
Akhir – Akhir ini kesibukan yang di kerjakan Oleh Reynold semakin padat saja, ditambah jarangnya mengajar ke kampus membuat Reynold selalu saja merindukan Lady, dan seperti biasa dengan berbagai macam alasan Reynold akan dengan mudah menaklukan wanitanya untuk kembali bergumul di ranjang yang panas.
Semakin hari bagi Reynold, Lady terlihat semakin cantik dan berisi, membuatnya ingin selalu menghabiskan waktunya bersama wanita pujaannya, Reynold seakan vampir yang haus darah atau lebih tepatnya bagaikan seseorang yang sudah terkena ketergantungan pada obat terlarang, itulah yang dirasakannya.
Bahkan saat menjadi pembicara di berbagai acara WorkShop sering kali bayangan Lady selalu mengganggu konsentrasinya, ‘Bagaimana aku bisa bekerja dengan baik kalau Kamu selalu mengganggu dan hinggap di kepala ku ini Lady’ Guman Reynold sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya, merasa jengah serta lucu pada dirinya sendiri.
Beberapa Minggu lalu adalah saat – saat yang sangat membuatnya khawatir terhadap Lady, Reynold mendengar Lady sedang sakit akibat terlalu banyak mengerjakan tugas kampus sampai bergadang hampir tiap hari, karena cinta dan kasihan beberapa kali Reynold membantu Lady untuk mengerjakan makalah – makalah yang wajib di selesaikan.
Hingga Pagi ini ketika Reynold baru saja masuk kantor dan duduk menikmati kopinya tentu saja sambil memandang wajah Lady di ponsel androidnya, Reynold mendengar suara Tony sedang berbicara dengan mahasiswa di luar ruangannya.
“Baiklah.., saya sampaikan kepada Bapak Reynold dulu, jika anda ingin konsultasi, silahkan duduk” Ucap Toni terdengar samar di telinga Reynold,
“Sialan!! Siapa yang sudah mau konsultasi pagi – pagi begini!” gerutunya, dan ketukkan pintu terdengar sebelum akhirnya Toni masuk kedalam ruangan Rey,
“Pak.. Lydia Susanto katanya mau konsultasi Pak.” Ucap Toni dan segera di sambut wajah sumringah oleh Rey,
“Suruh dia masuk sekarang juga” perintah Rey kepada Toni sang asisten.
Ketika Toni keluar ruangan dan berjalan menuju arah Lady duduk, Reynold mengintip wanitanya lewat jendela dan tentu saja itu membangkitkan rasa rindunya kepada Lady yang terlihat selalu sempurna, Rey melihat rona wajah Lady sungguh berbeda, matanya sedikit sayu, namun pipinya memerah dan kebiasaan Lady yang suka mengigit bibirnya sendiri selalu sukses membuat Rey pusing sampai ke Ubun – ubun.
Ketika Gadis ini melangkah dan masuk ke dalam ruangan kantornya, Rey langsung saja menarik dan memeluk erat Lady sembari mengecup mesra Lady kekasih hatinya,
“Kamu sangat cantik dan harum..” Guman Rey dalam hati yang tak lagi tenang seperti suasana pagi yang seharusnya tenang.
“Apakah Kamu sadar jika kamu tambah cantik Lady?” tanya Rey menggoda Lady,
Namun yang di puji wajahnya malah terlihat menegang, sambil menarik nafas beberapa kali, dengan mata berkaca – kaca, Lady menatap Rey dan berkata,
“Kak ada Buah Cinta kita disini” Ucap Gadis di hadapannya itu sambil menunjuk perutnya.
Seketika Rey langsung terdiam dan ternganga karena kaget mendengar Lady berkata ‘Ada Buah Cinta kita???’ tanyanya pada dirinya sendiri. Rey berjalan mendekati Lady lalu memegang perut itu sambil mengelus – elusnya, “Benarkah ada anakku didalam sini?” Tanya Rey tergagu.
“Iyah Kak...” Kini Lady langsung menghambur kearah Rey dan memeluknya dengan erat sambil terisak,
“Aku takut kak..” ucapnya masih menangis di dada bidang Rey.
“Kenapa harus takut?” tanya Rey lalu memundurkan Lady agar dapat melihat wajah kekasihnya, Rey berpikir jika hamil yah sudah tinggal menikah saja bukan? Toh akhirnya dia memiliki alasan untuk menghadap bertemu kepada kedua orang tua Lady.
“Lady... katakan padaku, apa yang kamu takutkan?” tanya Rey kepada Lady dengan lembut,
“Aku takut kak... aku takut papa dan mama marah..” Ucapnya sambil menundukkan wajahnya dan masih terus menangis,
“Sudahlah.., jangan menangis lagi, dengarkan Aku baik – baik Lady..” Rey mengangkat dagu Lady agar mereka bisa saling menatap satu sama lain,
“Dengarkan Aku baik – baik yah.., aku sangat bahagia ketika mendengar kamu berkata ada buah cinta kita disini” sambung Rey seraya mengelus lembut perut Lady,
“Jika Papa dan mamamu marah, itu adalah hal yang wajar, akan kita hadapi semuanya bersama, okey?! Setelah selesai mengajar aku akan mengantarkan mu pulang dan akan segera menghadap kepada kedua orangtuamu, apakah kamu setuju?” tanya Rey dengan lembut,
Entah apa yang sangat di takutkan kekasihnya saat itu, Rey sedikit bingung dengan keadaan yang terjadi, bukankah selama ini Lady yang selalu mengharapkan agar Rey bertemu dan menghadap kepada kedua orangtuanya? Lantas mengapa sekarang semua malah berubah?
“Apa yang kamu takutkan Lady?” tanya Rey,
“Aku takut kak.. nanti semuanya jadi ribut dan memanas, aku ingin ketika kakak datang kedua orang tuaku sudah menerima kenyataan bahwa aku anak pertamanya sedang hamil di luar nikah kak, itulah yang membuatku takut.., papaku... papaku sangat tegas dan religi kak.., aku takut jika saja semuanya mendadak maka kita justru akan di pisahkan kak..” semakin lirih ucapan Lady, yang dianggap oleh Rey sepertinya itu adalah ketakutannya sendiri, karena seingat Rey memang benar Pak Hendrik sangat religi dan tegas, tapi Rey tidak lupa jika Papanya Lady adalah orang yang sangat bijaksana dalam mengambil keputusan juga sangat penyabar kepada seluruh pegawainya, termasuk saat mendidiknya untuk menjadi tim legal yang baik.
Rey juga masih mengingat ketika magang dulu, Hendrik Susanto selalu memberikannya nilai yang tinggi sehingga membawanya pada puncak kelulusan dengan Predikat “Cumlaude”, Namun Lady sudah lebih dulu memikirkan yang bukan – bukan, untuk menenangkannya, Rey mengikuti keinginan kekasihnya yaitu menunda pertemuaan antara dirinya dengan keluarga Lady.
Ketika semuanya sudah terlihat tenang dan Lady berpamitan dengannya, Rey segera bergegas untuk memasuki kelas tempatnya akan mengajar nanti.
Namun bayangan akan memiliki seorang anak membuatnya tak kuasa bahagia bukan main, selama ini tidak ada yang tau dimana kedua orang tua Rey, dengan kabar bahagia ini Rey segera saja menghubungi papanya yang ternyata merupakan pegawai di salah satu perusahaan tambang Batu Manga yang ada di Indonesia Timur.
“Halo Pa!!” dengan semangat Rey berbicara ketika sadar nada sambung ponsel diseberang telah berganti suara,
“Rey!! Papa baik!! Apa kabar kamu? Wah tumben tumbenan kamu bisa menghubungi papa hah?!” Tanya Ayah Rey dengan bahagia,
“Pa... Bagaimana jika tahun ini aku menikah?” Tanya Rey ingin mendengarkan pendapat sang ayah,
“Tentu saja itu sangat luar biasa Rey!! Papa akan meminta cuti panjang pada perusahaan untuk mengatur segala sesuatunya, Lalu siapa wanita yang beruntung itu?!” Tanya Pak Victor yang merupakan ayah kandung Rey.
“Nanti akan Rey kirimkan fotonya pa..” ucap Rey bahagia,
Riba – tiba terdengar suara wanita di belakang sana,
“Kenapa semuanya terburu – buru Rey?” tanya Ibu Tuti yang merupakan Ibu Tiri dari Rey,
“Apakah kau menghamilinya” tanyanya secara to the point, membuat Rey mengusapkan wajahnya, selalu saja ada pengganggu jika dirinya sedang berbincang dengan sang Papa, dan itu semua adalah alasan Rey jarang sekali menghubungi papanya.
“Iyah.. Di hamil duluan lantas ada masalah?” Tantang Rey kepada ibu tirinya.
“Ingat ucapan mamah..., anak itu harus kau pertanyakan! Apakah dia akan menjadi PETAKA atau BERKAH untukmu? Ingatlah bahwa karirmu baru saja naik, apakah kamu tidak malu dengan adik tiri mu?? Jika nanti dia lebih dahulu berada pada puncak karirnya? Ingat Rey. Felix tidak pernah terpengaruh dengan perempuan dia selalu fokus pada tujuannya.”
Suara itu... terdengar seperti sedang mengejeknya, dada Rey kembang kempis mendengar ucapan Ibu tirinya, dan seperti biasa Jony hanya bisa menghela nafas jengah terhadap tingkah istri keduanya ini.
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman