
Ada yang berucap jika senjata yang paling mematikan di muka bumi ini bukanlah pedang, pisau, pistol atau bahkaan bom yang di lontarkan, namun senjata itu adalah LIDAH...,
Lidah yang tak bertulang ini dapat dengan mudah merubah nasib seseorang, sering kali kita berucap tanpa memikirkan sebab akibat dari setiap ucapan kita, bahkan kita sering diingatkan ‘Berpikirlah dahulu sebelum berbicara dan bertindak..’
Yah..., kala itu keangkuhan seorang Istri Hendrik Susanto, membuatnya berucap seenak hatinya sendiri, tanpa berpikir jika setiap kata yang terucap membawa dampak bagi orang di sekitarnya, yah.. dampak bagi Reynold yang merasa tak tahan lagi dengan semua tekanan berupa sindiran – sindiran tajam dan tekanan penghinaan seperti ini,
“Iyah tentu saja..., Jas itu sangat mahal...” bisik Maya ketelinga Victor, namun tetap saja terdengar di telinga Reynold, Reynold mengepalkan kedua tangannya dan memandang sinis pada calon besannya, dadanya sudah kembang kempis, wajah sudah memerah, sebuah keringat sudah menetes dari pelipis kepalanya, kakinya otomatis berdiri dari tempat duduknya, dan ketika Reynold tidak tahan lagi sebuah pelukan hangat merengkuh dan menyadarkannya dari rasa emosi yang sudah memuncak.
“Kak....!! Ayo..., Aku sudah buat janji temu.., Papa Victor ikut Lady yah Pa...” Pinta Lady dengan bergelanyut manja di lengan Reynold, sebuah nafas panjang dan wajah lega Victor membuat Reynold akhirnya menjadi lebih tenang. Maya yang menyadari jika ketegangan telah berhenti langsung kembali menguasai dirinya.
“Apakah Ibu Tuti akan Ikut juga Pak Victor?” tanya Maya sambil melihat Tuti yang masih asik berdiri di dekat tempat makanan – makanan kecil di sajikan,
“Iyah saya akan mengajaknya..” ucap Victor lalu berjalan kearah istrinya,
“Baiklah ma.. kami pamit yah..” pamit Lady diikuti oleh Reynold, mereka berjalan kearah parkiran mobil setelah melihat Tuti dan Victor juga berjalan keluar restoran.
“Kak.. apakah kakak baik – baik saja? Lady lihat dari tadi kakak murung..., apakah kakak setres dengan semakin dekatnya tanggal pernikahan kita kak?” tanya Lady lembut sambil mengiringi tiap langkah kaki Reynold,
“Aku.., hanya banyak kerjaan akhir – akhir ini, setelah pulang dari Bandung juga ternyata masih menumpuk, Aku hanya lelah dan yah.. sedikit setres saja..” Kekeh Reynold,
“Maafkan Aku yah kak..., apa yang bisa Ku bantu untuk meringankan beban kakak?” Tanya Lady bersungguh – sungguh.
“Kamu cukup menjaga kesehatanmu saja.., itu sudah lebih dari cukup yah.., Kamu juga jangan terlalu lelah dan pikiran, jaga baik – baik anak di dalam kandunganmu itu..” Ucap Reynold sungguh – sungguh sambil menarik pinggang Lady dan mengecup puncak kepalanya.
Dilema.., itu yang dirasakan oleh Reynold saat ini, disatu sisi Reynold memang pernah mencintai Lady dan melihat Lady begitu polos Rey merasa berdosa, ada perasaan tidak tega di hati Rey setiap melihat bagaimana Lady memperlakukan dirinya dengan baik, tapi jika ingatan akan ******* dan panasnya ranjang bersama Riska seolah mampu memupuskan segala kelebihan yang ada pada diri Lady saat ini.
“Siapa yang membawa mobil?” tanya Papa Victor,
“Aku saja Pa..., papa ddi depan yah.., biar Lady dan mama Tuti di belakang.., ucap Reynold, dan mereka sudah menempati posisinya massing – masing, perjalanan ke arah butik juga tidak lama, sesampainya di Butik, tidak ingin membuang Waktu Reynold di temani oleh Victor langsung saja mencoba Jas yang berwarna Putih dengan list manik silver elegan, tidak terlihat berlebihan, manik itu malah menambah kesan mewah.
