Sport Girl

Sport Girl
Part 19



Deruman motor menggema disekitar gang kos-kosan putri. Memecah keheningan malam disepanjang jalan.


Seperti biasa, kos-kosan nampak selalu senyap jika malam diluar. Aria menghentikan motor nya didepan gerbang kostan. Diikuti Reni yang turun dari motor. Sambil melepas helm.


"Nih helm nya.”Tangan gadis itu menyerahkan helm kepada Aria.


"Makasih ya udah mau repot-repot jemput gue." Kata Reni.


Aria tertawa, "Yailah, kaya siapa aja lo."


"Ahahaha, yaudah sana lo balik."


"Iya, ini juga mau balik. Gak sabaran amat." Aria menstarter motornya hingga nyala, tangannya terangkat melambai guna bersay goodbye pada cewek itu.


"Bye Ren."


Reni membalas lambaian tangan Aria. Bibir nya terangkat membentuk lengkungan. Aria menghilang, cewek itu segera masuk kedalam kostan. Tubuhnya kali ini lelah dan terasa ingin rontok semua tulangnya. Wajahnya kusam dipenuhi keringat kering dan bau apek. Namun sempat sebelum berboncengan dengan Aria, ia menyempit pakaiannya dengan parfum agar tercium wangi, bukan apek. Kan gak lucu nanti kalau Aria sampai mencium bau badan Reni yang apek. Bisa-bisa ilfeel dia.


Kamar kost nya didepan mata. Dari dalam terdengar berisik sekali. Pasti manusia sialan itu bersama kawanannya rusuh hingga mengobrak-abrik isi kamarnya.


Helaan napas lolos dari Reni. Sudah. Sudah cukup tenaga nya untuk menggebuki kawanan diadab ini. Tangannya membuka gagang pintu. Terbuka sudah pintunya. Benar sesuai dugaan, kamarnya sangat berantakan.


"Eh udah pulang si Reni. Ayo sini gabung nonton drama." Ajak Gina dengan ramah. Cewek berambut panjang hingga satu punggung penuh.


"Udah woi sini. Malah berdiri aja. Nih ada kentang goreng, kesukaan lo." Kata willa. Si biang rusuh nih. Kelakuannya yang tomboy, membuat Reni yakin pasti kamarnya berantakan gara-gara dia.


"Ayo Ren. Sajen nya udah penuh nih, lo harus cobain satu-satu. Enak tau." Ucap Eka menunjuk sekumpulan jajan satu keranjang penuh, belum lagi di depan mereka banyak makanan berat seperti seblak dan mie ayam.


Reni melangkah maju, menatap malas ke mereka. Lah bodoamat. Ia melempar tasnya ke kasur dengan keras. Benturan Tupperware mengenai tembok membuat Mereka yang ada didepan televisi tersentak akan sikap Reni yang seperti itu.


"Ngapa dah lo?" Tanya willa penuh kebingungan. Mereka bErtiga saling tatap seakan-akan bertanya.


"Beresin kamar gue." Kata Reni serius. Tatapannya tajam.


"Iya nanti ki-"


 


"BERESIN SEKARANG JUGA!"


Mereka kaget bukan main. Sorot mata Reni menajam.  Ia ingin berbaring, bermanja-manja dikasur kesayangan. Merasakan empuknya busa kasur. Namun kenyataannya kasur kesayangan nya itu ditempati oleh Wila beserta teman-temannya. Kan kesel.


"Oke kita beresin. Kamu jangan marah yah. Maafin kita-kita." Ucap gina merasa bersalah.


Reni melengos pergi menuju kamar mandi. Kesal, lelah dan marah bercampur aduk dalam kepalanya.


Gina sedang memunguti sampah berserakan disekitar kasur. Entah itu bungkus makanan, kertas maupun kaleng soda ia ambil semua. "Mungkin dia lelah." Katanya. "Udah ayo bersihin kamarnya. Wila kamu jangan diam aja dong, bantuin kek."


Wila cengengesan, "Hehehe iya."


"Gara-gara lo Wil, kita-kita jadi dimarahin Reni. Emang Lo biang dari segala biang." Celetuk Eka ngasal.


 


 


 


 


Plukk


 


 


 


 


 


 


Wila melempar kaleng soda ke kepala Eka, sontak membuat sang empunya menatap tajam. "Kalo ngomong sembarangan amat ye, lo juga tadi mau mau aja kok diajak. Pake segala nyalahin gue."