
...Aku ingin jadi bulan, meski kecil tapi tetap tampak....
Lintasan cahaya lampu membelah ranjang tidur melalui lubang ventilasi atas. Ruangan persegi dengan penuh kegelapan kecuali sinar lampu dari jalanan. Sang pemilik kamar sengaja memadamkan lampu kamar.
Pagar besi mulai mendingin dielus angin malam. Kerikan jangkring menggema seluruh wilayah rumah. Tiba-tiba ada tangan memegang pinggiran pagar balkon dengan erat. Dialah Alfa.
Lelaki itu memandangi jalanan sepi tanpa orang sedikit pun. Hanya saja lampu-lampu bertiang yang mengisi jalanan. Hampir pukul 11 malam, matanya susah untuk dipejamkan. Ingatannya kembali lagi ketika berada diruangan BK. Mendengar cerita lengkap atas Reni di toilet bersama Teman satu kelasnya, Sisi dan Loly.
"Kamu sering di ejek sama teman sekelasmu?" Tanya Bu BK.
Alfa menggeleng. "Tidak Bu. Sejauh ini teman sekelas saya baik-baik semua memperlakukan saya." Bohong. Alfa mengatakan itu sengaja. Ia tak mau menambah beban atau masalah lagi. Cukup hari ini saja.
Padahal setiap hari ia selalu menerima cemoohan teman-temannya. Dikucilkan dan tak diajak ngobrol. Baik itu perempuan atau laki-laki. Bukan hanya berbentuk lisan, mereka yang mengolok-olok pun juga melakukan tindak kekerasan seperti menendang dan menggebug. Berbagai macam lebam membekas di seluruh area tubuhnya.
Sakit, tentu saja. Frustasi, jangan ditanya bagaimana frustasi nya Alfa bila kambuh. Namun seiring berjalannya waktu, rasa sakit, frustasi, dan dendam perlahan hilang. Hilang bukan semata-mata Alfa telah memaafkan atau tak peduli. Ia mati rasa. Hatinya sudah kebal menjadi batu, makanya saat mengalami itu lagi ia tidak langsung depresi.
Ternyata pemicu Alfa menjadi seperti ini adalah kakaknya sendiri. Sebelum disekolah, ia terlebih dahulu mendapat kekerasan darinya. Jangan tanya orang tua atau saudara itu kemana. Sudah lama kedua orang tua Alfa meninggal sedangkan saudara ia tak punya kecuali kakak kandung nya.
Alfa tertekan sebelumnya, hingga pikiran negatif datang ke otak dan meracuninya. Cowok itu berencana bunuh diri namun tak jadi. Mengingat kakaknya adalah saudara kandung satu-satunya.
"Kamu pasti sudah tau, masalah tadi siang itu. Dan kamu tau? Penyebab utamanya adalah apa?"
Alfa menggeleng. Pura-pura tidak tahu saja itu lebih baik saat ini.
"Penyebab nya itu kamu. Reni membela kamu dari cemoohan Sisi dan Loly."
Deg. Benar dugaannya. Bahwa Reni lah yang telah membela nya. Alfa punya feeling setelah mendapat kabar itu dari isu-isu teman kelasnya.
"Kamu masih mau bohong soal ini? Sisi dan Loly udah jadi bukti nyata kalau kamu sering di bully dikelas. Tapi kamu berusaha bungkam." Ucapan Bu BK membuka Alfa mati kutu. Sebab apa yang diucapkan seratus persen benar.
"Tapi saya yang tau dan jalanin sendiri Bu. Kalau dikelas itu baik-baik aja, mereka gak macem-macem kok saya. Ibu tenang aja."
Bu BK menghela napas beratnya. Susah ngomong sama hati yang sudah keras. "Yasudah. Tapi kalau ada sesuatu yang merugikan kamu, segera lapor Ibu ya Alfa."
Alfa mengangguk paham.
"Ohya. Kamu jangan lupa terimakasih sama Reni. Dia rela rambutnya rontok demi membela kamu." Ucap Bu BK sebelum Alfa bangkit dari duduknya.
"Gue harus terimakasih sama dia." Senyuman manis terbit di wajah Alfa.
📌📌📌
...Tim rongsok...
Riko: Rennn... Lo jadi tranding topik nih di grup sekolahan. Judulnya si atlet menghajar anak Yayasan sampai masuk RS. Wkwkwk🤣
Damar: cihuy.. emang paling yahut dah. Tau sendiri lah, popularitas Reni melejit tanpa pansos.
Bagas: Eh masa Reni kita dijadiin tersangka coba. Minta digaplok tuh yang bikin rumor itu.
Riko: Iya macem-macem mereka. Belum tau rasanya di gibeng sama anak-anak bola kek kita gini.
Bagas: Si Sisi berasa kek korban. Dahal sendirinya yg mancing-mancing singa tidur.
Damar: apalagi si Loly noh. Ampe bo'ong sama Bu BK. Beuuhh auto semprot itu mah.
Bagas: Lah iya🤣 gw jga Gedeg banget sama Loly-Loly itu.
Ryan: Eh gosipin apaneeh. Ikut dong.
Damar: kemane aja lo bang Toyib?
Bagas: Ryan be'ol nya lama. Makanya ketinggalan topik.
Ryan: sembarangan kalo ngomong. Gua abis makan tadi bro. Jan negatip Mulu dah otak lo.
Bagas: sombong amaaat. Yang dapet 85 pas ulangan MTK mah bebas. SOMBONG
Riko: wkwkwk iri bilang Gas.
Bagas: CUIH.
Ryan: Cuih🤣
Damar: Cuih🤣🤣
Riko: SiALAN
Malam-malam sekitar pukul 11, Reni baru saja selesai olahraga kecil-kecilan. Sedari olahraga, ponselnya terus saja mengeluarkan nada dering chat. Karena penasaran, buka lah ponselnya itu ternyata berbagai grup tengah ramai.
Terlebih dahulu Reni membuka grup chat Tim rongsok, teman sekelasnya. Tangannya menscroll terus bergulir.
"Ck. Ghibahin gue ternyata." Gumamnya.
Lalu tangannya mengetik sesuatu pesan di grup chat itu.
Reni: setan lo semua. Gak ada akhlak emang, temen ndiri dighibahin.
Riko: eh sorry Bu calon kowad yang kepengen jadi kopassus. Gue cuma membahas news hot aja. Hehe
Reni: Alah basi! Bertele-tele Lo Ri.
Bagas: Serius dh gua mau nanya. Kenapa bisa lo gebukin Sisi ampe masuk RS? Lo anggep Sisi cowok ya, berantemnya maen tinju gitu. Wkwkwk🤣👍
Ryan: ahahaha betul tuh. Biasanya kan cewek kalo berantem jambak-jambak rambut.
Damar: Lah emng si Reni gak jambak-jambakan?
Reni: Ah brisik lo. Rambut gue hampir mau botak. Lo cek aja di TKP, rambut gue berserakan disitu.
Riko: pft.
Damar: pft.
Ryan: pft.
Reni: apaan sih?!!!
Aria: Lo dikostan gak?@Reni
Reni: iya nih. Kenapa Ar?
Aria: Gua ke kostan lo sekarang.
Reni: oh gue tunggu.
Riko: IKUTTTTT
Bagas: Gw juga ah ngikut. Serbu kostan nya Reni.
Damar: woiya dong. Gas keun.
Bagas: Ryan! Lo kerumah gua. Sekalian nebeng nih.
Ryan: mintanya gratisan Mulu lo kamprt.
Riko: Otw bro.