“Pa.., Apa yang akan Papa pakai saat acara nanti?” tanya Reynold sambil keluar dari kamar ganti, Victor menatap takjub dan dalam hatinya mengamini perkataan Maya di restoran tadi jika memang Jas ini sangat mahal,
“Papa dan Mama Tuti sudah ada baju yang disediakan oleh Lady, kami kembar kok dengan orang tuanya Lady,” sahut Victor,
“Baiklah Pa..., Apakah Felix akan datang?” Tanya Rey,
“Apakah Kau ingin Felix datang?” Victor tidak percaya dengan pertanyaan Reynold, bahkan menyebut nama Felix saja hampir sesuatu yang mustahil akan terdengar dari bibir Rey,
“Iyah.., Aku ingin semua hadir Pa.., masih ada waktu kan untuk suruh dia datang kesini Pa?” tanya Rey,
“Baiklah Papa akan menghubunginya..”
“Tapi.., jangan kasih tau Mama Tuti Pa..., biar jadi kejutan untuk dirinya, jika musuhku kini bertambah dan dia adalah mertuaku sendiri, maka aku tidak ingin lagi bermusuhan dengan Tuti dan Felix, Aku ingin semuanya baik Pa..” Ucap Reynold sedang meyakinkan dirinya sendiri untuk nurut dengan Victor.
Victor berkaca – kaca dan bersyukur mendengar ucapan Reynold, dan hatinya memohon kepada Tuhan agar Reynold diberikan kekuatan untuk melepas wanita idaman lain yang hampir saja mengacaukan acara pernikahan anaknya.
“Felix...”ucap Victor lalu menekan tombol speaker,
“Papa!!! Bagaimana kabar kalian Pa? Apakah Kak Rey baik – baik saja?” tanya Felix dari seberang sana,
Yah..., dari kecil mereka memang tidak akrab oleh karena Tuti, dan Felix sering kali di suruh membuat Reynold marah oleh Tuti, tapi tanpa Rey ketahui jika Felix sangat mengidolakan kakak tirinya itu.
“Kami baik – baik saja nak.., Felix.., apakah Kau bisa menyusul kami dan ikut hadir dalam acara pernikahan Reynold?” tanya Victor sontak membuat Felix terdiam,
“Halo...?”
“Tapi Pa.., Aku takut Rey akan mengusirku..” lirih Felix,
Tiba – tiba Rey mengambil ponsel dari tangan Victor dan menekan Ikon video call, selang beberapa detik muncul wajah Felix, sontak saja Felix terkejut melihat wajah Rey dan Victor dalam satu frame,
“Datanglah Aku yang mengundangmu..” ucap Reynold singkat, Felix terlihat terharu dan membersihkan butiran bening yang jatuh di pipinya,
“Baiklah Kak.. Aku akan datang, terima kasih banyak Kak..” ucap Felix dengan semangat,
“Kami akan memilihkan pakaian untukmu..” sambung Reynold lagi,
“Siap Kak.. terima kasih, aku akan mengurus ijinku ke atasanku sekarang.”
“Good!! Jangan beritahu Mamamu..” pesan Victor, dan diacungi jempol oleh Felix, sambil menekan ikon merah mengakhiri percakapan singkat mereka.
“Terima kasih nak..” ucap Victor,
“Aku akan berusaha untuk kembali pada jalan yang seharusnya Pa..., maafkan Aku pa..”
“Benarkah Nak? Kamu akan mengakhiri semuanya dengan wanita itu?” tanya Victor masih setengah yakin,
“Aku berniat pa.., Aku juga akan berusaha untuk menyadarkan diriku dan berbicara baik – baik dengannya..” Bibirnya bertekad namun Hatinya tidak tau, apakah Reynold sanggup atau tidak mengakhiri semua ini.
To Be Continue...
Hai Guys teman – temanku yang baik hati, boleh dong like and comentnya.. biar Author makin semangat dan semakin terinspirasi, Thank You
Btw, Jangan lupa mampir di novel pertama Author yang berjudul “Aku Adalah Indah” sudah end serta lanjutannya “Aku Adalah Indah” part 2 yang saat ini juga lagi on going.
Follow IG Author yah.. @lizbet.lee
Jangan lupa like dan voting yah.. teman – teman