapat mama dengan makanan kita ini..?” tanya Lady dengan ramah,
“Oh.. semuanya sempurna Lady..” jawab Tuti terlihat sungkan,
“Iyah.. iyah.. semua sudah sempurna kok..”
“Nanti mama Tuti pilih yah..., menu apa yang mau dibungkus..”
“Iyah Lady.. terima kasih yah..”
Interaksi yang terjadi antara Tuti dan Lady tak luput dari pandangan Victor, saat semua sedang menikmati hidangan penutup dan acara menjadi lebih santai, terlihat semua sudah berpencar untuk ngobrol, masing - masing dengan teman ngobrolnya sendiri, Victor mulai mendekati Lady yang sedari tadi menatap ponselnya dengan perasaan galau sambil sesekali menarik nafas panjang.
“Bagaimana kandunganmu Nak?” tanya Victor yang membuat Lady sedikit terjingkat,
“Oppss Papa Victor..? Hahaha... maaf Lady terkejut pa.., Sehat Pa.., Bayi ini sangat sehat, detak jantungnya juga sangat kuat, Oh papa belum lihat fotonya kan?” dengan wajah berbinar – binar Lady langsung mengambil foto hasil USG dari dompetnya, yah.., foto anaknya selalu saja di bawa kemana – mana, agar ketika Ia rindu, Ia akan memandang dan mencium foto hasil USG tersebut.
“Ini Pa.., Lihat pa bentuknya sudah manusia pa..”
Victor berkaca – kaca menatap foto USG cucunya, “Dia sangat sehat..,jaga dirimu dan kandungan mu dengan baik yah Nak..”
“Iyah Pa..” angguk Lady...,
“Nak..?”
“Iyah Pa?”
“Apakah sampai sekarang Reynold belum juga bisa dihubungi?” tanya Victor dengan raut khawatir dan sedih..., Lady terhenyak mendengar pertanyaan Victor, dia bingung harus berkata apa kepada calon mertua yang seolah menangkap basah dirinya saat ini, yang bisa dilakukan oleh Lady hanyalah diam seribu bahasa.
Sembari menggapai tangan calon menantunya Victor kembali berbicara “Terima kasih sudah menjaga nama baik keluarga kami, dan maafkan jika Rey banyak salah yah..., Papa tau apa yang kamu lakukan tadi semata – mata untuk melindungi calon suamimu dan menyelamatkan mukaku ini dari rasa malu..., maafkan kami...” Dengan sesenggukan serta menundukkan kepalanya dihadapan Lady dan terus menggenggam tangan Lady, Victor tak dapat lagi menahan rasa malu yang terpendam di hadapan wanita selembut Lady.
“Ssstt..., Pa... sudah pa..., nanti ada yang lihat pa..., semua akan baik – baik saja pa.., Kakak memang sedang ada kelas kok Pa” bisik Indah sambil melihat sekeliling takut ada yang mendengar atau melihat Victor menangis.
“Aku tau kalau kamu berbohong Nak.. Papa tau.. kamu berbohong untuk menyelamatkan Rey..” semakin hancur perasaan Victor, Ia tidak menyangka jika mendapatkan calon menantu sebaik Lady, yang rela berbohong demi menjaga mukanya.
“Nggak Pa..., Nggak kok..” Lady masih berusaha meyakinkan Victor, lalu Victor mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan singkat dari Reynold kepada Lady.
“Pa..., Aku... maaf..., Rey tidak akan hadir..”
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and komennya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah #part2” yang saat ini juga lagi on going bersambung langsung ke Part 3 disatu buku yang sama yah....
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman