Sport Girl

Sport Girl
part 36



...Prestasi atau cinta?...


"Je, roman-romannya mantan lo itu gak pernah ngantin yah?" Tanya Reni pada Jeje. Matanya mengawasi dari ujung sampai ujung kantin. Sampai saat ini ia belum menemukan batang hidung si Alfa.


"Dia gak suka keramaian soalnya. Kalau mau nyari Alfa itu bukan di kantin tapi di perpus." Jawab Jeje membuat Reni tersedak. Perkataan Jeje seolah-olah Reni sedang mencarinya padahal iya!


Feeling Jeje emang paling top.


"Ati-ati makannya. Btw lo lagi nyari Alfa kan? Iya kan? Ngaku deh." Jeje menyeringai geli.


"A–apaan. Gak ya sorry." Reni mengelak dengan mata gelagapan.


Gadis bermata sipit itu tertawa kecil. " Ya ya ya. Apa kata lo aja."


Reni kembali menyeruput es teh. Dalam pikirannya selalu ada Alfa yang berlalu lalang. Tanpa disadari kepala berkeringat. Sial Alfa! Dalam batinnya.


Ia bersikeras menghilangkan pikiran yang dapat membuat jantung marathon.


Pengumuman! Kepada peserta tim basket putri untuk datang ke ruang guru sekarang juga. Terimakasih.


Sebuah pengumuman melalui speaker yang tergantung di atas plafon sana. Dari suaranya terdengar kalau itu suara pak Jaya.


"Sana gih! Udah ditunggu." Jeje mendorong tubuh Reni agar bangkit dari tempat duduk.


Reni mendesis. "Sabar kenapa sih. Selo elaah."


Jeje menyengir. "Hehehe. Udah sana pergi."


Reni melotot seraya melangkah menjauh dari kantin. Pasti akan ada brifing mengenai pertandingan yang datang sebentar lagi.


Tak berapa lama, ia sampai diruang guru bersamaan dengan teman-teman yang lain. Tiana, Liana, Adinda, dan Rish.


"Kok balik lagi?" Tanya Reni pada Tiana. Pasalnya, mereka berempat berlawanan arah seperti habis dari ruangan pak Jaya.


"Disana ada tamu nya pak Andi. Tadi kata pak Jaya brifing nya di perpus aja deh." Jelas Tiana. Reni hanya ber-oh ria.


"Yaudah yuk ke perpus. Jan buang-buang waktu. Gue abis ini ada ulangan Fisika." Rish berkata dengan nada tak sabaran. Rajin juga itu anak.


Akhirnya mereka berlima menuju perpustakaan yang sepi. Sepi bukan karena tak ada orang, melainkan suasananya yang sepi dan hening.


"Dingin banget auranya." Adinda mengelus lengan atas yang di terpa udara AC. Pendingin udara itu terpasang dimana-mana, sudut-sudut dan pintu. Bagaimana tidak menggigil coba.


"Perpus rasanya kek rumah angker gini. Dingin-dingin gimana gitu." Sahut Liana sama kocaknya dengan Adinda.


"Eh norak! Ini tuh dingin AC. Bukan dingin hawa-hawa mistis. Ege banget dah lo sumpah." Rish menimbrung meledek Adinda dan Liana.


"Ege pala lo botak. Lo tuh yang ege ." Adinda tak mau kalah sama Rish. Enak saja dikatakan bodoh.


Yang lain hanya tertawa tertahan. Tak berani frontal ketawa didalam sini. Bisa-bisa diamuk penjaga perpus kalau gitu.


"Udah udah. Ribut Mulu kerjaannya. Mending cari meja aja." Tiana menyudahi pembicaraan absurd para peserta tim basket cewek. Maklum, kalau tidak bisa adu mulut jangan disebut wanita.


"Ren, bantu gue nyari buku panduan basket ayo." Ajak Tiana selaku SF didalam tim. Reni membalasnya dengan anggukan.


Mereka berdua berpencar arah, Reni menuju rak paling pojok sedangkan Tiana menuju lobi menemui penjaga perpus untuk menanyakan berapa kode nomor buku basket.


Sedangkan sisanya duduk manis di meja yang ukurannya cukup besar. Dapat menampung 6 orang. Karena gabut tidak ada kerjaan apa-apa, mereka memutuskan bermain ular tangga yang sudah disediakan dimeja tersebut.


