
Dua gadis berseragam sekolah itu berjalan menaiki eskalator semabri menenteng tas seragam basket. Mereka berdua menghabiskan waktu hampir 3 jam penuh untuk mencari Jersey basket.
"Udah yuk pulang. Gua capek." Ajak Willa dengan lesu. Wajahnya sudah tak bersemangat. Ia menenteng tasnya yang sedikit terbuka dengan malas.
"Kok pulang sih, baru jam 4 juga. Makan dulu lah kita." Reni menarik tangan Willa sangat kencang hingga sang empunya terkejut.
"Selo elaah. Lo kira gue kambing main tarik-tarik aja." Willa menghela napas berat. Tubuhnya letih, yang ia inginkan bukan makan melainkan rebahan.
Reni menyengir. "Ya sorry. Abisnya gue laper. Hehe." Gadis berambut Bob itu memutar bola matanya malas.
Reni mengajak Willa bersinggah dulu di cafe. Kakinya pegal berasa pengen copot. Menu-menu yang ada dicafe ini berupa dessert dan aneka minuman. Bagi seorang pelajar yang finansialnya minim tak akan kenyang dengan suguhan dessert yang porsinya mini. Selera makan mereka biasanya berupa nasi Padang, murah dan banyak.
"Gimana nih Ren. Kalo gini sih gue gak bakal kenyang lah. Udah balik aja yuk. Nanti belinya dipinggir jalan aja, nasi warteg kek apa kek. Intinya yang porsinya banyak." Usul Willa. Memang ada benarnya juga.
"Iya juga ya. Mahal-mahal juga ini menu. Gapapa nih keluar tapi gak beli apapun? Malu tau nanti." Tanya Reni sedikit takut.
"Ya gapapa lah. Emangnya kita abis nyuri? Gak kan. Ngapain malu sih."
Reni mengangguk setuju. " Yaudah deh. Yuk lah balik." Willa terlebih dahulu bangkit dari duduknya. Peduli malu! Gak ada gunanya malu-malu tak jelas. Bodoamat lah ia diliatin pengunjung cafe. Jalannya didepan sedangkan Reni tepat dibelakang sembari menutup wajahnya menggunakan ponsel.
"Gila ah! Malu banget tau tadi. Lo gak malu apa Wil?" Tanya willa yang sedari tadi mukanya tanpa ekspresi.
"Cih! Tadi kan gue bilang, buat apa malu kalo kita gak buat salah. Peduli kata orang!" Lalu cewek itu melenggang keluar dari mall.
Dua gadis itu berjalan di trotoar, sengaja tidak menaiki kendaraan motornya. Rencananya kini menuju warteg disekitar jalanan. Motornya mereka masih dititipkan didalam parkiran mall.
"Hadiah pas Lo juara basket ntar berapa Ren?" Tanya willa penasaran.
"Berapa apanya? Pialanya? Ya cuma satu dong, kan ini tim." Jawab Reni seadanya.
Willa menonyor jidat Reni gemas. "Bloon banget si lo! Maksud gue itu duitnya."
Reni tertawa kencang. "Hahaha duit Mulu yang diotak lo."
"Ck. Ditanya malah ngatain."
"Iya iya. Emm paling 2 juta, tapi entah sekarang sih."
Willa manggut-manggut mengerti.
"Di turnamen ini gue yang jadi kapten nya dong." Ujar Reni bangga membuat Willa menoleh terkejut.
"Serius lo?"
Reni menggangguk sekali lagi dengan mantap.
"Cuih. Gak percaya gue. Bukti mana bukti." Willa masih tetap belum percaya.
"Kenapa?mana buktinya?" Tanya willa heran.
"Hei?malah bengong lagi Lo." Willa melambaikan tangannya didepan muka Reni yang seperti orang linglung.
"Udah ilang huaaaaa." Tiba-tiba bibir Reni bergetar meratapi barang nya yang tak ada lagi di saku.
"Apanya yang hilang?!" Willa semakin panik sembari mengelus punggung Reni
"Wristband nya huaaaaa." Tangis Reni semakin menjadi. Willa kikuk harus ngapain. Malu dia.
***
Wristband...
Benda elastis berwarna merah yang bertuliskan nama tim basket sekolah. Dari bentuknya sepertinya benda itu baru, warnanya lekat dan bahannya masih kencang. Pemuda itu menggenggam wristband seraya menatap lurus mengingat kejadian setelah pulang sekolah. Membayangkan wajah seorang gadis tangguh, ahli dalam bidang olahraga. Cowok itu tersenyum kecut, rasanya dirinya ini tak ada apa-apa dibandingkan cewek itu. Ia yang lemah dan pendiam.hanya saja di mata pelajaran ia unggul.
Alfa. Sering digosipkan karna tak bergaul dan berteman dengan yang lain. Cupu, itulah sebutannya didalam sekolah. Ah Alfa benci dibicarakan. Mereka tak tahu tentang kepribadian Alfa yang sesungguhnya, mereka pun asal men-judge sembarangan.
"Heh! Makan sana Lo!" Perintah seseorang dari belakang dengan nada sinis.
Alfa menoleh, ternyata kakaknya. "Iya kak." Cowok itu berdiri dan langsung menuju meja makan.
Kakaknya pergi berlalu, tidak ikut serta makan bersama. Mungkin dia sibuk.