Sport Girl

Sport Girl
part 34



Keesokan harinya...


Baru saja jam menunjukan pukul setengah tujuh pagi, bukannya sudah cerah awannya namun malah sebaliknya. Mendung tak ada celah cahaya matahari yang menerobos masuk. Mungkin sebentar lagi rintik rintik hujan akan membasahi bumi.


Willa, selaku teman kost perempuan Reni sedang menemani cewek itu dalam kostannya. Hari ini sekolah mentoleransi pada siswanya jika berangkat telat karena keadaan cuaca yang kurang mendukung. Willa mengolesi roti tawarnya menggunakan selai kacang.


Tak berapa lama Reni keluar dari kamar mandinya yang sudah berseragam sekolah. Lalu ia menghampiri Willa yang berada di samping meja.


"Wah tumben lo nyiapin sarapan buat gue. Uuu makasih." Reni memuji sambil memeluk Willa.


"Lepas gak?!! Lepasin woiy setan!" Willa berontak dari pelukan Reni. Jahat sekali Willa, baik mulut maupun kelakuannya sama-sama kejam. Namun Reni udah kebal akan aksi teman yang satunya ini macem gorila.


"Kenapa roti sih, mending nasi Padang kek. Bikin kenyang." Gadis berambut Bob menggerutu gara-gara sarapan roti.


Pluukkk


Willa memukul kepala Reni menggunakan sendok. "Syukuri Napa sih. Idup lo gak ada bersyukur - bersyukur nya."


Reni mencebikkan bibirnya sebal. "Ya gak usah mukul juga kali. Mau gue gibeng lo?!" Reni balik mengancam.


Willa hanya melotot tajam sehingga nyali Reni seketika menciut. Reni lebih baik mengalah sama seseorang yg lebih tua macem Willa. Bagaimanpun ia kakak kelasnya satu tingkat.


Setelah aksi makan-makan, mereka berdua memutuskan keluar kost untuk berangkat sekolah. Willa sengaja berangkat bareng Reni, mumpung hujan-hujan gini bisa berangkat telat.


"Gak ada angkot lagi. Gimana nih Wil?" Tanya Reni celingak-celinguk ke jalanan mencari angkot.


"Aduh gimana yah. Tunggu aja udahlah. Berangkat telat juga gapapa kok." Kata Willa dengan enteng nya.


"Enak aja telat. Gue ini murid teladan. Anak kesayangan guru, satu kali telat aja, coret dah nama gue dari daftar siswi ter teladan."


Reni menyengir. "Muka lo biasa aja dong. Gak uda mendramatisir gitu ah. Pen nampil jadinya."


Willa tak menghiraukan. Terserah anak itulah mau ngomel-ngomel kek apa kek. Pusing lama-lama. Sudah tiga puluh menit angkot ditunggu gak lewat-lewat. Kaki sudah lelah berdiri ini. Apalagi sebentar lagi kayanya hujan akan turun. Tamat sudah riwayat tak jadi sekolah.


'Mana besok di pake lagi ini seragam, haduh emak, jangan hujan dulu pliss. Hujannya disekolah aja.' Batin Willa berdoa.


Lain lagi dengan Reni, gadis itu sempat-sempatnya sprint mondar di sekitar jalanan yang sepi. Malu-maluin itu anak.


"Woi sini ELAAAH. Olahraga Mulu. Sepet gue liatnya." Willa meneriaki Reni supaya mendekat.


"Apa?" Teriak Reni dari jarak 100 meter.


Willa melambaikan tangannya supaya mendekat. "Sini woiy!"


Akhirnya Reni menuruti intruksi Willa agar menuju ke arahnya.


"Apasih?!!" Tanya Reni jengkel. Lagi olahraga malah diganggu sama si Willa.


"Lo yang apa-apaan. Ngapain sih lari mondar-mandir gitu. Ntar kalau baju lo kena keringet terus bau, kan gue yang repot."


"Kok Lo yang repot. Aneh banget deh."


"Ya iyalah. Nanti kan naik angkotnya kita sebelahan, gue gak mau pingsan gara-gara badan lo bau keringet."


"SiALAN LO WIL!!"


"Reni ya? Mau sekalian bareng gak?"