Kembali ke Reni, ia menyusuri rak tersebut dari deretan atas hingga ke bawah seterusnya. Pikiran dan pandangannya fokus mencari buku yang yang dimaksud oleh Tiana tadi. Hingga tak sadar bahwa ada seseorang berdiri sejak 5 menit yang lalu diujung tak memandangi Reni.


Orang tersebut selalu memakai benda andalannya, kacamata. Siapa lagi kalau bukan Alfa.


Reni terkejut bukan main. Suasana lagi sepi-sepi nya tiba-tiba ada suara didekat rak tersebut, siapa coba yang tidak kaget. Gadis itu mengelus dadanya sabar. Untung saja tubuhnya tak ada riwayat penyakit jantung.


Alfa terkekeh. "Kaget banget keliatannya. Emang gue setan apa."


Reni mencebikkan bibirnya kesal. "Apasih lo! Gak jelas banget."


Lalu Alfa maju mendekat ke Reni agar lebih nyaman ngomongnya. Ia memandangi rak buku didepan, deretan buku olahraga yang hampir sama cover dan judulnya.


"Emmm nyari ini bukan?" Alfa menunjukan salah satu buku tebal di deretan paling atas. Buku tersebut berwarna biru dan bersampul seseorang memegang bola basket.


Reni sempat cengo dibuatnya. 'kenapa dia tau?' Satu pertanyaan yang muncul dibenaknya.


Alfa menaikan salah satu alisnya. "Yang ini kan?" Tangannya terulur mengambil buku itu dan menunjukan ke Reni.


Reflek gadis itu mengangguk polos bak seorang anak kecil. Mukanya pun datar macam triplek.


"Nih ambil." Cowok kacamata itu menyodorkan buku tebal pada Reni. Reni pun menerimanya.


"Kok lo bisa tau sih?" Tanya Reni. Kalimat itu sejak tadi ingin keluar namun tertahan terus.


"Hm? Tau apa?"


"Ya tau letak-letak buku. Secara kan lo bukan penjaga perpus."


"Lo tau gak sih? Kalau gue itu suka tempat yang sunyi, tenang dan gak berisik. Jadi ya, mainnya kesini." Jawab nya datar.


Reni jadi teringat perkataan Jeje dikantin. Namun ia sedikit tak rela kalau Jeje lebih mengetahui seluk beluk tentang Alfa daripada nya.


"Ouh."


"Oh?" Alfa membeo akan respon yang diberikan Reni tadi. Singkat padat dan gak jelas.


"Kok oh doang?" Tanya Alfa.


"Ya terus? Gue harus bilang apa? Wow gitu?" Alfa jadi terdiam karena ucapan Reni yang skak.


"Minggir gue mau lewat."


"Bilang makasih dulu kek."


"Makasih." Ucap Reni datar. Lalu ia menggeser tubuh Alfa yang menghalangi jalannya. Setelah itu kembali ke meja berkumpul bersama teman-teman sebidang.


"Eh udah dapet aja bukunya." Celetuk Adinda yang sedang membaca komik.


"Tiana mana Ren?" Lanjutnya.


"Lha tadi belum kesini? Gue kira udah kesini." Jawab Reni.


Tak berapa lama, yang sedang dibicarakan pun datang. Tiana membawa 3 buku paket 300 halaman sepertinya. Tiana membanting buku itu sangkin beratnya.


"Capek gillaaa. Yuk cepetan pelajari keburu ada pak Jaya." Ucap Tiana penuh peluh.


"Aaaaahhhh males Na. Gak mau ah." Adinda merengek bak seorang bayi yang minta susu.


"Jangan manja deh. Kita harus semangat terus sampai puncak acaranya. Gue gak mau kalau tim kita kalah ya." Tiana sangat komitmen dan bersemangat 45. Reni jadi insecure sama Tiana. Walaupun ia menjadi kapten tahun ini, bukan berati bisa sok berkuasa atau apa, namun justru kapten lah yang menanggung dan mengarahkan timnya agar menuju garis final.


"Huft. Iya deh sorry." Akhirnya Adinda mau tak mau menerima buku itu dan membacanya berbarengan dengan Liana.