
...GW TANTANG LO BUAT LIKE N COMENT DI CHAPTER INI. ...
...SANGGUP GAK LO HAH?! CK CK...
happy reading 🍁
Sekitar 30 menit terlewati, akhirnya 4 bus itu sampai juga ditempat pelatihan. Dari depan gedungnya sangat besar. Banyak orang berlalu lalang di area lobi. Rata-rata disana berpenampilan layaknya olahragawan yang pro.
Jelas saja, tempat nya luas, ditambah lagi fasilitas nya yang memadai. Pasti pengunjung sangat betah dan merasa nyaman. Ternyata para atlet latihannya ditempat seperti itu juga.
Para peserta lomba turun dari bus. Mereka berbaris sesuai bidang olahraga. Didepan sudah ada pak Jaya yang akan memberi instruksi kemana mereka pergi.
"Bujuk buneng.. ceweknya cakep semua. Bohay gilaa." Mata Bagas mulai jelalatan melihat mba-mba memakai kaos oblong putih serta training selutut. Tak lupa dengan rambut yang dikuncir kuda menambah aksen sporty.
"Zina mata oiy jaga. Astaghfirullah Bagas." Ryan geleng-geleng kepala akan tingkah Bagas yang terlihat norak.
"Cuci mata Yan. Lumayan buat bekal latihan. Biar semangat dong." Sahut Bagas.
"PIUIT!!!" Riko bersiul keras hingga mba-mba yang memakai Hoodie biru menoleh sinis.
Riko langsung mengedipkan sebelah matanya genit. "Sayang.." Wajahnya menyeringai ngeri.
Mba-mba itu langsung berlari menghindar dari Riko. Membuat teman-teman nya mengeluarkan gelak tawa yang kencang. "Makanya jangan ganjen dah jadi cowok. Rasain lu." Kata Ryan. Cowok itu yang paling ngakak hingga memegangi perutnya.
"Udah ngapa Mar. Ngakak mulu, iye gua tau kalo gua itu buaya. Tapi jangan ampe pundak gua yang jadi sasaran nya." Riko sedikit kesal. Teman sang satunya ini tertawa serta membawa bencana bagi yang ada didekatnya. Sasaran empuk untuk melakukan kekerasan yang dilakukan oleh tangan Damar.
"Sorry sorry Ko. Abisnya tangan gua gatel pen gaplok pundak lo." Ucap Damar berusaha menghentikan tawanya, walaupun masih ada sisa-sisa tawanya.
"Cus lah masuk. Siapa tau didalem ada yang lebih yahut kan lumayan." Bagas segera menuju lobi. Langkahnya paling semangat dari yang lain. Yang lainnya hanya mengikuti dari belakang.
Sesampainya didalam, benar kata Bagas. Cewek-cewek nya cantik-cantik dan yahut-yahut. Bagas melirik ke lobi Deket tangga. Disana ada seorang cewek cantik berambut panjang. Cewek itu tengah bermain ponsel.
"Cewek. Yuhuuuu." Panggil Bagas seraya menaikkan satu alisnya genit. Tak lama kemudian cewek itu menoleh menatap Bagas aneh.
Ia menggidikkan bahunya jijik. Lalu pergi dari tempat itu. Lagi lagi Bagas gagal mendapatkan cewek.
"Puas kan lo. Dikacangin kedua kalinya. Guling-guling Sono dah." Ryan tertawa hingga matanya tak kelihatan sangking sipitnya.
Bagas tetap sabar. Ekspresi nya seperti semula tak menunjukkan raut-raut sedih ataupun kecewa.
"Ya gapapa lah. Orang ganteng mah biasa dikacangin. Mereka semua aslinya pada jaim ama gua. Makanya gitu." Ujar Bagas sok tegar. Padahal dalam hati berkomat-kamit mengumpat kata-kata kasar.
"Dah ayo masuk ke ruangan. Ditunggu pak Jaya dari tadi." Perintah Damar sambil melirik arloji ditangan kiri.
...Thank you atas kunjungan kalian... maaf bila ada kata" yg kurang berkenan.🙏 sekali lagi thank you...