Sport Girl

Sport Girl
part 33



Sorotan lensa mata milik seorang pria terus membekas seiring berjalannya waktu. Menit demi menit terus terlewati hingga tak terasa bahwa si pemilik mata itu telah lama kembali ke huniannya.


Di dalam ruangan persegi ini, seorang gadis mendudukkan tubuhnya didepan cermin rias. Menatap pantulan wajahnya dari kaca. Ingatannya perlahan kembali flashback saat ditaman bersama seseorang.


"Kenapa gue jadi deg-degan gini...." Ucap Reni lirih. Tangannya meraba pipi yang memulai memanas.


...'Alfa. Cowok itu siapa sih? Bisa-bisanya bikin jantung gue jadi jedug-jedug. Aish.' Batinnya....


"Aw——" Reni memegangi matanya yang sepertinya tercolok sudut layangan.


"Mata lo kenapa? Sini gue biar gue liat. Madep gue." Alfa meminta Reni agar wajahnya menghadap ke wajah cowok itu.


"Mata gue perih banget nih." Reni meringis kesakitan. Mata kirinya ditutupi oleh tangan, sedangkan mata kanan baik-baik saja.


"Liat gue sini. Mata nya buka. Biar gue tiup." Perintah Alfa.


Reni akhirnya menurut mengikuti perintah Alfa supaya menatap nya dan membuka mata kiri secara perlahan. Terlihat sudah merah mata itu, berair pula. Alfa merasakan kalau gadis itu keperihan matanya.


"Gue tiup ya." Kata Alfa.


Reni mengangguk. "Pelan-pelan Al."


Wajah Alfa mendekat. Sangat dekat, lalu ia perlahan meniup mata kiri Reni. Dengan jarak yang tipis, Reni bisa melihat Alfa secara gamblang, lekuk wajahnya, matanya, hidungnya maupun bibirnya. Pahatan itu sangat sempurna, hanya saja ditutupi oleh benda kacamata sehingga lekukan wajahnya samar-samar.


Ah astaga, tiba-tiba saja jantung Reni berpacu lebih cepat dari biasanya. Udara disekitarnya pun seolah-olah habis sehingga ia seperti kehilangan napas.


Bisa bahaya nanti jika terlalu lama dalam jarak sedekat ini.


Reni mendorong tubuh Alfa pelan. "Udah udah. Makasih yah."


"Beneran udah mendingan?" Tanya Alfa memastikan.


"U–udah kok." Katanya terbata-bata. Menunjukan kalau ia sangat gugup gegara jantung marathon ini. Ia mengalihkan dari tatapan Alfa.


"Ke apotek yuk. Beli obat tetes mata." Ajak Alfa akhirnya.


"Eh gak usah. Udah baikan kok."


"Gapapa ayo beli. Mata lo sampe merah gitu. Gue gak terima penolakan." Alfa menarik tangan Reni secara paksa.


Gadis itu meronta-ronta sebelumnya kemudian akhirnya ia pasrah menurut saja.


"Udah plisss. Jangan ngehayalin Alfa. Dia itu temen. Temen oke. Mantannya Jeje." Reni memukul meja rias dengan ritme cepat karena gemas dengan diri sendiri.


Pukul 8.00 malam


Gadis itu kemudian beralih menuju kasur. Tubuhnya lelah pengen ambruk, kangen memeluk guling kesayangan.


Tiba-tiba tak beberapa lama, ada notifikasi dari ponselnya yang terletak di nakas.


Alfa


Ren


Udah nyampe kostan belum?


Mata Reni membulat sempurna saat mengetahui Alfa yang mengechat. "Aduh pliss jangan gemetaran. Gak usah lebay okay." Ia mengibaskan tangannya didepan wajah. Rasa gugupnya melanda lagi.


^^^Reni F.^^^


^^^Udah nyampe kok.^^^


^^^Btw, makasih obatnya. Thx^^^


Baru saja pesan terkirim, tiba-tiba pesannya Reni yang berubah menjadi centang biru. Cepat sekali Alfa membalas pesannya. Oke berpikir positif saja, mungkin kepencet atau apa. Keep calm.


Alfa


Iya sama-sama.


Selo aja kali.   


(Read)


Reni sengaja tak membalas. Bingung mau balas apa, akhirnya sudahlah, read saja. Ia kembali menaruh ponselnya sembarangan di kasur. Lalu berbaring lagi.


5 menit kemudian, terdengar notifikasi lagi. Reni langsung terlonjat kaget. Sial, gara-gara Alfa, ia jadi suka gugup tak jelas. Kemudian membuka hp nya.


"Tuh kan bener. Alfa lagi." Katanya jengkel. Lagi lagi Alfa. Karena cowok itu sudah membuatnya jadi was-was, gugup dan deg-degan. Parah si Alfa, efeknya berkepanjangan.


"Selo aja selo. Ini cuma Alfa. Temen doang plisss."


Alfa


Kenapa di read?


Sok ngartis bener😂


"What!!!!pake emot. Pake emot cuy sumpah. Aaaaaaa!" Ia menjerit histeris sambil loncat-loncat fiatas kasur sangkin senengnya.


^^^Reni F.^^^


^^^Serah gw dong. Mau read kek apa kek.^^^


Alfa


Iya deh serah lo.