
Play's song: someone you loved- Lewis capaldi
Perempuan bertubuh tinggi memboyong lelaki lemah ini yang tak berdaya. Tangannya memegangi perut terus menerus. Sesekali ia meringis keperihan. Lebam dimana-mana. Bekas membiru bengkak semakin terlihat jelas. Hidungnya mengalir cairan kental merah. Matanya bengkak terkena pukulan hingga sembab.
“Ck. Lo baru pulang dari RS kan? Kenapa langsung sekolah coba.” Reni berdecak seraya mendudukkan cowok itu ke bangku panjang ditepi jalan.
“Astaga. Parah banget tubuh lo. Abis kecelakaan eh ditambah lagi dengan berantem. Ck ck ck.” Ujar Reni sembari menggelengkan kepala.
Alfa diam tak berkutik. Memperhatikan setiap gerakan yang Reni lakukan. Cewek itu sedang mengacak-acak tas nya mencari sapu tangan.
“Lo kenapa gak nglawan mereka coba? Kalo dibiarin tuh mereka jadi ngelunjak. Seenak jigong tau gak.” Reni lagi-lagi berujar dengan nada kesal. Entah apa yang ia kesalkan.
Reni mengambil sapu tangannya yang ternyata di selipan buku paket. Mengeluarkannya kemudian dibasahi dengan air minum. Memeras kain itu agar cepel tak terlalu menyerap air begitu banyak.
“Siniin muka lo.” Titah Reni pada Alfa. Ia memutar bola matanya malas karena Alfa tak kunjung mendekatkan mukanya. Ia meraih dagu Alfa pelan dan menariknya agar sedikit mendekat.
Reni mengelap hidung Alfa terlebih dahulu. Karena darahnya tak juga berhenti. Wajah mereka sangat dekat.
Alfa memperhatikan setiap inci wajah Reni.
Manik matanya yang tajam dan dalam, bola matanya hitam membuat tatapannya bak elang. Reni tak putih. Ia berkulit sawo matang. Mungkin karena sering panasan makanya agak coklat kulitnya. Hanya saja wajahnya mulus tak berjerawat.
Alisnya tebal dan hidungnya mancung. Bibirnya yang kecil dan tipis seperti bibir anak kecil.
Alfa terus menatap Reni tak berhenti. Cewek ini baik sekali. Mau mengobati cowok lemah dan cupu macamnya.
Tangan Reni kemudian beralih ke pipi dan jidat. Menepuk-nepuk secara halus agar tak sakit. Ia belum sadar kalau dirinya sedang ditatap oleh Alfa secara intens.
Setelah itu ia menjauhkan wajahnya dari Alfa. Pandangannya menuju tas seraya tangannya mencari plester luka. Mencari disaku tas dengan merogoh. Ditemukanlah plesternya. Membuka lapisan plastiknya dan menempelkan di pangkal hidung Alfa yang berdarah.
“Lo ini bandel banget yah. Baru pulang dari rumah sakit tuh istirahat dulu aja dirumah. Stabilin badan Lo. Eh ini malah sok-sokan berangkat.” Ceramah Reni lagi pada Alfa.
Alfa bingung hendak bicara apa. Gadis ini cukup mbuatnya takjub dan jiwa kejantanan nya kersingkir oleh Reni yang super kuat dan tangguh. Alfa kalah dengan cewek yang satu ini.
“.......”
“Belum makan yah?”
“.......”
“Masih sakit? Wajar sih, secara Lo kan abis digebukin 3 orang.”
“........”
“Tuhkan diem aja. Hufht.” Reni menghembuskan napas beratnya. Susah baginya bicara sama cowok pendiam macam Alfa. Tak banyak bicara apalagi bertindak.
Baik Alfa dan Reni sama-sama menghadap jalanan. Hening tak ada percakapan.
Alfa memutuskan untuk menoleh ke Reni. Sedikit enggan namun pasti. “Makasih,”
Reni menoleh. “Eh.”
“Makasih.”
Cewek itu menyeringai. “Btw Makasih doang nih.”
Alis alfa saling bertautan. Membentuk ekspresi bingung. “Terus?”
“Hehe gak.” Reni cengengesan tak jelas. Lalu ia memasukan sapu tangannya kembali ke tas.
“Yaudah deh. Gue cabut dulu yah. Bye.” Ujar Reni tersenyum pamitan pada Alfa. Cowok itu menatap datar.
Alfa terus memandangi langkah Reni yang perlahan menjauh dan menghilang dari jejaknya.