
10 menit pertandingan pertama. Tim futsal Wisanggeni mencetak gol 3 sedangkan tim lawan masih nol. Semangat dari lawan sangat menggebu-gebu untuk menyalip poin Tim Wisanggeni.
Agresif nya tingkah pemain penyerangan sangat nakal. Sempat kena beberapa teguran oleh wasit. Mungkin mereka menjadi agresif gara-gara tertinggalnya angka poin.
Riko sangat kesal akan aksi pemain lawan. Bisa-bisa nya mereka main curang. Menendang bagian rawan. Untung saja hanya nyeri yang timbul.
Napas Riko tersengal-sengal. Ia sedang menggiring bola ke Damar. Tepat. Tepat sekali alih kontrol Damar, tekniknya sangat baik. Gocekan yang ia lakukan sangat lincah hingga membuat napasnya tidak beraturan.
"Aishh empot-empotan banget ambekan gua." Gumam Riko.
Tatapannya mengarah ke Damar yang tengah berancang-ancang untuk menyetak gol namun ada seseorang dari tim lawan mendorong tubuh Damar kedepan guna merebut bola. Alhasil damar pun tersungkur hingga engkel kaki nya cedera.
Damar mengerang. "Arhhhh Sakit woiy anj*m! Sialan! Main kasar lo!"
"WOIY SETAN!!! BRUTAL BANGET GAYA LO!! SINI LAWAN GUA."Riko teriak kesetanan menghampiri seseorang yang tadi mendorong Damar.
Jadilah suasana menjadi ricuh, kedua tim saling salah-salahan. Sedangkan penonton dari tim Wisanggeni tak terima akan perlakuan nakal dari tim lawan.
"Curang banget. Dari tadi tangannya main terus. Kesel lama-lama." Jeje mendengus kesal.
"Iya betul. Liat noh bebeb lo keliatan marah banget. Hahahahahha." Ujar Reni seraya tertawa.
Namun Jeje cemberut mendengarnya. "Bebeb apaan. Orang gue gak suka sama dia."
"Yailah pake bo'ong segala." Ucap Reni sesantai mungkin.
"Lha lo apa kabar sama Aria? Bebeb lo lagi di RS, lo gak nemenin?" Sindir Jeje sembari melirik Reni.
"Kok jadi Aria sih?!! Apa hubungannya dodol..." Reni menonyor kepala Jeje sangkin sebalnya.
"Ihh gak usah nonyor. Berantakan kan jadinya." Jeje kesal sekali. Tangannya membenarkan poni yang akibat goncangan kepala gara-gara di tonyor Reni tadi.
Reni tertawa kencang. "Hahahahahha."
"Lo lucu juga yah, boleh deh nanti jadi dedek emes nya Riko uwuuu." Reni semakin menjadi-jadi ngeledek nya.
"Diem deh."
"Ihhh gak mau gak mau. Wleeee." Entah apa yang menguasai diri Reni hingga matang sekali ngeledek Jeje. Ia tertawa terbahak-bahak seandainya kesal.
"Awas aja Ren. Tunggu pembalasan gue." Ancam Jeje. Samar-samar pipi nya bersemu gegara Reni terus-menerus menggodanya. Menjodoh-jodohkan dengan Riko, bisa-bisa baper nanti Jeje.
"Damai damai pala lo benjol! Enak banget ngomong damai setelah ngledekin gue. Mana terima lah gue." Ucapan Jeje terdengar ketus sekali. Mukanya dialihkan ke arah lain.
Reni tertawa. "Iya iya maap. Kan khilap gue bercanda nya."
Jeje berdecak kesal. "Khilap mata mu copot!!"
Drttt drtttt drtttt drttt
Tiba-tiba ada getaran hp disaku jaket yang Reni kenakan. Cewek itu lantas mengambilnya dan membuka ponsel itu.
"Bentar deh. Ada panggilan bentar." Reni meminta agar Jeje berhenti misuh.
Saat di buka, layar utama menunjukkan halaman panggilan dengan tertera nama Aria diatas.
Reni mengangkat panggilan tersebut.
"Halo Ar."
"....."
"Kenapa lo?"
"....."
"Heh! Ngomong yang jelas!" Bentak Reni kesal. Diseberang sana suara Aria seperti sesenggukan.
"......"
"Hah?!!!! Jangan bercanda deh. Serius ini." Reni membelalak matanya saat mendengar penuturan Aria.
"...."
"Gue kesana. Otw." Reni langsung memutuskan teleponnya buru-buru. Ia segera bangkit dari duduknya hingga Jeje yang disamping merasa keheranan.
"Kenapa sih? Panik amat." Kata Jeje dilanda heran.
"Gue pergi dulu. Titip tas ye." Reni lantas ngibrit pergi tanpa sepatah kata lagi.
Gugup sekali ia sekarang.