
"Hah?! Pacar?"
Semua terkejut atas pernyataan dari Jeje. Pantas saja Jeje tidak mau bertemu Alfa disebabkan karena status mantannya itu. Wajarlah, sama mantan gengsi.
"Berarti Sekarang status lo sama dia mantan gitu? Kenapa gak cerita sih sama gue." Cerah Reni kepo. Entah kenapa ia menjadi penasaran yang berhubungan dengan Alfa.
"Masa kaya gitu aja harus cerita." Ucap Jeje.
"Ya intinya nanti lo minta maaf sama Alfa." Kata Riko. "Dah yuk latihan. Ditunggu pak Jaya nih." Lanjutnya.
"Gue cabut dulu ya Je. Bye-bye!!" Reni melambaikan tangannya pada Jeje.
Tinggallah seorang cewek di dalam kelas sendirian. Ia tersenyum kecut mengingat kejadian putus dengan Alfa. Menyedihkan.
"Na. Kamu harus baik-baik aja ya nanti kalau aku nggak ada." Ucap Alfa penuh arti.
"Maksud kamu apa?nggak ada apanya si?" Jeje tak mengerti apa yang Alfa bilang. Tidak ada apanya?
"Gak papa. You'll be okay without me." Gumamnya lirih, namun Jeje sempat mendengarnya. Pertanyaan yang ia ajukan kemudian diurungkan.
Esoknya...
"Alfa!!kamu tau gak aku bawain apa?" Jeje tersenyum sumringah sambil membawa paper bag berwarna merah.
Alfa ikut tersenyum. Ia mendekat ke Jeje. "Aku minta maaf ya."
"Maksud kamu?"
"Aku mau pergi jauh. Lepasin aku ya. Kita sampai sini aja. Aku gak mau nyiksa kamu kalau kita LDR an." Alfa bergetar mengucapkannya. Serasa ada sesuatu yang sesak dihatinya.
Tiba-tiba mata Jeje berkaca-kaca. "Kamu bercanda?
Alfa menggeleng pelan. "Gak Na."
"Kamu tega banget si." Air mata Jeje mulai menetes membasahi pipi. Hatinya sesak sekali dengan kenyataan yang ada. Alfa jahat.
Namun takdir berkata lain, kesedihan dan kesuraman yang terjadi. Bukan ini yang diharapkan Jeje, aaahh benci!
Dihari itu, jam itu, menit itu dan detik itu juga hubungan mereka berakhir diatas keputusan Alfa.
Setelah satu tahun Alfa menghilang, cowok itu akhirnya kembali dengan penampilan berbeda dan karakter berbeda. Namun sialnya takdir menemukan mereka berdua. Disekolah yang sama yang waktu yang sama. Perasaan pun sudah tak sama tentunya. Masing-masing dari mereka telah move on.
"Ah sial! keinget masa lalu kan." Jeje merutuki dirinya sendiri. Daripada kepikiran lagi, ia memilih segera pulang.
📌📌📌
Lapangan basket kali ini di penuhi oleh para perempuan yang akan mewakili sekolah menuju turnamen besar setiap tahun. Tim utama terdiri atas Reni si ketua regu, Adinda, Liana, Tiana dan Rish. Untuk peserta cadangannya ada Fatia, Lis dan Gaby.
Mereka sedang berlatih mendribble, shooting, dan passing. Masing-masing dari mereka berlatih serius dengan diawali pak pelatih.
"Mohon perhatiannya!" Seru pak Jaya membuat segala pergerakan terhenti akan intruksi dari bapak guru itu.
Semua mendekat dan membentuk barisan.
"Saya akan membagi peran kalian dalam area nanti. Yang pertama PG diperankan oleh Adinda. SG diperankan oleh Rish. SF untuk Tiana. PF untuk Liana dan C untuk ketua regu alias Reni." Jelas pak Jaya.
"Saya memilih anak-anak tersebut sesuai keahlian kalian. Setiap event-event sebelumnya saya sudah rekap keunggulan kalian, maka dari itu peran yg kalian mainkan pasti sesuai dengan keahlian." Lanjutnya.
Semuanya masih terdiam tak angkat bicara menyimak. Mendengar penuturan beberapa evaluasi basket tahun kemarin.
PG: point guard
SG: Shooting Guard
SF: Small Forward
PF: power Forward
C: Center