
Langit mulai gelap dari biasa nya. Awan gelap menutupi celah cahaya mentari. Senja pun tak ada, suara gemuruh datang dari langit. Seorang gadis belum juga sampai kerumahnya, ouh bukan. Maksudnya ke kosannya.
Reni berlari lagi dari sekolah untuk menuju kosannya. Seperti ketika berangkat sekolah, memakai celana training namun baju seragamnya dilepas, menyisakan tank top hitam. Untung saja ia membawa jaket, alhasil bisa tertutupi oleh jaket.
Hari ini total Reni berlari telah mencapai 20 Km jika dihitung dari saat berangkat sekolah. Plus bolak-balik menjadi 20 kilo.
Capek? Tentu saja. Reni capek pastinya. Ingin mengeluh, namun tak bisa menghilangkan letihnya. Toh ini pilihan dia untuk berlari.
Pukul setengah enam sore, cewek itu baru mencapai jarak 4 kilo. Berarti 3 kilo lagi ia akan sampai. Langkahnya kini melambat.
Memilih berjalan kaki, napasnya tersengal-sengal. Menyeka keringat yang mengalir di pelipis.
Breesssssssssssssss
Hujan tiba-tiba turun begitu saja. Langsung bres membasahi bumi dengan deras.
“Yah Ujan!” Reni terpekik. Tangannya mengadah diatas kepala. Bergegas untuk berteduh.
Reni memilih berteduh di halte bus. Disana sepi, mungkin karena ini udah sore dan cuaca nya sangat mendung.
Sebagian tubuhnya basah karena hujan, disaat badannya bersuhu panas namun atmosfer nya dingin. Tak karuan rasanya.
Reni terduduk. Meluruskan kakinya agar tak varises. Matanya menatap jalanan.
Hujannya semakin deras, hitungan menit berikutnya akan memasuki waktu adzan Maghrib. Dan masalahnya, Reni belum juga sampai ke kosannya.
Ponselnya mati. Tak ada siapa orang yang bisa dihubungi.
“Ngeluncur aja kali ya,” Gumamnya memikir.
“Sekali-kali yekan. Ya udah deh lah.” Reni kembali berdiri, mengambil napas dalam-dalam.
Tangannya menengadah, sumpah debit air nya deras banget. “Bismillah.”
Cewek itu meluncur menerjang hujan. Berlari tanpa henti. Wajahnya diterpa air hingga benar-benar basah tak tersisa.
Pasang mata yang melihatnya hanya menggelengkan kepala, disaat hujan seperti ini bukannya berteduh malah ia sendiri yang meluncur tanpa pelindung.
Reni tak mau kemalaman sampainya.
“Halo Ar! Lo kemanain Reni ****!” Wila nge gas bicaranya melalui sambungan telepon dengan Aria.
Maksud lo apa si?!
“EH NYET!! SAMPE SEKARANG RENI BELUM JUGA BALIK KE KOSAN. DAN DISINI ITU UJAN. TERUS INI RENI KEMANA ASTAGAAA!” Wila menangis kejer. Khawatir dengan Reni yang belum juga pulang.
Serius lo?Sumpah sorry banget. Tadi abis latihan gue langsung ke rumah sakit nganterin nyokap.
“Lo ninggalin Reni sendirian?!! Wah parah lo! Lo laki bukan sih?!!! Ninggalin cewek sendirian.!!!” emosi Wila membludak. Mengumpat total ke Aria.
“sorry la sumpah gue gak tau. Gue juga lagi nemenin nyokap nih. Maap banget.”
Tut Tut Tut.....
Wila menutup panggilannya sepihak. Menutup wajahnya frustasi. Sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri, Reni adalah sosok yang berarti dalam hidup Wila.
“Lo kemana si REN?....”
Tok tok tok...
“Assalamu'alaikum, ehmmm.”
“RENI?!!” Ujar Wila kaget, segera memeluk Reni erat. Tak peduli nanti jika bajunya ikutan basah.
“Lo apa-apaan si Wil, lepasin woi! Pengap gue.” Reni meringkuk tak nyaman. Bajunya yang basah membuat ingin mandi segera.
“Lo kemana aja si? Gue khawatir tau. Lo mah... Seneng banget bikin gue khawatir terusss. Huh.”
Reni terkekeh, “Yailah. Lebay Lo. Awas minggir gue mau mandi.” Menyingkirkan tubuh Wila.
“Sumpah lo ya gak ada terimakasih- terimakasih nya sama gue. Gue udah khawatirin Lo, dan apa—?!” Ucap Wila.
“Lo malah acuh gitu. Minta di smackdown lama-lama nih bocah.” Lanjutnya.
Reni tertawa sambil berlari menuju kamar mandi. “Ahahahaaha bodoamat. Suruh siapa khawatir. Wleee.”
Wila menghela napasny sambil mengelus dada. Sabar. Reni baik-baik saja ternyata. “Lo emang kuat Ren.”