Sport Girl

Sport Girl
part 45



"Spirt nya bawa sini Gas. Minta elaaah." Reni mendumel karena spirt kesukaannya ada didekat Bagas.


"Eh atlet gak boleh minum sprite. Minumnya susu aja." Kata Bagas meledek. Ia malah mendekap sprite itu.


"Apaan sih, bawa sini gak." Ancam Reni galak. Tatapannya sewot.


Riko tertawa. "Aduhai... Mba atlet yang Budiman, gak boleh minum yang bersoda. Minum aer putih aja dah."


"Gue jambak rambut lo Ko. Nyebelin ye lama-lama." Ketus Reni. Cewek itu berdiri menuju Bagas untuk merampas Sprite kesukaan. Saat merampas itu dengan gerakan kilat, Reni tak menyia-nyiakan jarak, tangannya segera meninju lengan Bagas dengan keras.


"Aduuuhhh. Kasar banget lo jadi cewek." Bagas mengaduh kesakitan. Ia benar-benar kesakitan, bukan sekedar akting-akting belaka.


Tahu lah Reni, cewek rasa cowok. Sampul cewek tapi tenaganya seperti cowok. Pukulannya itu hingga membuat Bagas tak henti-hentinya meringis.


"Makanya jangan macem-macem deh." Kata Reni santai sambil menenggak Sprite.


Lainnya tertawa kencang. Bersenang-senang diatas penderitaan Bagas.


"Tuh rasain. Sakit kan lo. Jan cari gara-gara ama jawara karate. Dibawa ke ring nanti, pingsan lo." Kata Ryan tertawa ngakak setelahnya.


Riko pun tak kalah ngakak dari Ryan. Sedari tadi cowok itu nampak lebih luas menikmati kesengsaraan Bagas. "Aduh aduh pliss... Hahahaha baru kali gua liat Bagas tersiksa. Biasanya kan dia paling happy kalo gua lagi apes."


Bagas tambah merengut. Bibirnya dimanyunkan kesal. Lengannya masih berdenyut walau tak sesakit tadi. Daripada tambah kesal ia mengambil keripik kentang disana.


"Tega lo. Tegaa. Gua lagi memar-memar gini sempet-sempet nya ngakak. Gua sumpahin minumannya tumpah dah." Sewot Bagas sembari makan camilan itu.


"Jangan main-main sumpah-sumpahan, kalo sumpahnya balik ke diri lo rasain dah. Kelar. Gue ketawain ampe lo masuk kamar. Ahahaha." Perkataan Reni yang nyesek sekali membuat Bagas tak karuan.


Cowok itu tersedak karena camilan tadi. Tangannya Segera mengambil gelas disamping dirinya. Entah kesialan apa yang menimpa, tangannya tak sengaja menyenggol kaki-kaki meja hingga gelasnya pecah. Tak jadi minum deh.


"Tuh kan apa. AHAHAHAHHAHAHAA MAKAN TUH GELAS!!!!RASAIN LO GAS." Reni tertawa kencang. Disusul yang lainnya. Tertawa keras antara laki-laki dan perempuan membaur menjadi satu yang menciptakan gema dalam ruangan.


"Ahahahahahahah, apes ye lo. Tadi balik dari GOR lewat mana lo? Jangan-jangan kesambet." Celetuk Damar.


"Sumpah menyumpahi diri sendiri. Gua bikinin pilem nya nanti deh. Seseorang menyumpahi sahabatnya. Tapi sumpah itu malah menjadi senjata bunuh nya." Kata Ryan mengkhayal. Imajinasinya mulai menjalar kemana-mana.


"Udah napa. Gak kasian lo sama gua?" Tanya Bagas.


"Lo cowok bukan? Gitu aja minta dikasihani. Sini gua puk puk kek bayi dah." Ujar Riko bercanda, tangan cowok itu baru saja menyentuh punggung Bagas namun langsung ditepis olehnya.


Kembali pecah tawa mereka kecuali Bagas. Cowok itu tambah kesal.


Tiba-tiba ada panggilan masuk dari ponsel Reni. Gadis itu segera mengeceknya. "Bentar deh. Ada telpon dari Aria." Kata cewek itu.


"Angkat Ren. Lospiker dah biar semua denger." Kata Riko tak sabaran.


"Lospiker lospiker. Loud speaker Dodol." Damar menonyor kepala Riko gemas. O'on nya tak hilang-hilang. Padahal sudah diberi petunjuk melalui keberuntungan nilai matematika waktu itu. Tetap saja cowok itu malas untuk belajar.


Diseberang sana terdengar suara gaduh-gaduh entah apa itu. Lalu sepertinya Aria sedikit menjauh dari kegaduhan tadi.


"Ren?"


"Iya Ar. Ada apa?" Tanya Reni. Semua yang ada didekat gadis itu menjadi hening. Fokus mendengar kata-kata Aria.


"Gua.. gua mau cerita sama lo. Lo dirumah kan?"


Tatapan Reni berubah menjadi bingung. Damar memberi kode menggeleng supaya Reni menjawab tidak.


"Enggak Ar. Gue lagi..." Ucap Reni menggantung. Bingung ingin menjawab apa. Tanpa dia minta Damar langsung mengode menunjuk Bagas. Gerak bibirnya berkata rumah Bagas.


"Gue lagi di Bagas nih. Lo kesini aja Ar."


Damar tak mau mengeluarkan suara. Takutnya Aria mendengar kalau ada cowok lain selain Bagas. Pasalnya disini rumah Bagas, tak mungkin kalau Reni menjawab ini rumah Damar.


Ketahuilah bahwa Aria tak suka membagi kesedihan hidupnya pada orang lain. Bahkan sahabatnya sendiri. Cowok itu enggan terlihat lemah dimata teman-temannya. Kalau Reni, sepertinya Aria telah menaruh kepercayaan pada cewek itu. Ia merasa aman jika mencurahkan kesedihan nya pada Reni.


"Lo sama Bagas doang kan?"


Lagi-lagi Damar memberi kode anggukkan.


"I–iya. Sini Ar." Kata Reni gugup.


"Oke."


Tutututut


Aria memutuskan sambungan telepon nya. Reni kembali menaruh ponsel biru itu ke tas.


"Aria ada apa sih? Aneh banget sumpah." Kata Ryan kebingungan.


"Lha iya. Waktu itu gue juga bilang kalo Aria agak beda." Tambah Reni sependapat dengan Ryan.