Sport Girl

Sport Girl
part 6



Reni bersama suster menuju ruangan cowok itu. Ruangannya telah dipindah ke ruang inap.


“Mba tinggal masuk saja, saya permisi.” Suster itu tersenyum ramah.


Begitupun Reni.


Cewek itu membuka kenop pintu. Disana cowok tersebut berbaring lemah, perban disikunya tebal sekali.


Plester pun banyak tertempel baik dimuka maupun lutut.


Reni perlahan menghampirinya. Damai sekali cowok itu tidur.


Kata si suster, gue dipanggil ke sini. Buat apa coba? Nonton dia tidur? Batin Reni.


“Akhhss... Ish—” Cowok itu mendesis kesakitan. Reni tiba-tiba menjadi panik.


“Eh eh jangan gerak dulu, tuma'ninah dong baringnya.” Ujar Reni khawatir.


Cowok itu perlahan membuka matanya. Mengerjap menyesuaikan cahaya. Pandangannya bingung, dan nanar.


“Gue—”


“Shttt jangan ngomong dulu, istirahat dulu aja. Gue ambilin minum ya,” Reni hendak keluar namun tangannya dicekal oleh cowok itu.


“Tunggu dulu,”


Reni menatap cowok itu. Aneh banget cowok yang atu ini


“Disini aja. Gue takut.” Perintahnya.


“Yaudah. Lo baring aja, jangan gerak-gerak.”


Reni lalu mengobrak antik tas nya untuk mencari botol air mineral. Melihat cowok itu menjadi iba. Tak tega menatapnya.


“Nih minum, gue tau lo aus.” Reni menyodorkan botol minumannya.


Cowok itu masih terdiam.


“Minum aja. Gak usah jaim-jaim gitu. Santai kali.” Reni membuka tutup botolnya.


Cowok itu kemudian menerimanya. Menenggak air secara perlahan. Kemudian mengembalikan botol tersebut ke Reni.


“Makasih,”


“Yoi. Santai aja.” Reni menutup botolnya dan menaruh ke saku tas.


Suasana kembali hening. Canggung mau mengobrol apa. Reni menatap ke penjuru ruangan, gabut bener.


Ia bisa aja bermain ponsel guna mengusir kegabutan. Namun tak enak, cowok tersebut saja hanya berbaring lemah masa ia enak-enakan bermain ponsel. Huft.


Gue tanya nama aja kali. Kepo banget soalnya.


“Ekhem. Nama lo siapa?” Tanya Reni sedikit kikuk. Pandangannya beralih kanan ke kiri.


Cowok itu menoleh sedikit demi sedikit. Menatap Reni. “Gue Alfa.” Jawabnya singkat.


Oh Alfa. Tapi kok kaya asing gitu  ya disekolah. Apa dia nerd?


Reni menoleh. Matanya mengerjap. Hah, otaknya kok jadi lemot gini. Maksudnya apa.


“Nama lo siapa?” Tanya Alfa sekali lagi.


Reni tertawa renyah, meratapi kebodohannya yang otaknya lemot. “Ouh yayaya. Nama gue Renita Faradila. Panggil aja Reni.”


“Lo yang sering menang lomba Popda itu kan?” Tanya Alfa sekali lagi.


Yah dia tau?


“Hehehe iya. Lo satu sekolah sama


Gue kan yah?”


“Hmm.”


Dingin banget. Misterius lagi. Lagi-lagi Reni membatin.


Ah udah ah, gak usah tanya-tanya. 'Gue cari tau sendiri siapa dia sebenarnya. Dan kejadian pas Kamis sore.'


Ceklek


“Eh,—”


“Kamu disini ternyata, saya cariin kemana-mana tadi.” Mas yang bersama Reni tadi menghampiri mereka.


Reni hanya tersenyum kaku. “Maaf mas, soalnya tadi saya disuruh suster untuk nungguin disini.”


Mas-mas itu hanya ber-oh. Langkahnya menuju tempat Alfa berbaring. “Kamu udah mendingan?”


Alfa hanya mengangguk singkat. Tak banyak bicara.


“Mau makan? Atau mau apa? Biar saya belikan.” Mas-mas itu memberi tawaran.


Alfa menggeleng saja. Tak mau merepotkan. Sudah untung ia dibawa kemari.


“Gapapa. Gak usah sungkan-sungkan. Bilang aja.” Alfa hanya menggeleng.


“Yasudah. Kamu istirahat lagi saja, Saya keluar sebentar,” Mas-mas itu melangkah keluar.


Reni melihat pergerakan mas-mas itu keluar. “Al, Gue keluar sebentar ya.”


Alfa hanya mengangguk.


Melihat respon dari Alfa, Reni langsung mengejar mas-mas itu.


“MAS!”


Lelaki itu menoleh, Reni rupanya. “Ada apa?”


“Errrr.... Saya ikut ya,” Ucapnya Reni malu-malu.


“Yaudah ayo. Saya mau ke depan.” Ujarnya ramah. Reni langsung menyusul untuk sejajar dengan lelaki itu.


****